Bermain Gelembung Sabun

Di benak saya, main gelembung sabun yang dijual di pinggir-pinggir jalan itu mahal. Mungkin juga karena dari kecil, saya hampir tidak pernah dibelikan permainan itu walaupun sungguh saya sangat suka. Waktu kecil, biasanya saya membuat sendiri campuran dari sabun colek dan air. Dulu sih, saya merasa cukup berhasil.

Tapi, waktu saya mencoba membuatkan untuk Ziyad, kok tidak bisa jadi gelembung cantik yang melayang di udara ya? Hasilnya malah langsung pecah begitu saya tiup.

Baca selengkapnya Bermain Gelembung Sabun

Jual Cloth Diaper Second (Clodi 2nd) (SOLD)

gg-diaper-jual-second

Iya nih…pingin jual clodinya Thoriq. Setengah aja, hehe, soalnya masih aku pingin aku pakai yang setengah lagi (8 buah).

Ceritanya, emang dari cerita hampir menyerah yang kemarin, frekuensi pakai clodinya mulai berkurang banget.  Tadinya full day pakai clodi, terus jadinya kalau malam pake diaper, terus mulai pakai diapernya dari mandi sore sama malem, dan…akhirnya full diaper lagi deh. Tapi tetap dibatasi, cuma 3 diaper sehari. Jadi, kalo kira-kira Thoriq pup, atau sudah gak nyaman pakai diaper, aku gantiin pake clodi.

So…kenapa clodi ini layak jual?

Baca selengkapnya Jual Cloth Diaper Second (Clodi 2nd) (SOLD)

Kesalahan Orang Tua

Kalau buah yang kita tanam ranum, manis…rasanya bahagia banget ya. Tapi kalau yang terjadi sebaliknya, rasanya sungguh pahit. Rasanya ingin segala daya upaya dilakukan supaya hasil buah yang kita dapatkan kembali manis.

Ini yang aku rasakan saat ini.

Kemarin, sewaktu kami jalan-jalan ke Gramedia, perilaku Ziyad tidak seperti biasanya. Dia menempel terus padaku, bahkan tidak ingin melepaskan pegangan tangannya dariku. Aneh. Biasanya dia dengan percaya diri berlari kesana-kemari. Biasanya bang Hen akan sibuk memanggil atau mencari, “Ziyad…Ziyad.” Kali ini tidak. Ziyad seperti kehilangan percaya dirinya. Ziyad seperti ketakutan.

Sedih? Ya, aku sungguh sedih dan khawatir. Pagi ini aku dan bang Hen mendiskusikan hal itu. Aku pun berusaha mengingat apa kira-kira yang membuat Ziyad tiba-tiba seperti itu. Dan sungguh sedih, ketika kemungkinan-kemungkinan yang ada, disebabkan oleh “ulah” kami sendiri padanya.

Semoga ini hanya sementara. Semoga kami bisa “meralat” apa yang telah kami lakukan. Semoga kami bisa berlaku lebih baik lagi. Semoga Allah menjadikan kami orang tua yang lebih baik hari kehari…

Sungguh aku galau…

Telu Likur

Hari itu aku belanja lebih pagi. Dan itu berarti berbarengan dengan ibu-ibu lain yang sengaja belanja pagi karena lauk pauk yang dibeli akan langsung dimasak hari itu juga.

Aku tak terlalu lama memilih-milih. Tumben-tumbenan bu Jum, sang pemilik warung menghitung belanjaanku dengan bahasa Jawa. Mungkin karena ibu-ibu di sekitar memang menggunakan bahasa Jawa, dan salah satu ibu membantu bu Jum menghitung belanjaanku, juga dengan bahasa Jawa.

Hasilnya…”Telu likur”, kata bu Jum.
Baca selengkapnya Telu Likur