Banyak orang salah paham tentang dunia kredit-pengkreditan. Termasuk aku hehe. Taunya kalo kredit mobil, motor mah boleh-boleh aja. Gak taunya…mesti diperjelas lagi bentuk akadnya. Bulan kemarin sempat diminta bikin ilustrasi buat majalah PengusahaMuslim untuk kredit segitiga ini. Makanya karena mau memahamkan orang dari gambar, akunya juga mesti paham. Udah dibikin itupun masih dilihat lagi sama ustadz, udah bener apa belum. Alhamdulillah sekarang sudah sedikit lebih paham tentang kredit segitiga ini.
Islam
Maka bersyukurlah bahwa negeri kita aman damai meski dengan berbagai kekurangan yang ada pada pemimpin kita…
Maka jangan lupa mendoakan saudara kita yang di sana…
Maka jangan lupa berdoa…agar kita tidak ditimpakan musibah yang sama…
Update: silakan backsoundnya dimatikan ketika melihat video ini.
Hari ini penuh dengan acara tumpah dan tumpahh….”tarik napas”. Sampai heran sendiri. Langsung mikir…kayanya tadi pagi gak doa dijauhkan dari hari yang buruk kayanya ya*. Coba ada berapa kejadian tumpah menumpah yang sungguh menguras energi…
- Thoriq yang numpahin agar-agar yang belum jadi. (Harus dipel dong…gula lengket-lengket iy…)
- Minyak wijen yang ternyata tumpah di tempat bumbu-bumbu karena posisinya tiduran. (Mesti ngeluarin semua bumbu-bumbu di rak plastik bagian pertama dan mencucinya supaya gak lengket dan bau aneh2).
- Bumbu yang lagi di keluarin dari rak plastik yang kena tumpahan minyak wijen berjejer-jejer di meja bumbu. Of course…jadi incaran keisengan Thoriq. Masih dalam “pengawasan” aku. Pengawasan yang dimaksud adalah melihat Thoriq lagi ngapain sambil berusaha nyuci piring + masak sambil terus diintili makhluk mungil sedikit gempal itu. ..Jarak kami gak kurang dari satu meter. Ternyata, pas lagi giliran mata melihat apa yang dia kerjakan, tutup tempat bumbu aromatik daun kemangi kering sudah dibuka dan dituang-tuang (ditumpahin kan?) sama Thoriq. Alhamdulillah baru sedikit. “Thoriiiqq…!”
- Kecap yang tumpah di samping kompor bekas bikin mie buat sarapan anak-anak. Kecapnya ternyata sudah mau habis, jadi gak bisa berdiri tegak. Emangnya orang…berdiri tegak. (Elap elap elappp…)
- Agar-agar yang tumpah (lagi) pas aku mau masukin ke kulkas biar gak ditumpahin Thoriq lagi. Haha…Nasib…Takdir…Pel pel elap….
- Bocor tu tumpah juga kan ya? Tumpah dari atap yang menadahinya dan keluar lewat lubang keci. – Mulai ngaco -. Hehe…Setiap hujan, bisa dibilang ada dua bagian di rumah yang hampir selalu bocor. Tadi udah kelupaan, yang bagian dapur, tahu-tahu pas ke belakang udah becek-becek. Mari ngepel lagiiii….*tarik napas*.
- Air di belakang kulkas yang sedang dibersihkan (dicairkan) tumpah tumpah.
Seringkali orang begitu mudah percaya sama hal-hal yang berbau klenik, tahayul atau apapun namanya yang biasanya – sebenernya – gak ada dasarnya sama sekali (salah satu contoh yang paling terbaru ya masalah mba petruk itu loh). Tapi untuk masalah yang emang ada dalil dan penjelasannya dari sunnah Rasulullah malah mungkin kurang tahu apa malah gak tau sama sekali. Contohnya ya ‘ain ini.
Masih blum ngerti juga? Lihat gambar di bawah ini:

Abis dengerin kajian ust. Abdullah Taslim (sambil kerja bakti beresin rumah sama abang), tentang Keutamaan Ilmu (yang bisa dibilang gak pernah bosan dengernya walau udah didengerin berkali-kali). Kali ini diingatkan bahwa Islam itu indah, Islam itu mudah, semuaaanya dari berbagai sisi.
Kalaupun ada hadits yang mengatakan bahwa,
حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.”(HR. Muslim)
Maka itu awalnya, karena seorang muslim itu mesti diuji tentang imannya.
Terus lagi, kalo ada orang yang belum bisa merasakan nikmat dan indahnya Islam itu, maka itu karena dia masih “sakit”. Karena orang yang sakit, walau dihidangkan makanan yang sangat enak sekalipun, maka mereka tetep tidak akan dapat merasakannya. Masya Allah, bener banget kan…
Oya, satu lagi yang sangat penting untuk diingatkan (padahal pas makan siang tadi, aku sama abang juga abis saling mengingatkan ttg masalah ini), yaitu kesombongan. Nah, di ceramah tersebut, ustadz mengingatkan tentang hadits Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu yang isinya tentang seorang yang sudah melakukan amalan kebaikan penghuni jannah, padahal jaraknya tinggal sejengkal lagi, tapi pada akhirnya dia mengamalkan amalan penduduk neraka dan dia masuk neraka. Penjelasan simpel dan ringkasnya adalah, karena orang tersebut ternyata menyandarkan amalan-amalan yang dia lakukan hanya pada dirinya sendiri. Jadi tidak disandarkan pada Allah semua kebaikan yang dia lakukan. Padahal, kita bisa melakukan kebaikan, dan sebagainya itu kan taufik dari Allah. ^^
Semoga postingan singkat ini bermanfaat untuk menyejukkan hati kita. Aamiin.
Sebenernya…entah kenapa aku sedih sekali saat ini, walaupun apa yang aku sedihkan blum terjadi, tapi hal itu sudah terlontar, entah lewat sebuah lisan ataupun tulisan. Tapi aku juga jadi bisa merasakan apa yang suamiku rasakan, waktu aku melontarkan hal yang hampir sama, setahunan yg lalu, tahun 2009, aku bicara di kamar di Jakarta tempat orangtuaku, “Bang…apa aku kerja aja ya…”
Betapa sedihnya suamiku waktu itu, beliau mengatakannya dan sekaligus ekspresi beliau juga menunjukkan hal itu. “Sedih abang dek…”
Aku pernah menulis artikel ini “Jangan Menyerah Saudariku“, dan aku juga sangat berusaha mendalami artikel ini. Tapi ketahuilah, hampir saja setahun yang lalu aku menyerah…
Cerita runtutnya beginih…
Aku punya kbiasaan baca buku gak dari halaman awal, trutama kalo bukunya tebel. Biasanya bolak balik buku trus ketemu bab yang menarik, baru mulai baca, baru kalo mulai enak, bisa jadi mulai dari awal atau tetap acak. Kadang-kadang emang plek dari belakang.
Nah, kemaren baru beli buku Sirah Nabawiyah-nya Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri. Pengennya sih baca dari awal, biar rentetan sejarahnya rada inget. Tapi akhirnya gak jadi, dan tertarik dengan bab pengeriman surat dari Rasulullah ke berbagai kerajaan dalam rangka mengajak ke Islam. Dan baru baca 3 bagian, banyak ilmu baruuuu. Alhamdulillah. Ini dia catatan ringkasnya yang pengen aku bagi di sini (kalo selengkapnya baca sendiri yaaa).
Alhamdulillah, setelah aku posting link tentang imunisasi di fb (yg sayangnya dari segi konspirasi), setelah itu terjadi diskusi antara temen2 yg mengimunisasi anaknya dan yg tidak. Kebetulan aku juga kmrn baru aja posting tentang itu, dan di postingan tsb, aku cuma nyebut sekilas tentang link tsb karena memang keputusan kami untuk gak mengimunsasi Ziyad 3th yang lalu bukan karena itu (konspirasi dsb). Namun tetap alhamdulillah hasil diskusi ini insya Allah tidak akan menyinggung hal-hal yang berkenaan dengan konspirasi dsb. Semoga dengan membaca artikel ini, yang masih bingung bisa menetapkan apakah dia memilih tetap mengimunisasi atau tidak.
Kesimpulan Ringkasnya:
Yang mengimunisi: yakin dengan kehalalan vaksin dan ridho anaknya terinjeksi vaksin tsb secara kontinyu.
Yang tidak mengimunisasi: tidak yakin dengan kehalalan vaksin dan kurang ridho anaknya terinjeksi vaksin secara kontinyu.
Kenapa tidak aku cantumkan masalah darurat di sini? Kita perjelas satu persatu dibawah ya hasil kesimpulan tsb.
Oh ya, yang perlu diingat bahwa insya Allah ketika kita menemukan saudara kita memutuskan hal yang berbeda dengann kita, maka tidak perlu gundah gulana dan emosi ataupun memaksakan pendapat kita, karena masing-masing pihak insya Allah telah mempertimbangkan secara masak dan alasannya adalah berkisar di kesimpulanku di atas.
Faedah2 berikut sebenernya cerita yg aku denger dr suami saat beliau menemani ust. Arifin saat jadi pembicara road show pengusaha muslim di Jogja. Aku sebut doktor, krn beliau baru aja lulus S3 dr Madinah, summa cum laude loh. Dan bang Hen bener2 merasakan kecerdasan sang ustadz ktk ngobrol dsb.
E tapi ini aku udah ga fresh lg nginget semua faedahnya, seinget aku aja ya.
Poligami
Ini sih pembicaraan ringan. Entah kenapa bisa sampe ke topik ini. Jadi, ceritanya, beliau heran kalo ada istri yg santai2 aja ketika suaminya mau poligami, bahkan ada yg sampe nyariin dsb. Maka perlu di”curigai” ni jangan2 istrinya yg emang udah capek, ato alasan lainnya aw kamaa qool (atau sebagaimana yg beliau katakan).
Karena istri2 Rasulullah itu, ga ada yg tenang2 atau sampe mencarikan. Rasa cemburu mereka begitu besar. Walo demikian, ketika Rasulullah akhirnya mengambil istri lagi, tentu aja meteka mengizinkan krn itu memang hak beliau.
Akhir-akhir ini, di saat berpayah-payah di trimester pertama, banyak hal-hal yang membuat aku “tersadar” untuk semakin bersyukur walaupun si abang juga tak henti-hentinya mengingatkan aku untuk bersyukur dengan anugrah kehamilan ketiga yang sampai sejauh ini baik-baik kondisinya alhamdulillah.






