<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Catatan Cizkah &#187; Rumah Tangga-Keluarga</title>
	<atom:link href="http://cizkah.com/Artikel/keluarga/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cizkah.com</link>
	<description>Mencatat kehidupan...</description>
	<lastBuildDate>Tue, 31 Jan 2012 07:22:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Kecelakaan Xenia Itu..</title>
		<link>http://cizkah.com/kecelakaan-xenia-itu?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=kecelakaan-xenia-itu</link>
		<comments>http://cizkah.com/kecelakaan-xenia-itu#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 19:20:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cizkah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rumah Tangga-Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[kecelakaan]]></category>
		<category><![CDATA[musibah]]></category>
		<category><![CDATA[tugu tani]]></category>
		<category><![CDATA[Xenia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cizkah.com/?p=1234</guid>
		<description><![CDATA[<p>Posted in <a href="http://cizkah.com/Artikel/cuap-cuap/keluarga" title="Rumah Tangga-Keluarga">Rumah Tangga-Keluarga</a></p>Tweet Kalau malam ini akhirnya susah tidur dan nangis sesunggukan depan abang&#8230;that&#8217;s my own fault. Waktu kejadian kecelakaan itu dan infonya menyebar lewat twitter,aku baru sekedar tahu wajah sang penabrak. Kemudian tahu 3 orang dan 1 anak yg meninggal itu satu keluarga. Kalau ayah ibu sang anak (yusuf namanya&#8230;hiks&#8230;),selamat dan masih hidup. Tak ada foto [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="height:21px; padding-top:2px;" class="really_simple_share"><div style="float:left; width:100px; " class="really_simple_share_facebook_like"> 
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://cizkah.com/kecelakaan-xenia-itu&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=90&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=21" 
					scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:21px;" allowTransparency="true"></iframe>
			</div><div style="float:left; width:110px; padding-left:10px;" class="really_simple_share_twitter"> 
				<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
					data-text="Kecelakaan Xenia Itu.." data-url="http://cizkah.com/kecelakaan-xenia-itu">Tweet</a> 
			</div></div>
	<br style="clear:both;" /><p>Kalau malam ini akhirnya susah tidur dan nangis sesunggukan depan abang&#8230;that&#8217;s my own fault.</p>
<p>Waktu kejadian kecelakaan itu dan infonya menyebar lewat twitter,aku baru sekedar tahu wajah sang penabrak. Kemudian tahu 3 orang dan 1 anak yg meninggal itu satu keluarga. Kalau ayah ibu sang anak (yusuf namanya&#8230;hiks&#8230;),selamat dan masih hidup. Tak ada foto di berita2 yg aku baca kecuali foto sang penabrak. Itu sudah cukup membuat miris.</p>
<p><span id="more-1234"></span></p>
<p>Sampai kemarin,mas lyno mengirim pesan lewat whatsapp,puisi yg berjudul &#8220;Selamat Tinggal  Ayah&#8221;,yg dibuat oleh seseorang yg menggambarkan kejadian pagi itu sblm sang anak &#8220;pergi&#8221;. Di pesan itu juga berisi link untuk melihat gambar saat kejadian.</p>
<p>Karena sulit,akhirnya aku buka di laptop. Ya Allah&#8230;langsung nangis sambil meluk thoriq pas ngeliat fotonya. Gimana bapaknya menggendongnya,memeluknya,bahkan masih berusaha memberikan dot susu&#8230;melihat wajah sang anak&#8230;</p>
<p>Belum cukup sampai situ, aku melihat video, bagaimana sang bapak berkeliling ke korban lain sambil menggendong anaknya yg sudah meninggal itu. Ketika akhirnya karena tahu yg lain sudah meninggal, sang bapak baru menuju mobil polisi yg mengangkut korban lain. Di situ sang bapak memberi dot ke anaknya&#8230;memeluk berusaha merasakan detak jantungnya&#8230;Ya Allah&#8230;(nangis lagi). Kemudian ada org lain yg menalqinkan di telinga sang anak &#8220;asyhadu alaa ilaaha illallaah&#8221;. Dan terlihatlah wajah sang anak yg sudah meninggal dan wajah sang bapak yg seperti masih shock dan belum menyadari benar anaknya sudah meninggal.</p>
<p>Setelah seharian berusaha tegar. Mau tidur tadi, melihat wajah anak2, langsung terbayang-bayang lagi foto dan video kejadian itu.</p>
<p>Akhirnya meringsek ke deket abang dan ngobrol2 sebentar tapi ujung-ujungnya aku selalu ngomongin kecelakaan itu.</p>
<p>&#8220;abang&#8230;bapaknya ga nyadar ya anaknya meninggal?&#8221;<br />
&#8220;bukan ga nyadar..itu masih shock&#8230;bingung&#8221;<br />
Mulai nangis pelan dan makin sesunggukan..</p>
<p>Adek harusnya ga lihat videonya&#8230;Soalnya adek tu pemikir&#8230;&#8221;<br />
masih nangis&#8230;<br />
&#8220;Jangan lihat-lihat lagi ya.&#8221;<br />
Ngangguk-ngangguk sambil tetep nangis.<br />
&#8220;Adek berdoa&#8230;buat adek sama buat mereka juga.&#8221;<br />
Tambah sesunggukan&#8230;karena langsung terbayang lagi &#8220;mereka&#8221; yg dimaksud.</p>
<p>Sebelum-sebelumnya,pas blom tangisan berderai&#8230;ngingetin abang <a href="http:// ummiummi.com/doa-saat-orang-lain-tertimpa-musibah">doa ketika orang lain tertimpa musibah</a>. Semoga kalian para pembaca, juga tidak lupa berdoa dg doa tsb.</p>
<p>Ditulis lewat hp, supaya yg ada di benak ini tertuang dan tak melayang-layang terus dalam pikiran<br />
Semoga bisa tidur setelah ini.<br />
Ciz&#8230;yg lagi sedih&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cizkah.com/kecelakaan-xenia-itu/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pentingnya Mendoakan Keberkahan (Lebih Tepat daripada Kata &#8220;Masya Allah&#8221;)</title>
		<link>http://cizkah.com/pentingnya-mendoakan-keberkahan-lebih-tepat-dari-kata-masya-allah?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=pentingnya-mendoakan-keberkahan-lebih-tepat-dari-kata-masya-allah</link>
		<comments>http://cizkah.com/pentingnya-mendoakan-keberkahan-lebih-tepat-dari-kata-masya-allah#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 15:52:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cizkah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rumah Tangga-Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Ain]]></category>
		<category><![CDATA[Berkah]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Wudhu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cizkah.com/?p=1207</guid>
		<description><![CDATA[<p>Posted in <a href="http://cizkah.com/Artikel/cuap-cuap/keluarga" title="Rumah Tangga-Keluarga">Rumah Tangga-Keluarga</a></p>Tweet Aku gak biasa copy paste artikel/tulisan dari blog orang lain. Tapi kali ini aku merasa harus copy paste, karena mengklarifikasi artikel aku yang juga sudah banyak dibaca orang. Tentang pentingnya kata Masya Allah untuk menghindarkan seseorang dari &#8216;ain. Faedah ini sebenarnya didapat dari seorang ustadz juga dan ustadz lain. Tapi tanpa penjelasan detail. Setelah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="height:21px; padding-top:2px;" class="really_simple_share"><div style="float:left; width:100px; " class="really_simple_share_facebook_like"> 
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://cizkah.com/pentingnya-mendoakan-keberkahan-lebih-tepat-dari-kata-masya-allah&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=90&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=21" 
					scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:21px;" allowTransparency="true"></iframe>
			</div><div style="float:left; width:110px; padding-left:10px;" class="really_simple_share_twitter"> 
				<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
					data-text="Pentingnya Mendoakan Keberkahan (Lebih Tepat daripada Kata &#8220;Masya Allah&#8221;)" data-url="http://cizkah.com/pentingnya-mendoakan-keberkahan-lebih-tepat-dari-kata-masya-allah">Tweet</a> 
			</div></div>
	<br style="clear:both;" /><p>Aku gak biasa copy paste artikel/tulisan dari blog orang lain. Tapi kali ini aku merasa harus copy paste, karena mengklarifikasi artikel aku yang juga sudah banyak dibaca orang. Tentang pentingnya kata Masya Allah untuk menghindarkan seseorang dari &#8216;ain. Faedah ini sebenarnya didapat dari seorang ustadz juga dan ustadz lain. Tapi tanpa penjelasan detail. Setelah baca artikel yang akan aku copy paste, aku ngerasa memang lebih tepat mendoakan keberkahan (maksudnya dalilnya lebih kuat dan jelas). So&#8230;markiba&#8230;mari kita baca.</p>
<p><span id="more-1207"></span></p>
<p>*** Mulai Kutipan ***</p>
<div align="right"><strong>الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على خاتم الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين &#8230;أما بعد</strong><strong></strong></div>
<div>Nabi <em>shallallahu alaihi wasallam</em> bersabda :</div>
<div align="right"><strong>العين حق ولو كان شيء سابق القدر سبقته العين</strong></div>
<div>“<em>’Ain itu haq dan seandainya ada sesuatu yang mendahului takdir maka ‘ain-lah yang mendahuluinya</em>’.<a title="" href="file:///D:/Artikel%20Islam/Yang%20Seharusnya%20Diucapkan%20Ketika%20Melihat%20Sesuatu%20yang%20Menakjubkan.docx#_ftn1">[1]</a></div>
<p>&nbsp;</p>
<div>Dan Nabi <em>‘alaihish-shalaatu wa sallam</em> telah memberikan petunjuk kepada jalan yang paling ideal untuk mencegah kejahatan <em>‘ain</em> ketika seorang manusia melihat sesuatu yang membuatnya takjub. Dan kami akan menyebutkan jalan keluar ini, setelah kami sebutkan kesalahan yang terjadi pada kebanyakan manusia pada hari ini. (Yaitu) ketika melihat sesuatu yang membuatnya takjub, maka mereka bersegera untuk mengucapkan beberapa perkataan, diantaranya :</div>
<div>a.     <em>Maa syaa-Allah</em>.</div>
<div>b.     <em>Tabaarakallaah</em>.</div>
<div>c.      <em>Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad</em>.</div>
<div>d.     <em>Maa syaa-Allah laa quwwata illaa billah</em>.</div>
<div>e.     <em>Tabaarakar</em>-<em>Rahmaan</em>.</div>
<div>Semua perkataan ini tidaklah benar penggunaannya untuk menolak kejahatan <em>‘ain</em>. Ibnu Maajah meriwayatkan dari Abu Umaamah bin Sahl bin Hunaif, ia berkata :</div>
<div align="right"><strong>مر عامر بن ربيعة بسهل بن حنيف ، وهو يغتسل فقال : لم أر كاليوم ، ولا جلد مخبأة فما لبث أن لبط به ، فأتي به النبي صلى الله عليه وسلم فقيل له : أدرك سهلا صريعا ، قال &#8221; من تتهمون به &#8221; قالوا عامر بن ربيعة ، قال : &#8221; علام يقتل أحدكم أخاه ، إذا رأى أحدكم من أخيه ما يعجبه ، فليدع له بالبركة &#8221; ثم دعا بماء ، فأمر عامرا أن يتوضأ ، فغسل وجهه ويديه إلى المرفقين ، وركبتيه وداخلة إزاره ، </strong></div>
<div align="right"><strong>وأمره أن يصب عليه</strong><strong></strong></div>
<div>“‘Aamir bin Rabii&#8217;ah pernah melewati Sahl bin Hunaif, dan dia waktu itu sedang mandi. Maka Aamir berkata : ‘Aku belum pernah melihat sesuatu seperti hari ini, dan tidak pula kulit seorang gadis yang dipingit. Tidak lama kemudian Sahl terjatuh. Kemudian dia dibawa kepada Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em>, lalu dikatakan kepada beliau : “Sahl telah terjatuh/pingsan”.</div>
<div>Beliau <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda : <em>“Siapakah diantara kalian yang patut disalahkan/dicurigai dengan hal ini?”</em>.  Mereka menjawab : “’Aamir bin Rabii&#8217;ah”. Beliau <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda : “<em>Atas dasar apa salah seorang dari kalian ingin membunuh saudaranya?. Jika salah seorang diantara kalian melihat sesuatu yang menakjubkan dari saudaranya, hendaklah ia doakan baginya dengan keberkahan</em>”. Kemudian Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam </em>minta diambilkan air, dan memerintahkan ‘Aamir bin Rabii&#8217;ah untuk berwudhu. Lalu ia (‘Aamir) pun membasuh wajahnya, kedua tangannya sampai kedua siku, kedua lututnya, dan bagian dalam sarungnya. Lalu beliau <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam </em>memerintahkannya air bekas wudlunya tersebut untuk dinyiramkan kepada Sahl”.</div>
<div>Aku (Penulis) katakan : Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em> memberikan arahan pada siapa saja yang  melihat sesuatu yang membuatnya takjub agar mendoakan baginya keberkahan. Al-Munaawiy berkata :</div>
<div align="right"><strong>بأن يقول اللهم بارك فيه</strong><strong></strong></div>
<div>“Yaitu agar berkata : <em>Allaahumma baarik fiihi</em> (Ya Allah berikanlah keberkahan padanya)”.</div>
<div>Jika telah tetap bagi seseorang melihat sesuatu yang membuatnya takjub untuk mendoakan keberkahan baginya (yang dilihat); maka menjadi jelas tanpa keraguan sedikitpun bahwa segala hal yang keluar/terucap dari lisan-lisan kebanyakan manusia dari bentuk yang dimaksudkan darinya untuk mencegah gangguan <em>‘ain</em> adalah bentuk yang salah yang tidak memiliki dalil atasnya.</div>
<div>Dan perkataan-perkataan yang kami sebutkan semuanya adalah perkataan pujian kepada Allah <em>subhaanahu</em>. Bukan doa keberkahan sebagaimana yang disunnahkan. Maka perkataan <em>Tabaarakallahu</em> atau <em>Tabaarakarrahmaan</em> adalah perkataan untuk memuji Allah Yang Maha Tinggi. Adapun perkataan <em>Maa sya-Allah </em>– yaitu : apa saja yang dikehendaki Allah -  dan perkataan shalawat kepada Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em>; tidak ada muatan padanya doa barakah. <em> </em>Dan yang semisal dengan ini, dikatakan dalam kalimat tauhid.</div>
<div>Perkataan <em>Maa syaa Allah Laa quwwata illa billah</em>, maka itu terambil dari firman Allah <em>ta’ala</em>dalam surat Al-Kahfi : :</div>
<div align="right"><strong>إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ&#8230;</strong><strong></strong></div>
<div>“<em>Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu &#8220;MAA SYAA ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAH&#8221; (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)</em>&#8230;.”.</div>
<div>Tidak ada dalam kalimat tersebut yang menunjukkan bahwa orang tersebut mengatakannya (<em>maa syaa allah laa quwwata illaa billah</em>) untuk tidak hasad dan tidak menimpakan <em>‘ain </em>kepada kebunnya. Akan tetapi tujuan hanyalah untuk memberitahukan bahwa nikmat dan kebaikan yang ada di dalamnya, berasal dari Allah, dan agar tidak menipu dirinya sendiri serta menyangka bahwa dialah yang memberikan kebaikan tersebut pada dirinya sendiri. Berkata Al-Imaam Al Qurthuubiy :</div>
<div align="right"><strong>لا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ&#8221; أي ما اجتمع لك من المال فهو بقدرة الله تعالى وقوته لا بقدرتك وقوتك</strong><strong></strong></div>
<div>“<em>Laa quwwata illaa billah</em>, maksudnya : semua harta yang terkumpul padamu, maka hal tersebut karena kekuasaan dan kekuatan Allah <em>ta’ala</em>. Bukan karena kekuasaan dan kekuatanmu” [selesai].</div>
<div>Dan meskipun perkataan-perkataan ini adalah perkataan yang diberkahi, akan tetapi tidaklah cocok maksudnya sebagaimana mendoakan keberkahan kepada sesuatu yang manusia terkagum dengannya, dan takut menjadi hasad terhadap hal tersebut.</div>
<div>Dan di dalam hadits yang telah kita lewati, jalan yang disyari&#8217;atkan untuk mengobati <em>‘ain</em>adalah dengan berwudhu, lalu membasuh wajah, kedua tangan sampai siku, kedua lututnya, dan bagian dalam sarungnya, kemudian mengambil air wudhu tersebut dan menuangkannya pada orang yang tertimpa <em>‘ain</em>.</div>
<div>Telah berkata Al-Imaam Ibnu ‘Utsaimiin <em>rahimahullaahu ta’ala </em>:</div>
<div align="right"><strong>وفي حالة وقوعها(أي الإصابة بالعين) تستعمل العلاجات الشرعية وهي :</strong><strong><br />
القراءة : فقد قال النبي صلى الله عليه وسلم : &#8220;لا رقيه إلا من عين أو حمة&#8221; . وقد كان جبريل يرقي النبي ، صلى الله عليه وسلم فيقول: &#8220;باسم الله أرقيك، من كل شيء يؤذيك ، من شر كل نفس أو عين حاسد ، الله يشفيك ، باسم الله أرقيك&#8221;.<br />
الاستغسال: كما أمر به النبي ، صلى الله عليه وسلم ، عامر بن ربيعة في الحديث السابق ثم يصب على المصاب.<br />
أما الأخذ من فضلاته العائدة من بوله أو غائطه فليس له أصل، وكذلك الأخذ من أثره ، وإنما الوارد ما سبق من غسل أعضائه وداخلة إزاره ولعل مثلها داخلة غترته وطاقيته وثوبه والله أعلم.</strong></div>
<div>“Dan dalam keadaan jika terjadi <em>‘ain</em>, obat yang disyari&#8217;atkan untuk digunakan adalah :</div>
<div>1.     Membaca doa.</div>
<div>Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda : <em>&#8220;Tidak ada ruqyah melainkan jika terkena ‘ain atau bisa&#8221;</em>. Dahulu malaikat Jibril meruqyah Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em>, maka Jibril mengatakan : <em>Bismillaah urqiika min kulli syai&#8217;in yu’dziika, min syarri kulli nafsin au ‘ainin haasidin, Allahu yasyfiika, bismillah urqiika</em> <em>(Dengan menyebut nama Allah aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menganggumu, dan dari kejahatan setiap jiwa, atau kejahatan ‘ain yang hasad, semoga Allah menyembuhkanmu, dengan menyebut nama Allah aku meruqyahmu)</em>.</div>
<div>2.     Mandi.</div>
<div>Sebagaimana Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintahkan ‘Aamir bin Rabii&#8217;ah dalam hadits yang terdahulu, kemudian menuangkannya pada orang yang tertimpa<em>‘ain</em>.</div>
<div>Adapun mengambil dari sisa-sisa yang didapat dari air seninya, atau kotorannya, maka yang demikian tidak ada asalnya. Begitu juga mengambil dari bekas-bekas peninggalannya (itu juga tidak ada asalnya). Akan tetapi yang ada riwayatnya hanyalah sebagaimana yang telah lewat, yaitu dengan membasuh anggota tubuhnya dan bagian dalam sarungnya. Dan yang semisal dengannya adalah bagian dalam <em>gutrah</em>-nya, tutup kepalanya, dan pakaiannya. <em>Wallaahu a’lam</em>” [selesai].</div>
<div>Dan pencegah-pencegah <em>‘ain</em> yang disebutkan di atas tidaklah mengapa dan tidak menghilangkan <em>tawakkal</em>, bahkan itulah <em>tawakkal</em>. Karena sesungguhnya <em>tawakkal </em>adalah bersandar pada Allah <em>subhaanahu</em>, dengan melakukan sebab-sebab yang Allah bolehkan atau perintahkan dengannya. Dan dahulu Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> melindungi Al-Hasan dan AlHusain dengan mengatakan :</div>
<div align="right"><strong>أعيذكما بكلمات الله التامة من كل شيطان وهامة ، ومن كل عين لامة&#8221; ويقول : هكذا كان إبراهيم يعوذ إسحاق وإسماعيل عليهما السلام</strong><strong></strong></div>
<div><em>“Saya meminta perlindungan (kepada Allah) untuk kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari semua syaithaan dan binatang yang berbahaya, dan dari semua ‘ain yang jahat”.</em></div>
<div>Dan beliau berkata : Begitu juga dulu Nabi Ibraahiim melindungi Ishaaq dan Ismaa&#8217;iil<em>‘alaihimas-salaam</em> [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy].</div>
<div>Dengan tulisan ini, sampailah tujuan apa yang ingin dikatakan, yaitu memberikan petunjuk kaum muslimin untuk menggunakan bentuk (lafadh) yang <em>syar&#8217;ii</em> ketika melihat sesuatu yang membuat mereka kagum sehingga mereka tidak mengganggu/menyakiti saudara-saudara mereka yang muslim. Dan kepada orang yang memberikan <em>‘ain</em>, untuk saling tolong-menolong dengan orang yang tertimpa <em>‘ain </em>atau keluarganya jika diminta darinya untuk mandi.</div>
<div>[diterjemahkan oleh Abou Saleemah dari <a href="http://www.4salaf.com/vb/showthread.php?t=19302">http://www.4salaf.com/vb/showthread.php?t=19302</a>, dengan sedikit <em>editing</em> dari Aboul-Jaoezaa’].</div>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<div><a title="" href="file:///D:/Artikel%20Islam/Yang%20Seharusnya%20Diucapkan%20Ketika%20Melihat%20Sesuatu%20yang%20Menakjubkan.docx#_ftnref1">[1]</a>      Diriwayatkan oleh Muslim.</div>
</div>
</div>
<div>*** Akhir Kutipan ***</div>
<div>Dicopy paste dari webnya ustadz <a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2012/01/yang-seharusnya-diucapkan-ketika.html#more" target="_blank">Abul Jauzaa.</a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cizkah.com/pentingnya-mendoakan-keberkahan-lebih-tepat-dari-kata-masya-allah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ujian Kesabaran dari Satu Gigi (Hmm&#8230;atau Banyak Gigi?)</title>
		<link>http://cizkah.com/ujian-kesabaran-dari-satu-gigi-hmm-atau-banyak-gigi?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=ujian-kesabaran-dari-satu-gigi-hmm-atau-banyak-gigi</link>
		<comments>http://cizkah.com/ujian-kesabaran-dari-satu-gigi-hmm-atau-banyak-gigi#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jan 2012 16:48:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cizkah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rumah Tangga-Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Gigi]]></category>
		<category><![CDATA[Gigi Mati]]></category>
		<category><![CDATA[Karies]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cizkah.com/?p=1197</guid>
		<description><![CDATA[<p>Posted in <a href="http://cizkah.com/Artikel/cuap-cuap/keluarga" title="Rumah Tangga-Keluarga">Rumah Tangga-Keluarga</a></p>Tweet Pertama kali aku sarankan, untuk ibu-ibu yang sudah hamil dan menyusui, rajin-rajinlah memeriksa gigi sesuai anjuran yaitu 6 bulan sekali. Bagaimanapun, perawatan itu lebih murah daripada pengobatan bu ibu. #ihik Ceritanya, pas usia kehamilan Thoriq 9 bulan (itu berarti setahun yang lalu), tambalan gigi gerahamku mulai lepas. Tapi kondisi waktu itu tidak memungkinkan untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="height:21px; padding-top:2px;" class="really_simple_share"><div style="float:left; width:100px; " class="really_simple_share_facebook_like"> 
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://cizkah.com/ujian-kesabaran-dari-satu-gigi-hmm-atau-banyak-gigi&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=90&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=21" 
					scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:21px;" allowTransparency="true"></iframe>
			</div><div style="float:left; width:110px; padding-left:10px;" class="really_simple_share_twitter"> 
				<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
					data-text="Ujian Kesabaran dari Satu Gigi (Hmm&#8230;atau Banyak Gigi?)" data-url="http://cizkah.com/ujian-kesabaran-dari-satu-gigi-hmm-atau-banyak-gigi">Tweet</a> 
			</div></div>
	<br style="clear:both;" /><p>Pertama kali aku sarankan, untuk ibu-ibu yang sudah hamil dan menyusui, rajin-rajinlah memeriksa gigi sesuai anjuran yaitu 6 bulan sekali. Bagaimanapun, perawatan itu lebih murah daripada pengobatan bu ibu. #ihik</p>
<p>Ceritanya, pas usia kehamilan Thoriq 9 bulan (itu berarti setahun yang lalu), tambalan gigi gerahamku mulai lepas. Tapi kondisi waktu itu tidak memungkinkan untuk ke dokter gigi. Atau mungkin karena pikiran, &#8220;Cabut aja deh&#8221; , jadinya mikir mesti nunggu lahiran dulu (kan gak boleh nyabut gigi lagi hamil ya).</p>
<p><span id="more-1197"></span></p>
<p>Waktu Thoriq baru berusia hampir sebulan (masih merah loh), akhirnya ke dokter gigi, dan udah parah banget kondisi giginya. Pilihannya perawatan dengan berkali-kali datang, atau cabut. Karena sudah gak tahan dengan sakitnya, aku pilih CABUT. Sakitnya bukan main. Badanku langsung panas esok harinya.</p>
<p>Habis itu masih kapok ke dokter gigi, terus waktu itu susah banget nyari jadwal yang tepat dan belum nemu tempat dokter gigi yang enak. Sampai akhirnya, baru sadar kalau dekat rumah tuh ada Family Dental Care (FDC). Ya Allah&#8230;kemana aja&#8230;udah hampir 2 tahun ngontrak baru nyadar.</p>
<p>Karena ngerasa mulutku udah gak nyaman banget, aku minta abang nganterin ke FDC. Pinginnya scaling. Tapi itu udah sebulanan yang lalu. Gak berhasil-berhasil, karena kalo pas weekend biasanya hujan deras atau bertepatan dengan kepentingan lain.</p>
<p>Eh&#8230;gak taunya, beberapa hari yang lalu baru sadar,ada dua gigi yang ternyata kondisinya sudah mulai berlubang . AAAAAA&#8230;.Mulai deh maksa-maksa abang buat nganter ke dokter gigi. Soalnya gak mau dicabut lagi, sayang-sayang.</p>
<h2>Gigi Mati</h2>
<p>Akhirnya malam ini berhasil bikin janji sama dokter. Dokter Endah namanya. Satu hari cuma nerima 3 pasien. Kita dapet jam 9 malam :(. Dan ternyata, pas kami datang, udah ada pasien lain yang nyelip karena kita belum dateng :(. Jadi makin malam deh.</p>
<p>Dr Endahnya alhamdulillah ramah banget. Waktu ngeliat salah satu asistennya yang laki-laki, beliau ngerti kalo aku kurang nyaman. Aku juga izin ke abang, &#8220;Bang..dibuka nih?&#8221; Dokternya akhirnya nyuruh assiten yang laki2 itu pergi.</p>
<p>Kembali ke cerita gigi mati. Tadinya tujuan utama mau tambal yang gigi atas itu. Ternyata, dikasih cermin, trus dijelasin satu-satu kondisi gigiku. Yang ini, yang itu yang ini dan itu. Hiks :(. Sedih banget deh. Aku bilang, padahal setahun yang lalu belum gini. Kata dr. Endah wajar karena hamil dan menyusui. Penghiburan kali ya. Kaget juga pas ngeliat gigi geraham yang atas kondisinya lebih parah dari yg aku kira.</p>
<p>Dan tambah sedihnya lagi, ternyata gigi itu sudah matiiiiiiiiiiiii. AAAAAAAAAAAAAaa&#8230;.mo nangissss&#8230;</p>
<p>Padahal di luar baca-baca tentang itu di poster-poster yang ditempel. Kata dr. Endah, bisa perawatan, biayanya agak mahal. Kira-kira butuh 3 kali pertemuan.</p>
<p>&#8220;Berapa ya dok biayanya?&#8221;</p>
<p>&#8220;SEkali kunjungan sekitar 200 ribuan.&#8221;</p>
<p>Oh oh&#8230;.Dan itu baru perawatan satu gigi thok!</p>
<p>Dan karena perawatan itu butuh ngeliat rontgen gigi (alhamdulillah udah rontgen setahun yang lalu pas mo cabut gigi), akhirnya nambal gigi lain. Dipilih dipilih&#8230;..dipilih giginyaaa&#8230;.</p>
<p>Karena selama penambalan itu, abang dan anak-anak aku minta keluar aja biar Thoriq gak rewel. Sampe luar, pas bayar, aku cerita singkat ke abang kondisi gigiku. Masih galau perasaan. Sampai rumahpun gitu. Galaunya campur aduk. Antara gigi yang rusak, biaya yang banyak , mesti nepatin juga sama bisanya abang nganter aku, dan sedih kasihan kalau anak-anak mesti nunggu lama setiap aku perawatan. Begitulah cizkah. Gak tau karena melankolis. Atau karena emang pikiran ibu-ibu ya. Hiks&#8230;</p>
<p>Setelah galaunya itu aku ciprat-cipratin ke abang :D. Alhamdulillah abang bisa ngertiin cepet dan mulai menghibur dan menenangkan aku. Sabar&#8230;sabar&#8230;Sabarr&#8230;sabar&#8230;kemenangan yang besar bagi orang yang bersabar&#8230;Mestinya aku bersyukur..sabar&#8230;alhamdulillah satu gigi udah ketambal.</p>
<p>Mulai sedikit tenang. Bener juga. Alhamdulillah tambalannya bagus, rapih dan gak keliahatan. Beda sama tambalan sebelumnya. Harganya tapi beda jauh juga :|. Kalo di tempat yang dulu, persatu gigi, biaya tambalnya Rp 65.000. Kalo tadi malam kena Rp 206.000 (informasi biaya di sini untuk ancer-ancer ibu-ibu yang mau periksa gigi).</p>
<p>Jadi ibu-ibu. Sana sana&#8230;ke dokter gigi sanaa&#8230;Perawatan itu lebih baik daripada pengobatan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cizkah.com/ujian-kesabaran-dari-satu-gigi-hmm-atau-banyak-gigi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rumah dan Anting Hilang</title>
		<link>http://cizkah.com/rumah-dan-anting-hilang?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=rumah-dan-anting-hilang</link>
		<comments>http://cizkah.com/rumah-dan-anting-hilang#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 16:22:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cizkah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rumah Tangga-Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[KPR]]></category>
		<category><![CDATA[Optimis]]></category>
		<category><![CDATA[Putus Asa]]></category>
		<category><![CDATA[Riba]]></category>
		<category><![CDATA[Semangat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cizkah.com/?p=1188</guid>
		<description><![CDATA[<p>Posted in <a href="http://cizkah.com/Artikel/cuap-cuap/keluarga" title="Rumah Tangga-Keluarga">Rumah Tangga-Keluarga</a></p>Masya ALlah...begini ya rasanya tidak putus asa.
Begini ya rasanya tetap berharap dan berusaha.
Begini ya rasanya tetap berusaha pula menerima dengan lapang dada ketika sesuatu itu tidak/belum kita dapatkan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="height:21px; padding-top:2px;" class="really_simple_share"><div style="float:left; width:100px; " class="really_simple_share_facebook_like"> 
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://cizkah.com/rumah-dan-anting-hilang&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=90&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=21" 
					scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:21px;" allowTransparency="true"></iframe>
			</div><div style="float:left; width:110px; padding-left:10px;" class="really_simple_share_twitter"> 
				<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
					data-text="Rumah dan Anting Hilang" data-url="http://cizkah.com/rumah-dan-anting-hilang">Tweet</a> 
			</div></div>
	<br style="clear:both;" /><p>Beberapa hari yang lalu, aku kehilangan sebelah anting emas yang baru beberapa bulan juga kumiliki. Waktu sadar kalau hilang, rasanya sedih, tapi tetap berusaha mencari dan berharap bahwa anting itu ada. Bahwa anting itu gak terjatuh ke saluran air kamar mandi. Bahwa anting itu gak tesapu saat abang membersihkan kamar. Karena dua kemungkinan itu yang ada.</p>
<p>Aku terbiasa mencari sesuatu dengan meruntut kejadian paling dekat sebelum sesuatu itu akhirnya lenyap dari ingatan dan pandangan. Yang aku ingat, saat sholat maghrib, anting itu masih ada di sana, di telingaku. Saat sholat isya itulah, aku tersadar, karena sewaktu membasuh telinga tak ada yang mengganjal seperti biasa. Kemungkinan yang ada adalah, anting itu terlepas saat aku mengganti baju. Dan waktu itu, yang aku ingat, aku mengganti baju yang bersih dari najis di kamar kedua. Padahal, kebetulan sekali, abang membersihkan kamar tersebut antara waktu maghrib dan isya.</p>
<p><span id="more-1188"></span></p>
<p>Tapi aku diam, tidak ingin membicarakan itu ke abang yang kemudian akan membuat 2 hal. Terkesan menyalahkan atau pun nantinya nanti abang yang merasa bersalah sendiri. Karena aku memang tidak menyalahkan abang karena itu hanya sebuah kemungkinan. Dan pun aku tidak ingin abang merasa bersalah.</p>
<p>Aku cuma berusaha terus mencari dan berharap. Tapi ketika tak ketemu hari itu dan hari-hari esoknya aku tetap diam. Sempat siangnya, aku membongkar sampah :D. AKu pikir, it&#8217;s worth it, membongkar sampah dengan harga &gt; Rp 250.000. Cuma sedikit&#8230;cuma memeriksa sampai batas sampah yang masuk saat sebelum abang bersih-bersih. Tetap nihil.</p>
<p>Aku juga menelusuri kamar mandi. Tetap nihil. Begitulah sampai beberapa hari.</p>
<p>Sampai dua hari yang lalu, aku mulai yakin momen hilangnya memang seperti yang aku sebut di atas. Aku bongkar-bongkar sudut di balik pintu kamar kedua. Di sana ada koper besar dan eva matt (alas plastik) yang disimpan dalam plastik besar pula. Waktu itu aku mencari perlahan-lahan. Berharap anting itu ada di dalam plastik eva matt. Berharap anting itu ada di antara sela-sela koper. Dan berpikir&#8230;</p>
<p>Masya ALlah&#8230;begini ya rasanya tidak putus asa.<br />
Begini ya rasanya tetap berharap dan berusaha.<br />
Begini ya rasanya tetap berusaha pula menerima dengan lapang dada ketika sesuatu itu tidak/belum kita dapatkan</p>
<p>Dan rasa itu begitu penting, begitu aku resapi, untuk kemudian dihubungkan dengan asa untuk memiliki rumah. Asa itu tak boleh hilang, walau bagaimana keadaan kami sekarang. Asa itu tak boleh hilang&#8230;asa itu tak boleh hilang&#8230;</p>
<p>Dan lagi bermanis-manis dengan rasa itu, aku menundukkan kepala, menatap kolong meja kecil yang bersebrangan dengan posisi koper.</p>
<p>Masya Allah&#8230;kilau itu. Anting itu ada di sanaaaaaa&#8230;&#8230;.! Terpojok di tepian antara tembok dan lantai. Bener-bener gak nyangka kalau ternyata masih bisa memiliki anting itu berpasangan. Aku ambil pelan-pelan dari kolong meja. Masih kaya mimpi. Masih merasakan manis asa itu. Setelah itu langsung manggil abang yang lagi bermain dengan Thoriq dan Ziyad di luar rumah.</p>
<p>&#8220;Abaang&#8230;.Antingku ketemuuu alhamdulillah&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Alhamdulillaaah&#8230;&#8221;</p>
<h3>Ruginya ber-KPR Ria</h3>
<p>Esok harinya, bagian dari scene dari takdir ALlah tentang rumah  adalah cerita abang tentang artikel ust. Arifin Badri yang akan terbit di <a href="http://majalah.pengusahamuslim.com" target="_blank">majalah PengusahaMuslim</a>.</p>
<p>Selain dosa yang sangat besar karena terkait dengan riba yang ada di dalamnya, terdapat berbagai kerugian KPR dan lebih menguntungkannya uang tersebut ditabung (kalo ada ya :D). Kalaupun tidak ada dan sibuk dengan mengumpulkan uang kontrakan, itu tetap lebih baik daripada harus terjerat riba.</p>
<p>Kalau kita ikut dengan program KPR, kita punya hutang selama 10-15 tahun. Bisa dibayangkan? Padahal belum tentu umur kita sepanjang itu, walaupun tentu kita berharap umur kita dipanjangkan dalam ketaatan.</p>
<p>Kalau kita ikut <strong>tidak</strong> ikut program KPR, harapannya dalam 10-15 tahun kalau hemat dan rajin menabung, maka kita punya rumah baru, bisa milih tempatnya sendiri, bentuknya dll. Beda dengan kalau kita ikut program KPR yang berarti sudah rumah lama, banyak rusak-rusak, sudah keluar juga mesti untuk renovasi, penambahan ini itu dll.</p>
<p>Dan lain sebagainya. Beli aja majalahnya kalau penasaran :D (iklan tak berbayar :D).</p>
<p>Demikian&#8230;semoga kita semua merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang kita miliki serta tidak pula tidak putus asa dengan rahmat dari Allah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cizkah.com/rumah-dan-anting-hilang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doodle or Not Doodle!</title>
		<link>http://cizkah.com/doodle-or-not-doodle?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=doodle-or-not-doodle</link>
		<comments>http://cizkah.com/doodle-or-not-doodle#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Nov 2011 12:20:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cizkah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rumah Tangga-Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[doodle]]></category>
		<category><![CDATA[gambar]]></category>
		<category><![CDATA[hobi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cizkah.com/?p=1070</guid>
		<description><![CDATA[<p>Posted in <a href="http://cizkah.com/Artikel/cuap-cuap/keluarga" title="Rumah Tangga-Keluarga">Rumah Tangga-Keluarga</a></p>Tweet Kalau zaman kecil dulu, di suruh isi biodata &#8211; tahu kan? zamannya anak-anak beli buku harian kecil gitu tapi diisi oleh teman-teman -, seringkali aku menulis Hobi: menggambar, membaca Walau pada dasarnya, sejujur-jujurnya, aku gak seperti orang-orang yang memang benar-benar maniak menggambar, yang selalu mencoret di segala situasi di berbagai tempat, dan hasilnya keren-keren, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="height:21px; padding-top:2px;" class="really_simple_share"><div style="float:left; width:100px; " class="really_simple_share_facebook_like"> 
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://cizkah.com/doodle-or-not-doodle&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=90&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=21" 
					scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:21px;" allowTransparency="true"></iframe>
			</div><div style="float:left; width:110px; padding-left:10px;" class="really_simple_share_twitter"> 
				<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
					data-text="Doodle or Not Doodle!" data-url="http://cizkah.com/doodle-or-not-doodle">Tweet</a> 
			</div></div>
	<br style="clear:both;" /><div class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><img src="http://cizkah.com/image/mobil-ziyad.jpg" alt="gambar mobil ziyad" width="400" height="300" /><p class="wp-caption-text">Hasil gambar mobil Ziyad yang khas versi tahun 2010, ada cerobong asapnya :</p></div>
<p>Kalau zaman kecil dulu, di suruh isi biodata &#8211; tahu kan? zamannya anak-anak beli buku harian kecil gitu tapi diisi oleh teman-teman -, seringkali aku menulis</p>
<p>Hobi: menggambar, membaca</p>
<p>Walau pada dasarnya, sejujur-jujurnya, aku gak seperti orang-orang yang memang benar-benar maniak menggambar, yang selalu mencoret di segala situasi di berbagai tempat, dan hasilnya keren-keren, niat banget dan wah deh pokoknya. Hobi menggambar itu sekedar karena kadang-kadang aku suka ikut lomba gambar &#8211; pernah juga ikut lomba harian UNESCO kelas 2 SD tapi tentu aja gak menang : D pesimis deeh -, pernah sesekali diajarin lukis dan gambar sama Papa, pengen banget bisa juara gambar/mewarnai tapi gak pernah bisa, pengen banget bisa jago kaya orang-orang tapi kayanya mentok-mentok aja&#8230;Semuanya serba otodidak&#8230;niru, nyontek dst.</p>
<p>Nah&#8230;waktu ngeliat aktifitas Ziyad berbulan-bulan&#8230;aku baru sadar bahwa Ziyad yang pantas menuliskan kalimat itu kalo ada yang nanya kesukaan dia apa.</p>
<p>Hobi: MENGGAMBAR!</p>
<p><span id="more-1070"></span></p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><img src="http://cizkah.com/image/mobil-ziyad2.jpg" alt="gambar mobil ziyad" width="400" height="300" /><p class="wp-caption-text">Hasil gambar mobil Ziyad yang khas lainnya versi tahun 2010, mirip traktor, yang ini ngewarnainnya dibantuin aku</p></div>
<p>Lebih spesifik lagi, yang digambar adalah panah, orang perang, mobil, mobil balap, helikopter, perahu sekarang udah pengen gambar apa aja yang di liat si tapi.</p>
<p>Dan hasilnya tuh luar biasa banget masyaAllah. Pada awalnya memang dia banyak diajarin sama aku. Trus mulai sering corat-coret sendiri, pake cat air, pake pena, spidol, pensil, crayon apa aja deh pokonya bisa buat gambar. Seneng banget kalo dibolehin pake spidol whiteboard, karena bakal seru bangete ngegambar sambil diwarnai hitam-hitam. Yang ada 2 hari langsung habis. Karena sudah berkali-kali, sekarang bolehnya spidol biasa aja.</p>
<p>Sekarang dia makin lihai banget masyaAllah, semua hal pengen dia gambar, dan crek crek crek&#8230;cepet banget. Dari gambar mobil yg bletot-bletot&#8230;sekarang gambar mobil balap. Kalau lagi gambar niat dan telaten banget. Ngegambar orang banyak lagi perang (seperti biasa&#8230;Thoriq bin Ziyad&#8217;s effect) itu SERING banget, padahal kan susah dan lama. Bisa dibilang, kami udah mau abis 4 rim kertas masyaAllah. Ada yang udah aku simpan, makin ke sini kok makin bagus2 tapi makin gak kesimpen saking banyaknya.</p>
<p>Terakhir tadi siang, ada tetangga &#8211; pak Joko namanya -, lagi mau benerin tiang speedy. Trus ngangkat tangga, sepertinya Ziyad bantuin. Abis itu dia langsung masuk rumah, &#8220;Mi mi&#8230;minta kertas.&#8221; Hasilnnya ini.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><img title="pak joko dan Ziyad" src="http://cizkah.com/image/lukis-tangga.jpg" alt="Gambar Ziyad" width="400" height="300" /><p class="wp-caption-text">Ziyad lagi bantuin Pak Joko ngangkat tangga</p></div>
<p style="text-align: left;">Abis itu hari ini dia lagi diajarin naik sepeda roda 2 sama abinya. Yang ada baru sebentar diajarin, dia pas masuk langsung minta kertas, mo digambar itu dia latihan sepeda.-______________-</p>
<p style="text-align: left;">Ini hasil gambar dia yang lainnya yang aku sempet foto dan upload di flickr<br />
<a title="Gambar ziyad by cizkah, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/cizkah/6038514191/"><img class="aligncenter" src="http://farm7.staticflickr.com/6195/6038514191_09464170c6.jpg" alt="Gambar ziyad" width="500" height="375" /></a></p>
<p>Itu gambar rumah kami, di depannya pohon rambutan. Yang di tengah itu aku, dia kalo gambar aku pake jilbab kaya gitu modelnya, segitiga hehe&#8230;Di kiri kanan itu abi dan ziyad. Kalo yang ini dia sebelumnya minta aku gambarin rumah kami&#8230;terus abis itu langsung dia tiru.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><img title="Ziyad gambar di whiteboard" src="http://cizkah.com/image/gambar-di-whiteboard.jpg" alt="Ziyad gambar di whiteboard" width="500" height="375" /><p class="wp-caption-text">Dibeliin whiteboard, karena temboknya baru dicat...Sekarang tapi udah teronggok tergantikan dengan kertas berlembar-lembar tiap harinya, temboknya tetep aja dicoret :D</p></div>
<p style="text-align: left;"><strong>Hikmahnya</strong>:</p>
<p>Kalo aku pikir-pikir&#8230;alhamdulillah Ziyad tanpa sadar sudah mempersiapkan diri untuk<strong> siap belajar tulis menulis</strong>. Padahal orang-orang susah payah bikin buku yang menarik biar anak bisa belajar lengkung, garis miring, tegak dan sebagainya sebagai pendukung anak agar siap menulis&#8230;Ziyad sudah melakukannya beratus-ratus kali &#8211; atau bahkan ribuan- dengan gambar-gambarnya yang tanpa henti itu. Dan memang keliatan hasilnya&#8230;pas tahun 2010 aku kasih dia buku tulis hijaiyah itu masih lemah banget garisnya&#8230;cenderung ngambang, kalo sekarang dia cepet dan tegas kalau disuruh mengikuti garis putus-putus untuk latihan menulis. Malah dia udah lancar banget nulia A, Z, O, G, ا ب ت ث dan lain-lain&#8230;angka juga 3, 5. Susah deh diceritain proses belajarnya dia&#8230;ada yang dari lihat film trus langsung dia gambar, ada yang niru aku ajarin. Kalau huruf A, dari Juni 2010 dia bisa &#8211; tanpa aku ajarin, cuma ngeliat aku sering nulisin itu -.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://cizkah.com/image/tulisan-ziyad.jpg" alt="tulisan ziyad" width="400" height="300" /></p>
<h3>Fakta Lain</h3>
<p>Dibalik maniaknya Ziyad dengan kegiatan gambar menggambar, dia gak terlalu suka mewarnai. Hehe&#8230;agak aneh ya. Tapi begitulah adanya. Aku pancing aku temenin dia mewarnai buku gambar pesawat. Yang ada setelah beberapa saat, dia ngelengkapin buku gambarnya dengan gambar-gambar dia sendiri. Dikasih awan dll.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><img src="http://cizkah.com/image/balap-mobil.jpg" alt="gambar balap mobil" width="400" height="300" /><p class="wp-caption-text">gambar balap mobil, yang gambar perang mana yah...kok gak ada yg kefoto</p></div>
<p>Catatan Lain:</p>
<p>Alhamdulillah tapi Ziyad sudah tahu kalau gak boleh gambar makhluk, jadi dia gambar selalu gak pake mata. Kalau ke orang-orang juga gitu. Kaya pas ada om Jepi-nya datang terus ngeggambarin robot ada matanya, terus Ziyad bilang, &#8220;Gak usah di kasih mata.&#8221; Pas dia gambar di depan neneknya juga bilang, &#8220;Kata Ummi gak boleh dikasih mata.&#8221; Neneknya ngadu ke aku hehe&#8230;Alhamdulillah emang udah dikasih tau, nanti ditanya diakhirat padahal kita kan gak bakal bisa ngidupin yang kita gambar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cizkah.com/doodle-or-not-doodle/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saudara Susuan</title>
		<link>http://cizkah.com/saudara-susuan?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=saudara-susuan</link>
		<comments>http://cizkah.com/saudara-susuan#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 06:58:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cizkah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga-Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cizkah.com/?p=1040</guid>
		<description><![CDATA[<p>Posted in <a href="http://cizkah.com/Artikel/parenting" title="Parenting">Parenting</a><a href="http://cizkah.com/Artikel/cuap-cuap/keluarga" title="Rumah Tangga-Keluarga">Rumah Tangga-Keluarga</a></p>Tweet Enam hari lagi insyaAllah&#8230;fiuw fiuw&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="height:21px; padding-top:2px;" class="really_simple_share"><div style="float:left; width:100px; " class="really_simple_share_facebook_like"> 
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://cizkah.com/saudara-susuan&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=90&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=21" 
					scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:21px;" allowTransparency="true"></iframe>
			</div><div style="float:left; width:110px; padding-left:10px;" class="really_simple_share_twitter"> 
				<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
					data-text="Saudara Susuan" data-url="http://cizkah.com/saudara-susuan">Tweet</a> 
			</div></div>
	<br style="clear:both;" /><p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="saudara susuan, le-ri: Thoriq, Ziyad, Sofia" src="http://cizkah.com/image/saudara-susuan.jpg" alt="saudara susuan Thoriq, Ziyad, Sofia" /></p>
<p style="text-align: center;"><span id="more-1040"></span></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Sofia" src="http://cizkah.com/image/sofia-yusya1.jpg" alt="saudara susuan Sofia" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="saudara susuan, le-ri: Thoriq, Ziyad, Sofia" src="http://cizkah.com/image/saudara-susuan2.jpg" alt="saudara susuan Thoriq, Ziyad, Sofia" /></p>
<p style="text-align: center;">Enam hari lagi insyaAllah&#8230;fiuw fiuw&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cizkah.com/saudara-susuan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ziyad dan Thoriq Punya Adik Perempuan</title>
		<link>http://cizkah.com/ziyad-dan-thoriq-punya-adik-perempuan?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=ziyad-dan-thoriq-punya-adik-perempuan</link>
		<comments>http://cizkah.com/ziyad-dan-thoriq-punya-adik-perempuan#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Oct 2011 08:51:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cizkah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rumah Tangga-Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Susuan]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cizkah.com/?p=996</guid>
		<description><![CDATA[<p>Posted in <a href="http://cizkah.com/Artikel/cuap-cuap/keluarga" title="Rumah Tangga-Keluarga">Rumah Tangga-Keluarga</a></p>Tweet Bamanya Sofia Yusya. Umurnya 7 bulan. Anak susuanku&#8230;^^ Bapak ibunya adalah pak Agus dan Bu Erlina yang sedang menjalankan ibadah haji yang sudah sangat lama sekali mereka nantikan. Tahun kemarin, ketika bu Erlina memutuskan pulang ke Indonesia memang diniatkan untuk berangkat haji, tapi qodarullah trus hamil dan gak boleh berangkat karena gak bisa suntik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="height:21px; padding-top:2px;" class="really_simple_share"><div style="float:left; width:100px; " class="really_simple_share_facebook_like"> 
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://cizkah.com/ziyad-dan-thoriq-punya-adik-perempuan&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=90&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=21" 
					scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:21px;" allowTransparency="true"></iframe>
			</div><div style="float:left; width:110px; padding-left:10px;" class="really_simple_share_twitter"> 
				<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
					data-text="Ziyad dan Thoriq Punya Adik Perempuan" data-url="http://cizkah.com/ziyad-dan-thoriq-punya-adik-perempuan">Tweet</a> 
			</div></div>
	<br style="clear:both;" /><p>Bamanya Sofia Yusya. Umurnya 7 bulan.</p>
<h2>Anak susuanku&#8230;^^</h2>
<p><span id="more-996"></span>Bapak ibunya adalah pak Agus dan <a href="http://kisahmuslim.com/mualaf-masuk-islam/" target="_blank">Bu Erlina </a>yang sedang menjalankan ibadah haji yang sudah sangat lama sekali mereka nantikan. Tahun kemarin, ketika bu Erlina memutuskan pulang ke Indonesia memang diniatkan untuk berangkat haji, tapi qodarullah trus hamil dan gak boleh berangkat karena gak bisa suntik vaksin meningitis.</p>
<p>Sofia diantar tanggal 11 Oktober 2011 malam hari. Seharian rasanya deg-degan&#8230;kaya pas mau berangkat mudik kemaren&#8230;kaya pas mau pendadaran skripsi&#8230;Heheh&#8230;asli&#8230;soalnya membayangkan sesuatu yang sulit dibayangkan karena belum pernah melaluinya. Takut, cemas campur aduk dengan asa dan percikan-percikan rasa senang karena bisa merasakan menjadi ibu susuan.</p>
<p>Baru sekitar 11 hari Sofia di rumah. Tapi aku yakin, masing-masing pihak yang terlibat dalam hal persusuan ini banyak banget belajar. Apalagi aku. Alhamdulillah ada tetangga (Ela) yang bantuin untuk momong-momong pas siang hari.</p>
<h2>Belajar Ikhlas</h2>
<p>Berasa banget belajar mencintai, mengurus, menyusui, membersihkan pupnya,  pas hari-hari pertama itu beraaat banget karena bagaimana pun itu bukan anak kandung. Yang  datang, menyusu, menyisakan waktu luang yang sedikit (karena masih adaptasi), menyebarkan bau hormon yang berbeda, teriakan dan tangisan malam hari dari kedua bayi. Waww&#8230;subhanallah. Amazing banget dan lumayan bikin stress. Malah sampai kepikiran, apakah diriku terkena<em> baby blues syndrome</em> ya pas di minggu awal. Alhamdulillah di minggu kedua mulai terasa lebih ringan dan mulai terbiasa dengan kehadiran Sofia. Malah kepikiran, gini ya rasanya punya anak 3 orang masih kecil-kecil.</p>
<h2>Belajar Berbagi</h2>
<p>Yang ini utamanya Thoriq yang belajar. Pas minggu awal, yang suka bikin sedih ngelihat ekspresinya Thoriq kalo pas Sofia lagi nenen. Heheh&#8230;Nanti terus dia menghampiri dan juga pengen ikutan nenen. Bisa sih (karena Thoriq nenennya udah jumpalitan), tapi dia gak nyaman dan gak bisa nemu posisi uwenak dong hehe&#8230;jadi akhirnya ganti-gantian aja.</p>
<h2>Belajar Mengatur Waktu</h2>
<p>Dari dulu mah belajar terus ya mengatur waktu biar semua kerjaan ke <em>handle</em>. Kerjaan rumah, kerjaan di Yufid, ngurus anak-anak, masak, nyuci baju dll dll. Kebayang nambah lagi kerjaannya, karena makanan Sofi masih beda jenisnya sama Thoriq. Bu Erlina sih sudah meninggalkan makanan-makanan instan dan ini aku kasih pas di minggu awal. Tapi aku yang tipikal rada sok perfeksionis, pengennya Sofi juga ikutan makan homemade.Pas masuk minggu kedua, alhamdulillah aku udah bisa mulai masak-masak buat makanannya Sofi (dan tentu saja juga masak makanan buat Thoriq). Alhamdulillah kadang masih bisa sama, tinggal tingkat keblenderannya aja yang beda.</p>
<p>Kalo ada  yang tanya kerjanya aku kapan untuk Yufid dengan keadaan ini. Alhamdulillah, Allah memberi kekuatan, aku kerjanya dari sekitar jam 3 pagi. Hwehhee. Pas minggu awal, aku kan mesti kebangun karena kerongkongan keriingg&#8230;Abis itu udah sulit tidur lagi, karena Sofia justru makin doyan nenen pas menjelang subuh. Jadinya malah kerasa ga tidur. Pagi Sofia bangun, Thoriq masih blum jadwalnya bangun. Dst dst..jadinya stress. Sempet kepikiran apa minta cuti aja. Tapi kerjaanku berkaitan dengan yang lain&#8230;dan lagi masa-masa penting.</p>
<p>Alhamdulillah, trus minggu kedua ini, nyoba, ya udah deh, pas bangun jam 3-an itu, langsung nyalain laptop&#8230;kerja. Wih&#8230;jadinya ternyata menyenangkan alhamdulillah. Karena kerjaan banyak yang bisa beres, bisa masak nyoba berbagai resep, bisa bikin somay buat Thoriq, bisa bikin es krim sendiri. Tidurnya biasanya kleyep-kleyep  kalo pas nyusuin atau pas sekitar jam 8-an sebelum Thoriq bangun. Malah sudah bisa menuhin target kerja sampe sekitar Isya. Jadi lebih santai&#8230;alhamdulillahiladzi bini&#8217;matihi tatimussholihaat&#8230;</p>
<p>Tapi ini baru berjalan seminggu ini. Mudah-mudahan tetep bisa berjalan 4 minggu ke depan yaa&#8230;Aamiiin.</p>
<h2>Belajar Punya Adik Perempuan</h2>
<p>Yang ini buat Ziyad hehehe. Pas beberapa waktu sebelum Sofi di bawa ke rumah, aku udah kasih prolog ke dia. Sebelumnya kan bu Erlina juga udah beberapa kali ke rumah bawa Sofia dan Huzma (kakaknya sofia yang umurnya sepantaran sama Ziyad). &#8220;Adik Sofi mo tidur di sini. Nenen sama Ummi. Nanti Ziyad tidur sama abi ya. Soalnya sempit.&#8221; Dst dst&#8230;Walaupun pada akhirnya cuma hari pertama dia tidur sama abinya. Sampe sekarang aku, Ziyad, Thoriq dan Sofi umpel-umpelan di satu kasur.</p>
<p>Sikap Ziyad ke Sofi beda loh sama ke Thoriq. Kok bisa ya? Dia lembut banget kalo ke Sofi. Kalo ke Thoriq ya sangar hehehe.</p>
<h2>Belajar Jadi Anaknya Cizkah</h2>
<p>Yang ini buat Sofi. Hehe&#8230;Pas siang keesokan harinya, Sofi mulai dilatih duduk. (Sofi blum bisa duduk pas datang). Sama seperti Thoriq kemarin cuma di kasih bantal-bantal di sekeliling badannya. Alhamdulllah setelah 2 hari, dia bisa! Emang sepertinya hanya kurang diberi stimulus. Sampe sekarang masih agak malas-malasan untuk duduk. Ya masih awal-awal. Masih suka <em>ngeblak </em>ke belakang, jadi harus dijagain terus pas duduk.</p>
<p>Jadi &#8220;korban&#8221; BLW kedua aku huhuhu. Tapi Sofi belum bisa megang banget, belum ada reflek lepeh. Tapi insyaAllah pelan-pelan diajarin sedikit-sedikit.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1003" title="sofia-yusya baby led weaning" src="http://cizkah.com/image/sofia-yusya.jpg" alt="sofia-yusya baby led weaning" width="300" height="674" /></p>
<p>Belajar mandi air dingin.</p>
<p>Haha&#8230;serius deh&#8230;Yang sabar ya nak jadi anaknya ummu ziyad. Hihi&#8230;</p>
<h2>Belajar Punya Anak Perempuan</h2>
<p>Yang ini aku lagi nih yang belajar (abang juga sih). Pas malam pertama, gantiin diapernya Sofi&#8230;cukup merasa aneh melihat daerah kemaluannya hahaha. Beda banget kan, ngerawat Ziyad dan Thoriq. Apalagi Thoriq badannya yang gemuk gede masya Allah. Sofi mungil masya Allah.</p>
<p>Sofi tidur setiap 2-3 jam sekali. Sedangkan Thoriq&#8230;hmm&#8230;: D<br />
Tapi ini gak bisa digeneralisir sih. Bisa jadi insyaAllah kalo besok punya anak perempuan, sama aktifnya kaya abang-abangnya ya. :D</p>
<p>Semoga Allah memudahkan menjalani amanah ini sampai tanggal 23 November nanti yaa&#8230;aamiin. Mudah-mudahan semua sehat-sehat. ASI-nya keluar terus.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cizkah.com/ziyad-dan-thoriq-punya-adik-perempuan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Mudik Bagian 2: Travel oh Travel…</title>
		<link>http://cizkah.com/cerita-mudik-bagian-2-travel-oh-travel?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=cerita-mudik-bagian-2-travel-oh-travel</link>
		<comments>http://cizkah.com/cerita-mudik-bagian-2-travel-oh-travel#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Oct 2011 17:13:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cizkah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rumah Tangga-Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Mudik]]></category>
		<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cizkah.com/?p=977</guid>
		<description><![CDATA[<p>Posted in <a href="http://cizkah.com/Artikel/cuap-cuap/keluarga" title="Rumah Tangga-Keluarga">Rumah Tangga-Keluarga</a></p>Tweet Mari kita masuk ke cerita yang insyaAllah bisa jadi masukan untuk teman-teman dan sidang pembaca yang belum pernah merasakan jasa angkutan umum yang bernama travel. Singkat cerita, karena kami memutuskan mudik itu ya rodo dadakan dan tiba-tiba. Terus waktu kami membuat keputusan itu adalah pas zaman-zamannya arus balik orang abis mudik. Jadinya, semua tiket [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="height:21px; padding-top:2px;" class="really_simple_share"><div style="float:left; width:100px; " class="really_simple_share_facebook_like"> 
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://cizkah.com/cerita-mudik-bagian-2-travel-oh-travel&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=90&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=21" 
					scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:21px;" allowTransparency="true"></iframe>
			</div><div style="float:left; width:110px; padding-left:10px;" class="really_simple_share_twitter"> 
				<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
					data-text="Cerita Mudik Bagian 2: Travel oh Travel…" data-url="http://cizkah.com/cerita-mudik-bagian-2-travel-oh-travel">Tweet</a> 
			</div></div>
	<br style="clear:both;" /><p>Mari kita masuk ke cerita yang insyaAllah bisa jadi masukan untuk teman-teman dan sidang pembaca yang belum pernah merasakan jasa angkutan umum yang bernama travel.</p>
<p>Singkat cerita, karena kami memutuskan mudik itu ya rodo dadakan dan tiba-tiba. Terus waktu kami membuat keputusan itu adalah pas zaman-zamannya arus balik orang abis mudik. Jadinya, semua tiket mahal-mahaaal, dan semua tiket ternyata sudah habiiis. Ckckck&#8230;tiket kereta aja sampe Rp 500.000 (gimana gak mikir panjang mo mudik  kalo pas lebaran gini?). Tapi yang mahal kaya gitu ternyata udah abis loh. Tadinya aku masih berharap dan kepikiran mau pulkam pakai bis, yang berarti perjalanan 3 hari 2 malam. Itupun baru sampe Jambi bagian kota. Belum ke daerah dusun Mersam. Tapi abang udah say no dengan yakin. Gak kuaaat&#8230;bawa bayi gitu loh. Dulu tahun 2008 aja udah capeknya bukan main, padahal baru 1 anak.</p>
<p><span id="more-977"></span></p>
<p>Akhirnya, kami berusaha mencari celah gimana supaya biaya tiket-tiket ini bisa ditekan tanpa harus mengorbankan anak-anak &#8211; tetep aja sih, kemarin  aku masih bujukin abang untuk naik kereta bisnis aja heheh -. Yang nyari tiket promo, yang nyari ini dan itu. Akhirnya dapet tiket pesawat dari Jakarta ke Jambi yang harganya gak sampe Rp 700.000. Kalo mau berangkat yang pagi ada seharga Rp 450.000. Kalo yang sekitar jam 2, seharga 490.000. Karena &#8211; rencananya &#8211; kami mau naik kereta, dan kalo bisa langsung ke bandara, akhirnya kami ngambil yang sore, nyampe Jakarta pagi. Tiket pesawat langsung kami pesan malam itu juga &#8211; tanggal 2 September -, setelah membulatkan tekad untuk pulang kampung.</p>
<p>Besoknya, abang wara-wiri ke stasiun yang ternyata tiket udah pada habis sampai tanggal 11 September. Ada sih, tiket yang dijual calo, tapii&#8230;ya gitu deh.</p>
<p>Akhirnya abang meluncur ke terminal Jombor untuk cari tiket bis atau travel. Dan yak&#8230;yang bis pun habis. Pilihan &#8211; bukan pilihan sih sebenarnya -, akhirnya jatuh pada satu buah jasa travel yang ada jadwal tanggal 6 September. Abang sampai bela-belain nunggu sampai sore untuk ngeliat gimana itu bentuk mobilnya &#8211; sekali lagi, karena mikirin bawa 2 anak, dan yang satunya masih bayiii -. Dan ketika mobil travel yang jenisnya elv itu muncul, akhirnya abang bayar dp.</p>
<p>Tanggal 6 sore hari, kami pun dijemput oleh mobil travel &#8211; bukan yang jenis elv -. Oke&#8230;aku belum nyadar waktu itu. Pas di jalan bersliweran mobil-mobil travel lainnya, baru sadar&#8230;kok&#8230;kok. <strong>Ya sudah&#8230;sing sabar.</strong></p>
<p>Pas sampe terminal untuk finishing penumpang travel lainnya, kami sempat stuck lama persis di jalan mo keluar. Kelihatan yang ngurusin tiket travel kami lagi menjelaskan bolak-balik ke seorang bapak &#8211; yang sibuk menghisap rokoknya sambil terlihat agak bingung &#8211; rute-rute jalan. Tangan si pengurus tiket travel melayang-layang di udara menjelaskan kiri kanan utara selatan. Aku yang melihat dari dalam mobil ngomong ke abang dengan nada desperate, &#8220;Bang&#8230;jangan-jangan itu sopirnya.&#8221; Abang memandang aku dengan pandangan antara sedih, serba salah, ya gitu deh. Dan ternyata benaar itu sopirnyaaa&#8230; <strong>Ya sudah&#8230;sing sabar&#8230;</strong> &#8211; sambil mo nangis -.</p>
<p>Dan malam pun mulai bergelayut, kegelapan mulai menyelimuti di sekitar kami, baik di dalam mobil dan di luar mobil, tak ada pemandangan yang dapat kami nikmati. Kami masih  masih sibuk menjemput satu penumpang lagi di daerah Godean. Setelah kami masuk Gombong&#8230;kebosanan telah meliputi Ziyad. Dia bilang, &#8220;Mi&#8230;mo pulang, mo tidur di rumah.&#8221; Ha ha ha &#8211; tertawa miris. &#8220;Sabar ya sayang&#8230;ini kita mau ke Jakarta. Ke tempat nenek. Ziyad tidur aja.&#8221; Dan oh dia gak bisa tidur sampe jam 3 pagi saudara-saudari. Alhamdulillah aku masih sempat masukin bantal kecil Thoriq. Soalnya ada yang ngasih tau &#8211; namanya Abu Ziyad -, travelnya nyediain bantal, soalnya kemarin penumpangnya pada bawa bantal. Hehehe&#8230;bantal masing-masing kali yaa&#8230;</p>
<p>Entah pukul berapa&#8230;<strong>ban mobil travel kami bocooooooooooooor</strong>&#8230;Subhanallah&#8230;<strong>Ya sudah&#8230;sing sabarr. </strong>Alhamdulillah bocornya dekat dengan rumah makan, yang agak kurang meyakinkan secara penampakannya. Tapi mau gimana, lapar sudah mengisi perut aku : D. Makan sajalah.</p>
<p>Sekitar dini hari, sang sopir perokok yang sangat suka berhenti di jalan &#8211; jadinya malah penumpang yang nungguin sopir -, berusaha bertemu dengan sopir lainnya dari jasa travel yang sama. Akhirnya di suatu tempat, kami berhasil bertemu. Sesama sopir dan pemilik mobil bertemu di luar mobil, bercakap-cakap urusan tujuan akhir masing-masing penumpang. SOP-nya katanya sih gitu kalo travel-travel, selalu ada pertukaran sopir, entah untuk tujuan apa.</p>
<p>Seorang bapak tua yang berjalan agak terbungkuk-bungkuk mendekati 3 orang yang sedang bercakap-cakap itu. Tak lama, bapak berbaju hitam ini mengeluarkan kacamata rabun jauh berbingkai hitam yang cukup tebal untuk membaca tulisan di beberapa carik kertas. Ya Allah&#8230;&#8221;Bang&#8230;jangan-jangan itu sopirnya?&#8221; Sambil memandang abang dengan was-was. Dan abang pun menjawab aku dengan pandangan was-was&#8230;</p>
<p>Dan ternyata benar bapak tua ituu sopir penggantinya. Semua penumpang diam&#8230;dan waspada. Rasanya beberapa puluh menit perjalanan setelah itu dilalui dengan mata terjaga hehe. Alhamdulillah&#8230;ternyata bapak sopir tua ini sangat lihai membawa mobil. Minusnya&#8230;.bapak tua ini sangat tidak bisa diajak komunikasi. Diaaaaaaaaammmmmmmmm&#8230;.Beda dengan sopir pertama yang suka sekali berhenti dan suka ngobrol. Bapak tua ini susaaaaaaaaaaaaaaaah sekali diminta berhenti. Untuk minta berhenti sholat subuh saja, harus melewati beberapa masjid dan berhenti di tempat &#8211; yang mungkin &#8211; dianggapnya pas untuk berhenti.</p>
<p>Sampai di Jakarta &#8211; setelah menempuh perjalanan 16 jam dan melewati daerah Puncak yang macet cet -, kami harus muter-muter mengantar penumpang lain. Capeknyaaa luar biasa subhanallah. Dan anak-anak mulai rewel, karena panas dan tentu saja rasa lelah yang juga pastinya menggelayuti mereka.</p>
<p>Sampai di Andara (rumah aku) jam 12-an siang (berarti 20 jam perjalanan), sedikit obrol-obril dengan mama papa, mandi, makan, sholat &#8230;dan akhirnya kami tidur.</p>
<p>Sampai sekarang, kalau kami nanya ke Ziyad, &#8220;Mau naik travel atau kereta?&#8221; Ziyad akan menjawab dengan mantap dan dengan akalnya, &#8220;Naik kereta.&#8221; &#8220;Kenapa gak naik travel?&#8221;</p>
<p>Nanti dia akan menjawab, &#8220;Nanti bannya bocor di jalan.&#8221; Heheh&#8230;kami sudah berkali-kali nanya ini, dia selalu gak mau naik travel. Sama nak, kami insyaAllah juga gitu kok.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cizkah.com/cerita-mudik-bagian-2-travel-oh-travel/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Mudik Bagian 1: Antara Silaturahim dan Shodaqoh</title>
		<link>http://cizkah.com/cerita-mudik-bagian-1-antara-silaturahim-dan-shodaqoh?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=cerita-mudik-bagian-1-antara-silaturahim-dan-shodaqoh</link>
		<comments>http://cizkah.com/cerita-mudik-bagian-1-antara-silaturahim-dan-shodaqoh#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Sep 2011 08:50:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cizkah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rumah Tangga-Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Mudik]]></category>
		<category><![CDATA[Shodaqoh]]></category>
		<category><![CDATA[Silaturahmi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cizkah.com/?p=971</guid>
		<description><![CDATA[<p>Posted in <a href="http://cizkah.com/Artikel/cuap-cuap/keluarga" title="Rumah Tangga-Keluarga">Rumah Tangga-Keluarga</a></p>Tweet Beberapa waktu yang lalu, aku baru sadar, ternyata ada yang sama dari ibadah silaturahim dan shodaqoh. Kondisi 1 Untuk orang-orang yang tempat tinggal orangtua/keluarganya dekat, hubungan dengan keluarga harmonis adem ayem, maka menjalin silaturahim itu seperti orang kaya yang punya duit yang gak usah dihitung-hitung yang tinggal keluarin di saat dia mau atau dibutuhkan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="height:21px; padding-top:2px;" class="really_simple_share"><div style="float:left; width:100px; " class="really_simple_share_facebook_like"> 
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://cizkah.com/cerita-mudik-bagian-1-antara-silaturahim-dan-shodaqoh&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=90&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=21" 
					scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:21px;" allowTransparency="true"></iframe>
			</div><div style="float:left; width:110px; padding-left:10px;" class="really_simple_share_twitter"> 
				<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
					data-text="Cerita Mudik Bagian 1: Antara Silaturahim dan Shodaqoh" data-url="http://cizkah.com/cerita-mudik-bagian-1-antara-silaturahim-dan-shodaqoh">Tweet</a> 
			</div></div>
	<br style="clear:both;" /><p>Beberapa waktu yang lalu, aku baru sadar, ternyata ada yang sama dari ibadah silaturahim dan shodaqoh.</p>
<h2>Kondisi 1</h2>
<p>Untuk orang-orang yang tempat tinggal orangtua/keluarganya dekat, hubungan dengan keluarga harmonis adem ayem, maka menjalin silaturahim itu seperti orang kaya yang punya duit yang gak usah dihitung-hitung yang tinggal keluarin di saat dia mau atau dibutuhkan. Tinggal lagi tentu aja membiasakan diri untuk menjalin silaturahim atau membiasakan diri untuk menjadi seorang yang dermawan dengan apa yg dimiliki.</p>
<p><span id="more-971"></span></p>
<h2>Kondisi 2</h2>
<p>Dan untuk orang-orang  yang tempat tinggal orangtua/keluarganya jauh entah dimana-mana, dan momen untuk berkumpul secara keseluruhan itu juga jarang-jarang, dan membutuhkan biaya yang tentu saja &#8211; lumayan &#8211; besar padahal dana yang dimiliki ya minim,  maka menjalin silaturahim itu seperti orang yang hartanya cukup, maka dia butuh melatih dirinya dengan keras untuk menjadi orang yang gak bakhil dan semoga ketika berada di kondisi 1, dirinya udah terbiasa untuk mengeluarkan shodaqoh ke orang-orang yang memerlukan.</p>
<p>Dan kami&#8230;ada di kondisi 2 :D.</p>
<p>Waktu kami menimbang-nimbang untuk mudik ke Jambi dan Jakarta sekaligus&#8230;rasanya sungguh beraatt sekali. Karena tentu saja dengan pertimbangan dana itu tadi, hehe. Karena kami di kondisi kedua. Dana yang ditabung untuk ini dan itu sepertinya harus diatur ulang dan dilapangkan untuk sesuatu yang lebih baik&#8230;silaturahim.</p>
<p>Kemarin sampai buka <a href="http://yufid.com" target="_blank">yufid.com</a> terus ngesearch dengan kata silaturahim. Dan akhirnya menguatkan dan membulatkan tekad dengan hadits ini,</p>
<p>(مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ. (متفق عليه</p>
<p>&#8220;<em>Barangsiapa yang senang untuk <a href="http://www.pengusahamuslim.com/baca/artikel/1055/12-kiat-ngalap-berkah-kiat-kedelapan-menyambung-tali-silaturahim" target="_blank"><strong>dilapangkan (atau diberkahi)   rezekinya</strong></a> atau ditunda (dipanjangkan) umurnya, maka hendaknya ia   bersilaturrahim</em>.&#8221; (HR. <em>Muttafaqun &#8216;alaih</em>).</p>
<p>Ini seperti ketika kita merasa berat untuk bershodaqoh kemudian mendengar hadits ini,</p>
<p>Diriwayatkan dari Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Seseorang  datang menemui Rasulullah -Shallalaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam  dan bertanya, &#8220;Wahai Rasulullah, shodaqoh yang bagaimanakah yang paling  besar pahalanya?&#8221; Beliau bersabda :</p>
<p><em>&#8220;Engkau bershodaqoh dalam  keadaan sehat, amat membutuhkannya, khawatir miskin, dan berangan-angan  menjadi orang kaya. Janganlah menunda-nunda (shodaqoh) sehingga jika  ajal telah sampai ke kerongkongan engkau berkata, &#8220;Untuk si fulan  sekian, untuk si fulan sekian.&#8221; Padahal memang harta itu untuk si fulan&#8221; </em>(H.R. Bukhari, lafazh ini darinya dan Muslim)</p>
<p>Rasanya insyaAllah jadi lebih lapaang deh untuk melepaskan harta yang memang bisa jadi Allah berikan ke kami itu untuk menjalin silaturahim ini. Dan mulailah perburuan tiket untuk berangkat ke Jambi dan Jakarta :D.</p>
<p>Oh ya&#8230;yang membuat tahun ini kami serasa harus ke dua tempat ini (Jambi dan Jakarta), karena momen yang entah kapan lagi datangnya.</p>
<p>Ke Jambi, karena adik suami yang perempuan menikah tanggal 11 September. Plus lagi, sudah 3 tahun kami gak pulang ke Jambi (terakhir tahun 2008, pas Ziyad masih umur 1 tahun). Tadinya kami mau cari tiket yang murah :D (tanggal 20-an), sekalian sama moment di Jakartanya itu&#8230;tapi kata Bapak Mertua, sebaiknya gak usah aja kalo udah tanggal 20. Udah sepii hihi&#8230;Kami pikir betul juga ya.</p>
<p>Ke Jakarta, karena mas aku yang tinggal di Belanda sama istri dan anaknya lagi dateng ke Indonesiah&#8230;dan aku udah gak ketemu beliau 4 tahun. Plus lagi, sudah 2 tahun kami gak mudik ke Jakarta (terakhir tahun 2009 pas aku abis dikuret). Wew&#8230;</p>
<p>Kapan lagii kami bisa ke nikahan adik suami &#8211; emangnya ada replynya -, entah kapan lagii ketemu sama mas sama anaknya &#8211; mereka juga butuh perjuangan untuk bisa mudik ke Indonesia kann&#8230;</p>
<p>Ya sudah&#8230;alhamdulillah akhirnya kami memulai petualangan menjalin silaturahim kami tanggal 6 September kemarin&#8230;</p>
<p>Banyak ceritaaaa&#8230;kejadian yang sungguh mengesankan sepanjang perjalanan kami. Sayangnya waktu luangku gak sebanyak cerita yang mo diketik hihihi&#8230;gimana dongg&#8230;.nunggu waktu luang lagi insyaAllah yaa&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cizkah.com/cerita-mudik-bagian-1-antara-silaturahim-dan-shodaqoh/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Long Journey to Madinah</title>
		<link>http://cizkah.com/long-journey-to-madinah?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=long-journey-to-madinah</link>
		<comments>http://cizkah.com/long-journey-to-madinah#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Aug 2011 18:32:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cizkah</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Thought]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga-Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Haji]]></category>
		<category><![CDATA[Madinah]]></category>
		<category><![CDATA[Mekkah]]></category>
		<category><![CDATA[Umroh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cizkah.com/?p=936</guid>
		<description><![CDATA[<p>Posted in <a href="http://cizkah.com/Artikel/cuap-cuap/my-thought" title="My Thought">My Thought</a><a href="http://cizkah.com/Artikel/cuap-cuap/keluarga" title="Rumah Tangga-Keluarga">Rumah Tangga-Keluarga</a></p>Tweet Takdir itu memang sebuah skenario kejadian yang menarik dan runtut dan seringkali kita tidak sadari bahwa berbagai hal yang terjadi itu saling berkaitan sampai ketika ada titik akhir/titik temu yang membuat kita berpikir, &#8220;Ya Allah kok bisa ya?&#8221;. Dan itulah yang terjadi baru-baru ini sama aku. Yang membuat pikiranku seakan-akan ter-reset dan di-setting-setting ulang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="height:21px; padding-top:2px;" class="really_simple_share"><div style="float:left; width:100px; " class="really_simple_share_facebook_like"> 
				<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://cizkah.com/long-journey-to-madinah&amp;layout=button_count&amp;show_faces=false&amp;width=90&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=21" 
					scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:100px; height:21px;" allowTransparency="true"></iframe>
			</div><div style="float:left; width:110px; padding-left:10px;" class="really_simple_share_twitter"> 
				<a href="http://twitter.com/share" class="twitter-share-button" data-count="horizontal" 
					data-text="Long Journey to Madinah" data-url="http://cizkah.com/long-journey-to-madinah">Tweet</a> 
			</div></div>
	<br style="clear:both;" /><p><img title="Madinah" src="http://cizkah.com/image/madinah2.jpg" alt="Madinah" width="500" height="375" /></p>
<p>Takdir itu memang sebuah skenario kejadian yang menarik dan runtut  dan seringkali kita tidak sadari bahwa berbagai hal yang terjadi itu saling berkaitan sampai ketika ada titik akhir/titik temu yang membuat kita berpikir, &#8220;Ya Allah kok bisa ya?&#8221;.<br />
Dan itulah yang terjadi baru-baru ini sama aku. Yang membuat pikiranku seakan-akan ter-<em>reset </em>dan di-setting-setting ulang :D.  Agak lupa runtutan sebenarnya, yang jelas saling berdeketan.</p>
<h2><strong>Scene 1</strong></h2>
<p>Abang: &#8220;Dek&#8230;Fulan mo umroh loh. Pake duit sendiri.&#8221;<br />
Me: &#8220;Masya Allah&#8230;kok bisa bang?&#8221;<br />
Abang: &#8220;Nabungnya kuat berarti, setengahnya lagi ditanggung jama&#8217;ah pengajiannya.&#8221;</p>
<p><span id="more-936"></span></p>
<p>Pertanyaan wajar, soalnya kalo secara kasat mata, kami tuh senasib, sama-sama kontraktor (rumah ngontrak)&#8230;masih keluarga kecil yang baru merintis di sana sini. Dan pikiran untuk umroh kayanya masih jauh heheh&#8230;masih sibuk untuk bayar kontrakan dan kebutuhan hidup lainnya. Manggut-manggut aja abis tau berita itu.</p>
<h2><strong>Scene 2</strong></h2>
<p>Me: &#8220;Bang, di group akhwat itu, kan ada yang nanya kalo punya uang mendingan dipake buat beli mobil atau rumah. Terus banyak yg jawab, ada yang mobil dulu, ada yang rumah dulu. Sampe ada akhirnya yang bilang, &#8216;Buat naik haji aja.&#8217; Kalo cukupnya buat 1 orang, berangkat dulu suami. Soalnya nanti kalo meninggal trus ditanya dikubur, &#8220;Rezeki udah dikasih kok gak buat naik haji?&#8221; gimana. Mending buat naik haji, trus nanti di sana berdoa supaya bisa beli rumah sama mobil.&#8221;<br />
Abang: &#8221; (masih gak jelas jawab apa)&#8221;<br />
Me: &#8220;Kalo kita punya uang (kaloooooooo hihihi, ed),bakal kaya gitu ga bang? Buat naik haji?&#8221;<br />
Abang: &#8220;Kalo abang sih setuju kaya gitu. &#8221;</p>
<p>Terus mikir, mungkin gak ya? Kayanya hampir semua orang mikirnya punya rumah dulu, baru tenang mo pergi haji. Dan dari kemarin, kalo masalah berharap, ya kami sangat berharap punya rumah sendiri, walo masih gak tau gimana caranya hehehe, kan berharap&#8230;.gak boleh putus asa. Sebenernya ada tulisan yang aku tulis tangan pas bulan kemarin-kemarin, tapi belum sempet di posting di sini, tentang &#8220;Rumah dan Qana&#8217;ah&#8221;.</p>
<h2><strong>Scene 3</strong></h2>
<p>Saat kami pergi keluar naik motor, berpapasan dengan si Fulan yang juga lagi naik motor sama anaknya.</p>
<p>Abang: &#8220;Kayanya fulan jadi umroh berarti, bawa-bawa koper gede.&#8221;<br />
Me: &#8220;Oya toh&#8230;gak liat. Masya Allah ya.&#8221;<br />
Diam sesaat.</p>
<p>Me: &#8220;Abang mau umroh?&#8221;<br />
Abang: &#8220;Ya mau.&#8221;</p>
<p>Langsung berpikir, mungkin gak ya nabung buat umroh : D.</p>
<h2><strong>Scene 4</strong></h2>
<p>Di suatu group, baru ketemu nama Liz, istri mas Fauzan- sekarang nerusin s2 di Madinah. Teman lama. Terus lihat foto profil, yang memajang anaknya sedang di depan Ka&#8217;bah. (Disitu dikatakan Aisy udah 8 kali, gak tau 8 kali thawaf atau umroh).  Rasanya hati ini jadi pengeeenn banget ke sana. Trus suaminya kan punya jasa<a href="http://haramaintour.com/" target="_blank"> travel haji dan umroh</a>. Trus lihat-lihat biayanya. &#8220;Bang, umroh 15 juta loh.&#8221; Trus tanya-tanya ke Liz, itu maksudnya 15 juta perorang atau 2 orang (ga mungkin banget padahal ya 15 juta buat  2 orang :D). Terus jadi terbayang-bayang dan kepikiran, gimana ya caranya biar kami bisa umroh. Rasanya pengen banget bisa umroh bareng anak-anak. Aku tau banget, Ziyad bakal SENAAAAAAAAANNGG banget, bisa berada di depan Ka&#8217;bah dan bisa ngebayangin gimana dia bakal cerita tentang itu terus insya Allah kalo bisa ke sana. Yang jelas aku juga seneng banget. Mulai deh berdoa sangat. Entah dari mana nanti rezekinya gak bisa kebayang : D. Sekali lagi, berharap dulu, jangan putus asa.</p>
<h2><strong>Scene 5</strong></h2>
<p>Melihat YM Ela yang sedang berada di Nejd. Jadi penasaran.</p>
<p>Me: &#8220;Nejd tu dimana La?&#8221;<br />
Ela: &#8220;Di Riyadh mba&#8230;&#8221;</p>
<p>Dan percakapan berlanjut sebentar, karena dulu tahunya Ela masih agak lama nyusul suami. Aku masih inget banget, status-statusnya dia dulu, waktu baru pulang dari umroh, betapa ingin balik lagi ke sana, dan prosesnya cepat, trus suaminya bisa studi ke sana, dan akhirnya tahun ini mereka bisa bersama di sana lagi.</p>
<h2><strong>Scene 6</strong></h2>
<p>Karena pingin tahu sedikit runtutannya, jadi buka FB-nya Ela, trus lihat komentar-komentar akhowat. Dan baru tahu lagi kalo Eidda, akhwat yang dulu sama-sama di Ma&#8217;had &#8216;Ilmi juga sekarang di Riyadh. Di situ, dikabarin, &#8220;Edda lagi umroh ke Mekkah. Baru pulang hari Sabtu.&#8221; Ya Allaah&#8230;dengernya jadi <strong>tambah </strong>pengeenn. Kebayang pahala yang didapet, apalagi bulan Ramadan gini. Tapi bagus banget komentar Fatim di thread itu, rezeki orang beda-beda. Allah Maha Tahu yang terbaik untuk hambanya.</p>
<p>Kebetulan siang pas kejadian itu, abang pulang sebentar, karena Thoriq lagi panas dari kemarin. Rencananya mau ke dokter tapi gak jadi. Terus aku cerita tentang Ela dan Eidda yang sekarang di Riyadh. Trus ya begitu deh, intinya, kami<a href="http://cizkah.com/ana-ataakkadu-annanaa-saufa-nadzhabu-ilal-madinatil-munawaroh-insya-allah-ya-habibi"> sudah lama</a> sekali ingin ke Madinah. &#8220;Abang masih pingin, tapi kita tinggal di sana, bukan cuma sementara.&#8221;</p>
<p>Trus aku baru ingat, di blog yang abang buat udah lamaaa banget, juga titlenya, &#8220;Long journey to Medina.&#8221;</p>
<p>Malamnya aku baru &#8220;kuat&#8221; menceritakan sedikit detil, gimana Eid sekarang lagi umroh. Gimana mereka yang di sana, ada rencana kalo ketemuan abis &#8216;Ied, soalnya mo sholat &#8216;Ied di Mekkah dan abis itu mau ke Madinah.</p>
<p>Kereeen masya Allah.</p>
<p>Abang senyum aja dengerin aku cerita &#8211; ceritanya sambil mo nangis karena pengen -.  Pas siang sih sebenernya Abang juga ngomong persis seperti yang Fatimah bilang. &#8220;Rezeki orang beda-beda. Ada yang dikasih kenikmatan di sini. Ada yang dikasihnya di situ.&#8221; Abang juga nasehatin, masalah persusuan &#8211; nanti ya insya Allah ceritanya kalo memang jadi -, gimana kita bantu orang yang butuh bantuan supaya Allah juga bantu kita untuk ke sana (Mekkah dan Madinah).</p>
<p>Terus aku berpikir, merenung dan melihat dari berbagai sisi. Mungkin, saat ini, kami memang lebih baik berada di sini. Mungkin ini dan itu, mungkin ini dan itu&#8230;Pokoknya sekalian muhasabah deh&#8230; Alhamdulillah sekarang udah lebih lapang dan lapang. Dan jadi terharu mengingat saat-saat kami masih gadis, saat-saat kami masih berjuang bersama menuntut ilmu di Ma&#8217;had &#8216;Ilmi.</p>
<p><strong>Manis&#8230;</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cizkah.com/long-journey-to-madinah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

