Tiga hal di atas adalah hal yang berkaitan yang membuat aku menjalankan aktifitas yang berbeda akhir-akhir ini. Saat usia Thoriq pas 7 bulan awal Ramadan ini, dia terkena diare. Sebabnya? Gara-gara kaldu yang aku jadiin balok es kayanya. Dulu gak pernah pakai metode ini, selalu fresh hari itu juga aku bikin. Jadinya langsung kapok, dan bertekad insyaAllah bakal bikin kaldu fresh sama kaya dulu ngasih Ziyad.
Kesehatan Anak
Alhamdulillah, setelah aku posting link tentang imunisasi di fb (yg sayangnya dari segi konspirasi), setelah itu terjadi diskusi antara temen2 yg mengimunisasi anaknya dan yg tidak. Kebetulan aku juga kmrn baru aja posting tentang itu, dan di postingan tsb, aku cuma nyebut sekilas tentang link tsb karena memang keputusan kami untuk gak mengimunsasi Ziyad 3th yang lalu bukan karena itu (konspirasi dsb). Namun tetap alhamdulillah hasil diskusi ini insya Allah tidak akan menyinggung hal-hal yang berkenaan dengan konspirasi dsb. Semoga dengan membaca artikel ini, yang masih bingung bisa menetapkan apakah dia memilih tetap mengimunisasi atau tidak.
Kesimpulan Ringkasnya:
Yang mengimunisi: yakin dengan kehalalan vaksin dan ridho anaknya terinjeksi vaksin tsb secara kontinyu.
Yang tidak mengimunisasi: tidak yakin dengan kehalalan vaksin dan kurang ridho anaknya terinjeksi vaksin secara kontinyu.
Kenapa tidak aku cantumkan masalah darurat di sini? Kita perjelas satu persatu dibawah ya hasil kesimpulan tsb.
Oh ya, yang perlu diingat bahwa insya Allah ketika kita menemukan saudara kita memutuskan hal yang berbeda dengann kita, maka tidak perlu gundah gulana dan emosi ataupun memaksakan pendapat kita, karena masing-masing pihak insya Allah telah mempertimbangkan secara masak dan alasannya adalah berkisar di kesimpulanku di atas.
Well…sebenernya gak sepenuhnya gak diimunisasi.
Ziyad pas baru lahir ternyata udah kena dua suntikan imunisasi (Hepatitis sama BCG kalo gak salah). Itu pun tahunya pas lihat kuitansi pembayaran rumah sakit : (. Abis itu kita masih ngimunisasi, tapi perasaan bang Hen udah gundah gulana. Ibaratnya, fase kami dalam memutuskan tidak mengimunisasi adalah:
Pertimbangan logika: si abang yang cerewet banget, “Ini mo sampe kapan disuntik terus?” “Masa tiap bulan mo disuntik?” Maksudnya kasihan buat anaknya gitu. Abang kan khawatiran banget juga orangnya.

