Perkembangan Anak

Thoriq 2,5 Tahun + Ziyad

Video Thoriq Baca Hijaiyah

Ini agak kurang rajin kemarin-kemarin ngasih lihat flashcardnya. Alhamdulillah akhir-akhir ini bisa mulai rajin tiap hari. Kelemahannya mungkin karena lafal yang keluar belum sesuai walaupun mungkin maksudnya ya udah bener :D. Misalnya huruf Ka dia bilangnya Ca…Sya juga keluarnya Ca :D.

Read more…

Adzan

Malam ini, kami keluar makan nasi goreng dan bakmi godok di sebuah warung di jalan Kaliurang.

Sebelumnya kami ke toko buku Toga Mas untuk mencari beberapa buku yang sedang ingin kubaca.

Sepertinya Ziyad dan Thoriq sudah cukup kenyang. Saat di toko buku, merkea sempat makan jagung masing-masng satu gelas. Saat menunggu kami menghabiskan makanan, Thoriq berlari kesana kemari dan akhirnya duduk memandangi pemilik warung membuat pesanan untuk pelanggan lainnya. Tak lama kemudian dia mulai seperti melantunkan sesuatu. Aku pikir dia sedang menyenandungkan salah satu surat Al-Quran yang sudah kami ajarkan.

Ternyata tak lama kemudian dia mulai menutup telinganya dan mengeraskan lantunannya.

“Allahu akbay..allahu akbay..laaiyaaha iyawyahhh…” Hihii…aku sama abang sama-sama kaget banget…

“Masya Allah, Thoriq lihat dimanaaa..? tanyaku. “Di video mas ya? Hihi…sembarangan aja nyebut semua anak pake kata “Mas” atau “Adek”.

Habis itu dia teruuuus seperti itu. Di jalan aku bacakan lafal-lafal adzan secara lengkap.

Masya Allah Thoriq…barakallahu fiik.

 

***

Usia Thoriq 2 tahun 5 bulan alhamdulillah

Mau Hidup Terus

Ziyad masih berumur 4,5 tahun saat mulai berkenalan dengan kematian. Kematian dari sososk yang dekat dengan dirinya. Kucing betina belang tiga. Kucing yang selalu kami beri makan jika kami punya sisa-sisa makanan yang bisa diberikan. Namun dengan sebab itu pula, entah kenapa secara otomatis kucing itu menjadi milik kami.

Telon namanya.

Seperti biasa, aku yang berinisiatif memberi nama untuk sosok-sosok unamed di sekitar rumah.

Beberapa hari sebelumnya, Telon rupanya melahirkan dua ekor anak kucing. Disembunyikan baik-baik buah hatinya di atas eternit tetangga kami. Khawatir si Bapak – nama bagi sosok kucing jantan – akan menghabisi anak-anak kucing sebelum tumbuh besar. Entah dengan sebab apa.

***

Siang itu, seperti biasa  aku bekerja di ruang kerjaku. Posisi dudukku membelakangi pintu yang langsung terhubung dengan teras. Sengaja aku tata letak seperti ini untuk memudahkanku mengawasi anak-anak jika mereka sedang main di luar.  Di samping kanan pintu, angsung terhubung dengan halaman samping. Tempat yang disediakan pemilik kontrakan untuk mejemur pakaian.

Ziyad sedang bermain di luar bersama Ukkasyah. Anak salah satu ustadz yang tinggal dekat dengan rumahku. Thoriq sedang tidur. Telon seperti biasa berada di sekitar teras. Sesekali aku menengok keluar. Melihat apa yang sedang Ziyad kerjakan bersama temannya. Lalu kulihat Telon mulai bertingkah aneh. Ziyad juga beteriak, “Mi…kucingnya pipiiiss!!!”

Tepat di batas antara teras dengan halaman samping, Telon terlihat antara terjingkat-jingkat sambil terkencing-kencing. “Oh iya…aduuh….ko pipis di situ..”

Tak lama kemudian Telon mengluarkan suara akan muntah.

“Ziyad…jangan dekat-dekat. Kucingnya kayanya sakit!”

Kemudian aku sempat melihat Telon masih sempat berjalan ke tengah teras untuk kemudian terkencing-kencing lagi.

Waktu itu aku berpikir dibiarkan dulu, nanti biar sekalian aku bersihkan semua kotoran yang ada. Aku pun melanjutkan pekerjaanku di depan laptop. Sampai akhirnya terdengar obrolan Ziyad dengan Ukkasyah yang kemudian diakhiri dengan pemberitahuan Ziyad kepadaku,

“Miiii….kucingnya matii”

“HAH!?!!”

Aku mengintip ke teras dari balik kisi-kisi kerai yang menutupi pintu yang terbuka. Kukenakan jilbab, lalu buru-buru keluar.

“Oiyaa…..beneran.”

Kemudian aku hubungi abang, memberitahu kalau Telon mati. Tergeletak tepat di tengah jalan yang menghubungkan teras dengan halaman rumah. Dugaanku, Telon terkena racun. Sepanjang hidupku memelihara kucing, saat mereka mati, mereka akan tiba-tiba menghilang. Allah memang Maha Bijaksana. Kalau semua makhluk hidup mati di tengah lalu lalang kehidupan manusia, betapa repotnya manusia mesti menguburkan semua binatang yang mati di sekitar. Mungkin hampir setiap saat.

Akhirnya abang pulang sebentar dari kantor. Melihat kondisi Telon yang membujur kaku, aku sedih. Dua ekor lalat juga mengitari jasadnya. Di sekitar tubuhnya juga ada genangan-genangan kecil bekas kencingnya. Abang memilih menggali tanah di pinggir jalan depan rumah kami. Tanah yang biasanya menjadi tempat semak-semak tumbuh atau tempat sampah daun pohon rambutan kami timbun.

Ziyad melihat semua proses itu. Penggalian, penguburan. Kematian.

 

***

Kematian kedua yang Ziyad sadari adalah meninggalnya Fia karena sebab sakit ginjal. Sosok yang hanya beberapa kali kami temui. Namun semuanya penuh kesan. Bukan hanya bagiku, tapi bagi Ziyad. Dan ketika ia meninggal, itulah pertama kalinya aku mulai sadar, Ziyad sudah mulai paham dengan kematian.

“Dikubur Mi?” tanyanya waktu itu.

Read more…

Thoriq (Lagi) – 1 Tahun 10 Bulan

Ada banyak yang ketinggalan untuk dicatat.

Thoriq Motorik Halus - Konsentrasi

Fokus dan konsentrasi.He loves to do this activity

Read more…

Thoriq 1 Tahun 10 Bulan

Mau nulis perkembangan Thoriq kok gak jadi-jadi terus yah. Padahal rencana nulisnya pas dari kapan. Tahu-tahu dah mo umur 2 tahun insyaAllah. Ada juga yang sudah ditulis di kertas, tapi diniatin sekalian ini ah, sekalian itu ah. Malah gak jadi-jadi. Pelajaran pentingnya memang, JANGAN MENUNDA-NUNDA.

Karena mungkin udah terlalu jauh kalau menulis perkembangan dia beberapa bulan kemarin, mo nulis yang dekat-dekat ini aja deh.

Bicara

Sempat berusaha berlapang dada kalau Thoriq bakal lama juga proses bisa ngomongnya. Alhamdulillah Thoriq tapi mau belajar ngomong. Mau diajari ngomong. Kalau Ziyad dulu kan diajari ngomong langsung lari. Plus lagi, aku lebih cepat mengoleskan madu + garam ke lidahnya. Ini saran dari Ibnul Qoyyim. Kalau Ziyad dulu kan pas udah mo 2 tahun. Baru kebaca lagi tips ini dari buku Tuhfatul Maulud.

Alhamdulillah udah banyaak banget kosa-kata yang Thoriq bisa. Banyak juga yang masih belum jelas dan mungkin cuma aku yang ngerti hehe.  Misalnya kejadian beberapa waktu yang lalu. Thoriq lagi di dapur sama abang. Aku lagi di depan.

“Ici…” Maksudnya permisi. Seneng deh, anak umur segitu udah tahu permisi hihi. Abis permisi gitu (ceritanya dia mo ngambil susu di kulkas), trus dituangin kan susunya sama abang.

“Aci…” Maksudnya makasih. Kalo yang ini juga alhamdulillah Thoriq gak mesti dibilangin.

Dia juga udah jelas manggil Ummi. Kalo Abi masih sering manggil Mi juga. Tapi dia udah bisa juga manggil Abi.

Banyak hal (kemampuan) yang mungkin lebih cepat terserap karena sudah ada contohnya (dari Ziyad).

Read more…

Toilet Training Thoriq Versi Siang

Baru 7 hari sih Thoriq menjalani proses toilet training. Tapi karena berkesan mo aku catat keburu terlupakan dengan kesan-kesan lain di hari mendatang insyaAllah.

Usia Thoriq 17 bulan (atau hampir 1,5 tahun). Dulu Ziyad toilet training usianya pas 1,5 tahun.  Alasan aku toilet training di usia ini karena pernah baca tabloid Nakita lama, berdasar hasil penelitian, toilet training yang dilakukan lebih dini malah memakan waktu lebih lama. Dan yang aku ingat, waktu baca kisaran yang disarankan, aku catat dalam hati, “InsyaAllah mau toilet training umur 1,5 tahun.” Alhamdulillah setelah 3 bulan proses toilet training, Ziyad lepas total dari diaper dan hampir gak pernah ngompol lagi siang malam.

Read more…

Ziyad Syaikhan – 4 tahun 10 bulan -

Ckckck…udah lama banget gak ngisi blog. Apa daya, apa daya…^^
Langsung aja ah..udah lama gak nyatet perkembangan Ziyad…Banyak yang kelewat ataupun sulit tercatat secara detail. Berbagai kejadian setelah Thoriq lahir, proses belajar di rumah, dan lain-lainnya.

Kalo lihat Ziyad sekarang, aku dan abang sering banget bilang, “Masya Allah…anak ummi udah gede sekarang, barokallahu fiik.” Aku ingeeettt banget satu moment ketika dia baru berusia sekitar 3 mingguan, waktu mba Susi istrinya ust Aris datang. Mba Susi komentar, “A itu itu udah gede.” Kayanya pembicaraannya berkisar Ziyad yang lahir dengan berat 2.75kg deh. Waktu itu aku memandang bayi Ziyad yang sedang tidur tertutup kojong (tau kan…yang kaya tudung saji buat menghindari dari nyamuk itu loh). Dan kalo inget itu..ah…dan tentu saja banyak memori lainnya…jadi terharu.

Read more…

Tukang Coret Kedua

Baiklah…sejak hari ini, resmi ada tukang coret kedua dalam rumah ini, yaitu bernama Thoriq Ibrohiimm…><’

thoriq nyoret

Itu tadinya nyoret di ubin…hadeuh…”Ini sayang…di kertas ya…”

Malamnya dia asyik lagi corat-coret tanpa sepengetahuan aku…soalnya akunya lagi sibuk bikin bolu ketan item lhooo (request si abang tercintah). Eh enak banget ternyata yaa masyaAllah…cuma ada pelajaran yang didapat nih..tapi di postingan lain insyaALlah cerita tentang bolu ketan itemnya.

thoriq nyoret

Hasil coret-coret di ubin malam hari

Btw…Thoriq udah bisa jalan semingguan lebih nii…alhamdulillah…sama kaya Ziyad berarti, pas umur setahun udah bisa jalan.

 

Thoriq lagi (11 Bulan)

Perkembangan Thoriq ada yang kelupaan kecatet kemarin…plus ada yang udah nambah juga.

Koordinasi tangan-mata:
Bisa membolak-balikkan kertas buku. Ini dia suka banget, apalagi buku yang judulnya “Baba Gorila” (buku tentang pengurangan tapi dalam bentuk cerita gitu).

Nah kalo lagi bongkar-bongkar rak buku-buku Ziyad, yang biasa ditarik duluan itu biasanya buku “Super…”.(gak usah disebut judul lengkapnya deh hehe)…Ini buku tentang Himpunan.

Dia juga mulai suka menepatkan tutup toples/gelas dengan toples/gelasnya.

Baru-baru ini juga mulai bisa ngelus kepala Ziyad pake tangan dengan benar. Kalo dulu kan dikaplok hehe. Ternyata dikasih tau yang bener ini kaya ginii – sambil ngelus-ngelus Ziyad -, ngerti juga ya, masyaAllah.

Kelihatan kalau mulai mau ngomong dan berkomunikasi. Kata yang biasa dia maksudkan dia lagi ngomong itu, “papah…” gak papa maksudnya. Tadi aku main-main “Ammmm…”, nunjukin dia makan sisa jeruk dia yang berceceran, dia konsen ngeliatin mulut aku terus ngomong, “amm…” hihi…lucu masyaAllah.

Kecerdasan Thoriq Masya Allah (11 Bulan)

Di video ini, Thoriq sedang bermain pesawat dengan mengeluarkan suara “Ngeenng…ngeenngg…” Yang pinternya lagi masyaAllah, dia selalu cari posisi yang benar supaya roda pesawat/mobil di bawah.

Hehe…aku gak tau deh ini termasuk perkembangan pesat atau bukan…soalnya dulu seingat aku, Ziyad gak kaya gini (deuu…emang beda kali ya tiap anak). Thoriq termasuk anak yang bisa main sendiri alhamdulillah, gak harus selalu ditemani. Diam-diam, ngutak-ngatik, obrak-abrik (kalo ini semua anak kaliii).

Asal diberi contoh, insyaAllah Thoriq dengan cepat menangkap dan mengingat. Tapi setiap yang dipegang, termasuk misalnya mainan sapi atau kuda, nanti dia juga suaranya, “Ngeeenng….ngeennnggg” sambil dilambaikan di udara seakan-akan itu pesawat hehe. Atau mainan mobil juga gitu…tapi apa aja juga bisa jadi mobil.

Read more…