“Ammah Fia Meninggal Sayang…”

Fia….istri akh Amir – salah satu tim Yufid-  yang dikenal dengan nama SalafyUnpad meninggal tadi malam. Tanggal 7 Juni 2012/18 Rajab 1433 H. Sedih? Sangat…

 Tadi Malam

Setelah menyelesaikan belanja di Superindo dan menuju tempat parkiran, abang masih sempat mengecek HP. Kebiasaan mungkin, memeriksa email atau sms yang mungkin masuk dan harus segera diatasi. Tak ada pesan masuk. Saat itu pukul 21 lewat sekian.

Sepuluh menit kemudian, kami sampai di rumah. Aku sibuk membereskan belanjaan di dapur. Sepertinya abang sedang berganti baju dan mengeluarkan barang-barang disaku sambil kembali memeriksa HP. Tak lama,abang  berdiri di pintu kamar yang bersebelahabn dengan dapur, memberitahu dengan wajah yang sulit digambarkan, “Dek…istrinya Amir meninggal barusan.”  Kemudian aku membaca sendiri pesan yang disampaikan akh Amir ke bang Hen.

“Innalillahi wa inna ilaihi ro ji’uun…” Abang kemudian langsung menelpon Amir.  Aku ke kamar bersama Thoriq…Ziyad juga menyusul. Berusaha menghubungi teman-teman lainnya yang perlu diberi kabar ini. Di saat yang sama, Thoriq sibuk minta nenen, dan HP ngehang. Aku pun mengingat kembali pertemuan terakhir kami tanggal 18 Mei kemarin. Saat kami menengok Fia di rumah sakit, ketika dia masuk rumah sakit entah untuk keberapa kalinya. Masih seperti biasa, Fia yang ceria, yang suka bercerita, senyumannya, semangatnya walaupun kemudian dia merebahkan dirinya di pangkuan sang ibunda karena sepertinya tenaganya mulai berkurang. Fia…Fia. Mengingat canda dan tawa ketika kami mengobrol bersama sang ibu. Aku pun mulai menangis.

Ziyad yang datang mengajak aku berbicara, seperti biasa sangat perhatian kalau melihat aku menangis. “Ummi kenapa?”

“Gpp sayang…”

“Ummi sedih?”

“Iya..Ammah Fia meninggal sayang.”

Pada saat memberitahu itu, aku gak tahu apakah Ziyad ingat dengan Fia yang kami tengok. Karena kami cukup lama di rumah sakit karena bertepatan dengan waktu sholat Jumat. Apakah Ziyad mengerti maksud aku ketika aku mengatakan kata “meninggal”.

Ternyata dia mengerti.

“Ammah Fia meninggal…?” Dengan nada lambat dan khas anak-anak. “Iya sayang.”

Menjelang tidur, aku masih sempat menangis lagi. Ziyad yang melihatku masih juga dengan perhatiannya. Padahal lampu sudah dimatikan.

“Ummi kenapa?”

“Ummi masih sedih sayang.”

“Ammah Fia dikubur…?”

“Iya, insyaAllah besok.”

18 Mei 2012

Kebetulan Yufid libur. Kesempatan untuk menengok Fia yang sudah masuk rumah sakit untuk keberapa kalinya sejak 2 bulan terakhir ini. Saat kami datang, ada sang ibu dan bibinya dan  juga Fia yang baru selesai makan siang. Ibu Fia yang juga sudah bertemu dengan ku waktu kami ke rumahnya sekitar bulan November malah langsung menanyakan kabarku, “Mba siska udah sembuh?”

Sempat heran, maksudnya sembuh apa…Oh…sakit yang kemarin. Mungkin Fia cerita. “Alhamdulillah udah bu, udah remuk redam lagi nih…” Sambil tertawa kujawab pertanyaan itu. Selanjutnya kami mengobrol, bercerita. Fia yang sanguinis, sang ibu yang plagmatis.

Fia cerita, masuk rumah sakit karena sesak. Ternyata karena kadar besi di darah sudah tinggi. Karena transfusi, udah sulit nyatu dengan darahnya sendiri.  Ketika mulai bercerita, dia sempat tertawa, “Wah kalau diceritain sebenarnya ngeri.” Ya emang ngeri. Aku sendiri juga sudah mendengar cerita dari bang hen cerita dari akh Amir. Gimana setiap kali cuci darah, Fia harus disuntik > 6x karena pembuluh darahnya yang kecil. Kalau berhasil pun belum tentu bisa bertahan lama. Nanti bengkak. Mesti cari lagi daerah yang bisa disuntik. Di tangannnya banyak bekas suntikan itu. Oh…dan cuci darahnya dilakukan 3x seminggu. Mau nangis dengernya.

Di cuci darah yang terakhir2, sempat darahnya udah gak bisa masuk. Harus dipencet dari tabungnya. Aku begitu mengingat setiap pembicaraan terakhir kami di kamar itu bersamaFia dan ibunda. Canda kami. Doa kami. Harapan kami. Sang ibu yang baru saja juga mengalami ujian karena baruuu saja dikuret karena pendarahan. Masya Allah, semoga ALlah memberikan ganjaran pahala yang besaaaar sekali untuk keluarga Fia dan menggantikan dengan yang lebih baik.

 

Awal April 2012

Saat sakit panas yang tak kunjung menurun. Saat sampai bang Hen “nyerah” dan nelpon Mama, minta supaya beliau datang. Fia termasuk salah satu di antara yang menjengukku. MasyaAllah. Kaget.

“Ini gak apa-apa?” aku tanya ke dia.

Karena kami tahu, betapa kondisi fisiknya harus dijaga. Betapa jauhnya rumahnya.

Kami mengobrol di kamarku.Duduk bersama di pinggir kasur ditemani kipas angin yang menyala.  Berbagi cerita, tertawa. Oh Fia, betapa aku selalu meresapi setiap pertemuan dengannya. Di sisi lain aku berharap kesembuhan untuknya, namun di sisi lain juga ada rasa cemas, entah apakah aku bisa bertemu dengannya lagi.

Fia cerita udah enakan, bisa ke warung dekat rumah.

 

Bertemu Pertama Kali

Setelah hampir setahun mendengar kabar sakitnya dan aku tak bisa menengok, akhirnya Fia dan akh Amir pindah ke Bantul karena cuci darahnya kini dilakukan di PKU. Masih ada ya cerita kami nengok Fia dan abis itu pergi ke Jogja Tronik di blog ini. :( *sedih*.

Pulang dari rumah Fia, sempet nangis di jalan. Sediiih. Fia sendiri sempat menangis  beberapa kali saat kami bertemu walaupun berusaha dia tahan. Saat itu dia juga baru saja dioperasi untuk kedua kalinya menanam “saluran” agar memudahkan saat cuci darah (gak mesti disuntik diimana2, tapi ternyata qodarullah ini juga gagal). Saat itu aku mendengar sendiri ceritanya untuk pertama kali proses cuci darahnya. Waktu itu juga ada sang ibunda.

 

Juni-Juli 2011

Aku lupa bulan tepatnya. Yang jelas kabar Fia sakit ginjal sudah beberapa bulan lamanya. Fia dan akh Amir yang tadinya mengontrak di rumah ust. Abu Isa di Bantul sudah kembali ke Magelang. Waktu itu usul ke bang Hen untuk menengok bersama teman-teman Yufid. Sayangnya, aku gak ada temannya :(. Jadilah cuma abang dan beberapa tim Yufid pergi ke rumah Fia di Magelang. Di lereng gunung kata abang. Seperti perjalanan kalau ke GunungKidul. Naik turun jalannya.

Pulangnya abang cerita, ketika mereka sampai di sana, Fia sedang masuk rumah sakit lagi. Abang sempat melihat Fia digemblok keluar dari ruangan rumah sakit.

Juli – Desember 2010

Awal-awal akh Amir bergabung di Yufid. Tak lama beliau menikah. Masih “ngelaju dari rumah masing-masing. Sempat mau bertemu tapi gak jadi.

Pagi hari sepulang dari makan soto, kami berpapasan dengan akh Amir dan Fia. Abang yang nyadar. “Siapa bang?” “Amir sama istrinya. ” Abang selalu menggambarkan gimana terlihat bahagianya mereka. Aku cuma melihat sosoknya sedikit. .

Mendengar kabar Fia hamil. Senangnya. Mereka pun juga mulai pindah ke rumah ust. Abu Isa yang dikontrakkan.

Tak lama tapi kami mendengar kalau Fia keguguran :(. Setelah itu tak lama terdengar kabar kalau Fia masuk rumah sakit, darah rendah sampai harus transfusi darah.

Sebulan dua bulan kemudian, kami mendengar kalau ternyata Fia gagal ginjal. Harus cuci darah. :(

 

Hari ini

Dan kini Fia sudah tiada. Butuh waktu bagiku untuk menghilangkan kenangan-kenangan yang sedikit namun begitu berharga bagiku. Aku gak bisa ngebayangin akh Amir yang selama 1, 5 tahun melalui ini bersama Fia setiap harinya. Semoga Allah memberi kesabaran dan ganti yang lebih baik untuknya. Saat teman-teman Yufid dan lainnya ta’ziyah, sang ayah sempat berkata, “Amir baruu aja nikah. Terus anak saya sakit.”

Kejadian ini membuatku banyak merenung dan berpikir. Di satu sisi, ingin sekali Fia terus hidup. Melihat tawanya, keceriannya. Namun ketika membayangkan ujian yang harus terus dilalui entah sampai kapan, ternyata malah membuat sisi sedih yang lain.

Semoga Fia khusnul khotimah, karena meninggal di hari Jumat (ukuran umat Islam, kamis malam itu sudah hari  Jumat kan yah…)

Semoga ibu dan ayah diberi kesabaran.

Allahummaghfirlahaa…allahummaghfirlahaa…

 

* Tulisan yang ditulis hari umat 8 Juni tapi gak selesai dan aku selesaikan hari ini 16 Mei 2012

Sampai sekarang Ziyad terkadang masih suka bertanya. “Ammah Fia meninggal?” “Kita semua bakal mati?”

 

7 Comment

  1. innalillahi wa inna ilaihi raji’un…
    ‘sesak napas’ bacanya. allahumaghfirlaha warhamha…

    sampai ga tahu mau nulis apa….

    *sakit apa sis, cuci darah seminggu 3x?*

  2. cizkah says:

    sakit ginjal mba…
    ada yang ketinggalan ni ceritanya berarti…flashback lagi ketika mereka baru2 nikah…insyaALlah ditambahin di postingan

  3. innaalillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun..
    Ana ga kenal ya mbak? hiks2 sedih banget. Smoga Allah merahmati dan mengampuni dosa2 kita dan beliau serta mberi ksabaran u suami dan keluarganya.

  4. cizkah says:

    ya ampun, belum jawab wiwin ya ternyata. Maafken…dalam pikiran kok udah kejawab ya hehe
    Iya win…gak kenal kayanya.

  5. Fa says:

    Ana kayaknya gak pernah ketemu ya? pas ngobrol sama leily beberapa waktu lalu, kayaknya Beliau rahimahallaah di Jogja pas ana udah gak di Jogja lagi….Beliau rahimahallaah itu orang mana to mba?

    Gagal ginjalnya itu karena apa mba sebabnya? genetik atau karena bawaan lahir, atau “tiba-tiba”?

  6. cizkah says:

    iya…fafa ke riyadh tahun berapa…akh amir nikahnya tahun berapa hehe…jauh kayanya fa.
    Beliau rahimahallah tadinya di solo…pernah juga ikut kakaknya di aceh.

  7. Eghaliter says:

    Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un

    Kaget dengernya. Sedih meski ga kenal fia. Cm tau amir krn Saya teman 1 kampus akh amir. Semoga alloh memberikan pahala yg sebesar2nya atas kesabaran yg luar biasa dilalui akh amir dan fia.

    Allohummaghfirlahaa :(

Leave a Reply