Anak Gadis Usia 7 Tahun

Secara Masehi, Luma lahir bulan Februari tahun 2014. Tapi karena memang ada selisih hari di tahun Masehi dengan Hijriah, aku udah mulai waspada dan memperkirakan bahwa Luma sudah mendekati masa usia 7 tahun secara Hijriah. Selisih hari ini, kalau di”rapel” bakal jadi selisih bulan yang lumayan banyak.

Bukan waspada dalam arti negatif hehe. Cuma bagian dari usaha memulai sesuatu yang diperintahkan dalam agama Islam supaya gak sampai kelewat banget. Yaitu perintah dari syariat untuk memerintahkan anak sholat di usia 7 tahun.

مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِيْنَ ، وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِيْنَ فَاضْرِبُوْهُ عَلَيْهَا

“Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketika telah berumur tujuh tahun. Dan apabila telah berumur 10 tahun belum shalat, maka pukullah ia.” (Shahih: HR. Abu Dawud)

Antara Hijriah dan Masehi

Ternyata setelah aku cek ke kalender converter antara Hijriah dan masehi, alhamdulillah benar sesuai dugaan. Secara hijriah, Luma masuk usia 7 tahun bulan November ini. Waktu aku cek, tinggal sepekanan lagi. Lumayan banyak ya selisihnya dengan kalender Masehi. Hampir 4 bulan. Selisih 4 bulan dalam mendidik sesuatu itu sangat signifikan banget.

Alhamduilllah aku sudah mulai ngajak dia sholat hampir di setiap waktu dari hari-hari sebelumnya. Aku juga sampaikan ke dia, bahwa Luma, secara hijriah insya Allah sudah mau 7 tahun.

“Berarti sudah mulai sholat ya sayang. Sholat Subuh juga insya Allah. Luma insya Allah bakal dibangunin.”

Aku udah sounding dan kasih pengertian ke dia seperti itu. Soalnya tahu sendiri, tidurnya dia kan yang paling malam. Dia harus mulai tanggung jawab dan tau konsekuensi dari tidur malamnya itu.

Puasa Tahun Ini

Alhamdulillah, aku bukannya gak deg-degan berkaitan dengan pendidikan Luma karena dia anak perempuan. Sambil jalan, sambil berusaha belajar memahami dan menerapkan proses pendidikan ke dia.

Alhamdulillah, berasa banget, selama corona ini banyak kemudahan dari Allah terkait pendidikan Luma.

Puasa tahun ini, dia full ikut puasa Ramadhan. Berarti usia dia sekitar 6 tahunan. Puasa full dari Subuh sampai Mahgrib. Sebenarnya bahkan dari tahun kemarin, dia udah pingin puasa. Tapi secara fisik, sebenarnya belum siap. Akunya kayanya juga belum siap hehe. Jadi kalau sahur, biasanya gak serius diniatin untuk bangunin dia.

Untuk tahun ini, dari hari pertama, karena dia udah niat banget, dibangunin sedikit langsung bangun. Padahal baru tidur mungkin 3 jaman. Atau bahkan 2 jaman. Karena juga tarawih di rumah. Dan proses kita tarawih, walaupun 11 rokaat itu kadang-kadang bisa panjaang. Kapan-kapan insya Allah kalau ada kesempatan diceritain deh tentang puasa tahun ini.

Selama puasa inilah, banyak pendidikan ke Luma yang jadi kaya terlalui secara “otomatis” alhamdulillah. Karunia dari Allah.

Dia jadi benar-benar rutin makan sendiri dari sejak puasa ini sampai sekarang. Biasanya kan masih ada disuapin aku.

Dia juga rutin ikutan sholat. Alhamdulillah, pas juga memang Abang dan kakak-kakaknya juga seluruh sholatnya dilakukan di rumah karena corona. Jadi, dia dapat momen ngerasain sholat jamaah. Ya, walaupun bukan berarti dia udah bener banget sholatnya ya.

Macam-macam kejadiannya. Pernah dia kebelet pipis, terus dia berisik ngomong sambil nahan, “Cepet…cepeet…ayo cepet sholatnyaa..Luma kebelet pipiis…” Langsung pas udah selesai, pada sibuk nasehatin dia bahwa dia bisa langsung berhentiin sholatnya untuk pipis. Jangan nyuruh imam buat jadi buru-buru sholatnya hehe.

Pelan-Pelan

Alhamdulillah, Luma sudah belajar wudu. Belum hafalin doa setelah wudu.

Luma juga sudah belajar bacaan sholat. Bacaan-bacaan yang masih perlu diajarin bacaan iftitah, i’tidal, duduk antara dua sujud, tahiyat. Biasanya pas lagi sholat, bacaan ini agak aku perjelas supaya dia bisa dengar. Tapi gak sampai dijahrkan banget kaya kalau imam sholat isya atau maghrib.

Pas sholat, dia masih lebih sering muter-muter, duduk, dan beraktifitas gerakan di luar sholat hehe.

Intinya masih banyak main-mainnya. Nanti suka mandangin aku dekat banget. Atau sengaja nempelin telinganya ke bibir aku buat dengar bacaan aku.

Sholat Subuh dan Tidur Malam

Tentu saja bagian ini masih perjuangan. Hari pertama aku bangunin, alhamdulillah lancar. Luma langsung bangun, pipis, gosok gigi, wudu.

Nah, hari-hari berikutnya naik turun. Tapi karena masa ini adalah masa untuk mendidik mereka untuk sholat, maka yang aku lakukan adalah merintahin dia untuk sholat di setiap waktu. Dan untuk sholat Subuh ini, yang aku kerjakan adalah membangunkan di setiap waktu subuh. Beberapa kali aku bangunkan.

Kalau dia benar-benar gak kebangun karena masih super duper ngantuk karena tidurnya malam, aku gak paksa. Aku kasih jarak waktu. Kira-kira dia sudah dapat tambahan waktu tidur, coba dibangunin lagi. Kalau gak kebangun juga, ya berarti emang dia ngantuk banget. Karena secara tabiatnya, Luma insya Allah kalau dibangunin itu bisa bangun.

Tapi, setiap Luma udah bangun, aku selalu kasih tahu ke dia kalau tadi aku bangunin dia untuk sholat Subuh. Biar dia tahu, bahwa ummi dan abi akan berusaha selalu bangunin dia insya Allah. Luma juga harus berusaha dan niat untuk sholat Subuh. Pas mau tidur aku juga terus ingetin dia bahwa insya Allah besok dia bakal dibangunin sholat subuh. Luma niat untuk bangun sholat Subuh. Begitu terus.

Minuman Hangat

mendidik anak perempuan sholat
minuman hangat dan sarapan

Karena ini masa-masa adaptasi untuk Luma, maka aku berusaha untuk membuat paginya dia menjadi lebih nyaman karena harus bangun lebih awal.

Sebenarnya, biasanya aku menghindari minuman manis di pagi hari. Biasanya juga, untuk sarapan, kakak-kakaknya sudah biasa bikin sendiri.

Nah, sejak mulai mendidik Luma untuk sholat subuh, tentu saja harus ada ekstra sabar. Untuk dia dan untuk aku ^^.

Aku tawari dia minum teh manis hangat. Atau kupas buah dan hal-hal lainnya supaya dia tahu paginya menyenangkan insya Allah. Bahkan, sebenarnya aktifitas ngopi itu, bisa dibilang mulai intensif sejak mendidik Ziyad sholat subuh dan dilanjutkan aktifitas menghafal. Kami berusaha membuat suasana pagi menjadi “hidup”.

Gak selalu berhasil. Bahkan sampai sekarang, Thoriq pun masih harus terus diingatkan. Gak boleh tidur habis sholat Subuh. Untuk Thoriq, kami udah tahu celah-celah untuk dia tetap bangun alhamduilllah. tapi postingan ini tentang Luma ^^.

Sampai tadi pagi, ternyata Luma sempat nanya ke aku. “Pagi-pagi gak ngopi?” Dia tahu, kalau pas dia bangun pagi – bukan untuk sholat subuh -, kami sudah masuk ke masa waktu ngopi. Dia juga menikmati momen ngopi ini ternyata.

Pendidikan Sholat Mendukung Pendidikan Lainnya Insya Allah

Setelah itu, aku segera mengajak dia untuk hafalan. Makanya tadi aku bilang, aku juga harus sabar. Memang seperti itu kalau pas masa anak belum bisa hafalan sendiri. Jatah waktu pagi untuk hafalan kita sendiri itu bisa dibilang akan banyak tercurahkan untuk anak-anak. Pas masa Ziyad dan Thoriq juga gitu.

Alhamdulillah kemudahan dari Allah. Anak-anak sudah terbiasa mengulang-ngulang hafalan sebelumnya. Jadi, ketika rutinitas ini dikerjakan di pagi hari, sebenarnya adaptasinya lebih ke adaptasi karena sambil ngantuk-ngantuk. Tapi akan terasa sekali bedanya, karena bisa lebih konsentrasi dan hal-hal lain. Terutama karena berkahnya waktu pagi ini insya Allah.

Menambah hafalan baru atau menguatkan hafalan baru

Alhamdulillah, aku juga intensifkan belajar iqronya di pagi hari ini. Sengaja aku segerakan, langsung mengajak Luma untuk belajar karena aku tahu sebenarnya dia tentu saja masih ngantuk. Di sisi lain, kami tekankan ke anak-anak kalau sudah bangun Subuh, maka diusahakan jangan tidur sampai waktu syuruq berlalu. Biar dapat berkah di pagi hari. Ujung-ujungnya, kalau Luma, tetap bakal lama baru tidur laginya. Apalagi bang Thoriqnya masih bangun.

Kegiatan Al-Qur’an di pagi hari ini, untuk anak-anak adalah waktu untuk menambah hafalan. Jadi, untuk muroja’ah hafalan yang lama tetap dilakukan di siang hari.

Memang Harus Sabar

Alhamdulillah, ya Allah, dapat tambahan faidah lagi ketika menuliskan ini. Pada hakikatnya, memang kita diperintah untuk sabar ketika memerintahkan keluarga kita untuk sholat.

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mengerjakan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberikan rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” [Q.S. Thoha 132]

Masih banyak tugas dalam pendidikan sholat Luma ini. Penyempurnaan wudu, doa-doa yang kurang, konsentrasi, khusyu, dst. Semoga Allah mudahkan pendidikan sholat ini ke depannya. Aamiin.

cizkah
Yogyakarta, 25 November 2020 – 11 Robiul Akhir 1442
Masih masa corona

3 Replies to “Anak Gadis Usia 7 Tahun”

  1. Maasya Allah… Baarakallahu fiikum…
    Bener banget, Mba. Harus ekstra sabar.

    Gimana kondisi di Jogja, Mba, khususnya ditempat mba Ciz dan Yufid terdampak erupsi Merapi atau tidak?

    1. alhamdulillah lokasinya masih yang termasuk jarak aman dan kalau tahun-tahun sebelumnya, kalaupun sampai erupsi masih bisa tetap stay di sini.

      ALhamduilllah

  2. Alhamdulillah…

Leave a Reply