Bagaimana Mendidik Anak?

Pagi ini (ada sedikit waktu luang alhamdulillah), nulis status di FB spt ini,

Akhowat…terutama para ibu yg sudah merasakan bgmn mendidik anak, kajian ini bagus banget lhoo…walau cuma beberapa menit…Selalu banyak inspirasi dari kajian2 ustadz Armen rahimahullah…Semoga Allah memberikan balasan kebaikan yang banyak kepada ustadz

http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Armen%20Halim%20Naro/Wan

Jadi pingin cerita sedikit…

Alhamdulllah sebagian besar udah kami jalanin… Nah, buat yang agak kesulitan dengerin file kajian tsb, ini saya bikin poin2 pentingnya ya…(tapi sedikit saya tambahin cerita dari saya pribadi ya).

Mengajarkan Kepercayaan Diri

Sayang kajiannya cuma potongan. Intinya, kita harus mengajarkan dan kepercayaan diri kepada anak. Karena lingkungan kita sendiri sudah membentuk kepribadian yang kurang percaya diri.

Contoh kesalahan dalam mengajarkan pendidikan anak adalah ketika anak ditanya namanya, maka biasanya seorang ibu tidak membiarkan anaknya mencoba menjawab sendiri, tapi biasanya ibunya yg menjawab,

“Namanya siapa dek…?”

Maka biasanya ibunyalah yg mengjawab, “Namanya Abdullah…”

My note:

Alhamdulillah, Ziyad udah berani dan bisa jawab namanya sendiri. Ini juga berkaitan dengan pengenalan kepada diri anak lho (berkaitan sama psikologi). Jadi, ada tahapan bagaimana kita mengajarkan anak untuk mengenali dirinya sendiri. Hal-hal yang perlu dia ketahui seperti namanya, nama ayah dan ibunya, tempat tinggalnya dan lain-lainnya. Aku sendiri udah ngajarin sebagian, kadang terinspirasi dari pertanyaan yang timbul dari orang lain yang kadang aku belum ajarkan, kaya kemarin ada anak tetangga yang nanya, “Ziyad sekolah di mana?” Langsung kepikiran, “Wah belum ngajarin tuh. Taunya dia kan sekolah di TK. ”

Btw, dia udah bisa jawab kalo ditanya, “Nama ibunya Ziyad siapa?” Jawaban Ziyad, “Kiskah…” :D

Kalo ditanya nama abahnya dia belum bisa. Susah kali ya, “Hendri sayanng..”

Berikut ciri pendidikan anak dalam Islam (Tarbiyah Islamiyah) ada 3 hal:

Taqdiimul aham minal muhim (Mendahulukan yang paling penting)

Pengetahuan yang diajarkan kepada anak itu harus didahulukan dari yang paling penting dari hal-hal penting lainnya. Dan seorang ibu bagusnya punya jadwal untuk mengajarkan hal-hal penting tersebut.

Salah satu kesalahan adalah mengajarkan anak bahasa Inggris terlebih dahulu drpd bahasa Arab. (Bukan berarti gak boleh belajar bahasa Inggris lho). Ini lebih mendahulukan anak untuk mencari pendidikan dunianya dan melupakan akhiratnya (krn bahasa Arab ini adalah pintu yg harus didobrak untuk memahami agama lhoo).

Tadrij (Berangsur-Angsur)

Memiliki Gambaran yang Sempurna Tentang Pendidikan itu Sendiri

Jadi, sebelum dia menikah dan akan menikah pun dia tahu tentang pendidkan anak itu sendiri. Kalaupun dia tidak tahu dia konsultasi atau mempelajarinya.

Yang perlu dibenerin lagi kesalahpahaman yang sering muncul adalah, pendidikan itu cuma memberi ma’rifah (pengetahuan) tok! Maka yang perlu diketahui, tarbiyah pada anak itu bisa dibilang mencakup 4 hal,

  1. Pengetahuan (tapi ini sebenarnya bisa diakhir)
  2. Iman dan takwa. (ini beda dg pengetahuan lho..krn Iman kaitannya dg hati)
  3. Adab dan akhlak (kadang orangtua melupakan pendidikan ini).
  4. Keterampilan Maka semuanya harus diajarkan secara rata.

Dan ini semua harus sebanding.

Maka salah jika orang tua bersibuk-sibuk sebagian besar udah ngajarin baca Iqro, Hafalan Al-Qur’an, baca huruf abjad dan mengenal angka 1, 2,3  tapi gak diajarin berakhlak dan beriman serta beradab dan punya keterampilan. Padahal semua hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan sejak anak-anak usia dini.

My note: Alhamdulillah, semua ini kami sudah ajarkan kepada Ziyad lhoo…seneng banget pas tahu kita udah ngejalanin ini. Cuma krn udah sadar, jadi lebih terarah insya Allah.

Contoh2 yg Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bidang2 tsb ada pada hadits (dan ini jauh sebelum Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan ttg pengetahuan):

Ketika Rasululllah mengajarkan kpd Abdullah bin Abbas, “Wahai gulamm…Jagalah Allah maka Allah akan menjagamu.” (Ini masalah iman ibu-ibuuu)

Ketika Rasulullah mengajarkan seorang anak, “Wahai anak kecil, bacalah bismillah jika engkau makan, dan makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah apa yg dekat dgmu.” (Ini tentang adaabb ibu-ibu).

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dg adik anas yg sedang bermain burung dan burungnya mati, Rasulullah bertanya, “Wahai Aba Umair, apa yg terjadi dg burung kecil ini…?” Ini masuk dalam bab keterampilaann…Jadi biarkan anak bermain sesuai fitrahnya. Jangan ditekan ibu-ibu.

My note:

Kalo di dalam dunia pendidikan, ini ada kaitannya dengan multiple intelligence lhoo…jadi ketika anak melakukan sesuatu (yg dimata orang tua salah atau berbahaya), kita harus menyikapinya dg benar, krn bisa jadi itu adalah masa2 terbaik anak u/ mempelajari sesuatu. Misalnya anak lagi asik nuang-nuang air dari satu gelas ke gelas lain, jangan lansung serta merta dilarang, “Jangann, nanti tumpah berantakan.” Biarkan dia, krn ini ada efeknya juga buat perkembangan motorik, dan berkaitan dg kreatifitas lho. Banyak sih contoh lainnya, tapi nanti kepanjangan deh..

Untuk ibu-ibu yang ngerasa udah ‘terlanjur’ salah…maka jangan putus asa! Krn yg udah berusaha sebaik-baiknya mendidik anakpun juga kadang merasa ‘terlanjur’ salah. Maka jangan lupa terus berusaha dan serius dlm mendidik anak serta jangan lupa doa lhoo. (Jangan cuma doa aja tapi).  Krn di dalam Islam tidak ada kata terlanjur. Semua sifat dan akhlak insya Allah bisa diubah. Dan untuk mengubahnya butuh waktu, kerja keras, lingkungan, uang dan hal-hal lainnya yang berkaitan satu dengan lainnya.

My note: Selalu teringat kisah ulama Fudhail bin Iyad yang tadinya perampok. Suatu saat di usianya yang sudah 40 t,  dia hendak mengintip wanita. Namun di pertengahan jalan, dia mendengar surat Al-Hadid yang isinya, “Belum sampaikah waktunya…” Akhirnya ia berbalik arah dan menangis serta kemudian mempelajari agama Islam ini dg sungguh-sungguh. Dan jadilah ia, seorang ulama yang dikenal namanya hingga sekarang. Waw….tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik wahai saudaraku…baik untuk diri kita ataupun anak-anak kita Insya Allah.

SEMANGAATT IBU-IBU!! Jangan lupa kerjasama sama suami yaaaa.

11 Comment

  1. Temennya Bapaknya Ziyad says:

    Coba diperiksa kembali kisah Fudhail bin Iyyadh..
    Yang kami ingat, taubatnya beliau bukan karena ingin mengintip wanita, tetapi ingin membegal, namun tidak jadi karena mendengar salah satu anggota rombongan musafir membca surat Al-Hadid. wallahu a’lam.

    Baarakallah fiik…

  2. Ummu hamzah says:

    Barokallohu fiik. Menarik,…

  3. cizkah says:

    Kalau yang kisah Fudhail mau mengintip ini, ana dengarnya dari ustadz, tapi lupa dari ustadz siapa. (Soalnya pas dikisahkan ini, ana agak merasuk karena membayangkan ituasinya).

    Sedangkan kalau dari baca, ana malah taunya mau melakukan hal lain (yg jelas maksiat). Tapi insya Allah ana periksa lagi (buat pembaca lain kalau ada yg sudah menemukan kisah yg lebih tepat dg sumber rujukan yg dapat disebutkan tafadholuu).

    Wallahu a’lam. Jazakumullah khoiro atas koreksinya.

  4. Disebutkan dalam Siyar A’lam An-Nubala dari jalan Al-Fadhl bin Musa, beliau berkata: “Adalah Al-Fudhail bin ‘Iyadh dulunya seorang penyamun yang menghadang orang-orang di daerah antara Abu Warda dan Sirjis. Dan sebab taubat beliau adalah karena beliau pernah terpikat dengan seorang wanita, maka tatkala beliau tengah memanjat tembok guna melaksanakan hasratnya terhadap wanita tersebut, tiba-tiba saja beliau mendengar seseorang membaca ayat:

    أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَماَ نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلاَ يَكُوْنُوا كَالَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتاَبَ مِنْ قَبْلُ فَطاَلَ عَلَيْهِمُ اْلأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْ وَكَثِيْرٌ مِنْهُمْ فاَسِقُوْنَ

    “Belumkah datang waktunya bagi orang –orang yang beriman untuk tunduk hati mereka guna mengingat Allah serta tunduk kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang –orang yang sebelumnya telah turun Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras, dan mayoritas mereka adalah orang-orang yang fasiq.” (Al Hadid: 16).

    Maka tatkala mendengarnya beliau langsung berkata: “Tentu saja wahai Rabbku. Sungguh telah tiba saatku (untuk bertaubat).” Maka beliaupun kembali, dan pada malam itu ketika beliau tengah berlindung di balik reruntuhan bangunan, tiba-tiba saja di sana ada sekelompok orang yang sedang lewat. Sebagian mereka berkata: “Kita jalan terus,” dan sebagian yang lain berkata: “Kita jalan terus sampai pagi, karena biasanya Al-Fudhail menghadang kita di jalan ini.” Maka beliaupun berkata: “Kemudian aku merenung dan berkata: ‘Aku menjalani kemaksiatan-kemaksiatan di malam hari dan sebagian dari kaum muslimin di situ ketakutan kepadaku, dan tidaklah Allah menggiringku kepada mereka ini melainkan agar aku berhenti (dari kemaksiatan ini). Ya Allah, sungguh aku telah bertaubat kepada-Mu dan aku jadikan taubatku itu dengan tinggal di Baitul Haram’.”

  5. cizkah says:

    Alhamdulillah, berarti terjawab ya musykilahnya akh ginanjar.
    Jazakillahu khoiro umm, atas ilmunya.

  6. Ika says:

    Dear siska, jazakillah khairan katsir ukhti untuk tulisannya. Senangnya bisa sampe di blognya siska :) !!!

  7. cizkah says:

    heheheh…masih belum keurus ni kaa….mudah2an bisa memberikan ilmu yg bermanfaat yaa

  8. anik ummu muhammad says:

    kalau antara huruf Hijaiyah dengan abjad ahsannya didahulukan mana ya mbak?selama ini muhammad belum sama sekali ana kenalkan hijaiyah, takutnya tumpang tindih.

  9. cizkah says:

    wew..anik…apaakah fb-an juga? skrg di mana? tiba2 nongol di artikel ini ^^

    insya Allah gak tumpang tindih kok nik…ngajarinnya kan gak serius dan tersusun bgt kaya orang dewasa…
    Semuanya dilakukan sambil bermain, dan gak secara formal…
    Kaya Ziyad *seinget ana*, awal2 ya sekedar sebut huruf-huruf yang ada di depan dia *kan dia suka lihat buku*, atau ana tulisin namanya dia, Z I Y A D, nanti dia nangkep yg huruf I atau A, atau mainan office, terus hijaiyyah juga gitu.

    Nah abis itu juga ana bacain pake nada untuk huruf abjad…dan di youtube juga nemu bagus nasyid utk hijaiyyah, alhamdulillah gak bingung, dia malah seneng banget dan hafal krn bernada itu (walo blum kenal hurufnya keseluruhan secara melihat) hehehe.

    ada yg kelupaan, ana juga beliin poster2 yang digantung di tembok itu lho nik, murah2, kalo di bantul beli di pamela aja.
    Emang gak selalu di lihat, tapi pas dilihat bisa sedikit diajarin…^^

    Na ana malah blum cerita di blog ini juga tau2 dia bisa nulis huruf A…padahal ana GAK PERNAH ngajarin dia nulis hehehe…Banyaknya mungkin karena banyak disediain buku2 gitu ya Nik, jadi dia emang udah cinta ma buku, dan ada huruf, warna etc. Ana juga ada buku bagus ttg mengajarkan anak membaca dari kegiatan natural sehari2, tapi blum dibaca, baru diliat2 aja.

    Mumpung masih kecil, gak pake target2an, jadinya belajarnya bisa lebih santai dan menyenangkan. ^^

  10. anik ummu muhammad says:

    pernah daftar jg sih mb, tp blm pernah nge-add siapa2.ga betah mbak lama2 didepan komputer, hehe…ngurusin rumah dan anak-anak aja rasanya banyak yang keteteran.kalau siang habis kerjaan selesai nemenin anak-anak, kalau malem pengennya nulis artikel atau baca-baca, rasanya dah capek bgt.manajemen waktu gmn ya?
    oy, ada yang cari kontrakan nggak?rumah ustadz abu isa ditawarin, 3,25jt.

  11. cizkah says:

    iya, jadi ini di jogja lagi ya?
    ana juga pengennya gitu, tapi kalo ziyad mah siang malem sama aja hehehe, jadi ya bisa dibilang jumpalitan dan keteteran juga
    iya, ana tau juga, kemahalan e nik, udah ada yg lagi tawar menawar kok, namanya akh amir, baru nikah, ditawar 3 jt.

    kapann ya ketemuan, blum liat khadijah, ana gak kuat e perjalanan jauh, capek banget nanti. Udah lama gak ke bantul..

Leave a Reply