Bahagia Bisa Membaca

Ini adalah Lanjutan postingan 2,5 Tahun ber-Homeschooling…

Kemarin diskusi dengan seorang ibu. Tentang kemampuan baca, tulis, hitung seorang anak. Kebetulan si ibu ini baru mulai menerapkan homeschooling di rumahnya.  Timbul pertanyaan,  “Apakah baca tulis hitung ini menjadi tolak ukur keberhasilan belajar seorang anak?

Jawabannya: enggaaaa…in sya Allah.

Jangan khawatir ya ibu-ibu yang anaknya masih dalam tahap belajar membaca atau menulis. Apalagi yang masih umur di bawah 7 tahun hehe.

Aku sendiri pernah terperangkap dengan perasaan ini. Waktu itu Ziyad baru tahap-tahap awal baca latin. Rasanya pas dengar anak lain seumuran dia udah bisa baca tuh jadi gimanaaaa gitu. Terus bawaannya jadi senewen, trus berasa banget jadinya ngajar Ziyad juga jadi senewen. Ah kasihan.

Di sinilah pentingnya intropeksi diri proses belajar. Biasanya berlangsung tiap hari. Enaknya pas anak-anak udah pada tidur hehe, banyak hal yang bisa direnungi. Apakah tepat metode yang digunakan? Kenapa proses belajar hari ini sedikit “berantakan”? Seharusnya sikapku seperti ini dan itu.  Dan seterusnya. Alhamdulillah perasaan ingin anak bisa cepat-cepat membaca itu berlalu.

Ziyad belajar secara bertahap, pelan. Misal satu halaman masih belum lancar, ya besoknya diulang. Biasanya max 3 kali (alias 3 hari untuk halaman yang sama, ini bisa kerasa berat banget loh kalo pinginnya cepet-cepet namatin satu buku). Maksimal 3 kali karena untuk mencegah dia merasa jenuh dan merasa salah berkelanjutan. Biasanya aku lanjutin dan nanti aku ulang sedikit di halaman yang belum lancar secara lompat-lompat. Proses belajar pun gak terus selalu dari buku. Ini juga berlaku untuk belajar iqro. Pas di awal-awal dia lebih banyak pingin baca langsung dari tulisan aku. Itu pun cuma 3 baris kata-kata. Intinya bisa ditangkap. Ziyad pingin belajar bacanya sebentar aja dan mungkin dengan itu dia juga jadi merasa lebih mudah.

Bisa Membaca

Alhamdulillah sekitar bulann….Januari 2013, Ziyad udah selesai namatin belajar latinnya. Umurnya saat itu 5,5 tahun. Tepatnya sebulan setelah proses unschooling hehe. Sekali lagi, bener deh tulisan tentang pembagian waktu di ummiummi. Proses belajar formalnya Ziyad itu sebentar. Tapi alhamdulillah in sya Allah konsisten tiap hari, terutama pas usianya udah mau 5 sampai 6 tahun. Beda dengan di sekolah. Guru harus membagi jatah waktu mengajar untuk siswa lain. Dalam satu hari pun mungkin cuma bisa satu jenis pelajaran. Jadinya selama 6 bulan sekolah, bisa dibilang Ziyad cuma nambah beberapa halaman hehe. Pas masuk sekolah Ziyad udah buku  3 AISM, 6 bulan kemudian tetap jilid 3 AISM :D.  Di rumah? Udah jilid 5 alhamdulillah (ngelihat tanggal pas di buku AISM 5-nya halaman awal tertanggal 10 Desember 2012 :D).

Nah, yang paling membahagiakan adalah ketika melihat Ziyad juga ikut senang ketika dia mulai bisa membaca. Pada awalnya masih terbata-bata. Alhamdulillah sekarang udah lancar sekali. Dia jadi semangat membaca buku-buku yang dulunya cuma bisa dibacain sama aku atau cuma dilihat-lihat gambarnya. Dan pada saat-saat seperti inilah aku jadi menyadari sesuatu (untuk bekal mengajarkan Thoriq dan in sya Allah adik-adiknya kelak), ternyata perasaan ingin anak cepat bisa baca itu adalah sesuatu yang tidak perlu.

Jadi teringat kejadian pas dia udah mulai bisa baca. Aku tinggalkan pesan di pintu rumah, bahwa aku sedang ikut pengajian ibu-ibu di masjid. Waktu itu Ziyad sedang main di rumah temannya. Biasanya dia akan menangis jika mendapatkan pintu rumah tertutup. Apalagi kalau ternyata aku tidak berada di rumah. Itu momen yang paling berkesan dimana ternyata dengan bisa membaca, aku bisa berkomunikasi dengan Ziyad lewat tulisan. Jadi lebih terasa bahwa bisa membaca itu ternyata memang bermanfaat ya. Harapannya, perasaan itupun juga muncul di diri Ziyad. Waktu itu, tak lama setelah aku sampai di masjid, Ziyad datang dengan ceria. Menunjukkan kalau dia membaca pesanku tersebut. Bahagiaaa banget masya Allah.

Kegiatan Membaca

Kegiatan membaca juga jadi salah satu aktifitas belajar yang terjadi secara natural in sya Allah. Kenapa? Karena jatah menonton Ziyad cuma sekitar 1 jaman setiap hari. Jatah bermain keluar juga sore hari. Membaca jadi sebuah rutinitas harian yang tak terhindari hehe. Misalnya sudah selesai nonton, belajar, main atau hal-hal lain, nanti pilihannya ya, “Sana baca buku.”  Hehe..Dan alhamdulillah ya baca.  Kalau untuk Thoriq, aktifitas ini masih harus ditemani. Jadi gak bisa aku minta Thoriq, “Ayo Thoriq baca buku, ummi mo kerja ya” hehe.

Mengedit Isi Buku

Beberapa buku pengetahuan yang kami miliki bentuknya semacam komik. Dulu, waktu masih zaman membacakan untuk Ziyad, bagian-bagian yang kurang bagus aku lewati. Nah, karena dia sudah bisa membaca, jadi harus hati-hati. Ada yang aku edit saat sendiri. Isi percakapannya jadi berubah. Ada juga yang kami edit bersama. Malah kadang Ziyad sendiri yang protes, misalnya ada perkataan, “Jeje sedang pergi ke hutan penyihir…”

Nanti Ziyad komentar…”Euh…hutan penyihir..gak boleh ya Mi.”

Atau ada kalimat yang semacam pujian atau takjub, nanti kami tambahkan kata, “masya Allah…” hehe…Seru juga kalo pas lagi ngedit-ngedit bareng.

Itu baru cerita membaca. Panjaaang ya hehe.

Bersambung in sya Alllah…mo cerita tentang SD nih…apakah Ziyad akan masuk SD tahun ini? Bulan Juli nanti, Ziyad baru umur 6 tahun in sya Allah. Tapi di sisi lain dia udah bisa baca, tulis, hitung-hitung sederhana etc etc..Gimanakah kelanjutan kisah belajar Ziyad?

Hehe…nantikan in sya Allah kisah selanjutnya.

1 Comment

  1. iin says:

    oke in syaa Allah

Leave a Reply