Buah Hatiku Trauma…

Yap yap…kemungkinan besar, Ziyad mengalami trauma, pada rumah sakit, dokter dan hal-hal berkaitan dengan kesehatan itu. Supaya runtun…aku cerita latar belakang dan hal-hal sebelumnya yang terjadi dan seterusnya…

Pertama

Kami, alhamdulillah, tidak memberikan hukuman atau ancaman kepada Ziyad ketika mengarahkan atau memerintah Ziyad dengan suatu hal yang positif atau hal yang memang tidak patut utk dijadikan hukuman. Misalnya, ketika dia melakukan kesalahan, maka kami tidak memberi ancaman, “Ayo, nanti kalo gak patuh sama ummi, disuntik sama dokter lho.” Atau misalnya, “Nanti ummi suruh makan sayur lho.”  atau misalnya lagi, “Nanti ummi taro tempat gelap lho ya.”

Tidak…kami alhamdulillah tidak memberikan hal-hal semacam itu.

Kedua

Usia 10 bulan, Ziyad pernah sakit panas tinggi. Dan tidak turun-turun, sampai 5 hari lamanya. Hingga akhirnya dokter menyarankan untuk periksa darah. Waktu itu, periksa darahnya lengkap (gak cuma sekedar cek untuk DB). Kami lakukan di Pramita Lab. Ziyad masuk ke dalam ruangan, didudukkan di pangkuan abang, dan abang diminta untuk pegang kuat-kuat oleh orang-orang yang hendak mengambil darah Ziyad.

Iya…Ziyad tentu aja nangis-nangis ketika itu. Padahal petugas-petugasnya  insya Allah baik-baik. Dan yang mengambil kebetulan pria, dan juga cepat sekali prosesnya (gak kaya di Sakina Idaman kemarin…).

Setelah selesai diambil darahnya pun, Ziyad langsung diberi balon oleh para petugas. Yang ada, Ziyad waktu itu kalo liat balon di rumah, malah nangis. Sepertinya dia menghubungkan antara balon dan kesakitan karena disuntik.  (Sekarang sih udah gak kaya gitu lagi sama balon, hehehe).

Ketiga

Dan sejak saat itulah, sepertinya dia kalo diajak ke dokter, selalu langsung menangis. Padahal belum diapa-apain. Masuk ruangan aja udah nangis. Gak tau apa emang semua anak kecil gitu ya?

Keempat

Bagi yg belum tahu, sebulan yang lalu, Ziyad (dan juga diriku), terkena DB. Serangkaian hal-hal yang tentu aja bagi dia gak menyenangkan harus dia lalui selama sakit itu. Waktu giliran aku diperiksa aja, dia udah gak mau lagi masuk ruangan dokter. Minta jalan-jalan terus sama abang.

  1. Ketika dia harus diambil darah untuk mencek, apakah kena DB atau enggak. Empat orang perawat masuk ke ruang periksa. Meraung-raung, menangis, dan proses ambil darahnya LAMA bgt! Sptnya ada udara yg masuk di tabungnya atau semacamnya, jadi mesti ditarik ulang, tarik ulang sedotannya (bukan jarumnya kok), tapi kan lama banget. Suami yg orangnya gak tahan sama hal-hal seperti itu udah sempat marah, “Kok lama banget mba!”
  2. Kedua kalinya, ketika dia mesti diinfus (aku alhamdulillah gak mesti diinfus, cuma disuruh banyak minum, jadi bisa ngurusin Ziyad). Jarum pertama yg masuk….bengkok. Hhhh….soalnya Ziyad gak mau diem. Tangannya gerak terus. Jadinya pas udah dililit perban, ternyata bengkok, jadi cairan gak masuk. Bongkar….
  3. Tusukan ketiga. Alhamdulillah berhasil.
  4. Esok paginya, Ziyad dan aku, mesti diambil lagi darahnya untuk cek kadar trombosit. Dan yaa…tentu saja, penuh tangisan. (Tusukan keempat)

Malam harinya, dokter anak datang. Suami sudah sangat tidak ingin Ziyad disuntik lagi. Reaksi Ziyad waktu itu, kalau ada orang yang masuk kamar, langsung waspada. Langsung melonjak bangun. Siap-siap nangis, etc. Tapi akhirnya, ngalah, dan dokter juga menjanjikan, kemungkinan besar ini adalah pengambilan darah terakhir…Dan terjadilah, tusukan jarum kelima.

And then…tiba-tiba, sore hari sekitar pukul 4, mba Dina (aku dah kenal sama mba ini, krn sering bolak-balik masuk rs. sakina idaman), masuk, bilang mo ngambl darah. Waktu itu, abang gak ada. Aku bilang, “Lho kok diambil lagi mba?” “Iya…” Sambil muka mba Dina seperti menyatakan, “Ya mau gimana lagi”. Aku gak tau gimana waktu itu, akhirnya pasrah. Dan Ziyad diambil lagi darahnya. Tusukan jarum keenam. : (

Gak lama kemudian, abang datang, dan uring-uringan. “Kok diambil lagi darahnya? Siapa yang nyuruh” Dan sebagainya dan sebagainya. Ternyata dokter jaga yang nyuruh. Ah, pokoknya yg terjadi akhirnya terjadi. Pasrah. Sekitar pukul 16.00, dokter umum, dua orang dateng lagi (emang sih, enaknya di sakina sering dikunjungin dokter, gak kena charge kok). Akhirnya terjadi pembicaraan cukup panjang. Soalnya Ziyad masih panas juga, padahal seharusnya masa inkubasinya sudah berakhir. Hasil tadi sore juga trombsitnya udah naik. Ada berbagai kemungkinan, kalo gak tipes, infeksi saluran kemih, atau lainnya. Jadi, kesimpulannya, mesti ambil darah lagi sama tes urin! : ( Aku langsung ngomong ke mba Dina, “Pake yang tadi sore aja bisa gak mba?” Aduh, aku udah mule gak tahan deh anakku ditusuk-tusuk terus. Ternyata gak bisa, krn utk cek DB itu udah dikasih cairan apaa gitu. Dokter juga menghibur, intinya, Ziyad itu masih alhamdulillah gak terlalu sering. Kalo yg parah, bahkan setiap 4 jam sekali mesti diambil darah utk dicek kadar trombositnya. Baiklah….Tusukan jarum ketujuh.

Kelima

Ternyata alhamdulillah Ziyad gpp, sptnya radang tenggorokan. Pulang dari RS, sikap dan tingkah laku Ziyad BERUBAH. Jadi agak kasar. Apalagi ke abang. Mukul dan sebagainya. Bantah aku sama abang juga banget-banget. Ke anak-anak sekitar juga jadi kasar, baik sikap dan perlakuannya. Butuh dua minggu, sampai akhirnya Ziyad bisa akrab lagi sama abang, mau dipangku abang, bercanda normal dan lain-lain. Tadinya, bangun tidur aja nangis. Nyari ummi, dan sebagainya.

Keenam

Perilaku Ziyad udah lumayan, tapi tetep gak seperti dulu sebelum sakit. Dan ketika mendengar kabar, Ubay dan ayahnya masuk RS krn db juga (tetangga deket juga), kami alhamdulillah diberi kesempatan menjenguk mereka.

Dan ternyatah…belum berangkat aja, Ziyad udah meronta-ronta. ‘Kan, sebelumnya aku udah bilang ke dia, “Abis ini insya Allah kita jenguk Ubay ya…Ubay lagi sakit, kaya Ziyad kemarin. Di rumah sakit.”  Pulang dari sholat Isya, kedengeran suara dia nangis di luar rumah. Gak mau ke rumah sakit. Kita bujukin, “Ziyad udah sehat…Ziyad kuat…Mau jenguk Ubay…Ubay sakit….Kasihan…Biar Ziyad dapet pahala juga…dst dst.”

Sampe parkiran RS, Ziyad sempet nolak lagi. Tapi akhirnya mau jalan dan akhirnya digendong sama abang. Kita berusaha memberi suasana ceria ke dia. Lari-lari kecil di sepanjang koridor rumah sakit yang bentuknya dibuat menanjak itu. “Howa….naik naik….naik…” Ziyad diem ajah.

Krn yang sakit para lelaki, aku nunggu di luar ruangan. Ke luar ruangan, sptnya keadaannya normal2 aja. Ziyad juga ga nangis2.

Ketujuh

Tanggal 5 kemarin, di buku penghubung, dapet pesan dari para pengasuh di childcare. Pas jemput Ziyad sebenernya juga udah dibilangin, tapi di catatan tsb lebih lengkap lagi. Ziyad sejak kemarin sering gigit temannya. Dan kesalahan lainnya (kasihan aib anakkku gak usah diumbar hehehe)

Langsung pusing deh aku sama abang. Soalnya kita sendiri juga merasakan, kok Ziyad makin membangkang dan berontak lagi yah. Sama kaya beberapa bulan yang lalu.

Kedelapan

Pagi tadi, aku sama abang diskusi pelan-pelan waktu kita sarapan bubur di rumah. Ziyad alhamdulillah udah aku mandiin. Abang bilang, “Kok, dia tingkah lakunya sama kaya pas abis sakit ya dek?” (Maksudnya kasar ke abang, gak mau sama abang dsb). “Iya ya.” “Apa ada kejadian di sekolahnya atau dimana gitu?” “Gak tau juga…aku juga bingung.”

Sampai akhirnya kami duduk bersama, makan, berusaha hati-hati dengan segala respon ke Ziyad (krn kalo salah dikit aja, reaksinya langsung berontak dsb, krn bulan November lalu, masalah ini bisa diatasi dengan kelembutan, maka kami berusaha utk lembut dan hati-hati ke dia, gak pake marah-marahin dia).

Tau-tau Ziyad ngomong, “Dotel mana Mi?” (dokter maksudnya).

“Dokter di rumah sakit….” aku jawab, abis itu langsung pandang-pandangan sama abang. Trus bisik-bisik, “Ohh…krn itu bangg…”

Abang agak masih belum ngeh, “kkemarinh…kkkhaan kita baru jeengukkh ubaiiih….”, masih bisik-bisik. Terus abang baru meng-000-kan. “Ohh iyaa…”

Setelah selesai makan, dan abang nganter Ziyad ke childcare, aku langsung sibuk nyari source tentang trauma pada anak. Dan  yang aku rekomendasikan untuk temen-temen baca, adalah yg ini.

  • Intinya, sebab trauma pada anak itu, kekerasan, kehilangan dan ekploitasi (gabungan kekerasan dan kehilangan).
  • Ada anak-anak traumatius yg memiliki gejala, ada yang engga.
  • Salah satu gejalanya adalah anak menjadi agresif (memukul, menendang, membanting), sakit kepala, gak selera makan.
  • Ketika anak mengalami trauma dengan gejala, kadang-kadang orang sekitar salah mengartikan gejala tsb dengan problem tingkah laku (sama kaya Ziyad kemaren2, aku pikir ini kenapa, kok tingkah lakunya kaya gini). Soalnya biasanya jadi gak hormat pada yg dewasa juga.
  • Cara mengatasinya jangan dihukum — karena menganggap tingkah laku mereka salah –. Kalau dihukum, ini sama aja memberi trauma dua kali lipat!
  • Sebenarnya reaksi anak tersebut adalah usaha mereka mengkomunikaskan rasa tidak aman mereka, protes, dan kesedihan mereka.
  • Cara mengatasinya juga adalah memberi kesempatan ke anak-anak melepaskan perasaan yang mereka miliki. Caranya? Dengan diajak bermain atau berbicara.
  • Kita juga perlu memberi rasa aman kepada mereka. (Gak trauma aja mesti gitu, apalagi kalo trauma)

Dan seterusnya, silakan baca sendiri artikelnya dan artikel-artikel lainnya ya kalau mau lebih lengkap.

Mudah-mudahan bermanfaat. Panjang juga ni ngetiknya. *Pijet-pijet bahu*

1 Comment

  1. SEFT says:

    jika trauma, coba aja tangani dengan tehnik SEFT, dan beli bukunya secara online, mungkin bisa membantu blognya bukuseft.wordpress.com

Leave a Reply