Bye Bye Brunei…

Pas akhir bulan November kemarin, aku sempat nge-uninstall whatsapp. Lagi pingin sendiri aja gak ada krang kring krang kring. Lagi pingin mengerjakan yaang lain pokoknya.

Akhirnya setelah 2 minggu, sambil tarik nafas, bismillah, aku install lagi hehe.

Dan ternyata aku missed beberapa informasi yang bermanfaat yang itu udah ada yang out of date (asal banget istilahnya).

Termasuk…yang mo aku ceritain di sini.

Salah satu teman yang sering membagikan info kajian atau informasi lainnya adalah Bondan istri Ndaru pemiliki Good Yoghurt. Kali ini infonya lain dari biasanya. Ternyata info beasiswa. Beasiswa yang in sya Allah memungkinkan untuk abang kalau mau ngajuin. Tapi kita flashback lagi sedikit beberapa kejadian sebelum itu.

Sultan yang Menjalankan Syari’at Islam

Waktu itu, kita termasuk yang bahagia ketika  sultan Brunei mengumumkan Brunei mulai menerapkan syari’at Islam. Beliau  tetap kokoh dengan keputusan tersebut walaupun banyak cacian dan celaan dari luar. Dan rakyatnya pun membela apa yang telah ditetapkan rajanya.

Waktu itu aku nyeletuk, “Yufid pindah sana aja yuuuk…”

Maksudnya, kayanya ini bisa jadi alternatif kedua sebagai tempat kami berlabuh selain Madinah :D.

Kisah Sang Pemilik Perahu

Kira-kira seminggu sebelum aku tahu pengumuman beasiswa Brunei ini, kami menonton bersama sebuah “wawancara” dadakan yang dilakukan orang Indonesia yang sedang berada di Brunei. Tanya-tanya itu dilakukan kepada seorang bapak yang menyewakan perahunya. Inti dari video tersebut, bapak itu bercerita, di Brunei, jika tak mampu bisa mengirim surat kepada Sultan. Kemudian Sultan mengutus orang untuk memeriksa kebenaran/kondisi orang tersebut. Dan bapak itu, karena memilik anak 11 orang, diberi sebesar $70.000 untuk 5 tahun.

Kalau mau mengajukan modal untuk usaha juga bisa. Beliau mendapatkan modal $10.000. $3500 dipakai untuk membeli perahu. Sisanya untuk beli apa aku lupa (aku nontonnya dari komputer abang soalnya).

Pelajaran yang aku ambil waktu itu, bahwa memang benarlah perkataan ulama, “Bagaimanapun keadaan kalian (rakyat), maka begitulah keadaan pemimpin kalian.”

Rakyatnya baik (amanah), mendapatkan pemimpin yang baik in sya A llah.Gak kebayang kalau itu diterapin di Indonesia hehe.

Dan sekali lagi aku nyeletuk ke abang, “Sultaaan…tampung yufid dong hahha. Tapi gak ada ustadz ya di sana bang?”
Waktu itu, sepenangkapanku, abang selalu setuju juga dengan jalan pikiranku yang menjadikan Brunei sebagai salah satu alternatif tempat untuk tinggal hehe.

Beasiswa Brunei

Aku nge-aktifin whatsapp tanggal 7 hari Ahad 2014. Pas baca pesan dari Bondan, bisa kebayang gak perasaanku. Giraanng…tapi sedihh…tapi tetep semangat. Aku langsung bilang ke abang. Seakan-akan inilah celah untuk ke sana. Aku dorong abang. Abang juga ikut semangat tapi sedikit pesimis. Waktunya mepet. Tanggal 15 mesti diterima semua berkasnya. Padahal kami belum punya paspor!

Dari dulu memang berencana pingin bikin paspor, tapi belum pernah berazzam kuat sehingga sampai ke praktek.

Diskusi diskusi diskusi……

Sempat nangis juga karena pada akhirnya aku bisa paham bahwa abang gak sesemangat aku. Ternyata masih banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Aku masih dengan keoptimisanku dan harapan, coba aja, pokoknya besok bikin paspor, nanti jadinya kapan langsung dikirim. Kita gak tau apa yang terjadi di sana. Kita berusaha.Aku juga coba nyiapin semua berkas yang dibutuhin selain berkas paspor.

Malamnya sebelum tidur diskusi lagi sama abang. Abang sempat bilang, ya kita coba aja.
Kita juga jadi diskusi mendalam tentang hal-hal lain. Mimpi-mimpi kami. Harapan-harapan kami. Kesalahan yang kami buat selama mencoba meraih itu. Dan seterusnya…

Bikin Paspor

Akhirnya besoknya kita beneran siap-siap bikin paspor. Untuk semuanya, termasuk Luma.

paspor
In sya Allah cerita tentang proses pembuatan paspor ini kalau memungkinkan di postingan lain ya.

Alhamdulillah proses pembuatan paspor berjalan lancar. Kami barengan sama akh Zakkiy yang juga diminta orang tuanya untuk bikin paspor.

Dan sampai sore aku masih dengan perkiraanku bahwa abang memang mau mencoba apply ke sana.

So…Bye Bye Brunei

Malamnya, pas lagi bercengkerama di kamar sama Luma sama abang, aku tanya ke abang, “Abang besok mau jam berapa bikin SKCK?”

“Loh..kok bikin.”

“Loh…emang?”

“Kan…abang udah bilang tadi..” dst dst….

:(

Sediih banget pas momen diskusi yang ini. Di sisi lain aku tahu abang banyak benernya juga. Intinya, abang gak jadi apply ke sana.

“Aku pikir….abang juga pingin ke sana…” hik hik…

Abang bilang, berdasar pengetahuan abang, di sana, orang yang melaksanakan sunnah sesuai generasi salaf tidak seperti di Indonesia. Abang khawatir, kami seperti kambing yang keluar dari rombongan. Gampang jadi mangsa srigala. Abang kan pemimpin, gak kebayang bawa anak istri ke daerah yang abang belum tahu gimana di sana. Abang taunya di sana ya mirip-mirip di Malaysia, tapi di Malaysia kan sudah mulai berkembang dakwahnya. Kami juga belum punya bekal ilmu yang cukup untuk berdakwah di sana kalau memang mungkin kami mau menghidupkan sunnah di sana. Dan ini yang jadi poin renungan paling besar dari diskusi itu. Bekal ilmu.

Pas kemarin tanggal 15, aku masih keingetan sama hal ini. Bahwa seminggu yang lalu kami sempat begitu semangatnya membahas tentang Brunei dan hampir saja ada kemungkinan menuju ke sana.

So…bye bye Brunei.

Kami melanjutkan mimpi kami yang kemarin.

Ke Madinah

Semoga tercapai. Aamiin.

 

***

Gak tau apakah ada pembaca blog ini yang tinggal di Brunei atau tahu keadaan tentang Brunei. Please…kalau tahu kasih tahu ya kondisi dakwah sunnah di sana. Jazakumullahu khayron.

1 Comment

  1. Nuha says:

    pernah kenal dg sepasang suami istri dari brunei, sayang hilang nonya krn instal ualng hp. masya alloh berdua nampak baik, berencana jg pengen pijak kaki di brunei nak jumpa ibu tersebut (sampe lupa namanya)

Leave a Reply