Tanggal 9 September 2009, aku pendarahan. (pas bulan Ramadhan tu…). Mondok semalam di RSIB Sakina Idaman. Alhamdulillah udah ada kantong rahimnya. Usia kehamilan yang masih 5 minggu, jadi janin yang belum kelihatan waktu itu dianggap wajar.

Seminggu kemudian kontrol di bidan Harjuna, di USG. Kantung rahim membesar tapi blum ada janin. Ok…kita mulai khawatir deh. Mulai cari-cari info tentang blight ovum.

Dua minggu kemudian (tanggal 1 Oktober), kita cek lagi ke Sakina Idaman sama dr. Detty. Oh oh…ternyata belum juga muncul janinnya dan muncul massa. Mulai tambah khawatir, sebagaimana aku ceritain di post kemarin.

Seminggu kemudian (tanggal 6  Oktober), periksa ke bidan Harjuna. Tidak bisa memberi masukan apa-apa karena hasil USG gak bisa dibaca sang bidan (bukan bidangnya soalnya). Akhirnya besoknya, siang hari,  aku periksa ke dr. Muzayanah. Massa dianggap gak membesar dan kelihatan seperti sudah ada janinnya. Tapi belum ada detaknya. Masih dengan kekhawatiran blight ovum (BO). Akhirnya disaranin 2 minggu lagi periksa. Kalo belum ada detaknya, berarti BO dan mesti kuret.

Besoknya, aku ngeflek dikiiit. Seperti keputihan tapi warnanya coklat.

Besoknya lagi, Jumat, seperti itu juga. Tapi cuma dikit banget. Dan sorenya, aku mulai merasakan perut orang mau haid (gak mules sih), tapi kerasa seperti ada yg mau keluar. Bolak balik aku liat ada bercak darah atau engga.

Sampai akhirnya…

Maghrib aku lagi gorengin ayam buat Ziyad. Dan entah untuk keberapa kalinya, aku ngecek ke bawah ada bercak atau engga. Dan ternyata ada!! Udah bentuk cipratan darah merah segar gitu. Ya Allah…mulai lemes deh. Akhirnya aku duduk di kursi kecil (dapur), dan ternyata langsung terasa darah (banyak) keluar dari vagina. Dan terus mengalir dan mengalir. Aku langsung mengusap muka dan menahan tangis.

Akhirnya gak lama kemudian abang pulang dari sholat maghrib. Aku yang lagi di dapur tetap dalam keadaan duduk, memanggil abang pelan. “Abaang…”

“Ya dek?”

“Aku pendarahan lagi.” Abang langsung memberikan reaksi – yah seperti itulah, panik dan sedih -

Langsung menghampiriku, “Ayo, adek istirahat aja, tiduran.”

“Engga abang, ini udah gak bisa (maksudnya ini udah abortus).”

“Engga-engga. Abang masih ada harapan. Ayo tiduran.”

“Engga abang. Ini udah gak bisa. Ini memang udah kemungkinannya. Kita harus siap. Yang sabar.” Sambil berusaha menahan sedih dan tangis.

Proses selanjutnya sangat panjang (aku dijemput mobil sakina idaman), tetangga (si mbah dan mba siti) yang mulai datang. ALhamdulillah Ziyad bisa dititipin mba Siti (tetangga), dan karena ada temen mainnya yang sepantaran (Faisal), alhamdulillah gak rewel. Uus juga sempat menghubungi dan kami sama-sama menangis saat itu.

Sampai di Sakina Idaman, pukul 20.30 wib. Yang periksa bidan jaga. Di periksa standar bidan, di cek-cek (dimasukin deh tangannya), ngecek kondisi rahim. -seakan-akan masih ada harapan-. Apaa gitu katanya masih ketutup, dan kan blom ada ada daging keluar. Terus aku minta di USG -sebenernya kalo bidan gak boleh sptnya sama dr. Detty-. Tapi kantung rahimnya kok udah gak keliatan ya. Massanya kaya membesar.

Akhirnya para bidan itu telp dr. Detty untuk menanyakan tindakan apa yang diperlukan. Akhirnya, bidan tadi masuk ke ruang USG dengan sikap yang berbeda dg tadi. “Ibu…, kita sudah matur dr. Detty. dr Detty masih ingat kondisi kehamilan ibu. Saran dr. Detty dikuret. Kalau mau malam ini, dr. Detty bisa jam 11 malam nanti. Kalau besok dr. Detty mau pergi ke luar negeri, jadi sama dr lain.”

Akhirnya, kami yang masih kepikiran kalo itu hamil BO, memutuskan “Bismillah, ya dikuret malam ini aja”, kata abang. Aku juga meyakinkan abang, soalnya kalau kehamilan BO dipaksakan diteruskan, malah kasian, ada kemungkinan besar cacat.

Akhirnya aku langsung dimasukin ke ruang bersalin untuk persiapan kuretasi. Peralatan yang diperlukan disiapkan sama mba Lilis (perawat yang insya Allah sangat cekatan dan ramah). Aku juga diinfus dan tawarkan untuk kencing terlebih dahlu. Di tensi dll.

Pukul 22.30, dokter Detty datang. Masuk ke ruanganku sambil tersenyum, “Assalamu’alaikum…” Kemudian menghampirku, “Gpp ya mba siska.”

“Iya..” Aku jawab.

Gak lama kemudian dokter biusnya datang. Abang gak boleh melihat. Akhirnya abang ke mushola (bareng Satria suami Uus yang ternyata tetap menunggu sampai proses kuret selesai), dan pesan ke perawatnya kalau ada apa-apa, beliau ada di mushola.

Akhirnya, pukul 22. 50 wib, aku dipasangin oksigen. Dokter biusnya berdiri di samping aku mulai siap-siap dan akhirnya memasukkan obat bius lewat saluran yang sama dg saluran infus. “Agak kemeng ya.”

Aku mulai merasakan aliran obat itu di daerah tangan, dan pandanganku mulai berkunang-kunang tiga kali putaran dan jatuk tak sadarkan diri. (In

Entah berapa lama, aku mulai kehilangan efek obat bius dan masih merasakan perutku dikuret-kuret. Kruk kruk. Aku cuma bisa merintih sedikit karena masih ada pengaruh obat biusnya. Aku dengar percakapan-percakapan dr. Detty. Akhirnya gak lama kemudian prosesnya selesai, dan aku mulai mendengar suara abang diberi penjelasan oleh dr. Detty. Mba Dina (bidan yang bantuin proses kuretase) mulai membereskan peralatan. Mba Dina sempat memanggil aku, “Mba Siska…” Tapi aku belum bisa melek.

Aku mulai berusaha membuka mata dan akhirnya memanggil abang yang ada di sisi lain di ruangan bersalin yang lainnya. “Abaaang…”

Abang dan dr. Detty menghampiriku. Dan menceritakan kalau ternyata hamil anggur. Aduh, apalagi ini, aku cuma referensi sedikit tentang ini. Dijelaskan secara singkat, kalau hasil kuretasenya masuk lab. Dan mesti lihat dari hasilnya. Mudah-mudahan baik-baik aja. Kalo hasilnya lain lagi, mungkin perlu kemoterapi. Dan intinya harus menunda kehamilan kira-kira 1 tahun.  Nanti juga dicek udah bersih atau belum, kalau belum, mesti dikuret lagi. Ini informasi ringkas saat itu.Abang cerita ke aku, waktu dr. Detty memberitahu ada kemungkinan kuret lagi, abang bilang, “Kasihan sekali dok kalau mesti kuret lagi.” “Ya mudah-mudahan engga…”, kata dr. Detty.

Infus yang tadi terpasang langsung habis selama proses kuretase tersebut. Kata abang darahnya banyak sekali. (Setelah aku baca-baca emang gitu. Malah biasanya kalo kuretase hamil anggur itu ada yang butuh transfusi darah, (alhamdulillah kemaren  engga sampai seperti itu).

Esoknya teman-teman banyak yang berkunjung. Jazakunnallahu khoiro atas supportnya ya…

Alhamdulillah esok malamnya kami sudah bisa pulang ke rumah. Udah kangeen banget sama bujang satuku Ziyad Syaikhan.

Dan kecemasan kami belum berakhir…

Masih menunggu hasil lab dan konsekuensi-konsekuensi setelah itu. Ya Allah, mudahkanlah segala urusan kami…aaamiin.