Mari kita masuk ke cerita yang insyaAllah bisa jadi masukan untuk teman-teman dan sidang pembaca yang belum pernah merasakan jasa angkutan umum yang bernama travel.

Singkat cerita, karena kami memutuskan mudik itu ya rodo dadakan dan tiba-tiba. Terus waktu kami membuat keputusan itu adalah pas zaman-zamannya arus balik orang abis mudik. Jadinya, semua tiket mahal-mahaaal, dan semua tiket ternyata sudah habiiis. Ckckck…tiket kereta aja sampe Rp 500.000 (gimana gak mikir panjang mo mudik  kalo pas lebaran gini?). Tapi yang mahal kaya gitu ternyata udah abis loh. Tadinya aku masih berharap dan kepikiran mau pulkam pakai bis, yang berarti perjalanan 3 hari 2 malam. Itupun baru sampe Jambi bagian kota. Belum ke daerah dusun Mersam. Tapi abang udah say no dengan yakin. Gak kuaaat…bawa bayi gitu loh. Dulu tahun 2008 aja udah capeknya bukan main, padahal baru 1 anak.

Akhirnya, kami berusaha mencari celah gimana supaya biaya tiket-tiket ini bisa ditekan tanpa harus mengorbankan anak-anak – tetep aja sih, kemarin  aku masih bujukin abang untuk naik kereta bisnis aja heheh -. Yang nyari tiket promo, yang nyari ini dan itu. Akhirnya dapet tiket pesawat dari Jakarta ke Jambi yang harganya gak sampe Rp 700.000. Kalo mau berangkat yang pagi ada seharga Rp 450.000. Kalo yang sekitar jam 2, seharga 490.000. Karena – rencananya – kami mau naik kereta, dan kalo bisa langsung ke bandara, akhirnya kami ngambil yang sore, nyampe Jakarta pagi. Tiket pesawat langsung kami pesan malam itu juga – tanggal 2 September -, setelah membulatkan tekad untuk pulang kampung.

Besoknya, abang wara-wiri ke stasiun yang ternyata tiket udah pada habis sampai tanggal 11 September. Ada sih, tiket yang dijual calo, tapii…ya gitu deh.

Akhirnya abang meluncur ke terminal Jombor untuk cari tiket bis atau travel. Dan yak…yang bis pun habis. Pilihan – bukan pilihan sih sebenarnya -, akhirnya jatuh pada satu buah jasa travel yang ada jadwal tanggal 6 September. Abang sampai bela-belain nunggu sampai sore untuk ngeliat gimana itu bentuk mobilnya – sekali lagi, karena mikirin bawa 2 anak, dan yang satunya masih bayiii -. Dan ketika mobil travel yang jenisnya elv itu muncul, akhirnya abang bayar dp.

Tanggal 6 sore hari, kami pun dijemput oleh mobil travel – bukan yang jenis elv -. Oke…aku belum nyadar waktu itu. Pas di jalan bersliweran mobil-mobil travel lainnya, baru sadar…kok…kok. Ya sudah…sing sabar.

Pas sampe terminal untuk finishing penumpang travel lainnya, kami sempat stuck lama persis di jalan mo keluar. Kelihatan yang ngurusin tiket travel kami lagi menjelaskan bolak-balik ke seorang bapak – yang sibuk menghisap rokoknya sambil terlihat agak bingung – rute-rute jalan. Tangan si pengurus tiket travel melayang-layang di udara menjelaskan kiri kanan utara selatan. Aku yang melihat dari dalam mobil ngomong ke abang dengan nada desperate, “Bang…jangan-jangan itu sopirnya.” Abang memandang aku dengan pandangan antara sedih, serba salah, ya gitu deh. Dan ternyata benaar itu sopirnyaaa… Ya sudah…sing sabar… – sambil mo nangis -.

Dan malam pun mulai bergelayut, kegelapan mulai menyelimuti di sekitar kami, baik di dalam mobil dan di luar mobil, tak ada pemandangan yang dapat kami nikmati. Kami masih  masih sibuk menjemput satu penumpang lagi di daerah Godean. Setelah kami masuk Gombong…kebosanan telah meliputi Ziyad. Dia bilang, “Mi…mo pulang, mo tidur di rumah.” Ha ha ha – tertawa miris. “Sabar ya sayang…ini kita mau ke Jakarta. Ke tempat nenek. Ziyad tidur aja.” Dan oh dia gak bisa tidur sampe jam 3 pagi saudara-saudari. Alhamdulillah aku masih sempat masukin bantal kecil Thoriq. Soalnya ada yang ngasih tau – namanya Abu Ziyad -, travelnya nyediain bantal, soalnya kemarin penumpangnya pada bawa bantal. Hehehe…bantal masing-masing kali yaa…

Entah pukul berapa…ban mobil travel kami bocooooooooooooor…Subhanallah…Ya sudah…sing sabarr. Alhamdulillah bocornya dekat dengan rumah makan, yang agak kurang meyakinkan secara penampakannya. Tapi mau gimana, lapar sudah mengisi perut aku : D. Makan sajalah.

Sekitar dini hari, sang sopir perokok yang sangat suka berhenti di jalan – jadinya malah penumpang yang nungguin sopir -, berusaha bertemu dengan sopir lainnya dari jasa travel yang sama. Akhirnya di suatu tempat, kami berhasil bertemu. Sesama sopir dan pemilik mobil bertemu di luar mobil, bercakap-cakap urusan tujuan akhir masing-masing penumpang. SOP-nya katanya sih gitu kalo travel-travel, selalu ada pertukaran sopir, entah untuk tujuan apa.

Seorang bapak tua yang berjalan agak terbungkuk-bungkuk mendekati 3 orang yang sedang bercakap-cakap itu. Tak lama, bapak berbaju hitam ini mengeluarkan kacamata rabun jauh berbingkai hitam yang cukup tebal untuk membaca tulisan di beberapa carik kertas. Ya Allah…”Bang…jangan-jangan itu sopirnya?” Sambil memandang abang dengan was-was. Dan abang pun menjawab aku dengan pandangan was-was…

Dan ternyata benar bapak tua ituu sopir penggantinya. Semua penumpang diam…dan waspada. Rasanya beberapa puluh menit perjalanan setelah itu dilalui dengan mata terjaga hehe. Alhamdulillah…ternyata bapak sopir tua ini sangat lihai membawa mobil. Minusnya….bapak tua ini sangat tidak bisa diajak komunikasi. Diaaaaaaaaammmmmmmmm….Beda dengan sopir pertama yang suka sekali berhenti dan suka ngobrol. Bapak tua ini susaaaaaaaaaaaaaaaah sekali diminta berhenti. Untuk minta berhenti sholat subuh saja, harus melewati beberapa masjid dan berhenti di tempat – yang mungkin – dianggapnya pas untuk berhenti.

Sampai di Jakarta – setelah menempuh perjalanan 16 jam dan melewati daerah Puncak yang macet cet -, kami harus muter-muter mengantar penumpang lain. Capeknyaaa luar biasa subhanallah. Dan anak-anak mulai rewel, karena panas dan tentu saja rasa lelah yang juga pastinya menggelayuti mereka.

Sampai di Andara (rumah aku) jam 12-an siang (berarti 20 jam perjalanan), sedikit obrol-obril dengan mama papa, mandi, makan, sholat …dan akhirnya kami tidur.

Sampai sekarang, kalau kami nanya ke Ziyad, “Mau naik travel atau kereta?” Ziyad akan menjawab dengan mantap dan dengan akalnya, “Naik kereta.” “Kenapa gak naik travel?”

Nanti dia akan menjawab, “Nanti bannya bocor di jalan.” Heheh…kami sudah berkali-kali nanya ini, dia selalu gak mau naik travel. Sama nak, kami insyaAllah juga gitu kok.