Decision… #homeschooling

Alhamdulillah, sampai saat ini masih mantep insya Allah dengan homeschooling. Bahkan tahun ini, sebenarnya jadwalnya Thoriq masuk SD. Dan kita gak daftarin dia kemanapun juga. Alias dia juga homeschooling.

Tapi bukan keputusan itu yang mau aku ceritain di tulisan ini.

Flashback

Sebelum si kembar lahir, aku udah hitung-hitung waktu belajar Ziyad, waktu bakal jeda libur belajar karena melahirkan dan seterusnya. Alhamdulillah setelah lahiran libur sebulanan. Setelah itu mulai pelan-pelan belajar. Mulainya dengan muroja’ah hafalan Ziyad teratur lagi. Berlanjut belajar satu pelajaran. Apalagi kalau bukan matematika..lanjut terus sampai akhirnya menyelesaikan kelas 4 dan berlanjut ke kelas 5 alhamdulillah sekitar 2 bulan sebelum masuk bulan Ramadhan.

Masuk bulan Ramadhan, aku liburkan total semua pelajaran dan hafalannya. Ini berdasar pengalaman tahun-tahun kemarin.

Di pertengahan bulan Ramadhan ini, adik Hikmah yang bernama Na’imah yang sekolah tingkat SMP di pesantren Khoiru Ummah ikut  tinggal  di rumah kami. Tidak jadi mudik ke Jambi karena tidak ada mahrom yang menemani perjalanannya. Alhamdulillah dalam satu tahun, dia sudah menghafalkan 6 juz. Ternyata memang dalam satu tahun, targetnya adalah 5 juz. Kalau tidak hafal 5 juz tidak bisa naik kelas.

It made me think.

Gak lama, aku lihat video dua orang anak hasil didikan di de Muttaqin. Aku lupa namanya, cuma baru lihat sekali. Tapi ternyata abang udah pernah lihat lebih dulu. Malah cerita lebih lengkap latar belakang si anak. Gimana proses belajarnya.

It made me think…again.

Ziyad udah umur 10 tahun secara hijriah dan syamsiah. Hafalannya baru mo nyelesaiin 6 juz alhamdulillah. Kalo dipikir-pikir, Ziyad itu udah lama banget hafalan. Tapi progressnya kayanya masih seadanya. Mungkin di satu sisi ada pikiran “Masih mending, masih alhamdulillah dst”. Tapi di sisi lain..tetap harus intropeksi. Harapan yang besar itu tentu saja tetap ada. Gak boleh putus dari rahmat Allah.  Kemarin-kemarin memang walau punya harapan besar, tapi juga gak pengen ngoyo..plus gak mau maksain.

Tapi…tetap harus muhasabah kan?

Terus aku mikir, sebenarnya Ziyad mau dikemanain sih? Dari kemarin kayanya kepikiran pengen tahun depan dia ikut ujian Paket A. Selama ini dia belajar pelajaran umum selesainya kan lebih cepat dari waktu yang ikut di sekolah.  Walaupun lihat-lihat situasi, aku punya harapan dia bisa ikut ujian paket tahun depan. Yang berarti akhir tahun ini udah mesti daftar ke PKBM supaya bisa dapat nomor induk untuk bisa ikut ujian. Itu berarti sekitar Desember ini max sudah selesai kelas 5.  Terus sisa waktunya untuk ngejar pelajaran kelas 6 atau latihan intensif soal-soal.

Maksa?

Ngga..aku tetap lihat situasi. Itu cuma harapan. Kalo emang gak selesai ya gak maksa daftar ujian paket.

Beneran gak maksa?

Bener! Serius. Pada kenyataannya, anak tuh gak bisa dikarbit. Mo dicekokin apa juga, gak bisa trus tiba-tiba matang jadi jenius. Trus bisa lulus mumtaz.

Bahkan ketika homeschooling ini, aku sebagai orang tua sekaligus pengajarnya lebih ngerti lagi dia tuh mampu gak sih. Dia paham gak sih materi ini dan itu. Bisa gak sih ke tahap selanjutnya. Makanya aku bilang, tetap lihat situasi.

Kenapa Pengen Cepat?

Kenapa pengen cepet itu sebenarnya karena harapannya dia bisa segera masuk SMP yang kemudian bisa lebih intensif lagi belajar tahfidznya. Maksudnya pengen dimasukin ke pesantren Taruna atau Hamalatul Qur’an. Mmh…walau di lubuk hati, masih berat ngelepas anak ke pondok. Maklum. Aku dari frame keluarga…eh kebalik…dari keluarga yang frame berfikirnya tuh jauh dari yang namanya pondok. Gak ada ceritanya di keluargaku pisahan sama Mama Papa dari usia SMP.

Kalau Abang? Wah kebalikan. Sumatra kan ibaratnya udah kental dengan budaya “rantau”. Kalau gak merantau bukan orang Melayu. Walau gak mondok, tapi abang udah pisah sama orang tua dari usia SMP. Demi pendidikan yang lebih baik lagi. Dari anak kecamatan, jadi anak kabupaten. Beranjak SMA, dari anak kabupaten jadi anak kotamadya. Bukan dalam arti sebenarnya. Tapi karena sekolah yang lebih bagus itu berada di situ. Ah kok malah jadi kaya mo kebawa ngomongin hal lain ya, hihi.

OK, balik lagi ke masalah harapan Ziyad bisa cepat lulus tingkat SD adalah pikiran “terselubung”. Mungkin, karena aku  sebenarnya pengen cepat-cepat juga bisa konsentrasi ngajar adik-adiknya.

So…is it right?

Muhasabah

Nah, jawabannya didapat dari muhasabah dan merenung-renung. Memangnya buat apa cepat-cepat? Kan dia menghafalnya juga belum maksimal. Iya sih, ada pikiran biar dia bisa cepat dibenerin di SMP pondoknya nanti. Tapi kan ya gak bisa “bergantung” kaya gitu. Kenapa gak fondasinya dikuatin, dibagusin. Bukannya itu tujuan kami homeschooling?

Nah, itu dia. Garis atasi. Sayang gak ada kode html untuk garis atas :D. Kita bold dan big-kan aja titik masalahnya.

Fondasi hafalannya belum maksimal.

Gak maksimalnya gimana? Hafalannya belum bisa banyak.  Cenderung, yah aku hari ini dapatnya segini. Dulu pernah bisa dapat setengah halaman. Tapi terus menurun. Pokoknya perlu banyak perbaikan. Hafalannya juga belum kuat banget.

Gimana maksimalinnya?

Karena terlalu complicated kalau aku tuliskan diskusi yang terjadi di hatiku. Pokoknya mikir, utak-atik utak atik. Bismillah…aku putuskan…

Setelah lebaran ini dan mulai pelajaran sekolahan, insya Allah Ziyad gak belajar materi sekolah untuk sementara! Gantinya, aku akan coba mengarahkan dia untuk bisa menghafal dan muroja’ah  lebih baik lagi. Intinya, FOKUS KE AL-QUR’AN.

Keputusan itu aku yakin bakal dapat dukungan dari Abang. Aku sampaikan ke Abang pertimbangan-pertimbangan ini itunya. Alhamdulillah bener, Abang malah setuju banget.

“Abang insya Allah gak khawatir masalah ijazah dll.” dst dst dst…

Nah, gimana proses fokusnya. Beneran cuma Al-Qur’an aja? Thoriq gimana?

Insya Allah jawabannya di postingan selanjutnya.

 

cizkah
31 Juli 2017/Dzulqo’dah 1438

 

Leave a Reply