Hari ini aku membulatkan tekad untuk menjual sepeda ontel yang sebenarnya baru kubeli sekitar 2 bulan yang lalu. Sebenarnya, waktu dari awal beli sudah senang, bahkan aku harus mengayuh perjalanan yang cukup panjang dari tempat pembelian sepeda ontel tersebut sampai ke rumah.

Nah, nah, karena ingin cepat-cepat melaksankan keputusan itu, aku buru-buru mengetik kertas promo dan mencetaknya. Isi promo jualnya begini:

DIJUAL

RP 250.000

Keadaan:

* Ban belakang BARU
* Ban dalam depan & belakang BARU

Kekurangan:
Kursi suka goyang

SIP DEH. Mumpung abang sama Ziyad lagi main di depan, dan supaya gak terpengaruh sama keragu-raguan abang dalam menjual sepeda ini (oya, sepeda ini milik aku, jadinya aku bisa membuat keputusan sendiri untuk menjualnya walaupun tetap dapat masukan dari abang. Kalau milik abang ya gak boleh deh ya bikin keputusan sendiri macam itu), aku cetaklah hasil ketikan itu.

Sepeda ontel yang kuparkir di teras rumah aku bersihkan. Kemudian kertas promo tersebut aku tempelkan di bagian samping di kursi belakang.

Hasilnya?

Belum ada yang beli sih. Tapi hampir semua orang yang lewat berhenti sejenak untuk membaca pengumuman tersebut. Dan kebanyakan dari mereka tertawa atau senyum-senyum ketika membacanya.

Aku dan abang yang memperhatikan dari balik jendela yang berwarna gelap itu geli sendiri sambil malu-malu mo jualan sepeda ontel. Aku bilang ke abang,

“Mumpung masih tinggal di desa baang…”, aku sedikit mengeraskan suara karena sedang berada di kamar  menemani Ziyad tidur, sedangkan abang berada di luar kamar di depan komputer menyelesaikan pekerjaannya.

“Coba kalau tinggal di perumahan kaya Zani (saudara abang), mana ada yang mau beli sepeda ontel gitu”, aku masih melanjutkan argumen yang beraroma gurauan itu.

Abang cuma cengar-cengir sambil berkata, “Tapi kok orang yang lewat pada ketawa ya Dek abis ngebaca tulisannya.”

“Ohh, mungkin karena baca tulisan, ‘Kursi sering goyang’ itu Baang…”, aku juga semakin geli menyadari tata bahasa yang aneh itu.

“Hahaha…mungkin jadi ngebayangin sambil ngendarain kursinya goyang-goyang”, si abang seru mempraktekkan posisi mengendarai sepeda di atas kursi yang bergeser kiri dan kanan.

“Lha…daripada aku tulis, ‘Kursi sering oglek-oglek’…hahahaha.”

“Hahahah…bukan gitu. Kok KURSI GOYANG. Mana ada di sepeda kursi. Adanya SADEELLL..”

“Hahaha…Oiya yaa…”

Ziyad yang sudah tertidur sejak aku kasih nasehat-nasehat (ini ada ceritanya lho, berkaitan dengan penyapihan), tak terbangun mendengar gurauan kami yang cukup keras itu.

Yah…karena hari sudah malam, insya Allah besok diperbaiki deh tata bahasa penjualannya. Habis buru-buru sih buatnya….