Kisah Kami dan PKBM (Bagian 2)

Kisah sebelumnya bisa dibaca di “Kisah Kami dan PKBM (Catatan PKBM Bagian 1)

Abang pulang membawa berita kalau info dari SKB, sudah terlambat kalau mau mendaftarkan untuk ikut ujian nasional tahun 2019. Daftarnya harus menunggu tahun ajaran baru nanti tahun 2019. Berarti baru bisa ikut UN tahun 2020.

Waktu dengar berita ini, tentu saja perasaan aku campur aduk. Ada rasa sedih, tapi insya Allah tetap berusaha tenang dan gak langsung bereaksi yang gimana-gimana. Gimana-gimana ini maksudnya panik, kesal, marah atau yang seperti itu. Lebih langsung mikir ke berbagai opsi-opsi lain berkaitan konsekuensi dari berita baru ini.

3 Hari Sebelumnya…

Tiga hari sebelumnya, aku sempat bercakap-cakap dengan Siwi. Teman lama di Ma’had Ilmi. Sama-sama menjalankan homeschooling alhamdulillah. Tapi jarang ketemu. 

Waktu itu lagi bahas-bahas tentang PKBM dan akreditasi. Tadinya Siwi mengikuti PKBM lain yang kemudian akhirnya karena berkaitan dengan akreditasi, dan hal-hal lainnya, akhirnya kemudian beralih ke PKBM M.

Kami juga diskusi tentang kelanjutan pendidikan anak-anak kami pas SMP nanti. Dan karena visinya dari awal sama, jadi kelanjutannya juga sama masya Allah. Eh nanti jadi melenceng nih ceritanya. Lanut tentang PKBM dulu ya hehe. 

Ketika akhirnya aku dapat kabar tentang batasan waktu mendaftarkan anak, pihak SKB pesan agar informasi ini dibagikan ke homeschooler lainnya. 

Aku share info tersebut, di grup yang aku pernah bikin yang isinya sebenarnya sudah campur bukan homeschooler seluruhnya Tapi harapannya, info tersebut bisa buat pengetahuan bersama.  Siwi gak ada di grup itu. Akhirnya aku share info tersebut ke Siwi juga. Aku juga izin ke Siwi untuk membagikan informasi yang beberapa hari sebelumnya dia share.

Mendengar berita dari SKB yang aku ceritakan, akhirnya Siwi memberi saran untuk mencoba di PKBM M yang dia juga baru ikuti. Karena Siwi juga baru dapat info terkait pendaftaran UNPK (Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraaan). 

Aku juga bilang, kalau dari PKBM T memang seperti masih ada harapan.

[Pada akhirnya, kesimpulan yang aku tangkap memang untuk PKBM memang sifatnya lebih fleksibel dibandingkan SKB. Mungkin karena SKB terkait dengan program resmi dari pemerintah yang itu semuanya ada jadwal-jadwal fixnya. Tapi cuma berdasar kesimpulan yang aku tangkap sampai kemarin terakhir ke sana]

Opsi-Opsi Lain

Persyaratan untuk pendaftaran ujian nasional
Lembaran info yang kami dapatkan di bulan September 2018 dari PKBM T untuk pendaftaran ujian nasional. Alhamdulillah, ketika diperlukan, semuanya sudah siap.

Pada akhirnya, karena takdir dari Allah semuanya baik, jadi aku berusaha memandang kalau memang Ziyad harus menunda ujiannya, ya insya Allah gpp. 

Kami juga belum mendaftarkan dia dimanapun. Padahal pondok-pondok sudah banyak yang buka pendaftaran. Kenapa? Ini ceritanya di lain tempat insya Allah.

Toh kami ini kan homeschooling. Yang penting itu belajarnya. Bukan ujiannya. Jadi, gpp Ziyad ikut UN tahun 2020. Sambil dia tetap belajar sesuai tingkatan pendidikannya. Rencanaku, dia tetap akan belajar materi SMP walaupun dia belum ikut UN SD sambil nunggu jadwal ujiannya.

Tentu saja juga tetap melanjutkan hafalannya. Eh, berarti SMP-nya homeschooling juga dong? 😀

Apa ke pondok? Ah gak usah pusing dulu. Yang penting belajar, udah. 

Itu rencananya…

Kemudahan dari Allah

Yang kemudian terjadi adalah…terasa sekali kalau kemudahan itu dari Allah. Kalau baca tulisan aku “Still Continue Our Journey…”, kejadian-kejadian berkaitan ujian nasional Ziyad dan PKBM jadi seperti jawaban dari hal-hal yang dulu hanya baru tulisan.

tauhid - bergantung pada Allah
capturean dari tulisan “Still Continue Our Journey…Homeschooling”

Bukankah kemudahan itu dari Allah. Yang susah-susah bisa dibalikkan dengan sekejap jadi mudah oleh Allah.

Abang yang menghubungi Bu Tuti dari PKBM M dari sekitar tanggal 27,  akhirnya mendapatkan jawaban 30 pagi hari. Jawabannya pun mengejutkan tapi membahagiakan.

“Pendaftaran terakhir hari ini. Senin ujian semester…”

Kira-kira seperti di atas pesannya. 

Buat Abang; yang biasanya untuk hal-hal tertentu itu perlu jauh-jauh hari planningnya, begitu dapat kabar tentang ini alhamdulilah aku merasa gak ada musykillah. Abang siap-siap sorenya bersama Ziyad berangkat ke PKBM. Perjalanan yang bisa dibilang sangat jauh. 

Alhamdulillah, ternyata beneran masih bisa daftar dan insya Allah Ziyad bisa ikut UN tahun 2019.

Alhamdulillah ya Allah. Alhamdulillah…

Benar-benar kemudahan yang datang tiba-tiba dari arah yang gak disangka-sangka. Dimana kami udah menerima dan ridha dengan takdir sebelumnya. Ternyata Allah beri jalan keluar dan mudahkan urusan ini. 

Seninnya, Ziyad ikut ujian semester 1 untuk kelas 6 SD.  Selama 3 hari akhirnya Abang dan Ziyad bolak-balik untuk ujian semester di PKBM tersebut.

Alhamdulillah.

Aku rasa, sampai di sini info yang perlu aku sampaikan terkait PKBM ya.

Cerita lanjutan terkait ini, insya Allah adalah tentang proses menghadapi UN itu sendiri. Mendebarkan dan benar-benar perjuangan. Insya Allah kapan-kapan cerita lagi ya. 

Apakah ijazahnya susah keluarnya? Apakah prosesnya dibikin sulit?

Alhamdulillah, insya Allah engga susah dan lancar. Alhamdulillah, semuanya adalah kemudahan dari Allah.

Akreditasi A

Sama seperti sekolah, PKBM yang sudah terakreditasi A insya Allah secara administratif bisa lebih memudahkan insya Allah. Masalah akreditasi ini, jadi kalau PKBM yang kita ikuti belum berstatus akreditasi A dan kuota anak yang mengikuti masih kurang, maka kemungkinan proses ujian akan diikutkan ke PKBM yang telah terakreditasi A.

Semacam PKBM yang terakreditasi A itu jadi PKBM payung bagi PKBM-PKBM lainnya yang belum terakreditasi A.

Masalah Biaya

Alhamdulillah, sejauh ini, selama berurusan PKBM, kami tidak diminta biaya-biaya “gelap” untuk “melancarkan” proses mendapatkan ijazah atau proses anak biar bisa ikut ujian.

Waktu Abang ke SKB untuk mendaftarkan Ziyad (tahun 2018), pada tahun tersebut biaya per tahun (per kelas) adalah Rp 600.000. Dihitung karena tiap bulan anak membayar SPP Rp 50.000 (Ini tiap tahun berubah ya. Tahun ini kami mendaftarkan Thoriq, biayanya sudah naik jadi Rp 70.000).

Dan secara administratif, info dan biaya di SKB maupun PKBM waktu itu juga sama. Baik di SKB maupun PKBM, diminta terdaftar sejak kelas 4. Yang artinya, kami membayar biaya dari kelas 4 , 5, 6. Seingat aku juga ada biaya untuk ujiannya.

Insya Allah kami gak merasa itu suatu hal yang aneh. Karena PKBM sendiri juga perlu biaya untuk menjalankan operasionalnya. Dan setelah lulus, ternyata Ziyad (dan beberapa anak di PKBM tersebut) mendapat kucuran dana PIP (Program Indonesia Pintar). Untuk pencairan dana tersebut harus dilakukan secara mandiri oleh anak. Jadi, PKBM hanya memberikan semacam berkas untuk pengambilan.

Maksud aku menceritakan bagian ini adalah dari sisi ini aja, kita bisa tahu insya Allah PKBM gak “makan” uang yang bukan haknya. Ini juga terkait PKBM M yang kami ikuti memang “ruhnya” juga Islam. Selain PKBM, ada masjid dengan nama yang sama dan di sana ada TPA juga.

Kenapa di SKB atau PKBM ada SPP juga? Karena sebenarnya di sana disediakan kelompok belajar/rombongan belajar (rombel). Biasanya ada jadwal belajar 3 kali dalam sepekan. Sekali lagi, pelaksanaan di tiap SKB/PKBM bisa saja berbeda. Juga bisa berubah, sesuai perkembangan tahun atau aturan yang berlaku.

Perlu diingat kenapa ada rombel, karena bisa jadi yang ikut ke SKB atau PKBM adalah anak yang telah putus sekolah. Bahkan yang sudah berusia melewati standar usia pada umumnya, bisa saja mengikuti program kejar paket A, B dan C ini karena berbagai alasan untuk pendidikan dan hal-hal terkait ijazah.

Kalau kita mau, kita juga bisa mengikutsertakan anak kita saat jadwal belajar berlangsung.

Kesimpulan Tentang PKBM

Catatan penting, cerita aku bukan jadi tolak ukur atau kepastian terkait kemudahan hal-hal terkait PKBM bagi masing-masing keluarga. 

Kesimpulan dari tulisan ini dan tulisan sebelumnya adalah:

  1. Selalu berdoa dan menjaga ketakwaan agar Allah permudah urusan kita. “Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (Q.S. Ath-Thalaq : 4)
  2. Silakan cari PKBM atau SKB yang cocok dengan keluarga dan tidak bertentangan visi misi pendidikan keluarga. 
  3. Coba cari PKBM yang sudah berstatus akreditasi A supaya proses berkaitan ujian dan lain-lain bisa lebih jelas.
  4. Yang terpenting adalah anak belajar materi-materi yang pada umumnya akan diujikan secara bertahap. Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, PPkn. Tambahannya adalah Bahasa Inggris, Penjaskes, Seni dan Budaya, dan materi muatan lokal (kalau kami Bahasa Jawa).
    Bagaimana cara belajar pelajaran-pelajaran ini akan ada tulisan tersendiri ya insya Allah. Untuk yang terkini, kurikulumnya berdasarkan tema (tematik).
    Tapi menurut aku, tetap lebih baik kalau anak belajar sesuai pelajaran seperti biasa. Kalau sudah belajar materi per pelajaran, insya Allah bisa mengerjakan materi tematik. Belum tentu sebaliknya. 
  5. Berkaitan dengan poin 4, maka tidak perlu terlalu risau insya Allah berkaitan masalah PKBM jika teman-teman baru aja menjalankan homeschooling, apalagi kalau masih usia pre school (belum SD).  Yang penting anaknya belajar. Proses dengan PKBM bisa sambil dilalui seiring proses homeschooling yang kita lakukan.
  6. Info-info tentang pendaftaran, syarat dll yang kita dengar belum tentu sesuai dengan aturan yang berlaku pada tahun kita perlu mendaftarkan anak. Makanya balik lagi ke poin 4; yang penting anaknya belajar.
  7. Penekanan dari poin 6; jangan risau atau gundah kalau dapat kabar-kabar mengerikan tentang syarat ini itu supaya anak bisa ikut ujian dll. Karena aturan itu bisa berubah-ubah sesuai pemimpin yang sedang menentukan kebijakan. Yang penting anak belajar. Kalau anak kita belajar, insya Allah tetap bisa tercapai tujuan belajar dan insya Allah lebih siap menghadapi ujian atau hal-hal lain yang tujuannya menguji hasil proses belajar anak kita. Jadi sebenarnya pesan dari poin 4, 5, 6 dan 7 sama ya? 😀 Yang penting anaknya belajar. 
  8. PKBM atau SKB itu bukanlah tempat belajar seperti di sekolah pada umumnya. Jadi, mungkin gak bisa sesuai harapan kalau kemudian diniatkan anak akan mendapatkan teman selaiknya teman di sekolah – walaupun ini tetap bisa juga terjadi -. 

Mudah-mudahan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait PKBM yang seringkali ditanyakan. Jawabannya insya Allah ada di kesimpulan yang aku tulis di atas.

Alhamdulillah. Mudah-mudahan catatan ini bermanfaat ya. 

Cizkah
Yogyakarta, 18 Februari 2021

One Reply to “Kisah Kami dan PKBM (Bagian 2)”

  1. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh Ummi, boleh minta kontak PKBM-nya? Saya di Jogja juga, homeschooling mandiri, insyaAllah tahun ajaran baru bulan Juli nanti anak saya ‘naik’ ke kelas 4..

Leave a Reply