Libur Sebulan?

Walau dibilang libur sebulan…alhamdulillah dalam pelaksanaannya gak beneran libur sebulan hihi.

Cuma pelaksanaan proses belajarnya lebih dibawa santai. Anak-anak aku beri kelonggaran ke beberapa hal. And it’s good. Good for me…good for them insya Allah.

Aku sendiri, mengerjakan beberapa hal yang aku sukai. Yang kemarin-kemarin aku merasa mesti pinggirkan. Aku merasa waktunya terlalu terbatas untuk aku pakai untuk selain hal-hal pokok semacam urusan rumah tangga, homeschooling dan kerjaan.

Ternyata…terbalik.

Ketika aku mengerjakan hal yang aku sukai – terutama menulis -, aku merasa lebih “hidup” heheheh. Dan pekerjaan-pekerjaan utama ternyata malah bisa terlaksana dengan perasaan yang gak seperti kemarin-kemarin.

Anak-anak aku ajak aktifitas-aktifitas di luar. Di luar rumah, dan juga keluar rumah. Jalan-jalan  yang cukup jauh.

Kemarin-kemarin, karena aku merasa waktunya gak cukup, bisa selama lima hari kerja itu aku benar-benar gak keluar rumah. Heheh. Mungkin ini yang bikin jiwa dan badan jadi bunek. Anak-anak pun jadi bunek.

Senang banget pas terakhir aku jalan sama mereka bertiga (yep… tanpa abang), cuma untuk beli plastisin. Abis itu mampir ke masjid terdekat untuk sholat Maghrib. Mampir ke warung penjual jus. Abis itu nunggu Abang jemput karena aku dan anak-anak udah teler karena jalurnya agak lebih panjang dari biasanya hehehe. Tapi pas sampai rumah, Ziyad sempat ngomong, “Hari yang menyenangkan ya, Mi.”

Sebelum ini, sebenarnya sudah beberapa kali aku ngajak anak-anak jalan kaki cukup jauh. Biasanya ke warung bakso terus lanjut sholat Maghrib. Dan biasanya pulangnya nunggu abang pulang kuliah yang biasanya momentnya pas banget. Tapi ya itu, suka lupa bahwa aktifitas semacam ini bukan berarti hal yang “merugikan”. Walaupun rumah pas ditinggal gak rapih, walaupun abis itu kaki pegel hihi.

Alhamdulilllah…semoga bisa istiqomah seperti ini dan hasilnya baik. Aamiin.

 

 

1 Comment

  1. Dewi says:

    Baca2 blog Mbak sebenernya sudah lamaaa sekali. Mungkin udah lebih dari 5 tahun yang lalu. Malam ini baca lagi.
    Aku ngebayangin segala rutinitas yang Mbak jalani, HS, baby, printilan rumah tangga, design, dll dll itu banyaaak sekali.
    Tapi di tulisan Mbak semua terasa santai. Semua dikerjakan ‘pas’, tidak ada kesan buru2.
    Sementara aku, anakku cuma 2. Aku kerja di luar, kerjaan rumah sampai memasak dihandle asisten, suami pun rajin turun tangan. Tapi kok aku selalu merasa diburu2 ya dengan kerjaan. Padahal setelah dilihat2, ga banyak sebetulnya yang aku kerjakan/hasilkan di rumah.

Leave a Reply