Melepas Keberangkatan Ummul Hasan Athirah…

Kalau kemarin aku berharu biru menceritakan tentang buah hatiku, hari ini isak tangis itu keluar lagi dan kali ini tentang adikku, teman seperjuanganku di dalam ilmu dan dakwah, saudariku semanhaj, saudariku tercinta, ukhti ummul Hasan Athirah…

Entah darimana mesti kumulai cerita ini. Aku sendiri tak menyangka bahwa aku akan sesedih ini setelah Athirah benar-benar pergi dari tanah Yogyakarta.

Tanggal 20 Juli 2009 ini, dia telah memasuki jenjang kehidupan yang baru bersama suaminya akh Rujali (Ghozali). Dan seperti biasa, saat-saat setelah seorang akhwat yang ku kenal dan cukup dekat denganku menikah, biasanya aku terkena syndrom yang aku sebut syndrom akhwat blues. Hehehe…soalnya biasanya perasaanku campur aduk antara senang dan sedih. Senang karena mereka akhirnya bisa menemukan pasangan hidup, sedih karena biasanya tentu saja berarti aku akan berpisah dari mereka.

Aku lupa tepatnya, tanggal berapa ia kembali ke Yogyakarta setelah melakukan walimah di Makasar. Yang jelas ia sempat mampir ke rumah sambil mengantarkan semangka yang super manis. Kondisi waktu itu sedikit kacau. Waktu itu kami janjian jam 1 siang. Tapi qodarullah, akhirnya Athirah sampai ke rumahku jam 14.30 wib. Rumahku yang berantakan karena sudah banyak barang-barang yang dimasukkan ke kardus. Suami yang telah pergi ke Mediu untuk bertemu ustadz Aris karena sudah cukup lama menunggu dan ada urusan penting yang harus disampaikan ke ustadz Aris.

Akhirnya kami hanya bercakap-cakap sebentar di dalam rumah, sementara akh Ghozali menunggu di luar. Akhirnya waktu kami berbicara bertambah karena akh Ghozali sholat Ashar di masjid. Tapi…waktu itu aku belum sadar, kalau sebenarnya ini bisa menjadi acara pamit-pamitan. Aku dan Athirah masih mengobrol seperti layaknya nanti akan bertemu lagi.

Akhirnya, beberapa hari kemudian aku baru sadar. Tanggal 7 nanti Athirah akan berangkat ke Malaysia. Dia kemarin sempat bilang, setelah suaminya lulus, masih akan bekerja 2 tahun untuk kemudian mengajukan S3 di Saudi. Malam itu, aku menjadi sangat sedih menyadari kenyataan itu. Kondisi aku yang sedang menghadapi persiapan pindahan rumah (yang tidak selancar yang kami harapkan) dan tempat tinggal sementara Athirah yang cukup jauh membuat kami sulit untuk bertemu lagi.

Sampai akhirnya tanggal 6 kemarin, kami mendengar ust. Abu Sa’ad masuk rumah sakit. Aku mengajak Athirah menjenguk bersama sambil sekalian kami menyelesaikan urusan kami berdua serta kurencanakan sebagai waktu untuk berpamitan (karena aku masih tak yakin bisa mengantar ke bandara).

Tapi…sekali lagi…qodarullah kami tidak bisa bertemu. Malam harinya, aku yang tak berani meminta untuk diantarkan sama abang (karena berarti abang mesti meninggalkan pekerjaannya sesaat), cuma bisa memberikan sinyal-sinyal keinginanku. Hehehe…alhamdulillah abang ngertiin terus bilang, “Adek mo nganter ke bandara?”,”IYAAaaaA…”, antusias aku jawab.

Tapi aku tak bisa berharap banyak karena tahu pekerjaan abang cukup banyak. Jadi, aku tak menagih-nagih atau menuntut-nuntut. Beberapa menis sebelum pukul 15.00, aku melihat ke laptop bang Hen, dan melihat abang masih sibuk mengedit artikel yang akan diupload. Akhirnya aku bilang, “Bang…jadi gak ni…?” Aku sudah mulai cemas dan kehilangan harapan. Karena Athirah bilang, pesawatnya berangkat jam 16.00, dan dia akan berada di bandara sekitar pukul 15.00 atau 15.30.

Akhirnya adzan Ashar berkumandang, dan aku sudah sedih banget. Mulai deh cemberut-cemberut dan pasrah gak akan jadi berangkat, karena jam sudah menunjukkan pukul 15.30. Akhirnya, waktu abang sholat Ashar di masjid, aku sms Athirah,

“Thir…dah cek in ya? Kayanya ana gak bakal kekejer ya…:( Brgkt jam 4 kan? Afwan suami baru selese kerjaannya. Ini baru sholat ashar. Sedih deh…”

Gak lama terdengar bunyi sms yang ternyata jawaban dari Athir, “Ini blm brgkt ke bandara mba. Br nyari taxi.”

Hah? Aku langsung seneng campur heran. Mungkin pesawatnya gak berangkat jam 4 kali yah. Tapi aku langsung semangat. Yang tadinya udah tidur-tiduran gak akan berangkat langsung siap-siap pakai gamis dan jilbab sambil menunggu kedatangan abang. Aku pun menjawab sms Athirah, “Oh iya toh? Berarti masih ada harapan ya. Naik airasia kan? Insya ALlah kami langsung berangkat habis ini.”

Akhirnya kami berangkat walaupun sempat diselingi telepon dari pelanggan indoroyal.com.

***

Sampai di bandara…aku ingatnya tempat biasa jemput Mak Bapak kalau datang dari Jambi. Tapi abang berjalan terus ke tempat pemberangkatan. “Ke sini ke sini, kalo ke situ mah buat jemput..” “Oh iya ya.” Kami berjalan terus sambil abang memberikan hp ke aku menyuruhku menghubungi Athirah.

Sampai di pintu masuk penumpang, kami celingukan…rasa sedih mulai menyergapku. Tak ada wanita lain di sekitar situ yang berpenampilan sama denganku, berjubah besar, berjilbab besar…tak ada tanda-tanda Athirah dan suaminya. Aku melongok ke monitor jadwal keberangkatan dan kedatangan pesawat. Ada dua line yang kerlap-kerlip. Dan hanya ada satu pesawat yang memiliki tujuan Kuala Lumpur. AirAsia. Statusnya di situ, – boarding-. HIKS!

Aku hubungi nomor Athirah…gak aktif. Akhirnya abang berinisiatif menghubungi nomor akh Ghozali yang di Indonesia. Ternyata aktif! Ghozali langsung menjawab telepon dari abang, “Ana udah di pesawat. Kami juga telat tadi.”

Suami yang mengerti keinginanku langsung memotong pembicaraan karena waktunya sudah mepet, “O iya iya, ini istri pingin ngomong sama istri antum.”

Dan…terjadilah pembicaraan perpisahan ini..

“Athirah…udah di pesawat ya.”

“Iya mba…salam ya mba buat ustadz Abu Sa’ad…buat teman-teman…”

“Iya…(aku mulai menahan tangisanku yang membuatku sulit berbicara.”…Zawadakillahu taqwa wa ghofaro dzambaki wa yasaro laki khoiro khaitsu maa kunti.” aku mendoakan Athirah dengan doa orang mukim kepada musafir yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Athirah dengan tenang juga menjawab, “Astaudi’ukumullahaladzi laa tadlii’u wa daa-i’uh”, ini adalah doa musafir kepada orang yang mukim.

Air matakupun mulai menetes…”Ini udah mo berangkat mba…salam buat teman-teman”

“Iya…ya udah ya. Assalamu’alaikum..”

“Wa’alaikumussalam…”

Air mataku berjatuhan. Abang dengan polosnya bertanya, “Adek kok nangis?”

“Iiih…abanngg…” aku masih menangis namun berusaha keras ku tahan. Akhirnya aku diam dan kami pun langsun berjalan ke parkiran.

Saat motor yang kami kendarai keluar dari area parkiran bandara, aku melongok ke langit di arah jam 1. Pesawat airasia sedang take-off membumbung ke langit semakin tinggi. Aku berpikir sesaat untuk kemudian bilang ke abang, “Bang…itu pesawat Athirah, AirAsia…”

“Oh iya…”

Dan pesawat itupun makin tinggi berjalan seiring dengan perjalanan kami, namun kami berada di darat dan di tanah Yogyakarta, sedangkan Athirah menuju Malaysia. Berbagai kenangan bersama Athirah pun melesat cepat di ingatanku, membuatku menangis sesunggukan sepanjang perjalanan itu.

Athirahku, temanku, adikku, saudariku…

Hubungan kami selama ini lebih banyak dilakukan lewat surat menyurat, email dan sms. Berisi tentang diskusi-diskusi kami tentang kegiatan dakwah, ma’had, rencana-rencana dan banyak hal lainnya yang berkaitan dengan diniyyah. Ketika bertemu di tempat kajian atau di wisma muslimah, biasanya kami justru jarang berbicara. Sekedar salam pamitan atau sapaan untuk kemudian disibukkan dengan kajian atau ketika akan pulang kajian.

Kini surat-surat yang ditulis tangan oleh Athirah ataupun yang disampaikan lewat email dan lainnya masih tersimpan di rumahku.

Aku berharap, semoga Athirah bisa bahagia di jenjang kehidupan yang baru, dan yang paling aku harapkan adalah semoga kita semua tetap istiqomah di jalan Allah ini. Aamiiin.

Uhibbuki fillah ya Athirah…

11 Comment

  1. athirah says:

    ahabbakillatii ahbabtanii lahu, mba ku sayang…. ^_^

  2. ummu sufyan says:

    barakallahu fikunn…

  3. ummu hamzah says:

    mbak, athirah dah nikah??? athirah dah pergi dari jogja ya???ana juga pingin nangis mbak, adakah blog atau no hp yg bisa menghubungkan ana dengan athirah…???
    mbak ciz,…

  4. cizkah says:

    udah…hehehe…
    insya Allah ana emaiin ya/sms ya. Nomor yang simpati masih di pake kok.
    Galuh udah pulang dari Lampung?

  5. ukht bisa minta alamat ukh athiroh yg bisa dihubungi, bisa di kirim ke email ana , Jazakumulloh khoir…

  6. cizkah says:

    untuk pemberian alamat kontak orang lain ana mesti izin dulu ya um…insya Allah ana bilang dulu ke Athirah.

  7. na,am ukh..waktu ana tinggal di jogja dl ana pernah dikasih tau no hp ukh atiroh, tapi waktu ana pndah ke solo smua no tlpn tman2 pada hilang termasuk tman2 yg ada djogja..mudah2an ukhti athiroh msih ingat dngan ana :)

  8. cizkah says:

    afwan belum sempat nanyain. Insya Allah kalau sudah ana dapatkan izinnya, ana kasih kontaknya. Tapi untuk mengingatkan athirah atas nama siapa ya Um?

  9. Shofiyah says:

    Iseng cari artikel di Yufid, eh langsung mata tertuju pada judul artikel ini…
    Wah sampe di jadiin catatan di blog lho ^^
    Jadi inget mb Athirah juga, inget saat beliau ngajarin mukhtarot, inget saat beliau ngisi kajian di RN (temen2 ana banyak yg suka lho cara nyampein mb Athirah, abisny kayak cerita gitu ^^), inget semangat beliau yang hampir selalu datang kajian tepat waktu, inget saat diajarin bikin Palu Butung di Hilya…

    Wah berarti ntar mb Athirah ada rencana tinggal di saudi y Mb? wah akhwt2 pada di boyong ke sana…senangnyo ^^

    Jazakilahu khairan mb catatannya, baarokallohu fiikunna…

  10. cizkah says:

    ini shofi bintu baderi? hehehe, palu butung tuh apa.

  11. shofiyah says:

    Na’am mb ^^

    Palu Butung tuh pisang ijo yg katanya khas makasar itu ^^

Leave a Reply