Perbandingan.. (Tentang Homeschooling bagian 3)

Lanjutan kisah tentang homeschooling (bagian 3)

Waktu pertama masuk daycare, Ziyad mesti membayar uang sumbangan awal hampir sekitar 2 juta. SPP perbulan selalu > 350 ribu. Per semester ada daftar ulang Rp 175.000. Kemudian juga ada wisata edukatif yang ikut gak ikut mesti bayar ,biaya sekitar Rp 75.000. Pas masuk TK gak jauh beda. Uang sumbangan awal sekitar 1 juta (ini yang versi menengah. TK lain bisa sampai 2-5 juta masuknya :D). SPP perbulan sekitar Rp 235.000. Persemester ada daftar ulang dan untuk biaya wisata sekitar Rp 175.000 *lupa tepatnya.

Well well…lumayan ya, untuk ukuran aku ini juga mesti perjuangan. Lucunya, kalau udah berurusan sama sekolah gini kan, mo ada gak ada, uangnya ya mesti diada-adain. Salah satu upaya untuk memperingan biaya-biaya tersebut adalah NYICIL.  Senyicil-nyicilnya hehe…setiap bulan tetap harus menguras uang sekitar Rp 500 ribu untuk bayar SPP dan cicilan. Waw! Masya Allah…Terus lagi, pas cicilan udah selesai, masih ada tanggungan lagi bayar daftar ulang. Jadinya gak selesai-selesai nguras uang sekitar Rp 300.00 – Rp 500.000 setiap bulan. Fiu fiuw…

Ini di Jogja ya. Kalau yang di Jakarta, aku gak tau deh. Kemarin sempat lihat blog orang gak sengaja. SPP anak SD kisarannya > Rp. 500 ribu.  Uang masuknya antara 11 juta – 18 juta. Wiiiiiyy….

Sekarang coba jawab pertanyaan di bawah ini secara jujur.

Kalau anak kita minta dibeliin Quran yang ukuran besar seharga Rp 500 ribu, mikir gak?
Berapa jatah beli buku sebulan di rumah untuk anak-anak? Mau gak ngeluarin setiap bulan  sekitar Rp 250 ribu untuk beli buku untuk anak-anak?
Ada jatah untuk beli mainan (edukatif atau non edukatif) tiap bulan gak? TIAP BULAN loh hehe. Berapa?

Angka-angka yang aku sebut sebenarnya cuma buat pelecut aku pribadi dan sebagai pembanding dengan biaya yang kami keluarkan pas Ziyad dulu sekolah. Bukan berarti teman-teman harus mengeluarkan dana segitu atau lebih banyak lagi untuk membuktikan kecintaan pada pendidikan anak yah.

Terus terang, pas lagi sekolah, mikir-mikir deh untuk ngeluarin uang lagi untuk beli macam-macam. Akhirnya jatah buat beli buku kisaran antara 25 ribu sampai 50 ribu. Pas Ziyad minta beli majalah aktifitas seharga 25 ribu aku inget banget dulu-dulu mesti bilang, “Mahal…” Haha….parah ya. Padahal ngeluarin buat sekolah berapa coba!. Padahal lagi…mereka kan lebih banyak di rumah..dan yang kita beli itu juga dimanfaatkan di rumah. Gak tau kenapa jadinya merasa berat (duluuu).

Bahkan sampai terakhir kemarin Ziyad udah bisa baca Quran, terus seperti kesulitan baca karena Al-Qurannya tulisannya kecil-kecil. Kita ke toko buku Ihya. Ada tuh, Quran terbitan Beirut, besaar…harganya Rp 500 ribu. Ziyad kelihatan excited banget dan sampe rumah juga berdoa supaya bisa punya Al-Quran gede itu.

Hiks…pas saat itu aja masih mikir. Sampai berhari-hari di rumah ngerenuungg aja. Sampai akhirnya sadar, ya Allah, ini untuk akhirat anakku. Masak mikirnya lama banget! Masa gak bisa diupayain sih. Akhirnya aku bilang ke abang, dan jadi pingin cepat-cepat beli aja. Entah dari uang yang mana yang diambil pokoknya mesti diupayain.

Alhamdulillah kita akhirnya ke toko buku Social Agency di jalan Solo. Kebetulan ada beberapa buku tentang bahasa Arab yang pingin abang beli (di sana lebih lengkap dibanding toko buku Toga Mas di jalan Gejayan). Dan ternyata ada lebih banyak pilihan Al-Quran besar. Pilihan tetap jatuh ke Al-Quran terbitan Beirut, karena mikirnya supaya nanti kalo pas udah hafalan sendiri in sya Allah, Ziyad tetap pakai satu Al-Quran itu aja. Susunannya mirip dengan Al-Quran Madinah. Harganya alhamdulillah Rp 199.000 masih diskon 10%.  Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimusholihaat…

Pas kejadian deschooling yang kedua kali, kesadaran abang tentang homeschooling meningkat banget hehe. Alhamdulillah sejak itu, bisa lebih sepakat tanpa harus aku jelaskan lagi tentang jatah pengeluaran perlengkapan belajar di rumah. Bahkan abang yang semangat. Dengan mengeluarkan setengah dari biaya yang biasa kami keluarkan (atau bahkan kurang), kami lebih banyak membeli permainan dan buku-buku.

Misalnya saat suatu bulan  kami menghabiskan sekitar Rp 145.000. Dan bisa mendapatkan beberapa jenis mainan (yang non/edukatif). Bulan lainnya  dengan mengluarkan biaya sekitar Rp  210.000 kami bisa mendapatkan buku segepok di Gramedia pas memang lagi obral…dan obralannya itu bukan buku-buku yang memang sisa gak laku-laku..tapi buku-buku yang menarik in sya Allah! Masya Allah. Ini adalah kebahagiaan tersendiri buat aku hehe.

Perbandingan sederhana yang ada di sini berlaku untuk aku dan beberapa keluarga, namun tidak berlaku untuk keluarga lainnya. Tapi sisi materi ini adalah pertimbangan yang kesekian. Karena pertimbangan utama seperti yang sudah aku sebutkan di postingan sebelumnya. Lebih kepada membentuk kebetahan untuk di rumah (dan belajar di rumah dibanding terlalu banyak keluar rumah) dan membentuk bonding di antara kami. Siapa tahu juga jadi menyadarkan, sebagaimana kami pun sadarnya juga telat…bahwa mengeluarkan biaya untuk perlengkapan mainan dan buku di rumah itu juga layak untuk diperjuangkan…bukan cuma berjuang ketika bayar sumbangan awal sekolah dan SPP tiap bulan :D.

2 Comment

  1. hany says:

    Assalamualaikum ummi Ziyad, mau tanya untuk kurrikulumnya Ziyad bagaimana?
    Ada tidak komunitas homeschooling muslim?
    Syukron

  2. […] kami gak bayar SPP tiap bulan,  kami anggap pengeluaran untuk buku ini adalah SPP-nya anak-anak hehe. Pritilan beli […]

Leave a Reply