Sangkek Asoy

Abang sering bercerita tentang masa kecilnya. Masa-masa dia masih di sekolah dasar di desa Mersam, Jambi. Dari situ biasanya aku dapat istilah atau kata dalam bahasa Jambi. Salah satunya adalah sangkek asoy.

Sangkek asoy artinya plastik. Biasanya lebih mengarah ke plastik hitam.

Abang bilang, dulu teman-temannya ke sekolah masih banyak yang membawa buku dengan sangkek asoy.

Beberapa anak, datang ke sekolah sambil berjualan. Termasuk abang :).

Abang biasanya membawa satu termos berisi es bungkusan. Ada lagi yang jualan mpek-mpek…atau makanan dan minuman lainnya. Termasuk gurunya pun ada pula yang berjualan. Termos jualan ini diletakkan di bawah meja. Saat waktu istirahat tiba, maka masing-masing anak mengeluarkan dagangannya.

Kalau yang berjualan mpek-mpek, nanti mangkoknya gantian. Gak pakai dicuci :D.

Uang hasil berjualan itu disimpan didalam tutup termos. Koin-koin yang dimasukkan dalam plastik.

Aku masih ingat, harga es di Jakarta saat itu masih Rp 50. Waktu aku mulai kelas 6 SD, harga es mulai naik jadi Rp 100. Karena beda umur kami hampir 2 tahun, berarti semacam itulah hasil jualan abang saat itu.

Beda dengan abang yang jualan es dan berarti punya kulkas sejak kecil, di keluargaku gak punya kulkas. Bahkan sampai aku usia SMA. Masih ingat waktu kecil suka berkhayal dapat uang banyak. Kemudian menulis daftar barang-barang yang ingin dibeli. Salah satunya adalah kulkas.

Alhamdulillah, jadi gak heran lagi waktu baru menikah kemudian kami gak punya kulkas. Setiap hari harus belanja karena tak ada tempat untuk menyimpan bahan mentah supaya tetap awet. Sampai akhirnya Ziyad lahir dan mulai MPASI, kami masih belum punya kulkas. Pernah satu kali aku membeli ayam satu plastik yang berisi tiga buah paha untuk dibuat kaldu. Karena ingin berhemat, ayam itu ingin aku simpan setengahnya. Niat ingin menitipkan ke Uus yang dulu masih jadi tetangga dekat kami akhirnya gak jadi. Khawatir merepotkan. Akhirnya semua ayam tersebut aku masak.

Setelah Ziyad hampir berumur satu tahun, kami dapat tawaran kulkas dari adik suami.Kulkas itu sudah ia gunakan hampir sekitar 2 tahunan. Dua orang adik suami dulu tinggal sekota dengan kami. Fasilitas mereka mungkin lebih lengkap dari kami. Tapi begitulah abang. Tak pernah menuntut dan meminta kepada orang tua untuk dibelikan ini itu. Tadinya aku menyarankan untuk ditolak saja. Lupa sebabnya waktu itu. Tapi Mak (ibunda suami) waktu itu memaksa.

Alhamdulillah, saat ini, kulkas itu masih berada di sudut dapur kami. Walau lampu bagian dalamnya tak lagi menyala. Walau pintunya terkadang tak melekat dengan benar, tapi fungsi utamanya masih berjalan. Kami masih bisa menyimpan es krim untuk anak-anak. Masih bisa membuat es batu. Masih bisa menyimpan sayur agar tak mudah layu. Mendinginkan buah agar terasa lebih segar. Alhamdulillah alhamdulillah. Alhamdulillah atas nikmat berupa kulkas yang telah Engkau berikan kepada kami ya Allah.

3 Comment

  1. iin um salman says:

    Di Batam juga, plastik kresek ada yg menyebutnya asoy,, yg pertama ngeh adalah adik ipar.. sementara ana yg sudah terbiasa, tidak ingat tuh takjubnya kapan :p

    Tentang kulkas, karena sejak kecil tinggal dan besar di Lembang yg default suhu udaranya seingatku 19○, tidak terlintas tuh apa perlunya kulkas dan air con/AC. Sayur mayur belinya seperlunya, dimasak hari itu or besok. Tapi semua berubah begitu pindah k daerah panas.

    OOT curcol dikit, mba ciz.. Pertama kali mengunjungi rumah kami, mama mertua belanja besar2an utk dapur: beli piring beling dan gelas beling (karena ana dulu hari2 makan pk piring plastik dan gelas mug), panci penggorengan yg ukuran besar (krn punyanya teflon ukuran medium) & banyak printilan kecil2 sampai saringan teh dll juga dibelikan. Pasti takjub beliau tuh knp menantuku yg 1 ini seperti lagi main masak2an trus harus diajarin teknis dan brg yg mesti ada di dapur (dapur yg sebenarnya). Dulu ana reaksinya adalah speachless dan perasaan ngga karuan, berasa bodoh banget dan malu banget juga ama suami. Trus ada acara ngambek jg :P. Demikianlah, ceritanya selesai hehe..

  2. cizkah says:

    haha…asyiknyaaaa…ana mau juga dong belanja besar-besaran…
    hihi..kalo ana emang suka banget belanja alat-alat rumah tangga in..
    di jogja ada namanya Progo. Aduh…itu seperti tempat “bermain” untuk ana. Sayang gak bisa sering2 :D.
    Dari pas di jkt..sampe kuliah. Kalo lagi suntuk suka ke swalayan yang ada alat rumah tangga atau alat tulis yang lucu2.
    Pokoknya mesti ada yang dibeli yang harganya murah.
    Ana beli saringan teh aja bisa bikin happy :D
    Demikian juga cerita ana – selesai -.

  3. Hihi, benar mbak. Baru di jambi ini denger namanya sangkek asoy dr mertua. Soalnya selama menikah dan masih tinggal di jawa, suami g pernah bilang sangkek asoy ^^

Leave a Reply