Sensitif dengan Kata “Untung”

Alhamdulillah, dari kegiatan edit sensor buku, anak-anak itu menangkap banyak hal lainnya. Hal yang itu jadi praktek di kehidupan sehari-hari.

Edit sensor buku itu kan mengedit gambar, aurot, dan kata-kata yang kurang tepat. Ternyata kalau mereka mendapati hal yang diedit itu di luar perbukuan, mereka langsung cepat menangkap.

Misalnya, mereka dengar di video yang mereka tonton, si tokoh ngomong, “Untung ada kamu..”

Ini kemarin yang ngomong Kholid. Usia 4 tahun 4 bulan.

Mereka langsung laporan atau nanya, “Kok ngomong untung, Mi.”

Kadang aku dapat pertanyaan hal-hal terkait buku atau pendidikan tertentu; cocok ga untuk anak-anak? sejak usia berapa dibacain atau digunakan? dan sebagainya.

Nah, sebenarnya untuk pendidikan yang sifatnya keseharian (learning opportunity) itu gak usah terlalu disaklekin ya. Artinya, kita bahkan berusaha memasukkan pendidikan (Islam) setiap saat.

Luma yang sudah bisa baca – alhamdulillah- juga sering “melaporkan” ada hal-hal yang terlewat untuk diedit sensor di buku yang sedang dia baca.

Oh iya, kenapa kata untung termasuk yang diedit?

Karena lafalnya itu jadi seperti menghilangkan unsur bersyukur kepada Allah.

“Untung ada kamu.”
“Untung udah diberesin.”
“Untung bisa diambil.”

Alhamdulillah, anak-anak sudah tahu, saat-saat mendapat kebaikan walau hal-hal sederhana, tetap aja yang lebih patut diucapkan itu, “Alhamdulillah…”

Kalimat thoyyibah ini bukan sekedar teori. Ini benar-benar perlu dibiasakan dalam keseharian kita. Jadi bagian dari akhlak dan adab.

Lidah orang dewasa pun kalau belum dibiasakan juga bakal berat dan rasanya mungkin aneh ketika melafalkan, “Masya Allah”, “Alhamdulillah”, “Insya Allah” atau bahkan ketika mendengar nama nabi di sebut kemudian kita biasakan juga mengucapkan, “Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Benaran. Berat.

Makanya, dalam pendidikan ke anak-anak, benar-benar terasa kalau yang paling perlu untuk belajar dan menanamkan ke sehari-hari itu orang tuanya dulu.

Mencoba mencatat sedikit cerita yang terlalui sama krucil.

cizkah
Yogyakarta, 23 Februari 2020

Leave a Reply