Still Continue Our Journey…Homeschooling

Sebenarnya, kalau ada yang belum mencoba melakukan kegiatan homeschooling terus nanya pertanyaan seperti, “Nanti kuliahnya gimana?” “Pakai ijazahnya bisa kepake untuk daftar kuliah?”….

Itu jawabannya mudah banget. Coba dulu homeschooling SD-nya heheh. Tapi ya wajar juga sih pertanyaan itu muncul. Berarti memang sempurna gak tahu menahu tentang homeschooling. Karena homeschooling kan gak mesti terus menerus sampe SMA. Setiap tingkatan SD ada ijazah. Bisa beralih kemudian SMP ke jalur formal. Begitupun nanti kalau pas SMA-nya.

Ngomong-ngomong coba dulu homeschooling SD. Soalnya disitu bakal berasa banget deh, semangat naik turun. Galau pudar dan menebal. Pokoknya butuh perjuangan dan gak melulu bisa “istiqomah”.  Jadi gak usah mikir jauh-jauh sampe SMA. Coba dulu, bisa gak melalui homeschooling tingkat SD. Ya karena homeschooling itu satu sisi pasti melelahkan. Sisi lain…terlihat “mencemaskan” atau “mengkhawatirkan” berkaitan dengan masa depan. Ah..tapi kan itu semua tergantung dari sisi mana atau siapa yang melihat.

Dan kami pun melalui masa-masa galau, pudar semangat dan ingin istirahat dari homeschooling.

Daftar Sekolah Ziyad

Sekitar bulan Januari, sering terceletuk tentang pengembangan yang perlu kami lakukan untuk masa depan kami. Dan sepertinya, perjalanan itu entah bisa berjalan sesuai harapan gak kalau masih tetap homeschooling. Waktu itu, tingkat ketergodaan sekitar 10-15%. Pada saat itupun, kami seakan-akan positif akan menyekolahkan Thoriq tahun depan di sekolah.

Sekitar bulan Februari, dapat “dorongan” dan info-info dari seorang teman homeschooler yang akhirnya beralih ke jalur formal (sekolah). Dilengkapi dengan hasil tespack aku hamil. Itu jadi wah banget rasanya. Kesannya memang sepertinya akan lebih baik kalau kami menyekolahkan Ziyad. Kalau meneruskan homeschooling, hidup seakan-akan akan jadi full hiruk pikuk.

Akhirnya, suatu pagi di hari Selasa bulan Februari, setelah sholat istikhoroh (dengan kemantapan hati mau nyekolahin Ziyad), aku sama Ziyad pergi ke salah satu sekolah yang diinfokan teman kami tersebut.

Sampai di sekolah tersebut sekitar pukul 8, kami tidak berhasil bertemu dengan kepala sekolah. Hanya bertemu dengan salah satu guru. Guru tersebut menginformasikan tidak menerima murid pindahan. Ketika tahu Ziyad kelas 3, beliau pun memberitahu kelasnya sudah penuh, yaitu 29 orang. Saat aku pastikan bahwa setahu aku jumlah maksimal 30 orang. Guru tesebut bilang kalau di ruangan kelas 3 ada kotak, jadi gak bisa lagi ditaruh kursi dan meja. Okey…Terus aku jawab lagi, “Berarti kalau naik kelas 4 kan ruangannya ganti berarti bisa?” Ibu guru jawabnya lain lagi, intinya gak terima murid pindahan apalagi kelas 4 sampai 6. Ya sudah..aku tanya kepala sekolah adanya kapan. Ternyata biasanya pagi jam 7 sudah ada. Kalau di atas jam itu kadang rapat.  Karena besoknya tanggal merah, akhirnya aku berniat akan kembali lagi hari Kamis untuk bicara langsung dengan kepala sekolah.

Rethinking

Biaya masuk/uang gedung sekolah tersebut sekitar 8 juta – 10 juta. SPP-nya waktu itu aku tahunya Rp 500rb/bulan. Sooo expensive ya. Tapi itu kan udah dipikirin, udah yakin…udah sholat istikhoroh. Tapi ya itu, kan jalannya nanti Allah yang tentukan. Tanggal merah itu sangat membantu kami untuk berpikir lanjut.

Akhirnya diskusi mendalam lagi sama abang. Kami review lagi perkembangan Ziyad selama ini. Hafalannya, pelajaran sekolahnya, attitudenya, passion dan bakat dia. Semuanya insya Allah jauuh lebih baik kalau dia tetap homeschooling. Dan biaya yang diupayakan untuk sekolah bisa dialihkan untuk pengembangan skill dia yang sangat menonjol, yaitu menggambar. Plus bahasa. Daan banyaak pertimbangan lainnya yang akhirnya membuat kami condong kembali dan memutuskan bulat gak jadi mendaftarkan Ziyad.

Dari sisi Ziyad, dia sempat yakin sekali akan sekolah. Walaupun kami memberitahu, dia belum tentu sekolah karena harus lulus tes masuk. Dia sudah berencana macam-macam berkaitan “biar sama” kaya teman-teman di sekolah. Hehehe. Yang tasnya, ininya, itunya dll. Akhirnya kami kasih pengertian lagi ke dia. Kita jelaskan rencana ke depan kita untuk dia. Alhamdulillah dia bisa terima dan gak pakai acara ngambek atau mellow.

Research Mendalam

Setelah bulat memutuskan melanjutkan HS, aku research lagi hal-hal berkaitan HS. Tentang muatan lokal, tentang PKBM, sekolah payung.

Muatan lokal labil banget. Intinya ya sesuai PKBM yang kita ikuti maunya gimana isinya. Di satu artikel, bahasa Inggris bisa masuk muatan lokal. Tapi kalau dari PKBM yang aku ikuti muatan lokal tu harus yang nge-Yogya banget deh. Gerabah, bahasa Jawa, batik dll.

Sekolah payung, hasilnya: ternyata tidak ada sekolah payung yang resmi ditunjuk dari pemerintah. Tapi lebih kepada kesediaan sekolah tersebut untuk nerima siswa HS yang mau ikut ujian di sekolahnya. So difficult banget :D. Kalau mau daftar dan bersedia, biasanya sekolah menerima dengan syarat-syarat tertentu, misalnya bayar SPP untuk setahun.

Feeling Lonely

Lagi berusaha struggle dengan semua itu, tiba-tiba dengar kabar di komunitas HS yang aku ikuti. Banyak teman HSer yang “berguguran” dan memilih pindah ke jalur formal. Waktu itu sedih bukan kepalang. Dan perasaan ditinggalkan, sendirian, kekhawatiran, kesal, kecewa, campur aduk jadi satu. Dan karena banyaknya HSer (tingkat SD) yang pindah jalur, itu sudah bisa dipastikan komunitas yang dibentuk pun bubar. Buat apa dipertahankan? Atau apakah ada yang mau mempertahankan? Bukankah sudah tak ada visi misi yang sama jika jalur yang dipilih berbeda? Kebutuhannya beda. Biasanya kumpul karena kebutuhan yang sama agar anak-anak saling bertemu, agar orang tua saling menguatkan? Sempat nangis sampai sesunggukan. Abang yang belum tahu cerita detailnya ngelihat aku kerjaannya nangis akhirnya  ngajakin aku keluar cari angin.

Belum lagi, salah satu yang pindah ke jalur formal menyatakan bahwa PKBM itu tetap ada “permainan uang” di dalamnya. Kesulitan yang dibuat-buat berkaitan ijazah dll.

Perbaiki Niat dan Tujuan

Abang memang tahu sekilas-sekilas tentang teman-teman yang sudah pindah ke jalur formal. Tapi dari semua kejadian itu, aku jadi merasa sendiri, susah sendiri dan capek sendiri. Aku jadi ingin seperti mereka yang pindah ke jalur formal. Tentu bisa lebih santai. Aku jadi pingin lagi nyekolahin Ziyad.

Abang menyikapi aku dengan santai. Kalau mau sekolah ya abang juga gpp. Cuma heran aja karena baru beberapa saat yang lalu kami memutuskan bersama untuk lanjut HS.

Kemudian abang mengingatkan aku bagaimana awal kami melalui ini. Dulu pun kami memutuskan HS ya sendiri, mulai dari Ziyad umur 3,5 tahun. Sebab-sebabnya kami tahu sendiri. Dan ketika kami memutuskan lanjutpun pertimbangannya kami yang tahu. Kelebihannya kami yang tahu, apalagi kekurangannya.

Ujung-ujungnya Tauhid

Berbagai permasalahan  yang muncul, selalu solusinya atau sikap terbaik saat menanggapinya sebenarnya di tauhid. Aku berusaha merenungi kata-kata abang.

Sebenarnya aku – tentu saja – khawatir. Apakah bisa melalui ini. Apakah nanti PKBM Ziyad melakukan ini dan itu yang membuat semuanya jadi sulit.

Aku sedih karena merasa ditinggalkan. Tapi apakah itu sebenarnya karena aku “bergantung” kepada orang lain untuk perjalanan HS ini?

Lalu sampailah titik itu. Titik dimana aku menyadari bahwa semua yang aku khawatirkan itu berkaitan dengan masa depan. Kesulitan-kesulitan itu bisa dengan mudah dibalikkan jadi kemudah-kemudahan. Siapalagi yang membalikkan kalau bukan Allah tempat ktia bergantung yang membuat segala hal yang sulit – jika Allah buat mudah – maka akan jadi mudah.

Seharusnya aku lebih menggantungkan semuanya kepada Allah. Bukan kepada orang. Bukan pada perasaan was-was.

3-doa-mohon-kemudahan

Lebih Menikmati

Sejak itu, akhirnya aku merasa lebih tenang alhamdulillah. Awal bulan Mei kami membeli buku-buku kelas 4 Ziyad. Pertengahan bulan ini, aku sudah mulai pelajaran kelas 4. Dan aku bisa lebih menikmati semua proses itu. Capek tapi hasilnya memang insya Allah lebih baik. Cerita kenapa aku bisa bilang “lebih baik” di postingan sendiri ya insya Allah. Intinya, bahagia di hati walaupun letih di badan.

Khawatir dan was-was terkadang masih muncul dan berusaha aku tepis. Apalagi kemudian membayangkan bahwa yang lahir nanti dua bayi insya Allah. Hehehe. Tapi pelan-pelan aku berusaha membenahi hal-hal yang bisa mengurangi rasa kekhawatiran itu. Berdoa..dan berusaha.

Tawakkalna ‘alallah…untuk yang kesekian kalinya :).

 

cizkah

27 Mei 2016

 

2 Comment

  1. Rachma says:

    wah, hebat mba :)
    semoga tetep bisa melanjutkan HS sesuai cita-citanya dulu mba :)
    tetep semangat, saya sendiri bukan pegiat HS, tapi suka baca tulisan milik orang tua yang menjalankan HS untuk anak anaknya ^^

  2. cizkah says:

    aamiin…hehehe…cita-cita dulu tuh pas kapan? *nginget2

Leave a Reply