Ziyad 2,5 Tahun

Alhamdulillah, bulan Januari lalu, Ziyad genap berusia 2,5 tahun. Alhamdulillah (lagi), Ziyad sudah mulai bisa bicara (menyebutkan berbagai kata) sejak kira-kira 3 4 bulan yang lalu. Tepatnya sih waktu abis pulang ke Jakarta dalam rangka menghibur diri setelah dikuret. Hehehe. (Sekitar bulan Oktober)

Kebetulan di Jakarta, semuanya berbahasa Indonesia. Dan sang nenek (yang gak mau dipanggil mbah), sangat gencar mengajarkan Ziyad ngomong. Dan waktu di Jakarta, Ziyad baru bisa mengikuti kata “tadi.” Tapi nenek tercinta tetep ngajarin yg lain-lain.

Nah, setelah sesaat sampai di Jogja (di Jakarta hanya seminggu lho). Ziyad tau-tau udah mulai bisa nyebut namanya sendiri (kalo termasuk friendlistku di fb insya Allah bisa lihat rekaman Ziyad saying “Ziyad”. Dan bentuk pertanyaan dia yang biasanya cuma, “Ee?” awal-awal dia bisa ngomong diganti kata, “Itu?” Jadi semua bentuk pertanyaan dia yang maksudnya “Ini apa?”, “Siapa?” atau yang lainnya, semuanya keluar dengan kata “Itu?” :D Sulit digambarkan. Pokoknya kita udah seneng  dia mau mulai berkata-kata. Itu seperti tembok yang akhirnya terdobrak dan dia mulai melangkah lebih lanjut.

Setelah itu banyak hal yang gak disangka-sangka tentang kelancaran dia berkata-kata. Waktu di Jakarta, sesaat sebelum pulang, Neneknya sempat mengajarkan kata, “Satu Dua Tiga.” Nahh, sampai di Jogja, ada satu saat kami dapat giliran jadi tuan rumah ronda. Aku sibuk dong nyiapin segala sesuatunya. Udah kaya ada hajatan aja. Ada 15-an orang yang mesti dijamu. Aku kan bolak-balik ngitung gelas-gelas yang udah aku bersihin. Waktu tamu-tamu udah pulang dan aku cuci piring, Ziyad tau-tau ngomong, “Catuuu, duwaaa….” HEH!!! Kaget deeehh.

Cerita lain lagi (masih di awal-awal dia mulai bisa ngomong), dia pakai kain lap ke kepalanya, terus bilang, “Mamah…mamah.” Aku mikir sebentar, “Apa itu mamah?” Dia tetep ngomong, “Mamah…mamah.” Terus sesaat baru sadar deh, “Oooohh…imamaahhh.” (Imamah adalah kain penutup kepala yang biasanya dipakai orang-orang Arab itu lho). Ziyad pernah dibeliin Abah-nya imamah, dan sering banget kita nyebut itu imamah, pake imamah (waktu dia belum bisa ngomong). Dan masih amazing dan mulai nyadar kalau dia selama ini nangkep kata-kata yang kita sebut atau ajarkan, tapi hanya belum bisa melafalkannya.

Dan sampai saat ini alhamdulillah perkembangannya lumayan. Malah cenderung cerewet. Tapi dia belum bisa menyusun sampai lebhi dari 3 kata. Itupun masih patah-patah. Kadang keluar kata-kata cerewet banget, tapi suka salah-salah, tapi dia sadar kalo itu salah. Misalnya, “Cucu tangan, cuci tangan.” “Batakan, betakan, batakan (maksudnya ini berantakan).”

Tiga suku kata yang pertama kali dia lancar banget mengatakannya adalah, “Be la lang.”

Bulan Januari lalu, Ziyad sudah mulai bisa bercerita. Kaya dia cerita kejadian di sekolahnya, “Temen  temen   lari   lari .” Itu sengaja dikasih spasi agak banyak soalnya emang ada jarak setiap dia ngomong satu kata :D.

Bahasa Arab

Memang sejak dia mulai mau belajar berkata-kata dan berbicara, kami menghilangkan sama sekali program pengajaran bahasa Arab ke Ziyad. Biar dia lancar dulu bahasa ibu. Pernah bulan Desember, aku sempet tanya dia, “Masih inget ‘ainun gakk?” Ternyata dia lupa sama sekali. Padahal dulu lancar banget nunjuk semua anggota badan yang aku sebutin dalam bahasa arab. Ainun, famun, anfun, sya’run, udzunun, khoddun. Malah  udah keluar dari anggota badan, kaya shodrun, bathnun, yadun. Sempet terkesima juga sih, hehehe, soalnya kesannya ilang gitu ya bahasa Arab yg kemarin udah diajarin dan udah sempet dia inget.Dan satu kata Arab yang paling dia inget dan masih bisa dia sebut dari dia belum lancar bicara sampe sekarang adalah lihyah (jenggot).

Tapi tenang saudara-saudara, insya Allah semuanya gak sia-sia. Simak terus ceritanya ^^

Semingguan yang lalu, aku coba tanya lagi ke Ziyad. “Ziyad masih inget ‘ainun gakk.” Ternyata masih enggak inget kok :D. Terus aku cuma sekilas aja bilang, “‘Ainun itu bahasa Arab. Mata itu ‘ainun.” Sambil aku tunjuk matanya. Abis itu dia langsung lancar bisa nyebut, “Ainun.” Wew. Terkesima lagi deh. Soalnya Ziyad masih suka susah nyebut kata-kata yang agak riweh susunannya atau yg lebih dari dua suku kata. Abis itu dia ulang2.

Eh, besoknya aku lupa kejadian detailnya. Pokoknya Ziyad duluan yang nyebut ainun sambil nunjuk mata. Wehehehe, seneng deh. Aku cuma tambahin aja sekilas, “Anfun itu hidunng.” Dan sampai saat ini dia dengan mudah inget dan bisa nyebut tiga bagian anggota tubuh dg bahasa Arab. Ainun, anfun dan udzunun. Tapi gak pingin maksa ah. Cuma masih sambil lalu aja.

Menghitung

Sampai saat ini, alhamdulillah udah sampai angka SEPULUHHH. Heheheh. Prosesnya juga lucu-lucu. Walau setelah lewat angka 5, dia masih belum bisa nyebut secara berurutan dan perlu diingetin. Ada video ketika dia belajar nyebut angka 4 walaupun udah lancar nyebut angka 5. Kebalik-balik, “Entap…entap.” Nanti udah sampai angka enam dia nyebutnya, “Eman..eman.”

Membaca

Sejak baca salah satu artikel dari temen FB (maaf lupa ummu siapa), tentang pengajaran membaca bisa dimulai sejak dini. Wah, semangat deh prakteknya. Aku emang sengaja gak mengajarka Ziyad secara menghafal A – Z. Lebih ke pengajaran komprehensif dan gak sekedar menghafal. Tahap awal pun yang aku ajarin bukan a, b, c, d. Tapi A I U E O. (Masih inget waktu masih gabung di TK Zanjabila plus beberapa materi perkuliahan yang dulu aku ikutin).

Ziyad paling mudah inget huruf  i dan o. Huruf A besar dia bilang jepitan. Huruf I besar masih suka dibilang 1. Ya gitu deh. Ketuker2 Heheheh. Intinya dia juga udah bisa mulai baca angka-angka. Kemarin baru aja, dia mulai ingat huruf Z. Kebetulan ada brosur yang ada huruf Z-nya besar banget. Terus aku bilang, “Zet!” Ziyad bilang, “Jet.” “Zet.” “Jet.” “Zet itu kaya nama Ziyad. Ziyad.” Dan sepertinya dia jadi ingat huruf tersebut. Tapi kemarin pas aku nulis pake tangan, dia langsung bilang, “Duaa.” Hahahaha…Waduh…terus aku tulis lagi sambil ngomong, “Kalo dua, melengkuung…kaya gini…, kalo yang ini zett…lurus-lurus set set set.”

Abis itu aku nulis lagi di sampingnya, “Kalo ini 3 (tigaaa), nahh..kalo yang ini E besarrr.” Ziyad ngikutin, “Eeee”

Dan ternyata lumayan ngaruh lho. Malamnya waktu nunggu abang pulang, dia memporakporandakan puzzle evamatt yang temanya huruf-huruf itu. Terus dia copot angka 3 dia tunjukin ke aku, “Tigaaa.” “Ooo iya benerrr pinterr…” Hihihih

Wah cape ceritanya. Insya Allah kapan lagi di sambung yaaa…sekarang sudah mulai semangat lagi mo coding. Tadi gak mood banget.

3 Comment

  1. ana says:

    assaklamualaikum mba,

    seneng deh baca crita2nya, saya juga baru punya anak 2 tahun 3 bulan dan belum lancar bicara. crita mba sedikit banyak menghibur saya, abis udah mulai cemas karena ayis blum juga bisa bicara. Saya terus berdoa dan memberikan stimulus. doain juga ya mbaa. makasi

  2. cizkah says:

    He eh…dimotivasi terusshh…dan banyak doa. Jangan lupa diolesin madu campur garam sedikit diolesin ke lidahnya (dari ibnul Qoyyim). ^^

  3. ana says:

    bisa begitu ya mba, suamiku biasanya tau yang begituan, wah ketinggalan info ni. Insya Allah di coba. makasih sarannya. Bismillah….

Leave a Reply