Adaptasi

Banyak yang nanya atau penasaran, gimana aku menjalani kehidupan sehari-hari dari pagi sampai malam.

Jawabannya insya Allah jadi jawaban yang bisa dilaksanakan siapapun.

Adaptasi!

Cuma itu?

Nanti dulu.

Aku kasih catatan pendahuluan.

Beda Lahan

Kita tahu, kopi itu ada macam-macam. Padahal tumbuhan kopi ya bentuknya sama. Tapi rasanya bisa beda-beda. Tergantung tempat tumbuhnya, ketinggiannya, dekat dengan tumbuhan apa.

Cita rasanya bisa jadi beda. Kopi gayo dengan kopi kerinci bisa jadi beda banget. Kopi gunung sari dengan kopi yang berasal dari daerah timur efeknya ke badan bisa beda.

Itupun, yang dari satu kebun, bisa jadi rasa yang berbeda ketika yang meracik si kopi sampai siap di minum cara roastingnya beda, airnya beda, suhunya beda. Terlalu banyak faktor terikat dan tidak terikatnya.

Begitupun kita sebagai ibu-ibu. Kondisinya beda-beda. Jadi kalau aku jawab pun sebenarnya gak bisa jadi patokan.

Bukan hal yang secara teknis bisa ditiru seragam oleh semua ibu-ibu.

Bahkan keadaanku tiap tahun bisa berbeda-beda. Yang aku ceritakan hari ini gak sama dengan yang aku lakukan 3 tahun yang lalu saat masih beranak 3. Atau 6 tahun yang lalu saat masih beranak 2.

Setiap ada perubahan keadaan, aku butuh adaptasi.

Dan alhamdulillah salah satu ciri makhluk hidup adalah beradaptasi.

Tapi udah gitu aja?

Ya engga.

Kita Punya Allah

Kita sebagai orang Islam punya sesuatu yang beda.

Saat adaptasi itu, kita ingat satu hadits yang insya Allah bisa menguatkan.

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

“Semangatlah atas apa yang bermanfaat untukmu.
Minta tolonglah kepada Allah.
Dan jangan lemah!”
(H.R. Muslim)

Terus Bergerak dan Ingat untuk Bersemangat!

Sebenarnya, sejak lebaran kemarin, aku sendiri lagi dalam tahap adaptasi yang masih kaya belum ketemu ritme teraturnya. Masih jumpalitan jungkir balik rasanya menjalankan ritme aktifitas.

Rasanya menjalankan sehari-hari sedikit berantakan, tapi balik lagi, keep moving forward setiap harinya dengan semua aktifitas yang ada.

Minta tolong sama Allah.

Jangan lemah!

Dimulai dari keputusan mudik karena Papa yang udah sakit batuk lama. Baru pulang dari mudik ternyata ada info kelulusan Ziyad. Info pondok yang akhirnya jadi tempat Ziyad memperdalam Al-Qur’an. Bolak-balik ngurus pondok Ziyad. Gak lama dapat kabar sakit Papa bertambah parah. Sampai akhirnya Papa meninggal. Mudik lagi.

Gak lama kemudian ada kejadian-kejadian lain. Anak-anak sakit dst. Bapak ibu mertua yang datang untuk umroh dari Jogja. Proses memperbaiki rumah. Daan seterusnya…

Sebenarnya rasanya luar biasa. Ada momen-momen di mana aku merasa rasanya pingin mem-freeze. Tapi kemudian sadar, sebenarnya aku cuma kecapekan dan yang aku butuhin banget ya cuma tidur.

Sesederhana itu. Jadi gak di dramatisir atau malah jadi gak bersyukur. Kan udah dibilangin juga di hadits, ‘jangan lemah!’.

Eh, jangan lemah di sini bukan berarti jadi wanita super woman yaaa. Tapi lebih kepada lemah yang sifatnya batin. Yang bikin keadaan yang sebenarnya masih sangat patut disyukuri malah jadi merasa jadi wanita super nelangsa.

Karena memang hadits utuhnya sebenarnya memang tentang muslim yang kuat dan muslimh yang lemah.

Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah.”

(H.R. Muslim)

Karena sebenarnya dibalik semua proses itu, kami merasa mendapat banyak kemudahan dari Allah.

Jadi, kalau capek-capek dikit, ritme yang mungkin kelihatan berantakan, tapi sebenarnya banyak sekali tujuan yang sudah tercapai.

Jadi, balik lagi untuk yang nanya atau penasaran dengan aktifitas aku. Sama aja dengan aktifitas ibu-ibu lainnya. Ngurus anak-anak, masak, belajar sama anak-anak, ngurus jualan, ngurus kerjaan lainnya, nyari celah buat tidur dst :D.

Kalo cape minta dipijitin suami ya wajar. Nangis karena badan udah super capek juga gpp asal jangan keluar perkataan yang menghilangkan rasa syukur. Minta dibeliin bakso supaya bisa ngerasa segeran juga wajar.

OK. Ini mah aku banget ya :D.

Semoga semua ibu-ibu tetap semangat. Jangan lupa minta tolong kepada Allah. Dan…jangan lemah!

cizkah
Jogja, 17 November 2019

One Reply to “Adaptasi”

  1. Maasya Allah
    Tabaarakallah…
    Iya mba Sis… Bener banget tuh.

Leave a Reply