Pikiran yang Terseret; Ngomongin Mindset

Dari hasil diskusi berdasarkan dua tulisan #serihomeschooling sebelumnya, saya merasa ada selipan lagi yang harus disampaikan sebelum bahas tentang kegiatan homeschooling.

Saya jadi tersadar bahwa ada yang sedikit disalahpahami dari tulisan sebelumnya.

Kesalahpahaman bahwa  ketika seseorang memutuskan untuk menyekolahkan anaknya, seakan-akan itu adalah sebuah keputusan absolut sehingga meniadakan  pendidikan orang tua untuk anak di rumah.

Kesalahpahaman bahwa ketika seseorang memutuskan homechooling maka tidak memikirkan alternatif sekolah sepanjang melakukan kegiatan tersebut.

Saya sudah membaca ulang lagi tulisan sebelumnya. Arah tulisan sebelumnya memang terkesan lebih banyak ke arah orang tua pada usia SD atau usia menjelang SD. Saya sendiri merasa pikiran saya  memang sedikit terseret  ke arah itu karena  kebanyakan  pertanyaan yang masuk lebih berkenaan dengan homeschooling di usia-usia anak sekolah (SD).

Nah, untuk meluruskan hal tersebut, kita bicara lebih sederhana lagi ya.

Mudahnya, bagi saya, kegiatan homeschooling adalah sebuah kegiatan mendidik anak di rumah. Mendidik ini, bisa dimulai kaaapaaaan saja. Bahkan sejak anak baru lahir.

Mendidik bukan terbatas kegiatan belajar membaca atau menulis ya. Ini harus dilatiih terus dalam benak kita sebagai orang tua.

Keberhasilan atau ukuran prestasi anak  juga bukan melulu berkaitan dengan kegiatan atau kemampuan kognitif.

Ketika orang tua mulai melirik dan ingin mempelajari tentang homeschooling saat anaknya sudah masuk ke usia sekolah (SD), maka mindset tentang pendidikan itu sendiri  juga harus dirubah.

Ini gak mudah. Beneran.

Bukan cuma mindset, tapi juga praktek pendidikan bersama anak sehari-hari.

Proses menjalankan keputusan homeschooling usia SD  akan lebih “mudah” ketika orang tua sudah melakukan praktek pendidikan bersama anak sejak usia pra sekolah.

Bahkan saya ingin sekali mengajak orang tua untuk tidak terburu-buru memasukkan anak ke lembaga pendidikan manapun. Apalagi jika usianya masih di bawah 3 tahun.

Karena jika sudah terbiasa dengan ritme “keluar rumah”, “main sama teman”, “belajar di sekolah”, maka coba pikirkan ke depan kira-kira bagaimana kita akan membentuk mindset berikut ini di benak kita ataupun di benak anak:

Belajar itu gak cuma belajar pelajaran di sekolah.
Belajar itu gak mesti ramai-ramai.
Belajar itu gak mesti pakai seragam.
Belajar itu bisa banget di rumah.
Belajar itu bisa macem-macem.
Dan yang paling penting mindset bahwa rumah adalah tempat yang SANGAT menyenangkan untuk melakukan berbagai aktifitas.

Membentuk mindset ini insya Allah lebih mudah dilakukan jika anak terbiasa di rumah. Melakukan berbagai aktifitas dirumah.

Jika membaca tulisan ini, kemudian orang tua  masih meragukan dan berpikir, “di rumah kan gak ngapa-ngapain”, maka itu dia titik mindset tentang pendidikan yang perlu pelan-pelan diubah.

Mindset tentang rumah. Mindset tentang anak. Mindset tentang kegiatan anak.

Dari yang aku perhatikan, dengan pola anak terbiasa dengan “rutinitas” kegiatan di sekolah, maka saat-saat liburan itu jadi hal yang dilematis buat si anak ataupun si ortu.

Ortu seakan-akan harus menyediakan berbagai aktifitas supaya si anak gak bosan. Anak juga cenderungnya memang merasa “bosaaaaan” di rumah. Gak ngapa-ngapin dll.  Rumah bukan lagi menjadi tempat yang menyenangkan untuk aktifitas sehari-hari. Enaknya main di luar. Kegiatan di luar, dan seterusnya.

Segitu gak enaknyakah berada di rumah? Bersama orang tua? Bersama kakak adik?

Ini memang gak pasti terjadi  di semua keluarga.  Tapi mari diakui bila memang ini terjadi di keluarga kita sendiri. Sebagai bahan renungan dan bahan untuk memperbaiki pola pikir kita ataupun anak.

Kadang, orangtua terjebak pada keinginan kegiatan anak yang pasti-pasti. Aktifitas yang terorganisir. Kegiatan belajar yang tersusun. Atau semacam itu. Bahkan saat mereka masih usia dini.

Bermain dianggap bukan  aktifitas penting dan bukan pula bagian dari belajar. Mengembangkan keterampilan-keterampilan hidup semacam mampu membuat teh sendiri, memasak telur, membantu orang tua menjaga adik, mengasah pisau, itu dianggap bukan belajar. Bahkan aktifitas membantu orang tua bisa dianggap sebagai aktifitas yang kurang bisa diberikan kepada anak karena khawatir mereka capai, mereka kesal, mereka gak bisa (?) dan lain-lain.

Coba perhatikan lagi kalimat “mereka gak bisa” bantu karena “mereka gak bisa” itu bukankah suatu hal yang harusnya justru dipelajari untuk kehidupan mereka? Sebenarnya, sebabnya bukan  karena gak bisa. Tapi belum bisa. Dan terkadang mereka kurang mendapat kesempatan untuk menjadi bisa karena sudah dibatasi dengan waktu yang terbatas atau bahkan karena mindset yang masih harus diperbaiki :).

Kesimpulan paling penting dari tulisan ini adalah: bagi yang belum bisa memutuskan homeschooling atau sekolah adalah tetaplah melakukan pendidikan untuk anak-anak. Karena pendidikan itu harus terus terjadi dari orang tua untuk anak-anak. Baik anak kita sekolah ataupun homeschooling.

Pendidikan apa sih ciiiz? Insya Allah dilanjutkan di tulisan-tulisan berikutnya ya.. Semoga Allah memudahkan.

Cizkah
13 April 2019

Leave a Reply