Bagaimana Memulai Homeschooling?

Homeschooling di Mataku

Homeschooling adalah label/nama/istilah. Bagiku seperti itu. Label yang membantu seseorang menjelaskan suatu aktifitas pendidikan/pembelajaran yang dilakukan di rumah. Dan bagiku sama saja ketika menyebutnya dengan Home Education. It’s just a name.

Jadi…saran pertamaku untuk teman-teman yang mau memulai homeschooling, gak usah pusing dengan berbagai deskripsi yang ada. Kita bukan sedang/akan melakukan sesuatu yang disesuaikan dengan suatu label. Tapi sebaliknya, kita akan melakukan sesuatu yang membantu perkembangan anak (peserta didik kita, mad’u kita)  dari berbagai sisi – utamanya diniyah – terserah nanti namanya itu mau homeschooling, homeeducation, dll.

Kurikulum Homeschooling?

Ini adalah bagian yang cukup bikin jiper dan pusing beberapa ibu yang baru akan memulai homeschooling. Hellow? Benar gak?

Kalau untuk ibu-ibu yang mau homeschooling-in anaknya yang udah usia SD dan di pertengahan mereka belajar…mungkin boleh bingung. Tapi insyaAllah tetap ada solusi setelah dijalankan pelan-pelan.

Nah…untuk teman-teman yang anaknya masih usia Batita or Balita…jangan bingung wokeh?

Kenapa… ? Next paragraph

Salah Paham tentang Homeschooling

Dari awal, yang paling bagus kita sudah “menanamkan” berbagai pendidikan ke anak kita yang sesuai dengan perkembangannya. Banyak hal yang kita lakukan sehari-hari bersama anak-anak adalah sebuah pendidikan. Mengajarkan anak doa sebelum tidur, masuk kamar mandi, sebelum makan. Belum lagi berkaitan dengan adab dan akhlak. Makan dengan tangan kanan, taat dengan ummi dan abi, sayang dengan adik, menjadi anak yang jujur, pemberani dsb.

Nah…ketika pun akhirnya memutuskan homeschooling  di usia dini yang memang mengarah ke pembelajaran yang biasa ada di sekolah, maka yang perlu diingat bahwa yang utama untuk mereka di usia batita/balita adalah KESIAPAN BELAJAR.

Kesiapan belajar ini adalah berbagai hal yang membantu si anak untuk nantinya bisa menyerap kegiatan belajar mereka. Misal, mereka sudah tahu arah kanan kiri, atas bawah (ini berguna untuk mengenal huruf). Dia juga sudah bisa membuat garis-garis lengkung, lurus, menyiku dst (ini berguna untuk saat belajar menulis). Mereka sudah bisa menerima kalimat perintah dan menjalankannya dan seterusnya.

Yang paling penting menurut aku, di usia yang masih awal ini adalah membimbing dan membentuk kecintaan buah hati akan dunia belajar. Jangan malah karena trauma saat mendapat materi ajar di usia dini yang tidak tepat, membuat mereka “malas” dan tak semangat.

Yang aku maksud salah paham di sub judul di atas adalah, jangan sampai kita terjerembab dalam “label” homeschooling tadi, sehingga dengan serta merta yang akan kita terapkan pada buah hati kita adalah “Ayo kita belajar membaca” “ayo kita belajar menulis” dan lain sebagainya. Bukan…bukan itu.

Banyak hal menyenangkan yang bisa dikerjakan untuk anak usia batita dan balita dan bahkan sifatnya biasanya spontan (pengalaman pribadi sih seperti itu hehe). Terlalu banyak hal-hal kecil yang justru berkesan dan merupakan pembelajaran yang sulit aku ceritakan.

Hampir semua hal bisa menjadi tema belajar.

Pengalaman ber-homeschooling dengan Ziyad

Nah…ini adalah cerita sedikit tentang awal aku menyiapkan diriku dan Ziyad untuk ke depannya jika memang mesti menerapkan sekolah di rumah. Aku sendiri gak neko-neko dari awal ketika pun mulai belajar membentuk ritme “belajar” yang nantinya akan disebut homeschooling. Waktu awal-awal aku sempat canggung sendiri, “Eh aku tuh homeschooling ya? Perasaan gitu-gitu aja.” Dan terakhirnya baru sadar, owalah…ya perasaan dari dulu juga udah mendidik Ziyad macam2 kok (yang baca blog ini dan baca perkembangannya insyaAllah kurang lebih paham).

Setelah setahunan lebih, alhamdulillah memang makin sadar tentang hal-hal yang aku tulis di postingan ini.

Gak neko-neko karena poin penting yang aku bilang tadi. Gak pengen Ziyad stress, pun akunya juga stress karena dorongan kemampuan yang bukan pada tempatnya. InsyaALlah nanti cerita di postingan sendiri.

 Jadi Mulai dari Mana?

Mulai sekarang juga. Coba dari satu hal dulu yang dirutinkan. Misalnya hafalan. InsyaAllah nanti teman-teman sudah tersibukkan mencari metode dan cara yang tepat untuk buah hati.  Dan biasanya ini butuh perjuangan lho. Ingat…jangan sampai ia membenci Al-Qur’an karena cara kita yang salah dalam mengajarkan.

Nanti setelah itu pelan-pelan baru ditambah aktifitas lainnya yang akan dirutinkan.

Dan aktifitas sehari-hari pun banyak sekali yang bisa dijadikan bahan pembelajaran.

Dan ingat, tetap usahakan disesuaikan dengan perkembangannya dan kemampuannya.  Karena belajar adalah proses…bukan perlombaan. Sekali-kali jangan pernah memacu dan menganggap negatif anak kita karena melihat anak lain di usianya ternyata terlihat lebih “wah”.

Yang sangat penting dan aku rasakan sendiri dalam perjalanannya nanti, kita sebagai pendidik juga akan banyak belajar…belajar mengubah cara pandang dan pola pikir kita.

Semoga sedikit membantu kebingungan teman-teman yang baru akan mencoba  homeschooling.

 

2 Comment

  1. umm abdirahman says:

    kalo anak 12-24 mos, blajar corat coret masuk homeschooling juga brarti ya =P?

  2. cizkah says:

    iya dong…kan melatih perkembangan motorik halusnya tu ^^

Leave a Reply