Saat ke GIK UGM, ketika menunggu makanan datang, Ziyad mencurahkan kegelisahannya. Dia bilang, dia sepertinya perlu libur satu hari mengajar. Kalau dipikir-pikir, udah hampir 3 tahun dia ngajar, dan selama itu dia full ngajar setiap hari.
Alhamdulillah, aku emang udah kepikiran tentang ini sebelumnya baru-baru ini. Karena aku memang kasihan melihat dia. Karena semester 3 ini terasa lebih padat. Pas akhir pekan, pagi atau malam dia selalu ada ngajar. Makanya aku udah pertimbangan gimana biar dia ada libur satu hari. Alhamdulillahnya lagi juga, sepertinya kondisinya sekarang lebih mudah.
Alhamdullillah, Sabtu pekan lalu, 5 September 2026, bisa ke Gelanggang Inovasi dan Kreativitas UGM sama anak-anak. Tujuan utamanya sebenarnya ke Brilliant Books Store. Tadinya, Abang kepikiran berdua aja dulu sama aku. Akhirnya tapi nawarin anak-anak dan tentu saja disambut semangat sama tiga sekawan.
Sore itu, habis ashar, Ziyad keluar ke gym “Majapahit” di Pogung. Thoriq nyepeda. Tadinya ngira Ziyad sama Thoriq ga bakal ikut. Alhamdullillah Allah mudahkan semuanya pas. Pas kami mau berangkat pakai taksi, Thoriq pulang. Sempat cerita kenapa akhirnya dia nyepedanya jadi 16km. Soalnya aku udah pesenin ga usah kejauhan. Karena sebelumnya udah pernah 19km.
Kami duluan berangkat. Dia sama Ziyad jadi bersih-bersih dulu karena habis olahraga dan mereka berangkat naik motor.
Sebelum ke GIK, sholat Maghrib dulu di masjid kampus UGM yang sebenarnya di sana juga ada cerita. Tapi kita fokus ke Gelanggang Inovasi dan Kreativitas UGM ini dulu dan toko buku yang ada di sana.
Awal dari diadakannya sharing ini adalah karena ketika aku share pengumuman jadwal ujian masuk universitas di Instagram. Waktu itu, ada beberapa dm yang nanyain terkait penjurusan dan hal-hal terkait itu. Dibarengi juga kabar dari teman-teman yang berencana memasukkan anaknya ke pondok. Baik tingkat SMP ataupun tingkat SMA.
Hari Ahad kemarin, aku sempat post di story ig salah satu catatan aku di buku ini. Ada beberapa teman yang tanya, “Ini buku apa?”
Aku gak bisa jawab langsung, karenaa….karena buku ini gak “seindah” di catatan yang aku tulis di akhir bab. Perlu merenung dan berpikir dulu untuk membuat catatan ini.
Mau catat di sini kejadian hari ini. Percakapan sama Kholid abis setoran Al-Fath hari ini Senin, 24 Agustus 2026.
Kholid nanya: “Mi, berarti Kholid nabung 3 tahun?”
Aku: “Buat apaan?”
Bingung soalnya dia dari kemarin ganti-ganti minta hadiah Shod, kirain masih ada hubungannya sama hadiah hafalan. Ternyata…
Kholid jawab, “Buat bayar servis laptop.”
Aku:” 😂😆😊😁 ☺️ Ya engga…insya Allah Ummi yang bayar. Emang Kholid kenapa kepikiran gitu?
Dia jawab, “Soalnya Bang Thoriq tadi nyuruh nabung.” Bang Thoriqnya sengaja tadi dan sebenarnya ya ga serius..sekadar omongan dia supaya Kholid ngerasa bertanggung jawab kayanya. Soalnya ini dibenerin emang supaya bisa buat belajar dia.
Anak-anak yang baru dikeluarkan dari pondok—dari yang kami alami—seperti “lupa” dengan jati dirinya. Mereka lupa dengan apa minatnya dulu, apa kekuatan yang mereka miliki, bagaimana kultur mereka ketika berada di rumah sebelum ke pondok dulu.
Perlu waktu dan pendekatan bertahap supaya mereka menyadari kembali diri mereka sendiri. Kesadaran yang diharapkan muncul dari diri mereka sendiri. Ini penting karena supaya langkah kehidupan mereka selanjutnya gak kemudian dikatakan “dipaksa” oleh orang tua. Keputusan langkah kehidupan itu adalah atas kesadaran yang sudah tumbuh di mereka.
Sebulan terakhir, bisa dibilang, salah satu fokusku adalah menyelesaikan amanah mengajar bahasa Arab. Terutama karena sisa-sisa bab Manshubat ini termasuk bab-bab yang cukup “berat” .
“>
Susun Modul Sendiri
Untuk mengajar ini, setiap pertemuannya aku harus susun modul baru. Ini karena kitab yang dipelajari adalah matan Al Ajurumiyyah.
Kitab syarh yang ada seperti At Tuhfatus As Saniyah isinya gak semua bisa dipelajari untuk orang yang baru belajar. Tadinya, aku pikir penyusunan ini akan lebih mudah karena ada kitab Al Jami’ Lisyuruhi Al Ajurumiyyah yang cara penulisannya juga banyak menggunakan bagan atau mindmap.
Ternyata, saat mulai menyusun modul-3, barulah aku mulai sadar aku gak mungkin ambil begitu saja materi dari Al Jami. Trkadang bagan-bagan yang ada bisa bikin bingung karena sudah pengelompokan dari materi yang belum tentu sudah dipahami oleh orang yang baru belajar.
Total alhamduilllah 23 modul untuk proses pembelajaran ini. Artinya proses belajar ini sebenarnya “hanya” 23 pertemuan. Insya Allah aku cerita tentang perjalanan proses belajar ini di postingan lainnya.
Oh ya, maksudnya susun modul sendiri ini tetap berdasarkan kitab-kitab syarh ya. Cuma materi yang diambil, susunannya, layoutnya aku sesuaikan untuk orang yang baru belajar bahasa Arab.
Hari Sabtu tanggal 18 Juli 2026, aku ke toko buku Toga Mas sama Abang. Berdua aja. Alhamdulillah, sejak Abang bisa naik motor lagi 4 bulan terakhir, hal kaya gini bisa dilakuin lagi. Pas lagi perlu keluar sebentar keluar dari rutinitias dan bukan yang acara bareng anak-anak, tujuan kami memang biasanya ya ke toko buku.
Biasanya lagi, hal kaya gini juga dadakan. Bisa dibilang seringnya malam. Keluar jam 8 malam. Kalau Toga Mas, sebelum 9 tepat, toko sudah dimatikan dan sudah ditutup-tutup. Jadi memang sekadar “refershing” sebentar aja lihat-lihat buku. Syukur-syukur ada buku yang menarik yang bisa dibeli walau buku kecil.
Sebenarnya, hari Jumat malam, aku meriang. Puncak meriang. Alhamdulillah masih bisa ngajar kelas bahasa Arab. Alhamdulillah Sabtu-nya udah mulai enakan.
Mungkin karena pekan itu adalah pekan yang berat yang menghabiskan energi fisik yang mental, aku merasa perlu keluar dan kepikiran pingin ke toko buku. Tapi sempat ragu dan ngomong ke Abang, “Tapi aku belum selesai baca buku-buku yang kemarin.”
“Gpp,” kata Abang. Abang juga lagi pingin lihat-lihat buku.
Sampai di sana, keliling-keliling sengaja mencari buku sastra kecil. Berusaha rileks aja pas di sana. Menikmati melihat-lihat buku. Mengira-ngira buku mana yang bisa dibeli atau yang perlu ditahan dulu.
Sampai bingung mau mulai darimana, padahal keinginan buat nulisnya udah menggebu-gebu dan yang mau ditulis itu sebenarnya banyak banget.
Kok aku bingung banget ya mau jelasin yang mau aku urai dari kepala.
Setahun terakhir, ada banyak hal yang membuat aku merasa…merasa apa ya. Merasa berubah? Mungkin.
Tapi perubahan ini juga karena banyak hal yang aku temui setahun terakhir. Bahkan semakin banyak lagi pelajarannya selama 6 bulan terakhir ini.
Aku ingat, dulu waktu aku disakiti oleh teman-teman ketika SD, aku mulai belajar bahwa dunia itu ternyata isinya gak semuanya “baik-baik”. Tapi itu adalah kenyataan dengan tolak ukur anak-anak. Sekarang, di dunia orang dewasa, ragam dan bentuknya semakin banyak. Sesuatu yang tadinya bagiku mustahil, ternyata terjadi bahkan di orang-orang yang aku kenal atau bahkan dekat denganku.
IXL.com adalah media belajar untuk latihan anak. Ngebantu untuk anak latihan dan menambah pengetahuan. Bisa dibilang, mereka ga berasa ngerjain BANYAK banget soal. Malah penasaran pas prosesnya. Untuk IXL ini, berbayar ya 😊.
Aku udah pernah pakai IXL dari masa Ziyad kecil. Dari pakai fitur gratisannya (bisa ngerjain 20 soal) sampai akhirnya mutusin berlangganan. Slide 14 dan 15 ada rekaman pas tahun 2017 dan 2021.
Aku pakai yang di playbook aja karena buat baca di hp yang hp aku android :). Ini berasa banget insya Allah pas lagi menyusui ya. Karena kan emang diam di satu tempat. Daripada scroll gak abis-abis, mending dipakai baca bisa dapat berapa halaman insya Allah.
Kalau sekarang, karena udah gak nyusuin, bisa dibilang aku jarang beli e-book. Kecuali memang yang gak ada atau versi cetaknya mahal, seperti buku berbahasa Inggris. Jadi beli yang di playbook aja :).
Mari kita mulai catat-cataat. Sebenarnya cerita tentang Thoriq dan jurusan IPA yang dipilih ga dimulai dari sini. Tapi gpp lah ya, daripada ketumpuk-tumpuk.
Melihat proses belajar Thoriq 1 tahun ini, aku merasa masih banyak celah yang harus diperbaiki.
Dan aku sadar, buat memperbaiki ini, aku perlu terjun lebih dalam lagi.
Intensif.
Sama seperti dulu ketika dia baru lepas dari pondok.