Ini adalah cerita yang tertunda setahun lamanya.
Anak-anak yang baru dikeluarkan dari pondok—dari yang kami alami—seperti “lupa” dengan jati dirinya. Mereka lupa dengan apa minatnya dulu, apa kekuatan yang mereka miliki, bagaimana kultur mereka ketika berada di rumah sebelum ke pondok dulu.
Perlu waktu dan pendekatan bertahap supaya mereka menyadari kembali diri mereka sendiri. Kesadaran yang diharapkan muncul dari diri mereka sendiri. Ini penting karena supaya langkah kehidupan mereka selanjutnya gak kemudian dikatakan “dipaksa” oleh orang tua. Keputusan langkah kehidupan itu adalah atas kesadaran yang sudah tumbuh di mereka.
Kalau ada yang mengikuti milestone Thoriq dari kecil, mungkin juga bisa merasakan “arah” dan “bakat” yang dimiliki dia. Bagaimana dia suka banget dengan hal yang berbau mesin, teknik, rakit, tank dan sejenisnya itu. Dia ingat berbagai jenis tank, pesawat, jenis senjata, komponen-komponen, detil-detil di berbagai kendaraan dan yang sejenis itu. Dulu sekali dia pernah tanya ada gak kuliah yang bisa bikin tank. Pernah juga kepikiran bekerja di PINDAD. Kebayang sebenarnya minatnya kemana.
Setelah dikeluarkan dari pondok dan melalui SMP kelas 3 di rumah (homechooling), selama hampir setahun itu, kalau ditanya, “Nanti SMA mau ambil apa?” jawabannya: jurusan IPS dan mau ambil ekonomi.
Aku yang membersamai dia dari bayi, homeschooling sepanjang usia SD, bisa paham bahwa dia mengambil keputusan itu karena memang belum paham dirinya atau lupa dengan dirinya. Keputusan itu, lebih karena terpengaruh apa atau siapa yang dia lihat di social media. Aku tahu siapa yang dia lihat, tontonan dia.
Selama setahun itu, aku gak maksa. Aku cuma arahkan aja dia untuk melihat jurusan-jurusan yang ada. Sosok-sosok mahasiswa yang membuat informasi tentang perkuliahan mereka. Apa yang para mahasiswa itu pelajari.
Aku juga ajak Thoriq melihat apa yang dia lakukan dulu. Apa yang sudah dia desain atau gambar ketika kecil. Waktu dia melihat apa yang dia pernah rakit, dia sampai terheran-heran sendiri ternyata dia pernah di tahap itu.
Thoriq di sini usia 10 tahun.
Setelah itu, aku juga perkenalkan beberapa jurusan yang mungkin cocok buat dia dan gambaran nanti bekerjanya bisa seperti apa. Begitulah. Namanya juga masih anak-anak usia 14, 5 tahun. Tentu saja masih minim melihat dunia. Tugas kita bukan langsung mengiyakan langsung apa pilihan mereka karena khawatir nanti dikira “maksa”. Tugas kita adalah memperkenalkan, mengarahkan, membimbing mereka. Prosesnya juga bertahap, beberapa kali, dan dengan berbagai cara.
Thoriq usia 9 tahun 2 bulan.
Di sini Thoriq 9 tahun 5 bulan.
IPA atau IPS?
Salah satu tahapan yang perlu dilalui Thoriq adalah memilih jurusan di SMA, yang kedepannya diharapkan sesuai dengan bakat dan minatnya sedari kecil. Dengan semua yang telah dilalui ini, aku merasa pilihan yang lebih tepat insya Allah adalah jurusan IPA. Karena SMA zaman sekarang, jurusan sudah dipilih dari kelas 1, makanya aku perlu mengarahkan dan menyadarkan Thoriq pilihan ini untuk dia sebelum dia masuk SMA.
Kalaupun nanti di akhir SMA, dia akhirnya memilih jurusan kuliah yang bukan bidang eksak, seenggaknya dia gak pupus dari awal karena mengambil jurusan IPS. Jurusan IPA insya Allah akan lebih fleksibel untuk dia memilih.
Waktu baru keluar dari pondok, Abang malah lebih menyarankan dia untuk mengambil IPS. Tapi pertimbangan Abang malah lebih ke aku-nya. Nanti berat untuk mengajarkan materi jurusan IPA. Aku kurang setuju dengan pertimbangan Abang. Ini bukan berarti aku gak khawatir dengan proses mengajar materi di jurusan IPA. Insya Allah tapi ini adalah sesuatu yang bisa dicari solusinya. Bukan kemudian dijadikan landasan keputusan. Begitulah, ada diskusi dan banyak pertimbangan ya untuk langkah seorang anak.
Setelah setahun lamanya, setelah ujian akhir SMP, alhamdulillah, akhirnya keluar dari lisan Thoriq bahwa dia akan memilih IPA insya Allah. Alhamdulillah.
Ini karena di bulan-bulan akhir, dia sudah mulai “merasa” bahwa minatnya adalah di komputer dan pemograman. Tenang…ini bukan keputusan akhir, insya Allah. Ini karena dia sedang banyak melihat tentang itu. Aku gak menolak dan juga gak langsung mengiyakan.
Waktu Berharga yang Sering Terlewat: Jeda Sebelum SMA
Ujian-ujian SMP selesai di pertengahan Mei 2025. Waktu itu, aku melihat ada waktu jeda sebelum benar-benar masuk ke materi SMA. Aku sendiri juga merasa perlu “menarik napas” setelah setahun terakhir konsen ke 3 anak ujian: Ziyad kelas 3 SMA, Thoriq 3 SMP, Luma 6 SD. Ziyad yang juga mesti diarahkan untuk jurusan kuliahnya. Thoriq yang juga intensif menyelesaikan hafalannya.
Aku bilang ke Thoriq, kita jeda dulu sebelum masuk ke pelajaran SMA. Bulan Juni, waktu ke toko buku, bahkan aku sengaja gak beli buku pelajaran. Aku bilang ke Thoriq, bulan depan ya insya Allah kita beli buku pelajaran IPA SMA-nya. Yang kemudian akhirnya tertunda karena bulan depannnya, Abang kecelakaan .
“Lucunya”, patokan kami di tahun ini memang kecelakaan. Pembicaraan kami biasanya nanti berkisar, “Oh, itu sebelum kecelakaan.” “Oh, itu setelah kecelakaan.”

Karena ada jeda 2 bulanan, aku minta dia belajar sesuatu yang di luar pelajaran. Kesempatan menambah skill. Alhamdulillah hafalannya juga sudah mau selesai. Tinggal 1 juz lagi.
Alhamdulillah, aku dan Abang sama-sama pernah menyentuh dunia pemograman walau gak mendalami. Aku juga sampai sekarang masih menyentuh HTML dan CSS. Abang mengarahkan Thoriq untuk belajar bahasa pemograman Python. Ini juga dengan berbagai pertimbangan memilih bahasa pemograman ini. Alhamdulillah-nya, di KhanAcademy.org ada materi bertahap tentang ini.
Semuanya berbahasa Inggris. Alhamdulillah, Thoriq juga bisa memahami materi berbahasa Inggris. Ko bisa paham. Semuanya karunia dari Allah.
Ternyata Dia Tahan Belajar Pemrograman
Alhamdulillah, ternyata dia bertahan mempelajari itu. Setiap hari dia meluangkan waktu untuk belajar. Mencatat, praktek.

Ini justru jadi penguat bahwa memang dia cocok di jurusan IPA, insya Allah. Kalau dia gak kuat atau minat, dia gak akan bertahan mempelajari ini. Thoriq intensif pelajari ini sekitar 3 bulan. Bulan keempat kelima dia sudah mulai merasa kesulitan karena memang materinya makin sulit. Alasan lain karena sekitar bulan Agustus, dia teralihkan belajar yang lain, yaitu belajar software animasi After Effect dan software 3D Blender.

Setelah setahun, alhamdulillah kemampuan dia di animasi, benar-benar terlihat. Akhir-akhir ini kami akhirnya mengarahkan ke yang lebih dasar lagi, yaitu HTML dan CSS. Kenapa gak dari awal dia diminta belajar ini? Apalagi aku memang sudah sangat familiar dengan ini. Karena pada waktu itu fokusnya ke pemograman dan saran dari Abang memang langsung ke Python. Tapi setelah banyak pengetahuan lainnya yang kami dapatkan, ternyata kemampuan HTML dan CSS ini insya Allah juga mendukung di dunia pemograman/aplikasi. Gak hanya terbatas untuk dunia web aja.
[Cerita tentang bahasa Inggris dan animasi semoga bisa diceritakan di tulisan lain]
cizkah
Jogja – Selasa, 4 Agustus 2026


