Progres Buku Mendidik Al-Qur’an di Rumah

Tadi malam, akhirnya nangis lagi—bukan sesunggukan—tangisan campur aduk capek, sedih, ngerasa otak penuh dll, pas udah di kasur menjelang tidur.

Aku bilang, “Bang aku capek banget ngedit buku-nya. Belum jadi-jadi juga.” Nadanya udah campur aduk udah mengarah ke nangis yang akhirnya nangis juga sih.

Aku bilang lagi, “Aku ngerjainnya kan biasanya juga udah capek macem-macem. Jadinya tambah berat. “

“Dek, kerasa berat bukan karena Adek capek. Tapi emang bukunya berat. Mau Adek lagi gak capek juga tetap aja terasa berat.”

Baca selengkapnya Progres Buku Mendidik Al-Qur’an di Rumah

Catatan Taekwondo Anak-Anak

Belum lama ini aku share di story kalau Luma mulai ikut latihan Taekwondo sejak tanggal 18 September 2026. Alhamdulillah.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa Luma ikut Taekwondo. Dengan satu sudut pandang, pilihan ini akan dianggap aneh. Bukankah begini, bukankah begitu. Seperti aku bilang, bahwa perjalanan sampai di titik ini, bukan perjalanan yang singkat. Tapi insya Allah di kesempatan lain akan aku ceritakan lebih jelas. Untuk sekarang, aku mau bahas dari sisi Taekwondonya itu sendiri :).

Baca selengkapnya Catatan Taekwondo Anak-Anak

Fokus dan Langkah Kehidupan Kita

Kemarin abis diskusi sama seseorang yang sedang bersedih karena ada salah satu sosok yang cukup dekat tapi malah jadi seperti kurang mendukung pilihannya bahkan cenderung menyalahkan.

Aku rasa kita seringkali kecewa dengan manusia karena meyakini dan memercayai bahwa dia akan begini dan begitu. Apalagi sosok ini dekat dengan kita. Apalagi kalau sosok ini “harusnya” lebih paham dengan keilmuannya.

Ketika kita mendapati sang sosok tidak menjalankan apa yang kita percayai, disitulah kita merasa “dikhianati”. Dan karena itulah kita jadi merasa sangat sedih sekaligus kecewa.

Di sini kita bisa memahami maksud lain dari kalimat “jangan berharap pada manusia”. Termasuk berharap bahwa jalan kita akan sama dengan dia, atau jalan dia akan sama dengan kita. Berharap bahwa dia akan mengerti kita dan mendukung kita dalam langkah-langkah kehidupan kita.

Salah satu pesan aku lagi adalah kadang orang mempertanyakan langkah kita lebih karena apa yang ada di dirinya. Jadi, fokusnya lebih kita memahami cara berpikir dia saja, dan tidak mengharapkan dia memahami kita. Karena ini sebenarnya tentang “dia”.

Catatan penting:
Ini kalau langkah kehidupan kita pada dasarnya tidak bertentangan dengan yang syariat ajarkan. Karena bisa jadi kalimat aku di atas diputarbalikkan untuk pembenaran bagi orang yang melakukan hal yang tidak sesuai secara syariat atau norma kehidupan. Semisal berbakti kepada orang tua: ada saudara yang terlihat kurang adab kepada orang tua, kemudian diingatkan oleh saudara lainnya. Maka tidak patut saudara yang dingatkan kecewa karena merasa saudara lainnya tidak memahami dia dan merasa dialah yang benar.

Baca selengkapnya Fokus dan Langkah Kehidupan Kita

Sharing Pondok #5

Awal dari diadakannya sharing ini adalah karena ketika aku share pengumuman jadwal ujian masuk universitas di Instagram. Waktu itu, ada beberapa dm yang nanyain terkait penjurusan dan hal-hal terkait itu. Dibarengi juga kabar dari teman-teman yang berencana memasukkan anaknya ke pondok. Baik tingkat SMP ataupun tingkat SMA.

Baca selengkapnya Sharing Pondok #5

Review Buku Sastra: “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis

Hari Ahad kemarin, aku sempat post di story ig salah satu catatan aku di buku ini. Ada beberapa teman yang tanya, “Ini buku apa?”

Aku gak bisa jawab langsung, karenaa….karena buku ini gak “seindah” di catatan yang aku tulis di akhir bab. Perlu merenung dan berpikir dulu untuk membuat catatan ini.

Catatan di bab "Nasehat" dari buku A.A. Navis, Robohnya Surau Kami
Catatan di bab “Nasehat” dari buku A.A. Navis, Robohnya Surau Kami
Baca selengkapnya Review Buku Sastra: “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis

Bulan Terakhir Mengajar Bahasa Arab

Sebulan terakhir, bisa dibilang, salah satu fokusku adalah menyelesaikan amanah mengajar bahasa Arab. Terutama karena sisa-sisa bab Manshubat ini termasuk bab-bab yang cukup “berat” .

“>

Susun Modul Sendiri

Untuk mengajar ini, setiap pertemuannya aku harus susun modul baru. Ini karena kitab yang dipelajari adalah matan Al Ajurumiyyah.

Kitab syarh yang ada seperti At Tuhfatus As Saniyah isinya gak semua bisa dipelajari untuk orang yang baru belajar. Tadinya, aku pikir penyusunan ini akan lebih mudah karena ada kitab Al Jami’ Lisyuruhi Al Ajurumiyyah yang cara penulisannya juga banyak menggunakan bagan atau mindmap.

Ternyata, saat mulai menyusun modul-3, barulah aku mulai sadar aku gak mungkin ambil begitu saja materi dari Al Jami. Trkadang bagan-bagan yang ada bisa bikin bingung karena sudah pengelompokan dari materi yang belum tentu sudah dipahami oleh orang yang baru belajar.

Total alhamduilllah 23 modul untuk proses pembelajaran ini. Artinya proses belajar ini sebenarnya “hanya” 23 pertemuan. Insya Allah aku cerita tentang perjalanan proses belajar ini di postingan lainnya.

Oh ya, maksudnya susun modul sendiri ini tetap berdasarkan kitab-kitab syarh ya. Cuma materi yang diambil, susunannya, layoutnya aku sesuaikan untuk orang yang baru belajar bahasa Arab.

Baca selengkapnya Bulan Terakhir Mengajar Bahasa Arab

Ketemu Buku Bacaan Anak dari Kemdikbud (Diknas) di Toga Mas

Hari Sabtu tanggal 18 Juli 2026, aku ke toko buku Toga Mas sama Abang. Berdua aja. Alhamdulillah, sejak Abang bisa naik motor lagi 4 bulan terakhir, hal kaya gini bisa dilakuin lagi. Pas lagi perlu keluar sebentar keluar dari rutinitias dan bukan yang acara bareng anak-anak, tujuan kami memang biasanya ya ke toko buku.

Biasanya lagi, hal kaya gini juga dadakan. Bisa dibilang seringnya malam. Keluar jam 8 malam. Kalau Toga Mas, sebelum 9 tepat, toko sudah dimatikan dan sudah ditutup-tutup. Jadi memang sekadar “refershing” sebentar aja lihat-lihat buku. Syukur-syukur ada buku yang menarik yang bisa dibeli walau buku kecil.

Sebenarnya, hari Jumat malam, aku meriang. Puncak meriang.
Alhamdulillah masih bisa ngajar kelas bahasa Arab. Alhamdulillah Sabtu-nya udah mulai enakan.

Mungkin karena pekan itu adalah pekan yang berat yang menghabiskan energi fisik yang mental, aku merasa perlu keluar dan kepikiran pingin ke toko buku. Tapi sempat ragu dan ngomong ke Abang, “Tapi aku belum selesai baca buku-buku yang kemarin.”

“Gpp,” kata Abang. Abang juga lagi pingin lihat-lihat buku.

Sampai di sana, keliling-keliling sengaja mencari buku sastra kecil. Berusaha rileks aja pas di sana. Menikmati melihat-lihat buku. Mengira-ngira buku mana yang bisa dibeli atau yang perlu ditahan dulu.

Baca selengkapnya Ketemu Buku Bacaan Anak dari Kemdikbud (Diknas) di Toga Mas

Pelajaran Kehidupan

Sampai bingung mau mulai darimana, padahal keinginan buat nulisnya udah menggebu-gebu dan yang mau ditulis itu sebenarnya banyak banget.

Kok aku bingung banget ya mau jelasin yang mau aku urai dari kepala.

Setahun terakhir, ada banyak hal yang membuat aku merasa…merasa apa ya. Merasa berubah? Mungkin.

Tapi perubahan ini juga karena banyak hal yang aku temui setahun terakhir. Bahkan semakin banyak lagi pelajarannya selama 6 bulan terakhir ini.

Aku ingat, dulu waktu aku disakiti oleh teman-teman ketika SD, aku mulai belajar bahwa dunia itu ternyata isinya gak semuanya “baik-baik”. Tapi itu adalah kenyataan dengan tolak ukur anak-anak. Sekarang, di dunia orang dewasa, ragam dan bentuknya semakin banyak. Sesuatu yang tadinya bagiku mustahil, ternyata terjadi bahkan di orang-orang yang aku kenal atau bahkan dekat denganku.

Baca selengkapnya Pelajaran Kehidupan

Celah Membaca Saat Menjadi Ibu

Baca E-Book

Aku pakai yang di playbook aja karena buat baca di hp yang hp aku android :).
Ini berasa banget insya Allah pas lagi menyusui ya. Karena kan emang diam di satu tempat. Daripada scroll gak abis-abis, mending dipakai baca bisa dapat berapa halaman insya Allah.

Kalau sekarang, karena udah gak nyusuin, bisa dibilang aku jarang beli e-book. Kecuali memang yang gak ada atau versi cetaknya mahal, seperti buku berbahasa Inggris. Jadi beli yang di playbook aja :).

Baca selengkapnya Celah Membaca Saat Menjadi Ibu

Cerita di Balik Batalnya Berbagi Offline di Acara di Masjid Suciati

Dari mana aku mulai cerita ini. Karena sebenarnya perjalanan untuk sampai di titik “pembatalan” ini cukup panjang. Semuanya masih tersimpan rapi, mulai dari aku diminta untuk mengisi, sampai di titik aku baru menyadari bahwa ternyata acara di mana aku diminta jadi pembicara dibarengi dengan acara jual beli.

Awal Dihubungi

Awal aku dihubungi adalah tanggal 31 Januari 2026. Momen ini adalah momen di mana aku masih dalam kondisi berduka karena mba Maya baru meninggal. Aku masih berusaha menata hati dan berusaha semangat melakukan amanah-amanah. Homeschooling, pekerjaan, ngajar bahasa Arab. Tiga ini yang berusaha banget aku tunaikan disela-selai dengan belajar perkuliahan yang di semester ini sudah aku kurangi menjadi part time. Walau rasanya tetap berat sekali karena ada kejadian mba Maya meninggal.

Aku gak langsung mengiyakan untuk menjadi pembicara. Aku sadar, mengisi suatu acara perlu persiapan penyusunan materi, penyiapan presentasi, trial penyampaian sesuai waktu yang diberikan, yang semuanya ini pastinya juga butuh waktu dan perhatian yang cukup banyak.

Aku sampaikan kalau aku akan ada ujian final exam di awal Februari untuk kuliah bahasa Arabku di IOU, yang untuk S2 ini sungguh luar biasa materinya. Ditambah lagi akan ketemu Ramadhan dan Syawwal yang pola kesibukannya sudah bisa diukur, insya Allah. Apalagi Ramadhan tahun ini, Abang masih belum bisa mengendarai motor.

Aku sampaikan, insya Allah akan aku kabari nanti setelah Ramadhan.

Baca selengkapnya Cerita di Balik Batalnya Berbagi Offline di Acara di Masjid Suciati

Sepekan Yang Gak Biasa

Aku agak mikir mau nulis ini. Antara, apakah biarin aja udah disimpan jadi cerita pribadi atau jadi catatan yang bisa dibaca ulang.

Tapi kayanya aku catat aja karena ini kalau dipikir-pikir emang agak aneh banget. Mau dibilang, “Paling cuma itu.” “Kayanya sebabnya ini deh”, “

Setelah Migren Parah dan Muntah

Setelah kejadian migren parah dan muntah (padahal udah lama banget gak muntah), besoknya hari Sabtu, aku ke dokter gigi. Minta anterin Abang. Ah..belum cerita alhamdulillah Abang udah bisa naik motor. Bulan ke-8 pasca kecelakaan.

Senin ngajak anak-anak ke toko buku karena mereka udah lamaa banget gak keluar rumah untuk jalan-jalan. Mereka juga udah pingin banget beli buku. Terakhir ke toko buku bulan Desember awal.

Kondisi aku, ya kaya biasa aja. Masih ada bawaan lemes abis migren itu. Kadang ngerasa agak “goyang”. Tapi masih bisa bersemangat insya Allah.

Hari-Hari Seperti Biasa

Karena merasa ini gak enak badan yang biasa, jadi aku juga melalui hari seperti biasa. Tapi aku meliburkan kelas bahasa Arab yang aku ampu. Karena buat nyiapin modul sama ngajar butuh energi yang sangat besar. Apalagi nyusun modul, ini gak bisa cuma sehari. Jadi aku fokus ke rileks aja, fokus ke yang utama perlu dikerjain, homeschooling, kerjaan.

Nah..pekan itu, aku lagi semangat aja pingin coba-coba resep baru yang simpel. Aku masak sarapan yang sebenarnya aku jarang masak buat sarapan. Tapi aku lagi pingin. Semuanya juga seneng. Karena masakannya juga hasilnya alhamdulillah enak dan cocok semuanya.

Aku emang biasa tidur lagi karena untuk “bayar” kekurangan tidur di waktu malam, sekaligus niat qoilulah. Anehnya, setelah bangun siangnya, aku selalu dalam keadaan gak segar, tetap mengantuk.

Lebih aneh lagi, malamnya jam 9-an aku juga udah gak tertahankan ngantuknya dan akhirnya tertidur-tidur. Gak kuat melakukan aktivitas apapun. Padahal biasanya aku bakal memanfaatkan waktu habis isya untuk kerja.

Cek Lab

Rabu:

Rabunya ternyata kondisiku gak berubah. Paginya aku merasa fit-fit aja. Tapi siangnya ngedrop udah gak terlalu bisa banyak beraktivitas. Dan aku mulai merasa gak enak sendiri dan gak menjadi diri aku yang biasa. Karena secapek-capeknya biasanya masih bisa bertahan. Kalaupun ngantuk, tidur, nanti bangun malam bakal udah seger dan bisa beraktivitas insya Allah.

Baca selengkapnya Sepekan Yang Gak Biasa

“Izin…”

Hari Jumat kemarin, tanggal 10 April kami puasa. Yang lain puasa Syawal. Aku sama Luma puasa qodho.

Sebenarnya, ritme tubuh aku tepatnya dari sejak awal Februari karena final exam, kemudian Ramadhan, lebaran, sampai akhirnya baru sepekan dari lebaran itu langsung ngurus macem-macem masalah birokrasi (kartu keluarga, KTP, pajak motor dll), itu semua udah tanpa jeda.

Cuma jeda sehari dari ngurus birokrasi ke dukcapil (yang itu juga kehujanan dan telat makan, juga telat istirahat plus kurang tidur), abis itu Rabu-nya tanggal 1 April, kembar sunat. Ini pun tentu aja abis itu ada momen-momen kurang istirahatnya. Selama sepekan itu harap cemas dan bahkan di hari ke-10 masih sempat bawa Kholid ke klinik Kimia Farma untuk cek kondisinya.

Waktu itu, aku udah mulai ngerasa tambah gak karu-karuan sih sebenarnya. Susah diceritain gimana ritme istirahat dan gak istirahatnya di sini. Ada ketemu momen aku udah cape tapi gak bisa istirahat. Pas udah istirahat kebangun di tengah malam, atau dini hari, abis itu non stop gak bisa tidur sampai siang.

Jumat dini hari itu, dari kebangun dari tidur itu, aku udah ada tanda-tanda migren. Biasanya migren itu kalau mau haid aja. Tapi yang jelas ini bukan karena aku mau haid, karena aku baru aja selesai haid sepekan yang lalu. Aku pikir kalau aku banyak minum, insya Allah bisa berkurang.

Ternyata menjelang Subuh mulai tambah sakit. Mau minum obat migren tapi udah keburu minum kapsul habbatussauda yang dikasih Abang. Gak berani minum dalam satu waktu dengan obat kimia. Abis itu, siang, migrennya makin menghebat, sangat menghebat.

Baca selengkapnya “Izin…”

Hadiah Sarung di 10 Hari Terakhir Ramadhan

Di 10 hari terakhir Ramadhan kali ini (tahun 2026/1447H), alhamdulillah Ziyad mendapat sarung lagi seperti tahun kemarin. Hadiah sarung ini adalah titipan dari salah seorang bapak di kampung sini yang disampaikan melalui takmir masjid. Aku gak paham apakah sarung itu dia dapatkan karena menjadi imam. Sarung pertama yang dia dapatkan ini, hanya dia yang menerima. Waktu itu dia udah seneng.

Baca selengkapnya Hadiah Sarung di 10 Hari Terakhir Ramadhan