Hari Ahad kemarin, aku sempat post di story ig salah satu catatan aku di buku ini. Ada beberapa teman yang tanya, “Ini buku apa?”
Aku gak bisa jawab langsung, karenaa….karena buku ini gak “seindah” di catatan yang aku tulis di akhir bab. Perlu merenung dan berpikir dulu untuk membuat catatan ini.

Dan..jawabannya adalah sesuai judul tulisan ini, judul bukunya adaalah Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis. Judul buku ini diambil dari salah satu judul tulisan di buku ini.
Iya, judul buku ini dan penulisnya, sering muncul di soal bahasa Indonesia. Biasanya pertanyaanya: “Siapakah penulis dari buku Robohnya Surau Kami?” Atau sebaliknya, ditanya “Apa buku yang dikarang oleh A.A. Navis?”

Sampai akhirnya aku baca buku ini, aku baru sadar betapa berarti dulu di zaman kami cuma diperkenalkan “kulit”nya. Aku belum pernah membaca tulisan “Robohnya Surau Kami” atau tulisan lainnya dari A.A Navis. Pantas kalau untuk “mengingat” judul buku atau penulisnya mungkin anak-anak gak terlalu membekas. Karena mereka gak pernah diperkenalkan langsung dengan tulisannya atau memegang bukunya langsung.
Tapi…setelah baca tulisan pertama di buku ini “Robohnya Surau Kami”, aku jadi membayangkan, mungkinkan cerita ini dibiarkan lepas begitu saja dibaca oleh siswa? Karena, sangat perlu diskusi dan pembahasan tentang isi cerita dan pesan di dalamnya.

Cerita yang Bervariasi
Bukan berarti buku ini gak bagus, tapi bukan juga berarti ini buku ini akan nyaman untuk dibaca.
Buku ini termasuk tipis. Terdiri 10 cerita (tapi cerita ke-10 gak terlalu aku baca karena seperti catatan dari A.A. Navis tentang dirinya sendiri).
Cerita-cerita yang ada di dalamnya, belum pernah aku temukan gaya bercerita seperti itu sebelumnya. Dari cerita pertama, “Robohnya Surau Kami”, aku udah terkesiap dengan akhir ceritanya.
Walaupun buku ini tipis, ternyata bukan berarti bakal bisa cepat dibaca. Setiap membaca per cerita, aku perlu merenung dulu dan memikirkan apa maskud ceritanya, pesan apa yang ingin disampaikan penulis, apa catatan yang perlu aku berikan di bab itu supaya kalau nanti anak-anak akhirnya baca, bisa mendapat pesan yang lebih jelas (bukan tersirat).
Untuk Ziyad, karena dia kuliah Sastra, justru aku tahu dia malah perlu baca buku ini. Dan aku ingin sekali diskusi sama dia. Tapi dia belum selesai baca buku ini. Aku udah pesan ke dia, baca buku ini gak bisa sekali duduk atau pengen cepet selesai kaya baca novel.
Thoriq, Luma, Handzolah dan Kholid hanya aku perbolehkan membaca bab Robohnya Surau Kami, Anak Kebanggaan dan Nasehat-Nasehat. Walau pada akhirnya Luma sempat terlewat membaca Topi Helm. Kalau aku gak melarang, mungkin sudah habis dilahap dengan cepat buku ini sama Luma. Karena emang dia sesuka itu baca buku masya Allah barokallahu fiiha.
Kenapa anak-anak dilarang baca buku ini seluruhnya? Karena bahasannya terlalu berat dan banyak menyangkut kehidupan orang dewasa, pernikahan dan juga pesan yang ada terlalu berat untuk dipahami anak-anak.
Untuk bab “Anak Kebanggaan” kami bolehkan baca dan justru ini tulisan ini jadi bahan diskusi banget sama anak-anak. Kami jadi punya penggambaran untuk hal serupa terkait pendidikan anak, pengasuhan orang tua. Nama “Indra Budiman” di tulisan “Anak Kebanggaan” atau “Hasibuan” dari cerita “Nasehat-Nasehat” jadi terkadang muncul dalam percakapan.
Begitulah, kadang nasehat dan pesan terkait kehidupan memang kami dapatkan dari cerita dan buku yang sama-sama pernah kami baca.

Flashback
Abang beli buku Robohnya Surau Kami ini waktu aku, Ziyad dan Thoriq lagi di Jakarta. Waktu itu ada acara temu penulis di Toga Mas 28 Juni 2026. Ternyata buku ini memang mulai cetak ulang bulan Juni 2025 setelah sebelumnya terakhir dicetak tahun 2012. Berarti udah 13 tahun gak dicetak lagi sejak. Malah untuk era tahun 2000-an, buku ini baru cetak tahun 2002. Jadi wajar kalau selama ini ngerasa belum pernah lihat buku ini di toko buku. Soalnya aku kepikiran gitu kemarin pas akhirnya baca buku ini. ,
Pas baru pulang dari Jakarta, aku belum langsung baca. Tapi Abang udah semangat banget ngasih spoiler “bagus”nya cerita pertama sama kedua di buku ini.

Mulai Baca Tiap Bab Buku Ini Perlahan
Kayanya hari kedua di rumah, malam-malam aku mulai pegang tuh buku dan mulai baca. Pas udah selesai, aku langsung…..Aduh…gak terdefinisikan deh responnnya. Abang langsung ketawa-ketawa ngelihat respons aku. “Cerita kedua”lebih lagi, Dek. Adek harus baca.”
Seriuuuss…akhirnya aku baca dua cerita. Dan langsung aku taruh bukunya. Duuh..perlu jeda dulu. Udah langsung banyak “diskusi” di otak akuuu…
Kalau baca cerita selanjutnya, khawatir “overwhelmed” dengan hal yang harus direnungi hehehe. Sedalem itu emang setiap ceritanya.
Nah…pas baca bab ke-4 judulnya “Topi Helm”, itu aku udah gak nyaman. Rasanya kaya, “Duh, kaya buang-buang waktu nih baca ceritanya panjang ternyata tentang ‘begitu'”. Untuk catatan di bab Topi Helm ini, aku sampe tempel di awal bab, saking sebelnya pas baca bab itu. Kalau yang lain kan di akhir bab ya. Tapii…pas aku ngasih catatan buat di bab inilah, aku malah jadi menemukan “kesimpulan” yang justru baru aku sadari, “Oh…ini kan BAGUS banget berarti sebenarnya pesannya, dan bisa jadi terjadi di semua orang dalam bentuk yang lain.”

Nah…untuk bab “Pembotakan Terakhir”, itu rasanya kaya abis nonton film horor. Bukan horor setan, tapi horor yang berbau kekejaman. Perasaan gak enak. Ceritanya rasanya terlalu dark. Tapi….lagi-lagi tapi…ada pesan yang kuat dan penggambaran keadaan sosial pada masa itu atau bahkan bisa jadi sampai kini pun terjadi. Dan juga perenungan-perenungan lain terkait tetangga, anak, pengasuhan.
Belum lagi di bab Menanti Kelahiran. Aku terheran-heran gimana A.A. Navis bisa menguraikan kalimat yang ada di otak perempuan. Beneran, itu penggambaran yang sangat jitu. Cara berpikir perempuan banget. Ceritanya sendiri, sekali lagi, bikin terhenyak. Bikin mikir. Bikin…ber “Hah?” “Eh..” “Astaghfirullaah…”

Bab “Penolong” juga isinya semi horor. Aku masih belum menemukan istilah tepatnya. Bukan terkait setan-setan. Tapi lebih kejadian yang sangat aneh yang rasanya membingungkan. Tapi, di dunia ini sebenarnya juga ada hal-hal yang ternyata “aneh” yang memang benar-benar terjadi. Tapi karena kita gak pernah lihat atau jarang melihatnya, kita anggap itu gak akan terjadi atau gak pernah ada.
Belum semua bab di buku ini aku kasih catatan tertulis. Tapi sudah ada kertas terselip yang sudah aku siapkan untuk aku menuliskan catatan.
Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari kisah-kisah ini. Kalau ingin tahu isi buku ini, kamu gak bisa mendapatkannya dengan cara baca cepat atau hanya dari sinopsis atau review buku. Kamu gak bakal bisa dapat “poin”nya. Gak bisa dapat perenungannya. Tapi…kalau masih banyak buku lainnya yang lebih bermanfaat, aku rasa lebih baik membaca buku-buku lainnya, insya Allah.
Semoga bermanfaat reviewnya. Kalau gak sekarang dirasakan manfaatnya, mungkin nanti di masa depan, insya Allah.
——
Catatan tambahan: “Hah, mba Siska nonton film horor?” Hehehe..aku kebayang langsung ada yang bertanya-tanya kaya gini di pikirannya.
Mungkin ada yang belum tahu aku datang dari keluarga awam. Jadi, ya dulu-dulu pernah nonton film horor. Tapi termasuk jarang karena aku gak suka banget efek ketakutan setelah nonton walaupun tahu itu film.
Kemudian, yang juga penting untuk diingat terus adalah jangan berekspektasi terlalu tinggi sama orang lain apalagi sampai menganggap suci atau tanpa kesalahan. Nanti kamu kecewa.
Semoga Allah selalu membimbing kita dalam perjaanan hidup dan selalu berada di jalan yang lurus hingga akhir hidup kita dan mendapatkan akhir yang baik dari setiap urusan kita, dijauhkan dari fitnah dunia dan azab di akhirat.
Jogja—Kamis, 27 Agustus 2026
cizkah

