Bulan Terakhir Mengajar Bahasa Arab

Sebulan terakhir, bisa dibilang, salah satu fokusku adalah menyelesaikan amanah mengajar bahasa Arab. Terutama karena sisa-sisa bab Manshubat ini termasuk bab-bab yang cukup “berat” .

“>

Susun Modul Sendiri

Untuk mengajar ini, setiap pertemuannya aku harus susun modul baru. Ini karena kitab yang dipelajari adalah matan Al Ajurumiyyah.

Kitab syarh yang ada seperti At Tuhfatus As Saniyah isinya gak semua bisa dipelajari untuk orang yang baru belajar. Tadinya, aku pikir penyusunan ini akan lebih mudah karena ada kitab Al Jami’ Lisyuruhi Al Ajurumiyyah yang cara penulisannya juga banyak menggunakan bagan atau mindmap.

Ternyata, saat mulai menyusun modul-3, barulah aku mulai sadar aku gak mungkin ambil begitu saja materi dari Al Jami. Trkadang bagan-bagan yang ada bisa bikin bingung karena sudah pengelompokan dari materi yang belum tentu sudah dipahami oleh orang yang baru belajar.

Total alhamduilllah 23 modul untuk proses pembelajaran ini. Artinya proses belajar ini sebenarnya “hanya” 23 pertemuan. Insya Allah aku cerita tentang perjalanan proses belajar ini di postingan lainnya.

Oh ya, maksudnya susun modul sendiri ini tetap berdasarkan kitab-kitab syarh ya. Cuma materi yang diambil, susunannya, layoutnya aku sesuaikan untuk orang yang baru belajar bahasa Arab.

Ke dan Dari Jakarta

Sedang masuk ke bab-bab yang berat, barengan dengan perjalanan aku ke Jakarta di akhir Juni. Waktu ke Jakarta, nyampe hari Selasa 23 Juni dini hari. Karena persiapan dadakan keputusan hari Ahad untuk ke Jakarta. Aku belum ada kesempatan untuk susun-susun modul baru.

Waktu sampai di Jakarta, aku masih berpikir, apakah mungkin untuk melaksanakan proses belajar bahasa Arab. Kelas bahasa Arab ini biasanya diadakan hari Kamis dan Jumat pukul 20.00. Setelah melihat materinya, alhamdulillah pekan itu kami tetap bisa belajar, walaupun untuk hari Kamis harus diliburkan karena aku masih berusaha menyelesaikan menyusun modul. Jadilah kami belajar bab Maf’ul bih yang ternyata tetap memakan waktu 1 jam.

Tadinya, rencananya kami akan meluangkan waktu satu pertemuan untuk praktek. Tapi melihat sisa materi yang belum dipelajari, aku merasa ini bisa diselesaikan dalam waktu satu bulan lagi. Tapi kalau ada praktek kok akan kurang waktu sebulan dan terlalu nanggung nambah 1-2 pekan. Ini karena aku gak yakin untuk bab berat seperti Tamyiz, Istisna dan Laa akan jadi berapa modul. Belum lagi aku sampai Jogja lagi tanggal 30, dan kondisi masih capek perjalanan dan juga masih ada amanah lain di pekerjaan.

Rasanya antara yakin gak yakin bisa nyusun modul dan mengajar di pekan aku baru pulang.

Allah yang memudahkan semuanya. Allah mudahkan aku bisa dapat ide kalau prakteknya dicicil tiap pertemuan. Jadi 2-3 orang setiap abis belajar. Dengan begitu dalam waktu sebulan semua orang insya Allah sudah praktek. Sebelum-sebelumnya sebenarnya kami juga sudah praktek, tapi biasanya menghabiskan waktu cukup banyak dan kadang malah jadi kemalaman. Makanya gak di tiap pertemuan kami praktek.

Alhamdulillah, walaupun baru pulang dari Jakarta, Allah mudahkan aku bisa susun modul ke 19: bab Mashdar dan Maf’ul Muthlaq.

Bab-Bab Berat

bab-tamyiz-bahasaarabcizkah

Pekan selanjutnya untuk modul 20 adalah bab Hal dan Tamyiz. Bab tamyiz adalah bab yang cukup berat ketika dikaitkan dengan Angka. Untuk ini bahkan aku harus merevisi karena ketika pertemuan di hari Kamis, aku baru sadar ada bagian yang membuat bingung untuk orang yang baru belajar bahasa Arab. Penjelasan itu bisa disimpan dulu. Dari proses belajar ini (pesertanya sebagian besar ibu-ibu dan ada beberapa yang belum menikah), aku juga jadi banyak belajar batasan dan susunan yang cocok untuk pebelajar yang baru memulai belajar bahasa Arab insya Allah.

Apakah sudah selesai bab beratnya? Beluuum.

bab-illa-bahasaarabcizkah

Saking aku merasa khawatir dengan materi berikutnya, yaitu Istitsna dan Laa Nafiyah Lil Jins, aku langsung mencicil menyusun sejak hari Sabtu setelah pertemuan ke-20. Atau bahkan bisa dibilang, dari Jumat malam, aku sudah bolak-balik baca syarh di dua bab tersebut. Dengan mempelajari dan melihat-lihat ini, aku sudah ada bayangan sekompleks apakah materinya dan juga mereka-reka bagaimana layout dan keperluan dari modul ke-21.

Ya Allah, leganya setelah menyusun modul dan menjalankan pertemuan ke-21. Malah aku jadi merasa, ternyata bab Istitsna dan Laa ini tidak semenakutkan yang aku bayangkan. Setelah nyusun modul, ngajar dan menjelaskan ulang saat praktek, aku malah jadi merasa ternyata bab ini sebenarnya sederhana. Benar-benar merasakan banget kalimat: “If you want to learn something deeply, teach it” atau kalimat “The best way to learn is to teach” 

Cara terbaik untuk menguatkan ilmu adalah dengan mengajarkannya, insya Allah.

Pekan Terakhir

Insya Allah pekan depan adalah pertemuan terakhir dari proses belajar ini. Alhamdulillah, semoga Allah mudahkan. Semoga semuanya berakhir baik, dan menjadi ilmu yang berkah dan bermanfaat, baik untuk aku dan untuk seluruh peserta yang mengikuti proses ini.

“>

cizkah
Jogja – Selasa, 28 Juli 2026

Buku Menata Hati
Buku Menata Hati [versi cetak]
E-Book Menata Hati di Play Books

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *