Dari mana aku mulai cerita ini. Karena sebenarnya perjalanan untuk sampai di titik “pembatalan” ini cukup panjang. Semuanya masih tersimpan rapi, mulai dari aku diminta untuk mengisi, sampai di titik aku baru menyadari bahwa ternyata acara di mana aku diminta jadi pembicara dibarengi dengan acara jual beli.

Awal Dihubungi
Awal aku dihubungi adalah tanggal 31 Januari 2026. Momen ini adalah momen di mana aku masih dalam kondisi berduka karena mba Maya baru meninggal. Aku masih berusaha menata hati dan berusaha semangat melakukan amanah-amanah. Homeschooling, pekerjaan, ngajar bahasa Arab. Tiga ini yang berusaha banget aku tunaikan disela-selai dengan belajar perkuliahan yang di semester ini sudah aku kurangi menjadi part time. Walau rasanya tetap berat sekali karena ada kejadian mba Maya meninggal.
Aku gak langsung mengiyakan untuk menjadi pembicara. Aku sadar, mengisi suatu acara perlu persiapan penyusunan materi, penyiapan presentasi, trial penyampaian sesuai waktu yang diberikan, yang semuanya ini pastinya juga butuh waktu dan perhatian yang cukup banyak.
Aku sampaikan kalau aku akan ada ujian final exam di awal Februari untuk kuliah bahasa Arabku di IOU, yang untuk S2 ini sungguh luar biasa materinya. Ditambah lagi akan ketemu Ramadhan dan Syawwal yang pola kesibukannya sudah bisa diukur, insya Allah. Apalagi Ramadhan tahun ini, Abang masih belum bisa mengendarai motor.
Aku sampaikan, insya Allah akan aku kabari nanti setelah Ramadhan.
Bulan Syawwal
Alhamdulillah, karena awal diskusi untuk mengisi materi ini masih belum jelas, aku sampai menuliskan langsung di kertas supaya bisa mapping sebenarnya materi apa yang diharapkan untuk disampaikan.
Tanggal 31 Maret kami berkomunikasi lagi.

Waktu itu aku sempat diminta CV.
Karena ada proses kembar sunat, kemudian aku sakit, sempat tertunda untuk fiksasi materi yang akan aku sampaikan. Karena waktu aku sakit, aku benar-benar gak berdaya buat mikir dan melakukan banyak hal.
Alhamdulillah setelah memikirkan dan merenungkan dari berbagai sisi, Allah mudahkan aku mengurai poin-poin materi yang rencananya akan aku sampaikan, dan aku merasa insya Allah aku sudah lebih jelas untuk acara ini.
Aku buat juga cv-ku yang isinya hal-hal yang diperkukan untuk diketahui untuk acara ini. Aku berikan ini tanggal 27 April.

Jual Beli di Area Masjid
Dari awal ketika dikontak, aku sudah diberitahu bahwa acara ini akan diadakan di masjid. Dalam bayanganku, ketika ada sebuah kajian atau sharing seperti ini, aku membayangkan model kajian seperti dulu biasa aku ikuti, yang memang inti acara adalah terkait penyampaian ilmu itu sendiri.
Ketika pembuatan banner, ada salah seorang panita yang mengontak. Aku minta supaya hasil bannernya diperlihatkan dulu ke aku. Dari situ, ada beberapa revisi yang aku berikan terkait penulisan namaku dan materi yang aku sampaikan.
Dalam tahap pembuatan konten dan review konten di tim yang aku bimbing, biasanya tahapan review bertahap. Dari bagian utama dari sebuah banner yang mau difokuskan pesannya, baru ke bagian-bagian lain yang perlukan diperbaiki. Begitupula yang aku lakukan waktu mereview hasil editan dari panita.
Setelah oke untuk koreksi di bagian aku (penulisan nama dan poin materi), ketika aku lihat lagi bannernya secara keseluruhan, barulah aku lihat kata “Market Day” di bagian atas.
Hatiku langsung berdegup.
Bukankah acara ini di masjid? Dari awal aku gak diberitahu bahwa acara ini akan diadakan berbarengan dengan acara jual beli.
Akhirya aku konfirmasi. Panita memberikan foto area yang akan dijadikan tempat jual beli. Karena aku belum pernah ke masjid Suciati, aku pikir area tersebut adalah area di seberang masjid. Tapi akhirnya aku cek sendiri dengan google map, melihat secara utuh. Sampailah pada kesimpulanku bahwa area tersebut adalah termasuk area masjid.
Aku sampaikan ke panita dan aku sampaikan juga tulisan yang disusun oleh ustadz terkait ini (Hukum Jualan di Area Masjid). Akhirnya aku membuat keputusan dan segera aku sampaikan ke panitia: bahwa jika diadakan di masjid dan tetap ada jual beli, maka aku memilih mengundurkan diri. Ini terjadi tanggal 7 Mei.
Pada saat itu, panitia bilang mau mengupayakan nanya ke DKM untuk memindahkan area jual beli ke luar masjid (di luar pagar masjid).
Kepastian
Mungkin pembicara lain bisa ya, tinggal tentuin topik, abis itu bisa dengan mudahnya menyampaikan. Dari aku sendiri, mikir banget untuk menyusun materinya. Karena waktu yang diberikan 1 jam. Sedangkan materi yang aku susun aku khawatir akan lebih dari satu jam. Waktu sharing pondok aja sampai 3,5 jam.
Di satu sisi, ada banyak hal yang juga sedang aku harus lakukan. Karena semuanya membutuhkan waktu, pikiran dan tenaga. Apalagi aku akan ke Jakarta tanggal 11-13. Jadi aku berusaha bagi-bagi tenaga dan pikiran. Aku tanyakan lagi kepastian dari panitia tanggal 10 Mei.
Dari panita menyatakan kalau masih menanyakan kepastian ke DKM masjid apakah bisa dipindah ke area di samping masjid.
Bisa dibilang selama 10 hari itu aku dalam kondisi “jadi apa engga”. Tapi ya aku serahkan pada Allah. Kalau jadi, alhamdulillah, aku bisa menyampaikan ilmu yang aku ketahui, dan tentu saja itu berarti aku harus menyiapkan lebih intensif untuk penyampaian materi ini.
Kalau gak jadi, tetap alhamdulillah. Aku merasa tenang karena aku lebih memilih jalan yang lebih aman dan rasanya lebih tenang untuk hatiku dengan memilih berhati-hati untuk hal ini. Di sisi lain, alhamdulillah aku punya bekal materi yang insya Allah akan tetap bermanfaat dan bisa aku bagikan di kesempatan lain di wasilah acara lainnya.
Dibatalkan
Sampailah tadi pagi, tanggal 17 Mei 2026, aku dikontak dan berdasarkan pertimbangan panitia, aku gak jadi pembicara, dan panitia tetap mengadakan acara sesuai yang sudah direncanakan. Dari panita menyatakan sudah menanyakan pendapat ke ustadz-ustadz yang dalam hal ini memiliki perbedaan pendapat dengan aku dalam hal batasan jual beli di area masjid. Jadi, panitia tetap memilih mengadakan jual beli. Yang itu berarti sesuai yang sudah aku sampaikan, aku gak jadi pembicara dan mereka sudah menentukan pengganti aku.
Alhamdulillah. Banyak pelajaran dari kejadian ini. Misalnya, kalau ada acara mesti ditanyakan apakah ada acara lain selain acara kajian itu sendiri. Dan masih banyak lagi pelajaran lainnya yang insya Allah itu yang terbaik dari Allah.
Materi Aku
Ini adalah poin-poin materi yang rencananya akan aku sampaikan. Karena dari awal memang target utamanya adalah ibu-ibu homeschooling dan anak-anak di usia remaja. Tapi karena aku gak tahu background masing-masing keluarga, waktu itu aku putuskan harus menyampaikan lagi pemahaman ulang tentang homechooling itu dan mindset mendidik. Karena rasanya akan kurang tepat kalau membahas panjang lebar tentang homeschooling dalam sebuah keluarga, kalau poin utamanya belum dipahami. Karena pada dasarnya, homeschooling adalah bukan tentang homeschooling itu sendiri, tapi tentang pendidikan di sebuah keluarga :).
- Memahami lagi tentang “homeschooling”. Memahami tentang “Mengapa”.
- Jenis kegiatan belajar anak.
- Mindset mendidik anak.
- Memanfaatkan kekuatan homeschooling untuk proses belajar anak.
- Fase penting di usia remaja.
- Al-Qur’an.
- Gadget.
- Kesedihan (ini utamanya adalah celah yang mesti diwaspadai untuk para remaja).
- Putus asa (ini lebih ke untuk orang tua).
- Kesimpulan.
Peserta Sharing Pondok
Tadi sore (tanggal 17 Mei 2026), ada yang mengontak aku. Menanyakan kabar karena udah lama gak lihat update dari aku. Emang sejak sakit itu udah mau sebulanan jarang update story. Ia memberitahu kalau kemarin sempat lihat banner yang disebar dan berencana mau ikut kegiatan ini. Tapi hari ini melihat ada perubahan di banner.
Ini adalah teman yang pernah mengikuti sharing pondok yang pernah aku lakukan. Sharing pondok ini, waktu itu membutuhkan waktu sekitar 3,5 jam untuk penyampaian materinya dan masih dilanjutkan sesi tanya jawab di hari-hari berikutnya.

“Ujian” dari Materi yang (Rencananya) Aku Sampaikan
Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, ternyata apa yang terjadi padaku ini adalah ujian dari materi yang aku akan sampaikan.
Misalnya di poin awal, aku akan menekankan konsep “Why” dalam pendidikan ini. Dalam hal ini, “why” aku juga diuji. Kalau semua aku lakukan karena Allah, apa yang aku “pegang”, maka insya Allah tak perlu ada rasa sedih. Pada akhirnya juga, semua yang kita lakukan pada dasarnya bukan hanya melihat dari satu sisi saja (apalagi dari sisi dunia), tapi juga mengharap jalan yang diridhoi Allah dan keberkahan dari berbagai sisinya.
Kalau pun ada rasa sedih, itu adalah praktek dari poin 8 :).
Dan kembali lagi, semuanya ini aku yakin adalah yang terbaik dari Allah. Karena ada hal yang juga sangat penting yang sedang aku lakukan saat ini. Allah beri kemudahan untukku dengan aku gak jadi pembicara di acara ini, insya Allah. Cerita tentang apa yang sedang aku lakukan saat ini, insya Allah, aku ceritakan kapan-kapan di waktu yang tepat.
Alhamdulillaah… alhamdulillaahilladzii bini’matihi tathimushshoolihaat.
cizkah
17 Mei 2026

