Sholat Ied di Lapangan Superindo

Alhamdulillah, sholat kali ini, aku merasa berkesan. Aku ngerasa damai banget masya Allah. Bener-bener muncul rasa manis dan bahagiaaa banget. Baik pas sholatnya, maupun pas doa penutuk khutbah ied. Bahagia banget ada doa untuk Palestina. Apalagi doa untuk kebinasaan untuk Yahudi yang juga pernah aku share di instagram. Jadi terharu sendiri ingat suasana kemarin.

Gak seperti waktu kecil yang ketika khotib berdoa, rasa-rasanya cuma ditanggepin “amin, amin” aja. Kali ini benar-benar bersyukur banget bisa meresapi setiap lafadz doa yang dilafalkan. Sebagian besarnya juga menjadi doa yang memang juga kupanjatkan rutin.

Alhamdulillah, anak-anak udah tahu semua mau pakai apa. Memang jauh-jauh hari mereka udah menghitung hari. Salah satu sebabnya adalah ada mainan lego yang memang dibeli sebagai hadiah hafalan, tapi memang diniatkan untuk dimainkan pas lebaran. Aku pesannya sengaja sebelum pertengahan Ramadan supaya di akhir Ramadhan bisa lebih tenang. Insya Allah tentang hadiah ini aku catat di tulisan yang berbeda.

Kembar yang sudah mulai besar sudah bisa juga diajak “aware” dengan mempersiapkan diri. Aku udah kasih batasan kapan jubah yang mau dipakai harus udah masuk mesin cuci supaya bisa dipakai pas lebaran. Alhamdulillah, mereka semua sesuai dengan arahan. Tanggal 28 semua udah harus gak dipakai lagi dan udah masuk mesin cuci. Ini karena aku perkirakan insya Allah bisa kering antara tanggal 28 atau tanggal 29-nya. Jaga-jaga lebarannya tanggal 30. Alhamdulillah karena ada dryer, jadi cucian hari itu bisa kering pada hari itu juga.

Luma juga udah aku ingetin buat siapin semuanya sehari sebelum lebaran. Aku ajak dia pertimbangin bajunya dan jilbabnya apa. Karena kemarin ada jilbab yang baru dibeli yang bisa dicocokin sama gamisnya yang udah ada. Dia pilih warna merah.

Pilihan Tempat Sholat

Ada tiga pengumuman lokasi sholat Ied yang dekat dengan rumah dari grup ibu-ibu RT. Lokasi pertama, lokasi yang memang bertahun-tahun selalu ada. Di area Monumen Jogja Kembali yang areanya memang sangat luas. Tapi kami gak pernah ke sana, karena di sana sangat ramai sekali. Dulu pertimbangan utama karena anak-anak yang masih kecil-kecil, jadi memilih yang lokasinya lebih kondusif dan aman insya Allah.

Lokasi kedua, lokasi yang paling dekat dari rumah, tapi lokasinya di masjid. Biasanya perempuan di area jalanan. Di jadwal, mulai sholatnya lebih cepat dari yang lainnya. Jam 6.30 wib.

Lokasi ketiga, lokasi terbaru. Area lapangan parkir superindo. Karena kami sudah biasa ke superindo jalan kaki, kami meniatkan sholat di sana.

Ziyad sempat ngomong mau coba sholat di Monjali. Thoriq bilang mau sholat di masjid An-Nur. Pertimbangannya karena cepat biar dia bisa pulang cepat. Sama seperti kembar, dia punya mainan lego yang ingin dirakit setelah sholat Ied. Dia bener-bener meeeenghitung hari. Sampai bosaaan semua dengernya hehe.

Tapi malam lebaran, Abang bikin keputusan. “Semua harus bareng sholat di lapangan superindo!”

Baca selengkapnya Sholat Ied di Lapangan Superindo

Lebaran 2025

Lebaran kali ini, tetap di Jogja aja, alhamdulillah. Dari pernikahan yang udah mau 19 tahun ini -alhamdulillah-, pernah mudik, lebaran di Jambi sekali, di Jakarta dua kali. Selain itu, kami lebaran di Jogja aja.

Karena bertahun-tahun lebaran di Jogja, ada hal yang kami udah tahu dan antisipasi. Misalnya warung-warung yang bisa dibilang 100% tutup. Jadi, semakin lebaran, semakin malah harus siap masak lauk. Karena kalau mau cari lauk matang di luar itu malah cape kelilingnya. Belum tentu yang didapat lauk yang memang sesuai harapan.

Di tulisan kali ini, aku mau catat berbagai hal terkait sebelum lebaran dan cerita lebaran insya Allah.

Antara Ramadhan dan Lebaran

Masing-masing keluarga, menjalankan aktivitas Ramadhan dan persiapan lebaran itu banyak faktor yang berpengaruh. Apakah merantau, apakah ada lebaran bersama keluarga besar, apakah masih kerja sampai hari terakhir Ramadan….daan masih banyak faktor lainnya yang bisa berpengaruh.

Baca selengkapnya Lebaran 2025

Cerita Ikan Bawal

Sore ini, aku belanja bahan protein ke Superindo. Biasanya aku berusaha menyelipkan stock protein ikan. Untuk ikan tertentu seperti ikan patin atau ikan lele, aku milih tetap nitip ke bu Salim; warung sayur dekat rumah.

Khusus gurami, aku tetap memilih beli di Superindo. Karena memang secara pengalaman beeertahun-tahun, kalau gurami beli di pasar itu, hasil masakan ikannya tetap ada aroma yang bikin kurang nyaman dan akhirnya gak bisa dimakan sampai ke setiap bagian dagingnya.

Untuk ikan lain, karena biasanya aku gak tau nama ikannya dan gak tau di pasar ada apa engga, jadi ya tetap milih di superindo.

Tips Belanja Efektif Insya Allah

Oh ya, tips belanja bahan lauk mentah ini, ke bagian ikan dulu ya. Karena ikan biasanya butuh dibersihkan. Jadi kita beli dulu ikan yang kita mau beli, minta dibersihkan.

Sambil menunggu ikan dibersihkan, kita ke bagian ayam dan daging buat bungkus-bungkus yang kita mau beli. Pas selesai di bagian daging dan ayam, pas ke bagian ikan udah tinggal ambil aja, gak perlu nunggu lagi insya Allah.

ikan di superindo
Baca selengkapnya Cerita Ikan Bawal

Lanjutin Kuliah Insya Allah

Semester kemarin, aku ambil cuti kuliah. Mutusin cuti karena utamanya biar fokus mengiringi anak-anak belajar untuk persiapan ujian akhir nantinya, insya Allah. Alhamdulillah jadi juga bisa sambil nabung.

Karena semua anak masih perlu bimbingan intensif, aku harus mencurahkan waktu aku di mereka. Belum lagi harus adaptasi hafalan intensif Thoriq sama aku di rumah.

Baca selengkapnya Lanjutin Kuliah Insya Allah

Jahit Kancing

Dulu Papa rohimahullah, pekerjaan utamanya adalah jasa  konveksi. Yang dibikin biasanya seragam olahraga, seragam yang bentuknya kaos. Usaha konveksinya di rumah aja.

Yang ngajarin supaya jahitannya kaya gini Papa. Beliau ketat banget perfectionist sama hasil jahitannya.

Makanya ga boleh ada gumpalan di bagian belakang. Padahal kan ga kelihatan ya.

Tapi ini bisa jadi prinsip bahwa kita berusaha melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan walaupun di bagian yang ga terlihat atau diperhatikan orang lain.

Aku inget pernah ikut bantuin Mama, jahit kancing untuk kaos model polo (yang ada kancing 2 dekat kerah). Waktu itu pesenannya 500 kaos. Bayangkan jahit berapa kancing ☺️.

Baca selengkapnya Jahit Kancing

Sharing tentang Pondok

Sejak aku share tentang pengumuman jadwal ujian masuk universitas di Instagram, ada beberapa dm yang nanyain terkait penjurusan dan hal-hal terkait itu. Dibarengi juga kabar dari teman-teman yang berencana memasukkan anaknya ke pondok. Baik tingkat SMP ataupun tingkat SMA.

Aku yang sudah memondokkan dua anak dan merasakan berbagai hal di dalamnya, rasa-rasanya ingin menyampaikan berbagai hal yang kami ketahui. Tapi… bukankah tidak semua orang ingin mendapat nasehat dan masukan? Belum lagi informasi yang kami miliki juga memang bukan sesuatu yang bisa dibagikan secara terbuka di umum. Jadinya, respon aku biasanya sebatas, “Oh…” saja :).

Apa hubungannya pondok dan ujian masuk univeristas? Oh tentu saja ada. Tapi ini mungkin belum bisa tergambarkan oleh teman-teman. Sama seperti kami dulu belum ada gambaran ketika memasukkan anak pertama ke pondok.

Pas juga baru-baru ini, ada seseorang yang nge-dm aku dan mau berdiskusi karena berencana memasukkan anaknya ke pondok. Ketika aku menceritakan sebenarnya aku punya rencana mau mengadakan sharing tapi sangat masih ragu-ragu apakah memang sebenarnya sharing ini diperlukan atau engga, ternyata ia mendukung dan bersedia jika memang harus membayar untuk mengikuti acara ini.

Jadilah aku coba siapkan sharing ini supaya benar-benar lebih tersusun dan tersampaikan semua hal yang perlu dibagikan. Aku bahkan sudah mencoba “ngomong” sendiri dan didengarkan oleh Abang supaya bisa mendapat masukan jika ada hal-hal yang kurang patut dibagikan atau juga ada hal yang masih perlu dilengkapi lagi.

Baca selengkapnya Sharing tentang Pondok

Takdir Allah Gak Berpola

Kayanya baru kemarin nyelesein tulisan di blog tentang sakit berentet. Baru kemarin juga semangat aku mulai bangkit dan berusah menata berbagai hal setelah semuanya kemarin berserakan.

Baru sepekan, qodarullah ternyata dapat ujian sakit lagi. Kali ini malah aku kena cukup berat.

Pelajarannya:

Takdir Allah itu ga berpola.

Ga bisa kita santai dan memastikan polanya tuh “begitu”.

Baca selengkapnya Takdir Allah Gak Berpola

Progress

Progress

Simpan di sini untuk nyatet progressnya.

Rasanya malam ini kaya orang bingung. Udah semangat untuk gerak lagi, tapi ko bingung yang mana dan dari mana. Mutusin nerusin ngelanjutin buku, ternyata…masuk ke kebingungan lainnya. Kaya udah lama banget gak kesentuh. Emang udah lama sih ya. Anak-anak sakit aku gak bisa inget nyentuh ini apa engga, soalnya belum terwujud pingin nyatet progress ini di jurnal setiap harinya. Abis itu ada Mama di sini 2 pekanan, itu juga gak kesentuh sama sekali.

Baca selengkapnya Progress

Buku Catatan tentang Anak-Anak

Selain buku catatan harian dan monthly notes di buku 365 Everday Planner, aku juga punya buku catatan tentang anak-anak.

Tadinya aku isi dengan celetukan atau pertanyaan anak-anak. Tapi akhirnya aku putuskan mencatat berbagai kejadian -apapun- yang berkaitan sama anak-anak.

Baca selengkapnya Buku Catatan tentang Anak-Anak

Jurnaling

Ini adalah versi yang aku post di instagram. Sebagaimana kalau backup dari postingan instagram, isinya lebih ringkas dan bukan dalam versi penjelasan detail. Tapi insya Allah ini sudah menggambarkan secara ringkas bahwa jurnaling itu mudah insya Allah.

Ada banyak “hal menarik” yang mungkin akhirnya bisa kita kerjakan dan benda-benda yang tadinya mungkin sudah gak tersentuh seperti memilih buku catatan, memilih pena yang kita nyaman untuk pakai.

Jurnaling itu sendiri, pada dasarnya bukan buat siapa-siapa. Mau mencatat, mau refleksi, mau ngeluarin unek-unek. Jadi gak mesti nyatet rutinias harian yang kesannya begitu-begitu aja.

Ada hal menarik kok sebenarnya sehari-hari. Dari pasangan kita, dari hal yang kita lihat, yang kita pelajari dan kita rasakan.

Baca selengkapnya Jurnaling

Kabar Sedih dari Kakak

Aku beberapa kali cerita tentang kakak pertamaku yang tinggal di Belanda. Hari Jumat ba’da Subuh, aku baca pesan yang sangat mengejutkan. Perasaan dan pikiran langsung gak enak banget.

Sebenarnya tadinya aku udah semangat mau nyelesein bahasan stationary yang niatnya diselipin bahasan Al-Qur’an dulu. Karena udah hari Jumat biasanya agak lebih lowong insya Allah.

Semuanya buyar.

Di dalam pikiran dan perasaanku, aku ikut sedih banget, tapi juga sedihnya nambah karena jauh banget dan gak bisa berbuat apapun selain doa.

Dulu sekali, pas masih kuliah, aku juga pernah dapat kabar mengejutkan tentang kakak pertamaku ini. Waktu itu aku lagi KKN. Di tempat KKN, sepanjang hari itu aku nangis dan nangis.

Sama seperti sekarang, aku juga waktu itu merasa gak berdaya. Mengkhawatirkan keadaan Mas yang gak bisa aku jangkau.

Aku gak bisa cerita detil apa hal yang menimpa Mas-ku ini. Aku ngerasa Mas-ku dikasih ujian yang luar biasa sama Allah yang aku gak sangka bisa menimpa keluarga kami yang apalah. Keluarga biasa-biasa aja. Gak macem-macem insya Allah.

Kejadian pertama, Mas-ku harus sabar dengan cobaan karena fitnah. Tapi yang merasakan berat dan susahnya bukan cuma Mas, tapi juga melibatkan Mama Papa. Waktu dengar kabar dari adikku, adikku cerita gimana Mama juga menangis. Aku bisa membayangkan menangisnya sangat keras karena cobaan itu benar-benar seperti gak mungkin terjadi. Sebuah fitnah yang sungguh jahat.

Karena kejadian yang cukup berat itu pulalah, Mas-ku sepertinya ga ingin tinggal lagi di Indonesia. Terlalu traumatis apalagi jika bertemu dengan teman-teman yang bisa jadi dialah yang membuat fitnah besar itu.

Di Belanda, dia menjadi pekerja seperti pada umumnya kita semua bekerja. Membentuk keluarga dengan keluarga keturunan Arab yang sudah lama tinggal dan memang warga negara Belanda. Memiliki dua anak perempuan yang sekarang baru memasuki usia SMA dan SMP.

Insya Allah dia sangat berusaha menjadi ayah dan suami yang baik. Alhamdulillah sejak kejadian yang pertama, Mas-ku udah berusaha sedikit-sedikit belajar dan menjalani Islam. Sudah mengenal dakwah salaf walau belum bisa menjalankan sepenuhnya. Terakhir Mas ke Indonesia waktu dengar Papa kondisinya makin parah. Mas Lyno belum ke Indonesia lagi sejak itu karena ada pandemi dan kondisi anak-anak yang makin besar dengan berbagai kesibukannya. Jadi aku udah 6 tahun gak ketemu.

Tapi tahun ini, Mas-ku happy banget. Setelah kurang lebih 18 tahun tinggal di sana, Mama dan adikku serta istrinya tahun ini bisa berkunjung ke Belanda. Mas seneng banget bisa ketemu Mama. Pas Mama balik ke Indonesia, semua yang berkaitan Mama di foto dan disend ke grup keluarga. Tempat Mama biasa duduk, tempat Mama sarapan. Handuk Mama bahkan gak dicuci biar masih bisa cium bau Mama. Mas insya Allah sangat berusaha juga jadi anak yang berbakti.

Waktu Mama pulang, aku bahkan dapat oleh-oleh french khimar dan sirwal dari Mas. Aku pikir itu oleh-oleh yang dibeli waktu Mas umroh (ini juga ada ceritanya karena berkaitan dengan Mama). Ternyata itu bukan dibeli pas umroh. Ketahuannya karena ada label di french khimar dan sirwalnya, bertuliskan made in French. Aku sendiri cukup heran karena ternyata Perancis yang di media-media ngelarang dan sungguh ketat dengan “jilbab” apalagi “cadar” bisa ada yang produksi ini. Masya Allah.

Balik lagi ke Mas. Yang tambah bikin sedih adalah aku gak bisa membayangkan kesedihan Mama kali ini. Mama yang udah umur 70 tahun. Aku aja yang saudaranya sedih dan sering muncul pikiran sedih ini di aktivitas harian, apalagi Mama, ibu-nya.

Tapi Mama belum tahu. Mas berpesan untuk gak cerita ke Mama.

Mas insya Allah ke Indonesia setelah lebaran ini untuk menceritakan musibah yang menimpanya. Sebenarnya sama. Mas sepertinya terkena fitnah. Mendengar voice note ketika membalas pesan dari Abang yang berusaha menguatkan, aku tahu Mas menahan tangis atau bahkan sudah menangis. Aku jadi tambah sedih.

Insya Allah kemungkinan pekan depan Mama bakal datang. Ini yang juga bikin aku berat karena pas juga bertepatan Mama pas lagi berkunjung ke tempat Mba yang di Surabaya yang memang biasanya dilanjutkan ke aku di Jogja. Rasanya berat karena harus menahan cerita ini.

Jadi bertepatan dengan kejadian ini, aku juga sedang menyiapkan hal-hal sebelum Mama datang. Penataan rumah dan lain-lain agar semuanya bisa lebih nyaman insya Allah. Karena Mama akan menempati kamar yang biasa aku pakai dengan Abang. Sepekan kemarin, anak-anak juga baru aja melalui ujian semester. Biasanya, kalau anak-anak ujian, jadwalku lebih padat lagi karena ada hal yang harus dilakukan –yaitu ujian itu sendiri-. Jadi ritme kegiatan gak seperti biasanya.

Ya Allah mudahkanlah urusan Mas-ku. Berilah pertolongan padanya. Kuatkanlah dia dan beri kesabaran yang berlimpah untuknya.

cizkah
9 Desember 2024

Semoga Dipertemukan di Surga

Bacaan yang bikin hati bergetar, apalagi kalau pahamin artinya.

Kembar lagi hafalin surat Ath-Thur. Awal-awal pas sampai ayat 21 agak macet dan mesti hati-hati bagian dzurriyatu sama dzurriyata….

Entah kenapa setiap lagi bimbing kengiang-ngiang sebuah nada bacaan. Aku mikir bacaan siapa ya?

Baca selengkapnya Semoga Dipertemukan di Surga

Gelar…

“Penghambaan terhadap gelar…”

Waktu dengar kalimat ini pertama kali, rasanya belum terlalu yakin bentuknya seperti apa. Tapi sepertinya dengan berbagai fenomena yang ada sekaarang, ini bisa dengan mudah ditemukan contohnya.

Kita mungkin cukup terheran-heran mendengar informasi bagaimana ada sosok yang belum diketahui secara jelas latar belakang pendidikannya atau kontribusinya di masyarakat atau kemanusiaan tiba-tiba saja mendapatkan gelar doktor honoris causa. Tak lama dari berita ini, kita kembali lagi dibuat heran karena ada seorang yang bisa menyelesaikan program doktoral hanya dalam waktu 1 tahun 8 bulan.

Kita yang mendengar dan melihat berita ini dari “kejauhan” mungkin menganggapnya sebagai berita layaknya berita lainnya. Hanya menjadi “informasi” ada kejadian semacam ini, kemudian berlalu begitu saja karena merasa itu gak berkaitan dengan kehidupan kita.

Tapi mungkin kita gak menyadari bahwa ada hal-hal yang lebih sederhana sebenarnya juga terjadi di sekitar kita. Bentuknya bahkan bisa jadi kita sendiri yang memberi “ruang” gelar itu.

Hmm…Gimana gimana?

Belum Bergelar

Gak usah jauh-jauh tentang yang bergelar. Ada yang bahkan belum ber”gelar” juga memanfaatkan sesuatu yang belum diraihnya dengan menempeli program studi yang sedang ditempuh.

“Mahasiswa Program Studi …. Universitas ….”

Pernah melihatnya?

Baca selengkapnya Gelar…

Hadiah yang Berkesan dari Ibu Pemulung Tua

Cerita ini adalah kejadian yang baru saja terjadi di bulan Oktober 2024 ini. Suatu malam, aku sedang keluar rumah bersama Abang. Biasanya sekali keluar kami sekalian menyelesaikan berbagai hal. Sampailah kami di apotek yang letaknya di depan Superindo. Abang memesan roti bakar langganan yang berjualan di depan apotek Aku masuk ke apotek membeli beberapa obat. Ketika keluar, aku keingat susu di rumah sepertinya udah abis juga. Mumpung sedang di depan Superindo, aku ajak Abang ke sana.

Ketika mau menyebrang, tiba-tiba seorang ibu tua berjilbab menyapa Abang. Abang menjawab dan beramah tamah. Sang ibu masih terus mengajak Abang bercakap-cakap. Kami tetap dalam posisi bersiap menyeberang, tapi juga menunda karena membiarkan sang ibu menyelesaikan omongannya. Aku yang masih belum tahu siapa sang ibu hanya memberi gesture senyum ramah tapi tidak ikut dalam percakapan.

Saat jalan kosong, Abang menyudahi pembicaraan dan kami menyebrang ke superindo. Setelah menyebrang, baru aku ketahui sang ibu adalah seorang pemulung. Kami tidak berlama-lama di Superindo karena berniat segera pulang. Ini karena sebelumnya kami sudah ke tempat lain, di antaranya ke Prima Fresh. Kami membeli stok ayam untuk sekitar 4 hari. Belanjaan itu kami masukkan di tas tertutup dan diletakkan di bagian depan motor Revo. Aku pikir, setelah dari Superindo, membayar roti bakar, kami bisa segera pulang. Ternyata yang terjadi kemudian benar-benar di luar rencana.

Sang ibu pemulung masih ada di sana, di dekat penjual roti bakar. Beliau mengajak Abang bercakap-cakap lagi karena Abang sedang membayar roti bakar. Sang ibu kemudian mulai bergerak ke arahku yang sedang menunggu di dekat motor. Abang sempat memberikan satu bungkus roti bakar yang kami pesan. Sang ibu menolak, katanya sudah dibikinkan sang penjual roti bakar. “Gpp Bu, insya Allah ini bisa tahan 2-3 hari,” kata Abang.

Sang ibu menghampiri dan menyalamiku. Kami berkenalan. Perawakan sang ibu lebih kecil dariku. Memakai jarik, kebaya sederhana dan sendal jepit. Semuanya lusuh. Karung wadah mengumpulkan barang bekas sepertinya diletakkan di dekat penjual roti bakar yang ternyata sudah dikenalnya sejak 8 tahun yang lalu. Dengan cepat, aku langsung bisa paham bahwa sang ibu tinggal di dekat rumahku. Memang tempat tinggal kami dekat dengan pengepul dan pengumpul sampah. Ada pemulung-pemulung yang tinggal di situ.

Aku pikir ini akan jadi obrolan singkat di pertemuan singkat yang biasa terjadi ketika ketemu seseorang di jalan. Perkiraan ku salah. Sang ibu terus mengajak bicara. Tentu saja aku juga berusaha menanggapi pembicaraan sang ibu. Tapi aku heran karena Abang seperti tidak menunjukkan tanda-tanda membatasi percakapan. Justru Abang menanggapi dan memancing pertanyaan baru.

Baca selengkapnya Hadiah yang Berkesan dari Ibu Pemulung Tua

Bias Kehidupan Dunia Maya

Hampir dua pekan gak muncul di instagram. Banyak hal yang jadi penyebab. Mungkin karena akumulasi dari banyak hal ini, bikin aku sampai di titik kehilangan keinginan dan kekuatan untuk memposting atau membahas apapun di sana. Ada momen-momen aku mau posting, tapi selalu urung, mikir dan akhirnya gak jadi.

Faktor yang cukup bikin jadi di titik yang melemahkan adalah kesimpulan bahwa betapa kehidupan di social media ini seperti punya tolok ukur sendiri yang berbeda dengan dunia nyata. Gak tau orang sadar apa engga tapi ini jadi satu fenomena yang umum.

Orang senang melihat kehidupan yang terlihat luar biasa, hebat dan sempurna dan juga suka melihat kehidupan yang santai, seru, liburan kemana-mana. Padahal hidup gak semudah dan seindah yang tampak di social media itu.

Orang menikmati dan mewajarkan sajian dari keluarga yang menjadikan “berbohong” sebagai sebuah bercandaan. Apa aku yang terlalu serius dan menganggap ini sudah masuk ke ranah sesuatu yang harusnya bukan dijadikan bercandaan? Tapi kenapa orang-orang menganggap ini lucu, wajar dan sebuah “usil” yang menggemaskan? Bagaimana serapan dari anak yang melihat orang tuanya iseng dengan bohong?

Yang di atas ini cuma dua contoh aja dari banyak hal. Mungkin bisa dimaklumi karena pada umumnya begitulah memang dunia yang dunawi. Tapi yang paling bikin kecewa sepertinya yang satu ini:

Orang bisa dianggap berilmu dengan mudahnya dan orang merasa senang karena dianggap sebagai sosok berilmu. Paradoks.

Aku jadi merasa tiba-tiba mengkerut. Seperti bola yang kena paku-paku yang sangat banyak. Jadi gak berdaya.

Baca selengkapnya Bias Kehidupan Dunia Maya

Tentang Bacaan Buku Umum: Sebuah Cerita dan Renungan

Berapa bulan yang lalu, aku baru membaca buku- yang gak perlu aku sebut di sini. Dari situ, banyak hal di kehidupan yang rasanya jadi pingin aku catat. Karena ada hal-hal yang sifatnya fenomena sosial budaya yang mungkin hanya berlaku di masa itu dan kemudian tinggal sejarah karena perkembangan zaman.

Fenomena sosial budaya ini mungkin dianggap aneh oleh generasi selanjutnya. Gak terbayangkan ada hal yang bahkan sifatnya wajib atau dianggap aib di suatu masa. Sebaliknya, ada juga mungkin hal yang seperti biasa-biasa saja padahal sebenarnya banyak catatan jika dilihat dari kacamata “kenormalan” perilaku manusia atau masyarakat pada umumnya.

Jadi, kalau aku mencatat hal-hal yang gak kaya biasanya, itu sebenarnya ya karena pingin mencatat aja. Bukan mau bahas satu sosok tertentu insya Allah. Jadi gak usah dipikir-pikir atau dicari tahu lagi bahas siapa. Karena catatannya adalah fenomena sosial budayanya.

Tentang Buku Umum

Aku hampir gak pernah share buku umum yang aku atau kami baca di rumah. Sebabnya macem-macem sebenarnya. Salah satunya karena kadang pandangan orang -yang sudah ngaji- terhadap buku umum (atau bahkan novel) kadang-kadang kaya jadi antipati. Antipatinya sebenarnya juga macem-macem sebabnya. Jadi, terlalu kompleks dan melelahkan kalau harus dijelasin padahal tolak ukur masing-masing beda-beda.

Aku pernah punya satu pengalaman tentang ini. Kejadiannya masih sering muncul di percakapan aku dan Abang. Kejadian bullying Ziyad di TK-nya dulu semacam ada memori tersendiri -yang kurang menyenangkan- baik untuk Ziyad maupun untuk aku dan Abang.

Sebelumnya, mungkin kita perlu tahu realita bahwa lembaga pendidikan yang masih rintisan seringkali merekrut tenaga pekerja yang latar belakangnya bukan khusus dari pendidikan yang sesuai. Dari sinilah kejadian ini berlanjut..

Baca selengkapnya Tentang Bacaan Buku Umum: Sebuah Cerita dan Renungan