Still In Unproductive Status

Ada beberapa hal yang membuat seorang cizkah, beserta tulisannya dan pekerjan-pekerjaan lainnya di luar pekerjaan mengurus si abang dan si bujang berada dalam status pending ataupun kalau dikerjakan sangat tertatih-tatih dan terbata-bata. Walaupun semangat sudah menggebu-gebu di hati dan jiwa, namun apa daya. (Ini namanya qudrah -keinginan- gak sesuai irodah -kemampuan-).

Yang paling utama adalah menghadapi buah hati yang sepertinya dalam fase perubahan tingkah laku yang penuh pemberontakan, menarik perhatian dalam bentuk protes, atau protes dalam bentuk pemberontakan, menginginkan sepenuhnya perhatian dari person lainnya (terutama si Ibu), menginginkan sekedar ditemani dalam berbagai permainannya. Semuanya membutuhkan energi dan waktu yang ekstra dan ekstra serta kesabaran yang juga mesti ekstra-ekstra.

Yang kedua adalah koneksi yang supppperrr bermasalah dari TelkomFlash.

Ada satu hal yang masih aku tunggu dalam mengatasi dua hal ini yang saling berkaitan satu sama lain. Dan kemungkinan akan membawa perubahan-perubahan dalam ritme kehidupan dan kehidupan kami sendiri. Mungkin ini adalah satu lagi saat bagi aku dan orang-orang di sekitarku untuk “melompat dari satu kehidupan ke kehidupan yang lainnya”. (Ini adalah quote buatanku yang sangat dihafal (hapal?) abang).

Antara Facebook dan Twitter

Tadi baca link yang dishare @dhezign di twitter. Dan isinya kurang lebih merupakan sebab yang membuat aku lebih merasa ‘aman’ membuka twitter. (Cuma reflek ‘menulis’ utk masalah beginian masih kurang deh).

Scoble bilang tentang penggunaan twitter yang gak ada fitur comment,

“That is a HUGE advantage for controlling noise and for keeping yourself productive.”

Baca selengkapnya Antara Facebook dan Twitter

Masih Malu Dikatakan Ibu-Ibu

Kemarin ada yang review website ini * jadi malu *. Tapi disitu banyak kata “ibu-ibu”nya. Hehehe…aslinya masih suka malu kalau dibilang ibu-ibu. Jujur juga masih belum ngerasa jadi ibu-ibu sihh…Kayanya si abang juga belum ngerasa jadi bapak-bapak. Maksud ibu-ibu dan bapak-bapak disini adalah orang yang sudah berumur dengan gaya tertawa ibu-ibu dan bapak-bapak yang khas dan nada bicara yang juga khas, berirama, berwibawa etc.

Makanya kalau kami sedang keluar bersama, kemudian ada yang manggil aku “Bu.” (maklum, gak kelihatan mukanya, cuma kelihatan bawa anak), biasanya abang langsung godain atau mesti dibahas di perjalanan. “Tadi adek dipanggil, Bu ya.” Hehehe…

Dulu waktu hamil Ziyad Syaikhan mulai besar, terus jalannya udah mulai lambat dan agak melebar, abang juga suka godain, “Kaya ibu-ibu…” Heheheh…tapi sekarang suka diterusin sih, “Lha emang udah jadi ibu-ibu kan?”

Suamiku yang Jayus tapi Lucu

😛

Abis becanda lagi sore ini. ALhamdulillah…alhamdulillah…canda gurau suami istri bukan sesuatu yang sia-sia ya di dunia ini.

Ceritanya, koneksi internet lagi luambat banget dari kemarin. Hari ini lebih parah lagi. Untuk domain-domain yang pakai server indonesia, semacam ekonomisyariat, detik, klikbca gak bisa dibuka blas.

Baca selengkapnya Suamiku yang Jayus tapi Lucu

Jual Sepeda Ontel Tahun 1959

Hari ini aku membulatkan tekad untuk menjual sepeda ontel yang sebenarnya baru kubeli sekitar 2 bulan yang lalu. Sebenarnya, waktu dari awal beli sudah senang, bahkan aku harus mengayuh perjalanan yang cukup panjang dari tempat pembelian sepeda ontel tersebut sampai ke rumah.

Baca selengkapnya Jual Sepeda Ontel Tahun 1959

Kisah Hidup di Desa

Sebenarnya sudah lama mau nulis tentang ini.  Tapi karena pingin nampilin foto, malah gak jadi-jadi nulisnya. Terus jadi termotivasi lagi deh, mbaca tulisannya ini.  Kebetulan aku juga bisa dikatakan tinggal di desa, tepatnya desa Sawo Wirokerten, Bantul. Sekalian review karena keputusan terakhir tadi siang sih, kita tetap di rumah sekarang tapi minta lantainya di’benerin’. Mudah-mudahan bisa deh ya, soalnya lantai rumah yang sekarang kan belum di-aci, apalagi dikeramik. 😛 Waktu awal-awal kontrak sih masih rapi-rapi aja dilapisi karpet plastik dan ruang depan dikasih evamat banyak-banyak. Tapi sekarang karpetnya dah sekarat, jadi bikin aku males ngepel rumah :P.

Baca selengkapnya Kisah Hidup di Desa

Mencoba Menjalani Gaya Hidup Lebih Sehat

Sebenarnya, ini juga sesuai dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkaitan dengan mengisi perut. Tapi aku lagi gak bisa nyari-nyari haditsnya.

Terkadang manusia lupa karena makan hanya karena sekedar mengisi perut, biar kenyang, mengecap kelezatan dan sebagainya. Padahal lebih penting lagi adalah makan itu untuk beribadah kepada Allah dan sangat penting juga kalau makan itu bukan menjadi hal yang membahayakan diri kita sendiri. Kok bisa? Baca selengkapnya Mencoba Menjalani Gaya Hidup Lebih Sehat

Ketika Akhirnya Berpisah dengan (Tim) Penalette

Ini, sebenarnya salah satu hasil merenung kemarin. Gak nyangka juga kalau hasilnya seperti ini.

Ceritanya, kita (aku dan bang hen) banyak melakukan diskusi, intropeksi dan semacamnya. Memikirkan berbagai hal dan gagasan yang berkaitan dengan hidup, cita-cita dan juga penalette. Dan salah satu wasilah yang kami harapkan kemarin untuk mencapai cita-cita itu adalah dengan kerjasama yang ada di penalette. Sayang rapat malam itu, harus berakhir tidak sesuai dengan yang kami harapkan. Asa yang kami pupuk dan berharap bisa bersemi tunasnya dari rapat tersebut malah seakan-akan tenggelam oleh banyaknya air yang tersiram. Baca selengkapnya Ketika Akhirnya Berpisah dengan (Tim) Penalette

Saatnya Merenung…

Banyak banget kejadian akhir-akhir ini yang membuat aku sedikit banyak merenung. Memikirkan hal-hal yang tadinya tidak terpikir. Atau membalikkan perspektif pikiranku yang dulunya A menjadi Z. Dan seterusnya. Mungkin itu yang membuat akhir-akhir ini aku jadi lebih sedikit melow dan lebih mudah uring-uringan. Yang lebih membuat pikiranku berkecamuk adalah, hal-hal yang mungkin jika dipadankan dengan ilmu tentang Islam yang sudah aku ketahui. Sehingga di satu sisi aku terus memikirkan berbagai hal, namun di sisi lain aku juga membatasi diriku dengan seluruh pergolakan yang ada sehingga hal yang demikian membuat pikiranku semakin terhimpit. Masalahnya bukan berarti aku menyalahkan sisi syari’at. Bukan insya Allah. Dan aku berlindung dari hal yang demikian.
Baca selengkapnya Saatnya Merenung…

Selamat Untuk Mas L dan Mba I

Kemarin, dapet sms dari Mas L yno. Kakak kandungku yang pertama. Beliau ‘untuk sementara ini’ tinggal di Belanda. Dah 2 tahunan gak ketemu iy. Entah kapan yaa balik ke Indo.

Aku belum cerita ya, kalau Ma & Pa sempat ke Jogja akhir bulan kemarin. Padahal aku emang lagi kangen banget dan bolak balik minta ke bang Hen untuk ke Jakarta. Qadarulllah, anaknya mba Maya – kakak kandungku yang kedua dan tinggal di Surabaya – (Maritza Naazneen K) mesti opname dan mba Maya-nya juga ikutan di rawat karena tipes. Jadilah Mama sama Papa ke Surabaya terus pulangnya mampir ke Jogja. Tapi qadarullah, Papa cuma nginep semalem aja di rumah. Paginya dah ke Solo terus langsung pulang ke Jakarta. Nah, alhamdulillah Mama bisa agak lamaan di rumah (3 malam), kebetulan pas mo dipesen tiket yang hari Ahad, ternyata penuh. Hihi…seneng deh.

Kok jadi ngelantur yaa ceritanya. Pokonya, Mama kan main-main terus tuh sama Ziyad. Terus sempet nyeletuk tentang masalah Mas L dan mba I yang belum dikaruniai anak sampai saat itu (nikahnya cuma beda 3 bulan loh sama aku, Mas L bulan Agustus 2006, aku bulan November 2006). Terus mama bilang, “Mama ngebayangin kalo anaknya Mas L nanti lucu, putih.”

Hihi…gak salah sih bayangan mama. Soalnya Mas L yno-nya kan masya Allah ganteng. Terus mba I juga masya Allah cantik dan keturunan Arab asli (cuma kebetulan pindahan ke Belanda dari kecil).

Di awal bulan, Mas L sempet sms ngasih tau kalau abis kecelakaan, jatuh dari sepeda. Tangannya patah. Jadi, gak bisa kerja selama sebulan. Wah…la ba sa thohurun insya Allah ya Mas. Terus-terus…kira-kira semingguan lebih ya, Mas L sms nanyain kabar sambil ngasih tau kalau mba I lagi hamil 5 minggu!!!

Waaaaaaaaaahhhh aku langsung mau nangis terharu. Seneeng banget. Ikut seneng dengernya. Bisa ngerasain insya Allah kebahagiaan Mas L di sana. Di jaga ya kakakku sayang. Semoga dimudahkan sampai proses kelahiran nanti dan terus diberi kemudahan dalam merawatnya. Aamiin. Mama juga aku yakin senenggg banget. Soalnya langsung sms aku juga ngasih tau kalau seneng soalnya Mas L dan mba I dah 3 tahun menikah. 

Mabruk ya akhil kabiirr…

Antara Komersial dan Bukan Komersial

Sebenarnya, beberapa waktu yang lalu, abang pernah membicarakan masalah orang-orang yang hosting di wordpress gratisan tuh kadang ada yang salah. Misal pasang adsense, jualan di blognya, dll. Bahkan dari ikhwan teman-teman juga ada beberapa yang secara tidak sadar melakukan hal tersebut. Alhamdulillah kemarin teman dari Al-Furqon yang nanganin website majalah Mawaddah telepon-teleponan sama abang, dan sudah abang beritahu hal tersebut. Mudah-mudahan bisa cepat ganti hosting, soalnya itu kan hampir emang tujuannya untuk komersial ya.

Nah, terus kemarin juga ngeliat si abang buka website salah satu ikhwan yang pindah hosting (gak digratisan wordpress lagi), karena isinya kadang-kadang membicarakan bisnis miliknya (yang emang tujuan dia nulis itu buat mempromosikan bisnisnya). Nah, nah…aku kan jadi kepikiran websiteku juga yang di sini. Terus, kadang-kadang kan aku ngomongin penalette, desainku, kerjaan, dll. Padahal maksudku sebenarnya copy paste di situ buat database aja kalo-kalo yang di sini hilang. Tapi karena dah tahu hal tersebut, insya Allah aku mutusin nulis di cizkah.com aja. Soalnya sering juga nih postingannya berbau bisnis. Hehehe…Lagian juga biar gak bingung dan lebih memanfaatkan waktu insya Allah.

Sanadzhabu ilal Madinatil Munawwaroh, Insya Allah ya Habibi…

Aku yakin, kita akan pergi ke Madinah Munawaroh Insya Allah wahai kekasihku…

Ceritanya di balik kalimat ini…

Kemarin salah satu personil Penalette minta ketemuan di kantor. Kebetulan waktu itu Abang masih di rumah. Aku berdua sama bang Hen punya firasat yang sama.

“Kayanya kok mau keluar ya bang?”

“Abang juga kepikiran gitu.”

Dan berlanjut dengan perkiraan-perkiraan lainnya yang jadi muhasabah dengan kondisi penalette sekarang.

Akhirnya, sewaktu bang Hen pulang pukul 18.30 wib, aku tanya lagi, “Sesuai perkiraan ya Bang?”

“Iya.”

Kemudian bang Hen cerita kalau ikhwan ini ditawari untuk kerja sebagai pembuat web, sekaligus menjadi admin untuk website Syaikh Abdurrazaq di Madinah. Sebenarnya ikhwan ini belum lama berkecimpung di dunia perweban (belum paham xhtml, css, dsb yang berkaitan sama web). Aku (yang punya keinginan ingin pergi ke sana) dengan sedikit lesu dan sedih mendengarnya, “Kok gak kita aja Bang, yang kesana?”

Terus bang Hen menceritakan berbagai alasan yang emang logis dan syar’i Insya Allah. Itupun pertimbangan dari berbagai sisi.

Terus bang Hen cerita, kalau ikhwan ini punya waktu cuma sebulan untuk mengurus semuanya sekaligus belajar. Tapi insya Allah keputusannya dah kuat dan bulat. Dari personil Penalette yang lain sudah memberikan banyak masukan, seperti, “Tidak semua mesti jadi ustadz.” “Web itu susah lho.” dan lain sebagainya yang bukan bermaksud membuat down si ikhwan.

Akhirnya… insya Allah semuanya mudah-mudahan lancar dan berakhir kebaikan. Ujung-ujungnya buat dakwah. Abu Aisya bilang, “Insya Allah dua tahun lagi kita ketemu di sana akh.” (Aku pingin nangis dengar Abang cerita dan ketika menuliskan ini pun juga. Mudah-mudahan ya Allah). Bang Hen mengamini ucapan Abu Aisya ini.

Bang Hen juga jadi lebih optimis, insya Allah berarti ada kesempatan untuk kami dan Penalette untuk ke sana. Tapi sebenarnya usaha seperti Penalette dibutuhkan pula di sini. Karena dari ikhwah belum ada yang khusus bergerak di situ. Padahal posisinya penting dalam dunia yang serba techie ini. Mudah-mudahan dengan kedekatan si ikhwan dengan Syaikh Abdurrazaq juga bisa ada efek positifnya untuk membantu dakwah teman-teman di sini.

Sebenarnya, sebelum ada kejadian ini, sejak beberapa hari yang lalu aku sama bang Hen lagi semangat-semangatnya belajar dan melatih muhadatsah lagi. Diawali dengan dapat tutorial bahasa arab yang bagus banget di youtube (aku gak tahu ni urlnya), terus sama banyak hal-hal lainnya yang berkaitan dengan bahasa arab (mogen, tutorial untuk anak-anak). Semoga Allah memudahkan jalan kami. Aamiin.

Untuk apa Hidup?

Hidup itu untuk ibadah kepada Allah lho…

Kalau melihat kehidupan di sekitar, ataupun di internet…sepertinya pada lupa. Aku sendiri juga sering jadi keterusan kalo dah connect internet (makanya lebih milih ga terlalu banyak berhubungan langsung dengan internet).

Jadi, kalo hidup itu untuk ibadah, maka jangan sampai ada yang sia-sia. Hatta waktu tidur kita. Karena semuanya kan dicatat sama malaikat, dan akan dipertanggungjawabkan dan dihitung.

Ini sebenarnya abis merenung ketika melihat bagaimana kehidupan teman2 SMA saat ini. Banyak yang berubah, banyak pula yang tidak berubah….

Ya uda ah…balik kerja lagi.