Fokus dan Langkah Kehidupan Kita

Kemarin abis diskusi sama seseorang yang sedang bersedih karena ada salah satu sosok yang cukup dekat tapi malah jadi seperti kurang mendukung pilihannya bahkan cenderung menyalahkan.

Aku rasa kita seringkali kecewa dengan manusia karena meyakini dan memercayai bahwa dia akan begini dan begitu. Apalagi sosok ini dekat dengan kita. Apalagi kalau sosok ini “harusnya” lebih paham dengan keilmuannya.

Ketika kita mendapati sang sosok tidak menjalankan apa yang kita percayai, disitulah kita merasa “dikhianati”. Dan karena itulah kita jadi merasa sangat sedih sekaligus kecewa.

Di sini kita bisa memahami maksud lain dari kalimat “jangan berharap pada manusia”. Termasuk berharap bahwa jalan kita akan sama dengan dia, atau jalan dia akan sama dengan kita. Berharap bahwa dia akan mengerti kita dan mendukung kita dalam langkah-langkah kehidupan kita.

Salah satu pesan aku lagi adalah kadang orang mempertanyakan langkah kita lebih karena apa yang ada di dirinya. Jadi, fokusnya lebih kita memahami cara berpikir dia saja, dan tidak mengharapkan dia memahami kita. Karena ini sebenarnya tentang “dia”.

Catatan penting:
Ini kalau langkah kehidupan kita pada dasarnya tidak bertentangan dengan yang syariat ajarkan. Karena bisa jadi kalimat aku di atas diputarbalikkan untuk pembenaran bagi orang yang melakukan hal yang tidak sesuai secara syariat atau norma kehidupan. Semisal berbakti kepada orang tua: ada saudara yang terlihat kurang adab kepada orang tua, kemudian diingatkan oleh saudara lainnya. Maka tidak patut saudara yang dingatkan kecewa karena merasa saudara lainnya tidak memahami dia dan merasa dialah yang benar.

fokus dan langkah kehidupan

Dalam salah satu postingan aku di instagram, ada bagian dimana aku sampaikan: kita mengajarkan anak-anak kita untuk membuat keputusan bukan berdasarkan “temanku soalnya begini” “temanku soalnya begitu”, “aku mau ke situ karena ada dia di situ”.

Sebenarnya ini juga berlaku dengan kita sendiri. Ketika kita membuat kebijakan, kita perlu ingat bahwa orang-orang yang ada di sekitar kita saat ini gak bisa dijadikan “alasan” atau “pertimbangan” untuk keputusan langkah kita yang berkaitan dengan masa depan kita atau anak-anak kita insya Allah.

Kalau orang di sekitar kita bilang: “Itu gak bagus itu gak tepat”, bisa jadi dia menyatakan itu karena memang preferensi dia ke pendapatnya itu dan memang dia tidak suka dengan langkah yang kita lakukan. Tapi ini bukan berarti langkah kita menjadi salah insya Allah.

Sekali lagi, karena kita yang paham kondisi kita sendiri, rencana kita, dan banyak hal lainnya terkait keluarga kita. Yang jelas, kebijakan kita tentu saja harapannya adalah anak-anak kita menjadi manusia mandiri yang berakhlak mulia, yang bisa beradaptasi dan menempatkan diri dengan sekitarnya dan semuanya diiringi dengan ketakwaan.

Untuk itu, kita berusaha menjalankan kebijakan dan rencana-rencana kita dengan tawadhu. Bukan dengan kesombongan dan koar-koar ini PASTI akan berhasil, dan pilihanku lebih baik.

Kenyataannya semuanya dilalui dengan lika-liku, tangisan, perjuangan dan hal-hal yang tidak membuat nyaman hati dan pikiran. Kita berharap Allah selalu memberi petunjuk kepada kita di semua perjalanan ini.

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

Artinya: Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. At-Taghobun: 11)

Anak-anak akan melalui berbagai fase kehidupannya. Keadaan saat ini tidak bisa dijadikan patokan untuk masa depannya. Di fase mereka masih dalam pengasuhan kita, fokus kita adalah mempersiapkan anak untuk masa depannya. Bukan hanya dari segi dia mampu secara “materi” atau “fisik”, tapi juga berkaitan dengan akhlak, cara berpikir, kemampuan beradaptasi, kemampuan belajar hal baru, berjiwa ksatria daan banyak hal lainnya.

Postingan instagram June 24, 2025

Caption dari postingan di atas:
Tujuan di depan tentu saja bukan yang bertentangan dengan syariat.

Tujuannya tetap yang paling utama adalah tetap berada di jalan ketakwaan.

💎 Satu yang tertinggal untuk dimasukkan ke slide: kita ga harus ceritakan atau jelaskan ke orang-orang, rencana dan langkah yang sedang kita jalankan untuk mencapai tujuan.

Jalankan dalam ketawadhuan, disertai rasa harap dan takut dan selalu bersandar pada pertolongan Allah.

Nasehat untuk fokus pada tujuan ini masih terus disampaikan bahkan sampai malam ini ketika makan malam.

Bukan cuma ke Ziyad, tapi juga ke adik-adiknya.

–
Ziyad di video ini masuk usia 15 tahun.

Semoga Allah membimbing kita dalam melalui langkah-langkah kehidupan kita dan anak-anak kita serta keturunannya. Aaamiin.

Buku Menata Hati
Buku Menata Hati [versi cetak]
E-Book Menata Hati di Play Books

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *