Belum lama ini aku share di story kalau Luma mulai ikut latihan Taekwondo sejak tanggal 18 September 2026. Alhamdulillah.
Mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa Luma ikut Taekwondo. Dengan satu sudut pandang, pilihan ini akan dianggap aneh. Bukankah begini, bukankah begitu. Seperti aku bilang, bahwa perjalanan sampai di titik ini, bukan perjalanan yang singkat. Tapi insya Allah di kesempatan lain akan aku ceritakan lebih jelas. Untuk sekarang, aku mau bahas dari sisi Taekwondonya itu sendiri :).
Survey Klub Taekwondo
Sebelum bulan Juli 2026, Abang sudah pernah mengajak Luma trial di klub Taekwondo di Kaliurang. Tapi, keadaan di sana, baik kegiatannya, maupun area sekitar sangat tidak membuat nyaman. Di sana gak ada anak perempuan yang seusia Luma, areanya dekat dengan gym, dll. Abang merasa gak “aman” untuk Luma. Jadi, kami gak teruskan. Alhamdulillah, keputusan yang tepat, ternyata klub tersebut sepertinya bubar, karena gedungnya bahkan sudah hancur dan sudah berganti tujuan.
Sepekan Sebelum Kecelakaan
Di bulan Juli itu, aku di kondisi sedang gundah dan sedih. Salah satu yang membuat aku merasa perlu diperjelas adalah kegiatan bela diri yang sebenarnya kami sudah rencanakan. Sekali lagi, sebenarnya, fokus utamanya memang untuk Luma. Baru kemudian Thoriq.
Selasa 8 Juli 2026: Ketika kami survey, kami melihat kegiatan sampai selesai. Bagaimana anak-anak dinasehati oleh sosok yang sekarang kami ketahui sebagai Sabeumnim Wahyu. Usianya sepertinya sudah 60-an. Tapi kondisinya masya Allah masih fit.
Setelah kegiatan selesai, Abang sempat bercakap-cakap dengan pak Wahyu. Menanyakan apakah bisa untuk Luma dan Thoriq yang usianya saat itu masih 11,5 th dan 14,5th.
Qodarullah, sepekan kemudian, Abang kecelakaan. Dan perjalanan kami hampir setahun kemudian, harus dilalui kesabaran karena Abang gak bisa membawa motor. Aku sendiri sudah lelah harus menghandle apa yang biasanya Abang handle—walaupun tentu saja juga terbantukan dengan adanya Ziyad dan Thoriq yang sudah bisa membawa motor (tapi Thoriq belum boleh ke jalan besar atau area yang ada lampu merahnya).
Allah Mudahkan Terwujud
Ada rentetan kejadian yang membuat aku sampai di titik, “Masya Allah…ini harus disegerakan.” Tapi nanti jadinya kepanjangan karena fokus aku di sini mau memperjelas kegiatan Taekwondonya buat Teman-Teman yang barangkali mencari kegiatan untuk anak-anaknya :).
Aku bicarakan dengan Abang, aku kontak pak Wahyu. Alhamdulillah, dua hari kemudian, Thoriq dan Luma berangkat latihan pertama kali. Waktu keputusan ini, aku sedang kondisi haid. Setelah bersih, alhamdulillah aku tetap istikhoroh, memohon bimbingan Allah untuk keputusan ini.
Aku perjelas dulu beberapa poin yang mungkin teman-teman perlukan:
Jadwal Latihan:
Klub Taekwondo yang diasuh oleh Sabeumnim Wahyu ada 2 jadwal.
Unit 1
GOR Jongke
Hari Kamis dan Minggu
jam 16.00 – 17.30
Unit 2
Gor Rejodani
Hari Selasa dan Jumat
Jam 16.00 – 17.30
Seminggu 2 x pertemuan
Waktu bisa dikombinasikan dengan jadwal dan tempat tsb diatas
Aku gak perjelas map atau nama tempatnya. Detilnya bisa nanti tanya ke aku atau langsung ke Sabeumnim Wahyu ya.
Biaya
Rincian biaya awal masuk
Biaya pendaftaran 125.000
SPP / Bulan 75.000
Total di awal. 200.000
Untuk kenaikan sabuk, info yang aku pernah dengar adalah biayanya Rp 250.000. Karena acaranya memang dilaksanakan resmi gabung dengan beberapa klub.
Anak yang Belajar
Waktu awal aku tanya ke pak Wahyu, fokus aku memang ke Luma dulu. Aku tanyakan di mana ada yang seusia Luma.
Untuk yang di Rejodani: Ada yang baru ikut sekitar 4 orang anak SMP perempuan.
Untuk yang di Jongke: untuk laki-laki yang seusia Thoriq 15 tahunan, ada 10 orang dan yang baru belajar ada 3 orang.
Sebenarnya, Rejodani ini lokasinya lebih jauh dari rumah. Tapi karena memang salah satu alasannya biar Luma juga bertemu dengan teman perempuan, jadi alhamdulillah berangkat ke sana.
Thoriq juga ikut ke Rejodani waktu awal berangkat (hari Jumat). Pertimbangannya karena dia ada setoran sama syaikh kalau hari Kamis, jadi gak bisa ikut yang di Jongke.
Tapi, pas kemarin pak Wahyu sakit dan akhirnya digabung di Gor Jongke, Abang bilang juga banyak anak perempuannya. Tapi memang yang sudah sabuk atas.
Untuk anak-anak kecilnya, lebih banyak yang di Rejodani. Saking di Rejodani lebih banyak anak kecilnya, pas latian di Jongke, Thoriq bilang, dia lebih suka yang di Jongke karena lebih kerasa serius latihannya hehehe.
Thoriq dan Luma
Alhamdulillah, bisa dibilang Thoriq dan Luma senang ikut kegiatan ini. Sebenarnya, waktu awal, aku masih ragu apakah Thoriq tertarik ikut. Yang aku khawatirkan, dia akan merasa “tertinggal” karena badannya sudah besar sedangkan nanti berarti dia sabuk putih.
Ternyata, itu cuma kekhawatiran yang ada di otak aku aja. Thoriq sama sekali gak kepikiran itu. Waktu aku tawarin pertama kali, “Thoriq mau gak ikut Taekwondo?” Langsung dengan yakin dia jawab, “Mau.”
Dan ketika datang awal, Sabeum Wahyu justru langsung semangat melihat postur Thoriq dll. Malah mendorong Thoriq juga ikut yang kelas khusus hari Sabtu pagi, yaitu kelas atlet—latihannya lebih berat dan lama dibandingkan kelas biasa. Jadi, masalah sabuk ini malah bukan jadi patokan gimana-gimana.
Luma juga dari hari pertama semangat dan senang. Dengan karakter Luma yang sekarang, aku dan Abang sebenarnya sambil lihat gimana dia pas sudah latihan. Ternyata dia senang alhamdulillah.
Hari pertama latihan, tentu saja besoknya badan mereka langsung sakit-sakit wehehehe.
Sebelum masuk corona, Luma adalah anak yang percaya diri dan suka iseng. Tapi karena suatu kejadian, memang seperti ada pergeseran (spoiler sedikit latar belakangnya hehe). Tapi karakter itu insya Allah tetap melekat. Jadi, aku merasa dia sekadar perlu adaptasi aja insya Allah. Alhamdulillah, setelah melihat video saat dia pertama datang latihan dengan yang sekarang, ternyata memang terlihat beda sekali . Alhamdulillah.
Luma yang Sudah Baligh
Alhamdulillah, dari awal aku udah izin ke pak Wahyu, karena Luma sudah baligh, jadi aku bilang Luma akan pakai kaos kaki.
Luma memang sudah baligh dan badannya termasuk bongsor karena sudah sekitar 158-an cm. Tapi bisa dibilang dia masih banyak lugunya dan masih bertingkah seperti anak-anak. Justru karena inilah, aku bersegera mengikutkan dia. Alhamdulillah usianya masih 12,5 tahun. Jadi, kesempatan dia untuk melakukan kegiatan ini masih lebih memungkinkan insya Allah, dibandingkan nanti kalau usianya sudah menuju gadis dewasa.
Aku Pernah Ikut Taekwondo
Ohya, aku sendiri pernah ikut Taekwondo waktu SMP. Bahkan aku pernah ikut tanding hehe. Yang qodarullah, pas aku tanding itu adalah hari pertama aku haid—yang kondisinya kakiku pegel banget dan perutku sakit banget. Tentu saja aku kalah. Aku menangis sendirian di kamar mandi antara menahan sakit perut haid dan sedih karena tidak bisa melalui pertandingan ini dengan baik.
Aku melalui sampai sabuk hijau strip biru. Tapi aku lupa banget kenapa aku berhenti. Mungkin karena ekskul itu ditiadakan. Entah. Aku masih ingat beberapa nama jurusnya.
Waktu sudah ada target (tempat untuk sasaran tendang) di rumah, aku tergerak juga untuk menendang. Thoriq langsung semangat juga, “Ayo, Mi apchagi mi.” Sambil dia ngomong gitu, aku lagi ganti celana dan mulai stretching. Alhamdulillah sampai sekarang aku masih bisa dan masih sering cium lutut. Dulu aku juga bisa split. Bahkan sampai SMA, aku masih memakai kemampuan split ini di kegiatan ekskul di SMA.
Aku praktekkan tendangan apchagi dan dollyochagi. Sebenarnya, aku tunjukkan itu juga untuk Luma. Karena Luma masih ngambang ketika melakukan tendangan, yang kalau kata Sabeum Wahyu, “Kamu sebenarnya bisa, cuma belum mau.”
Alhamdulilah, gak lama pas aku di kamar, ternyata Luma minta tolong Kholid untuk memegang target dan aku dengar suara tendangan dia, sudah bisa “terasa” lebih yakin insya Allah :).
Kholid dan Handzolah
Niat hati, Thoriq dan Luma dulu yang ikutan ini sampai beberapa bulan ke depan atau sampai berganti sabuk. Tapi baru datang 2x latihan, qodarullah Luma sakit pilek yang cukup berat dan dia gak berangkat latihan. Abang ajaklah kembar buat melihat bang Thoriq-nya latihan. Karena Abang tetap khawatir kalau Thoriq naik motor sendiri aja ke area baru. Jadi sambil menemani perjalanan Thoriq.
Ternyata di sana, kembar disuruh ikut aja latihan sama Sabeum Wahyu. Oh mereka senang dan semangat sekali.
Ya udah deh…Abang bilang gpp mereka ikut aja. Mereka ditanya juga emang udah pingin banget ikut.
Alhamdulillah juga pas latihan, keberadaan mereka sama seperti anak-anak kecil lainnya yang latihan. Gak terlalu berinteraksi dengan anak-anak lainnya yang sudah besar. Jadi, walau gabung latihan, bukan yang harus “gabung” dengan bang Thoriq-nya. Maksudnya, ini jadi salah satu pertimbangan aku hehehe. Tapi sekali lagi, ini cuma yang ada di otak aku. Ternyata penerapannya dari sisi sabuk sejenis insya Allah bukan seperti “kelas” di sekolah.
Latihan untuk kembar ini pun aku sudah minta tolong juga ke Pak Wahyu supaya nantinya mereka dipisah. Karena biar mereka juga belajar berinteraksi dengan selain mereka (gak selalu pasangan dengan saudara sendiri, yang cenderung malah jadi gampang kesel-keselan :D).
Tadinya kami bilang, kembar biar sendiri-sendiri dulu latihannya biar belajar mandiri—karena kebiasaan berdua nempel. Alhamdulillah pak Wahyu malah nyaranin untuk bertahap aja, nanti dipisah perlahan dan yakin bisa mandiri insya Allah.
Tapi kami sempat benar-benar lakukan, Kholid dan Handzolah berangkat sendiri. Benar-benar belajar merasakan melakukan kegiatan sendiri tanpa kembarannya.
Tentang Membungkuk
Hampir aja tertinggal bahasan ini. Tentang membungkuk yang biasa ada di awal pembukaan latihan, insya Allah kita bisa praktekkan langsung aja kita tidak membungkuk sampai pada umumnya orang membungkuk. Cukup kita anggukan kepala dengan badan tetap tegak.
Intinya, satu bagian ini insya Allah bisa kita hindari. Ini bisa diterapkan sama semisal kita berusaha gak sentuhan sama dosen lawan jenis. Kita berusaha lakukan dengan penerapan yang sesuai yang tidak melanggar syariat.
Oh ya, dulu pas Ziyad masih di pondok, ekskul bela diri di sana juga Taekwondo. Makanya aku mulai belikan celana Taekwondo buat celana sehari-hari mereka, karena waktu itu membelikan celana ini buat Ziyad, dan ternyata terlihat nyaman. Apalagi juga gak gampang robek bagian selangkangannya. Sebenarnya kami juga menawarkan Ziyad untuk ikut sekalian. Biar badannya lebih lentur. Tapi sampai sekarang Ziyad belum tertarik untuk ikut. Tapi bukan berarti dia gak olah raga. Kalau secara olahraga, kalistenik, bentuk badan, dia sudah jadi insya Allah. Tapi secara kelenturan, menurut kami masih perlu dilatih.
Nasehat Setiap Usai Latihan
Ada nasehat dari Sabeumnim Wahyu setiap usai latihan. Nasehat-nasehat yang baik insya Allah. Karena aku juga pernah dengar ketika survey di Rejodani, aku sendiri juga merasa nyaman mendengarnya insya Allah. Beliau sudah berpengalaman berpuluh tahun melatih anak-anak. Sebenarnya banyak cerita lain dari beliau terkait anak-anak yang beliau latih. Tapi aku cukupkan dulu untuk tulisan ini lebih ke terkait info yang diperlukan dan catatan aku sendiri terkait anak-anak.
cizkah
Jogja — Ahad, 4 Oktober 2026

