Sampai bingung mau mulai darimana, padahal keinginan buat nulisnya udah menggebu-gebu dan yang mau ditulis itu sebenarnya banyak banget.
Kok aku bingung banget ya mau jelasin yang mau aku urai dari kepala.
Setahun terakhir, ada banyak hal yang membuat aku merasa…merasa apa ya. Merasa berubah? Mungkin.
Tapi perubahan ini juga karena banyak hal yang aku temui setahun terakhir. Bahkan semakin banyak lagi pelajarannya selama 6 bulan terakhir ini.
Aku ingat, dulu waktu aku disakiti oleh teman-teman ketika SD, aku mulai belajar bahwa dunia itu ternyata isinya gak semuanya “baik-baik”. Tapi itu adalah kenyataan dengan tolak ukur anak-anak. Sekarang, di dunia orang dewasa, ragam dan bentuknya semakin banyak. Sesuatu yang tadinya bagiku mustahil, ternyata terjadi bahkan di orang-orang yang aku kenal atau bahkan dekat denganku.
Waktu Abang Kecelakaan
Waktu Abang kecelakaan, aku seperti mendapat “pelajaran-pelajaran” baru tentang kehidupan. Tentang manusia. Dan tentang diriku sendiri. Juga mungkin tentang Abang.
Sebulan awal sejak Abang kecelakaan, aku sempat bilang, “Kenapa aku merasa ada yang berubah dari aku?”
Mungkin karena aku harus menepis berbagai kekecewaan, berusaha menjadi sosok yang lebih kuat lagi dan juga sekaligus berusaha mengingat untuk terus bersyukur dengan kebaikan yang sangat banyak yang menutupi segala kesulitan dan kekecewaan yang aku rasakan.
Tepatlah apa yang disampaikan oleh Syaikh Shalih Al-Ushaimi tentang ujian dan musibah kehidupan:

HIKMAH UJIAN KEHIDUPAN
Berbagai ujian membuat hati menjadi matang. Dengannya, seseorang mengetahui kekuatan hatinya dalam iman dan akal pikiran.
Dengannya pula, tersingkaplah hal-hal yang tersembunyi, dan ia mengetahui sejauh mana cinta dan penghargaan orang-orang di sekitarnya.
Ketika berbagai ujian itu berlalu, seseorang akan benar-benar mengenal dirinya dan mengenal manusia, serta memahami jalan yang paling bermanfaat dalam memperlakukan dirinya dan mereka.
Syaikh Shalih Al-Ushaimi. Beliau ulama dan pengajar di masjid Nabawi
Mengajar Bahasa Arab
Sebulan sebelum Abang kecelakaan, sebenarnya kami lagi semangat untuk menjalankan rencana lama kami untuk membuka kelas bahasa arab. Lucunya, aku mempublish bahwa kami membuka kelas di sore hari ketika malamnya Abang kecelakaan.
Kelas ini, ternyata juga membawa pelajaran kehidupan lainnya dari berbagai sisi. Baik dari sisi bahasa Arab itu sendiri, tentang ilmu, semangat belajar, muamalah dan bahkan sekali lagi, pelajaran tentang akhlak.
Insya Allah aku cerita tentang ini di postingan tersendiri.
Kematian dan Kehidupan
Pelajaran tentang kesedihan, kematian, kehilangan ternyata bukan sepenuhnya terjadi waktu mba M meninggal. Aku pikir, tangis dan kesedihan yang ada pada saat kematian itu menunjukkan kasih sayang. Ternyata, baru dua bulan terakhir ini aku mulai belajar lagi hal yang baru.
Air mata yang muncul, bisa jadi memang bagian “sewajarnya” saat seseorang yang dekat dengan kita meninggal. Tapi, itu belum tentu menunjukkan kedekatan atau kasih sayang. Justru yang bisa dilihat adalah bagaimana sebenarnya sikap saat orang tersebut masih hidup.
Orang bisa dengan mudah meremehkan, melupakan, abai, atau bahkan dengan sengaja melupakan dan meniadakan sosok yang masih hidup. Kadang bahkan sebabnya bisa karena hal-hal yang terlalu remeh dan duniawi. Tapi inilah dunia. So ironic.
Ah..aku baru sadar, aku rasa akhir-akhir ini aku banyaaaak sekali menemukan keironisan.
Ujian Harta dan Social Media
Entahlah…Melihat social media dan apa yang terjadi di dalamnya. Hiruk pikuknya. Fitnah yang ada di dalamnya. Harus sering-sering jeda. Untuk kembali ke asal. Supaya nggak terseret.
Pola-pola yang ada di dalamnya. Yang gak baik jadi bisa dianggap biasa. Yang tadinya “menjaga diri” bisa jadi bebas. Ternyata balik-baliknya karena harta. Ternyata balik-baliknya karena popularitas. Ternyata balik-baliknya karena sudah futur dan menjauh dari ilmu yang telah dimiliki, atau bahkan menjauh dari ilmu yang belum dimiliki dan tidak berusaha mendekat kepada ilmu. Ternyata semuanya itu balik-baliknya lagi karena hawa nafsu. Na’udzu billah min dzalik. Na’udzu billah min dzalik. Ini beneran ngetik ini juga sambil takut. Harus sering doa agar terhindar dari musibah yang sama dan terus minta petunjuk Allah dalam setiap langkah.
الحمدُللَّهِ الَّذي عافاني ممّاابتلاَكَ بِهِ وفضَّلني على كثيرٍ ممَّن خلقَ تفضيلاً
الألباني، صحيح الترمذي (٣٤٣٢) • صحيح • أخرجه الترمذي (٣٤٣٢) واللفظ له، والبزار (٦٢١٧)، والطبراني في ((الدعاء)) (٧٩٩) • شرح حديث مشابه
“Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku dari (musibah) yang Dia timpakan kepadamu, dan yang telah melebihkan aku atas kebanyakan makhluk yang Dia ciptakan dengan kelebihan yang nyata.”
Doa supaya Allah terus bimbing dan dijauhkan dari segala kemunkaran baik fisik maupun hati.
اللَّهمَّ جنِّبني مُنكراتِ الأخلاقِ والأعمالِ والأهْواءِ والأدْواءِ
الراوي: قطبة بن مالك • الوادعي، الصحيح المسند (١٠٨٤) • صحيح • أخرجه الترمذي (٣٥٩١) مختصراً، وابن حبان (٩٦٠) باختلاف يسير، والطبراني (١٩/١٩) (٣٦) واللفظ له.
“Ya Allah, jauhkanlah aku dari kemungkaran akhlak, perbuatan (buruk), hawa nafsu, dan penyakit-penyakit.”
Dari kemarin mikirin cara biar bisa lebih banyak bercerita di blog ini. Karena di sini aku menulis memang karena aku pingin menulis dan mencatat. Sama seperti selama hampir 20 tahun aku menulis di sini. Gak tau siapa yang melihat atau membaca. Aku cuma pingin menulis dan mencatat. Aku ingin menyimpan memori dan kejadian di kehidupan. Aku menulis karena aku mau menulis. Aku ingin mengurai apa yang di pikiran.
Ya Allah..mudahkanlah kami melakukan hal-hal yang bermanfaat. Jauhkanlah kami dari perbuatan sia-sia.
Jogja — Sabtu, 25 Juli 2026

