Sampai Kapan Membersamai Anak dengan Al-Qur’an

Sampai kapan membersamai anak bersama Al-Qur’an?

Jawabannya, selama kita masih bisa membersamai mereka, membantu mereka menjaga hafalannya, insya Allah bisa sampai kapan saja 😊.

Ketika anak masuk masa remaja atau bahkan menuju menjadi pemuda, bukan berarti peran kita menjaga dan mengarahkan mereka untuk tetap bersama Al-Qur’an berhenti.

Slide 2:
Sumber: video Syaikh @ahmad_alnufais
Videonya lucu, karena sang ayah mengira beliau membacanya dari melihat mushaf di hp, bukan dari hafalan. Padahal beliau pegang hp karena sedang merekam ayahnya menyimak hafalannya.

Tapi poin yang ingin aku sampaikan adalah: sang ayah masih menyimak hafalan beliau 😊.

Apakah aktivitas terus mendekatkan anak dengan Al-Qur’an karena anak sudah menghafal 30 juz?

Engga insya Allah.

Bahkan ada kejadian di bulan Februari 2023 yang membuat aku…apa ya..takjub dan terinspirasi.. Waktu itu, aku lagi ujian final exam di salah satu exam center IOU. Insya Allah aku cerita di postingan lainnya ya.

* Thoriq usia 15th.
Alhamdulillah setoran ke Syaikh sudah 9 bulan.

Anak SMA Pakai Seragam Belajar Tahsin dan Al-Qur’an

Kalau sebelumnya kita melihat Syaikh Ahmad Nufais yang bacaannya masih disimak sang ayah, kali ini aku mau cerita kejadian tanggal 7 Februari 2023.

Sore itu aku melihat anak-anak dari keluarga lain. Mungkin mereka sendiri nggak menyangka bahwa yang mereka lakukan itu, insya Allah, luar biasa.

Anak-anak SMA, masih berseragam, duduk belajar tahsin dan bacaan Al-Qur’an. Masya Allah, barakallahu fiihim.

Momen sore itu jadi bahan renungan buatku. Sampai sekarang masih sering aku ceritakan ke anak-anak.

Aku dan Abang tumbuh di keluarga yang sederhana dalam pemahaman agama. Sampai hari ini pun kami masih terus belajar memperbaiki diri.

Tapi sore itu aku belajar satu hal: niat mendekatkan anak dengan Al-Qur’an nggak menuntut status apa-apa. Dari kegiatan yang sederhana saja, orang tua tetap bisa mendekatkan anaknya dengan Al-Qur’an.

Kegiatan “sederhana” yang di zaman ini justru jadi luar biasa. Luar biasa karena ada orang tua yang mau mengarahkan, dan ada anak yang mau diarahkan.

Justru hal “sederhana” seperti ini yang sering berat dijaga konsistensinya, karena anak dianggap sudah besar.

Lalu muncul jebakan rasa “cukup”. Bisikan setan kepada orang tua: “Kamu sudah cukup membekali mereka dengan dasar Al-Qur’an. Sekarang mereka sudah besar, sudah mandiri ibadahnya.”

Padahal justru ketika anak makin besar, ujiannya makin berat, dan mereka makin perlu kita dampingi. Setan itu sabar. Sabar menyesatkan, sabar menunggu kita lengah. Dan pemuda adalah sasaran paling empuk untuk disesatkan.

Semoga Allah selalu membimbing kita, dan memudahkan kita serta anak-anak kita untuk terus bersama Al-Qur’an.

Buku Menata Hati
Buku Menata Hati [versi cetak]
E-Book Menata Hati di Play Books

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *