Idealisme Tingkat Empeng

Masing-masing orang itu punya idealisme. Ada idealismenya untuk hal-hal yang sederhana. Ada yang sampai ke perkara besar menyangkut perut orang banyak.

Tapi yang namanya idealisme, ya tetap idealisme. Bahkan idealisme tingkat empeng pun rasanya jadi harus merasa “bersalah” ketika tidak mencapainya. Merasa ada yang kurang. Merasa harus menjelaskan ke semua orang bahwa,

“Hei aku tuh sebenarnya gak seperti ituh..”. Sebenarnya aku punya idealisme begini dan begitu…

Biasanya sih, kata idealismenya udah kehapus, dihilangkan. Mahdzuf kalo bahasa arabnya wkwkwk.

Yang lebih parahnya lagi, ternyata idealisme ini bisa mengarah ke kesombongan. Sampai-sampai, hampir saja aku memberi judul Kesombongan Tingkat Empeng.

Soalnya kalau menyangkut idealisme, ketika berhasil kadang suka puas diri. Jangan-jangan, karena merasa berhasil, akhirnya menganggap orang lain yang gak sejalan dengan idealismenya sendiri itu gak berhasil. Jadinya bisa-bisa menganggap orang lain lebih rendah dari dirinya. Na’udzu billah min dzalik. Kalau kata pribahasa, mengukur baju (orang lain) dengan badan sendiri. Pokoknya muhasabah terus deh.

Beneran, sejak si kembar lahir ini, banyak banget belajar banyak hal. Termasuk idealisme tingkat empeng ini. Soalnya banyak atau ada hal-hal yang gak sejalan dengan idealisme aku. Tapi kan jadi sadar diri. Orang banyak yang punya alasan untuk melakukan suatu hal. Kita seringkali gak tau. Tapi mungkin merasa tahu. Ada yang memang mungkin gak terlalu punya alasan khusus. Tapi apa penting banget buat kita untuk ngurusin semua urusan orang? Terus mengukurnya dengan tolak ukur idealisme kita sendiri?

Ah, ini sih sebenarnya pingin cerita tentang empeng.

Si kembar pake empeng. Keluar dari idealisme aku. Bahkan sampai saat ini tetap seringkali berusaha tetap berada pada jalur idealisme sebelum akhirnya ujung-ujungnya menyerah karena jeritan dan terlalu lelah untuk memikirkan idealisme empeng ini.

Awalnya belum kepikiran pakai empeng. Tapi terlalu banyak faktor dan situasi yang sampai-sampai sulit diceritakan secara detil satu persatu. Butuh satu hari berada di rumah ini, atau bahkan setengah hariii aja,  untuk bisa ngerti banget gimana sih keadaan keluarga dengan anak kembar – tanpa pengasuh – tambahan.

Empeng ini salah satu pertolongan yang alhamdulillah terkadang ampuh mengatasi salah satu jeritan si kembar. Atau sekedar menahan tangisan sebentar sementara aku meneneni salah satu. Gak selalu berhasil, tapi ini salah satu yang meringankan aku melalui hari-hari mengurus si kembar.

Ternyata yang sederhana ini sungguh berharga.

Makanya kalau kemudian ada yang membuat atau menonjolkan idealisme tingkat empengnya, aku berusaha menghibur diri dan cuek dan dalam hati bilang,  “Yah gpp. Pake empeng gak dosa insya Allah”.

Aku tetap berdoa semoga si kembar gak ketagihan empeng. Ini cuma sementara insya Allah.

Jogja, 26 Februari 2017/Jumadal Ula

Si kembar umur hampir 5 bulan.

 

 

4 Comment

  1. ummu Salman says:

    bismillah,
    Asik up date lg blognya.. semangat nulis mbak Cizkah.
    Na’am ana juga ngerasain idealisme sbg ibu yg sempet no empeng at all, no sufor at all, no gadget at all. Aturan sendiri yg qta langgar asli bikin merasa bersalah, trus qta sampai cari2 pembenaran gitu.. padahal taking care of your kids is the most important thing you do, ngga usah saklek-saklek banget..’pertengahan’ istilah ana. anything worth doing is worth doing at first.

  2. cizkah says:

    hehe, iya In. Semangaat. Yang penting jadi anak sholeh solehah sehat.

  3. ummu asiyah says:

    same heeeere! dulu pas belom punya anak kalo liat empeng sampe kayak bilang “kalo punya anak gak mau beliin ini, buang-buang uang” but theeeen tada! Asiyah ngempeng sampai setahun. Alhamdulillah lepas sendiri dan alhamdulillah gigi pertamanya juga numbuh pas Asiyah umur setahun hhihii rasa ketula nya gede bangeeeeet deh ini. tp ya itu tadi, ngempeng ga dosa insya Allah. zemangat ya mba ciz. so proud of youuuuu!

  4. cizkah says:

    heheh…masya Allah..bisa lepas sendiri ya Liya…aamiin aamiin.
    btw, ketula tu apaaan?

Leave a Reply