Twin’s Journey: Diagnosa Down Syndrome di Usia 12 Minggu

Masih ingat gak sama postingan ini. Ga berani cerita tentang ini sampai lahir si kembar. Karena emang kita sendiri masih penuh cemas dan harap. Walaupun di pemeriksaan minggu ke 16, ada ciri yang menghapus diagnosa down syndrome tersebut.

Pemeriksaan usia kehamilan 12 Minggu

Seperti biasa, aku ngajak abang periksa ke dokter di usia-usia tertentu karena memang ada tujuannya. Untuk mengetahui janin berkembang atau engga di usia 8 minggu, untuk mengetahui apakah ada hal-hal yang perlu diketahui dari janin (misal kelainan atau lainnya) di usia 12 minggu, dan untuk sekedar mengetahui jenis kelamin bayi di usia sekitar 18-20 minggu.

Yang tidak pernah aku persiapkan adalah mental untuk menerima kabar buruk di pemeriksaan usia 12 minggu.

Waktu menunggu antrian dokter – yang rasanya lama betul itu -, kita lagi bercanda-canda ngomongin masalah gimana nantinya insya Allah pas kembar dah lahir. Gimana butuh stroller kalau pas pergi, karena gak bisa gantian gendong kaya kalau pas bawa satu bayi.

Pas akhirnya dapat giliran periksa..begitu di USG, di cek keadaan bayi.

Salah satu bayi ok…bayi satunya lagi…dokter diam sejenak..terus periksa lagi..terus ngukur lagi…Muka dokter mulai berubah.

Oh oh…aku tau yang dokter sedang periksa…aku tau kemungkinan apa yang terjadi..tapi aku dengan polosnya nanya, “Nanti bisa berubah kan ya dok?”

Dokter gak jawab pertanyaanku. Dokter cuma bilang, “Nanti saya jelaskan.”

Dokter ngelanjutin meriksa, mastiin sekali lagi, diukur lagi, diprint hasil USG-nya.

Ini hasil USG waktu itu.

usg 12 minggu

usg 12 minggu

Waktu itu…perasaanku campur aduk. Rasanya gak pingin dengar penjelasan dokter. Rasanya ini gak mungkin terjadi.

Tapi akhirnya aku dan abang duduk di hadapan dokter. Anak-anak pun ada di ruangan itu waktu itu. Tapi mereka tentu saja gak ngerti apa yang sedang kami bicarakan.

Dokter menjelaskan pelan-pelan.

Awalan yang paling jelas aku tangkap adalah kata “IDIOT“.

Tentang janin atau anak yang lahir idiot. Dll dll dll. Aku sebenernya langsung gak sreg dengan sebutan ini. Karena yang aku tahu, dari melihat beberapa video…bisa kok anak-anak atau individu yang memiliki kekurangan ini dan itu menghafal Qur’an. Kayanya gak pantas aja individu2 ini kemudian dibilang idiot kan?

Waktu itu aku langsung membahasakan dengan bahasa yang aku tahu,

“Down syndrom ya Dok?”

Lalu dilanjutkan dengan tawaran, atau saran atau kemungkinan untuk TERMINATE  untuk menghapus kemungkinan lahirnya anak idiot.

What!?

Rasanya penjelasan dokter semakin menjauh dari benak aku waktu itu. Karena aku udah pernah baca-baca tentang ini di buku Ensiklopedia Anak yang intinya HARAM, sudah ada penolakan lebih dulu dari omongan dokter. Tapi aku masih berusaha fokus lagi mendengar penjelasan dokter tentang pemeriksaan ke dokter feto maternal. Tentang kemungkinan-kemungkinan berapa persen dari sekian persen. Beliau pun memberi daftar dokter feto maternal di Jogja yang beliau rujuk. Ada satu lagi tambahan dokter feto maternal di Jakarta yang ahli USG tingkat ASEAN. Dokter juga menjelaskan tentang tes untuk menguji kemungkinan DS yang diambil dari darah si ibu yang biayanya MAHAL.

Aku sempat bertanya yang intinya, memangnya kalau salah satu di terminate..satunya gimana? Ini bukan berarti aku setuju atau memiliki pikiran itu di benakku.

Dokter cuma ngangguk-ngangguk sambil berkata pelan… “Ya ya…paham-paham saya…”

Keluar Ruangan Dokter

Keluar ruangan dokter, aku masih diam. Abang pun diam. Aku gak bisa nebak apa yang ada di pikiran abang. Di ruangan dokter tadi, abang pun gak ngomong apa-apa. Lebih banyak aku yang berbicara dengan dokter.

Sampai di loket pembayaran, begitu duduk di kursi tunggu, tangisku pun pecah. Tadinya hanya tetesan air mata, sampai akhirnya semakin deras dan sudah mengarah ke sesunggukan.

Waktu itu ada Anwar yang ikut menemani. Sepertinya dia tahu ada situasi tidak enak yang sedang kami hadapi. Dia lebih banyak diam dan mengajak bercanda Luma yang berlarian kesana-kemari.

Abang masih gak komentar apa-apa tentang hasil pemeriksaan dokter. Beliau malah banyak memberikan senyum ke aku, berkata, “Qodarullah wa masya a fa’al”

Aku sudah sering mendengar kata Down Syndrome. Tapi gak pernah cari tahu lebih lengkap tentang ini. Di jalan menuju parkir, aku masih berusaha menahan tangis.

Abang pun berkata tentang tawaran dokter. Aku malah semakin sedih. Aku sama sekali gak mau dan gak mikirin tawaran itu. Aku kaget, shock. gak siap dengan hasil pemeriksaan ini. Tapi aku gak mau dan yang aku tahu bahwa tawaran itu terlarang dalam Islam. Aku melontarkan apa yang menjadi kekhawatiranku ke abang,

“Aku ga tau aku sanggup apa engga Baang….Ngerawat dua bayi aja udah repot..apalagi kalau salah satu butuh perhatian lebih khusus lagi…” aku berusaha berbicara di sela-sela isak tangis yang masih sulit dihentikan.

Perjalanan kami lanjutkan dengan makan siang yang sangat terlambat. Aku berusaha mengajak bicara Mama dan Jepi lewat whatsapp. Aku merasa perlu bercerita kepada seseorang. Tapi akhirnya aku merasa harus menunda semua berita ini ke keluarga. Aku khawatir malah lebih buruk lagi dampaknya ke aku dalam menghadapi situasi ini.

Sampai di Rumah

Sampai di rumah tepat adzan Ashar. Kami semua kelelahan. Setelah sholat Ashar, kami semua tertidur. Aku tidur lebih karena kelelahan. Pikiran yang berkecamuk membuatku lebih cepat terjaga walaupun rasanya fisik masih remuk redam.

Aku sempat menceritakan sedikit diagnosa ini ke Uus dan Umi yang kami berada satu grup cuma bertiga itu aja. Mereka menguatkan dan menghibur aku dengan penghiburan yang aku butuhkan (jazakunnallahu khayron Uuss…Umi..)

Terjaga dari tidur, aku berpikir langkah apa yang sebaiknya aku lakukan.

Akhirnya aku beranjak ke rak buku. Mengambil buku Ensiklopedia Anak. Membaca satu persatu penjelasan dari permasalahan yang bisa dikaitkan dengan permasalahanku.

Setelah menemukan jawabannya, aku melakukan research cepat tentang dokter feto maternal yang disarankan oleh dokter tadi siang. Ternyata dokternya malah praktek malam hari. Berarti ada kesempatan untuk periksa ke dokter yang lebih ahli lebih cepat.

Abang ternyata juga mulai bangun. Aku diskusi lagi dengan abang dengan pikiran lebih jernih, walau tetap diselingi dengan air mata yang masih mudah sekali keluar.

Bukankah ini ujian? Lalu jika memang diagnosa itu benar, apakah jika mengetahui anak kita memiliki cacat (apapun bentuk kecacatan itu) kemudian kita tidak menginginkannya kemudian kita akan menterminate kehamilan ktia? Engga kan?
Kemudian aku ajak abang untuk periksa ke dokter feto maternal malam itu juga. Aku tahu abang  juga letih sekali. Tapi rasanya menunda-nunda sampai waktu yang entah kapan malah tambah membuat gundah gulana semakin tak menentu. Alhamdulillah abang setuju. Ziyad dan Thoriq kami titipkan ke Andi..yang kemudian ternyata beralih ke Anwar di kantor.

Periksa ke Dokter Feto Maternal

Kami segera bergerak setelah Maghrib. Sepanjang jalan kami diam. Aku sibuk berpikir dan berusaha berpikir dari sisi positif. Yang berkecamuk di kepalaku waktu itu adalah lebih kepada menyiapkan diri dengan kemungkinan terburuk, dan apa yang aku bisa ambil sisi positifnya dari ujian ini. Aku berpikir semua insya Allah ada hikmahnya.

Sampai di tempat praktek dokter feto maternal yang cukup jauh dari rumah, kami segera makan malam makanan fast food. Aku yang sebenarnya mual jika makan ayam, memaksakan diri memakannya. Alhamdulillah abang membeli makanan lain di swalayan terdekat yang bisa menghilangkan rasa mual setelah makan ayam.

Saat menunggu nomor antrian, Uus menceritakan panjang lebar tentang diagnosa yang pernah terjadi pada keponakannya baru-baru ini.Diagnosa keponakannya yang si ibu terkena campak rubela, kemudian di USG hasilnya sudah terlihat ada cairan di kepala..tapi akhirnya lahir sempurna, sehat. Uus menyarankan untuk membaca dengan doa-doa ruqyah.

Masya Allah….dokter cuma manusia. Allah itu yang menciptakan, yang mudah membolak-balikkan segala sesuatu. Yang membuat sulit jadi mudah. Yang membuat sempit jadi lapang. Cerita itu begitu menginspirasi.

Ketika akhirnya kami masuk ke ruangan periksa. Ternyata alat USG dokter untuk jadwal hari itu adalah yang biasa. Kurang jelas. Bukan untuk pemeriksaan feto maternal. Tapi dokter berusaha tetap memeriksa pelan-pelan. Jika bagian di belakang tengkuk itu ikut bergerak bersama janin, berarti kemungkinan memang itu bagian dari janin. Bukan membran.

Hasilnya…

usg 12 minggu nt

Ternyata cairan di belakang tengkuk itu tetap ikut bergerak bersama janin…

Ya Allah…

Kami berdiskusi lagi dengan dokter. Dokter entah kenapa tetap ragu itu NT. Karena terlalu memanjang ke belakang. Aku merasa mendapat secercah harapan. Kemudian tapi dokter malah bilang lebih parah lagi kecacatannya kalau kemungkinan lainnya. Kemudian diberi surat pengantar jika memang ingin tes darah khusus untuk memeriksa DS ini.

Menguatkan Diri

Tangisan itu kembali pecah saat sampai di parkiran klinik tersebut.

Tangisan itu bukan karena hasil pemeriksaan. Tapi lebih kepada kecemasan aku memberitakan hal ini kepada keluarga. Kadang, kita bisa menghadapi situasi tertentu, tapi karena sebab lingkungan, akhirnya malah lingkungan itu yang membuat kita down.

Sampai di rumah, kami sempat berdiskusi lagi. Saling mengingatkan lagi tentang tawakkal. Allah Maha Kuasa. Kami simpulkan untuk tetap menyimpan diagnosa ini untuk kami saja. Diperkuat doanya. Diperbesar tawakkalnya. Doa-doa ruqyah tak henti aku baca.

Tidur aku tak tenang selama beberapa hari.  Aku masih merasa abang cenderung menghindari pembahasan tentang apa itu down syndrome, seperti apa down syndrome dan seluk beluk tentang down syndrome. Abang lebih banyak fokus ke pembicaraan tentang perbanyak doa. Allah yang membolak-balikkan semua keadaaan. Positif…positif dan positif..

Bukannya aku gak mau berpikir positif. Tapi aku merasa tetap harus menyiapkan mental. Aku merasa abang belum bisa menerima kenyataan jika memang diagnosa ini menjadi kenyataan. Akhirnya pada hari ketiga, aku bercerita. Cerita tentang kisah seorang ibu. Yang ternyata beliau akhirnya mendirikan POTADS. Gimana kebanyakan orang tua juga bereaksi sama. Aku ceritakan kisah ibu lainnya. Alhamdulillah akhirnya aku merasa mulai bisa seiring dengan abang menghadapi diagnosa ini.

Aku masih terus mencoba membaca beberapa referensi. Ada kisah dari luar negeri yang juga menceritakan hal yang sama. Kembar, didiagnosa DS, dan ternyata normal dan sehat.

Akhirnya setelah beberapa lama aku menghentikan semua research tersebut. Doa doa doa. Pasrah (tawakkal)…gak ada yang bisa mengubah semua keadaan ini kecuali Allah.

Periksa Usia Hampir 16 Minggu

Karena jadwalnya 4 minggu kemudian, rasanya gundah gelisah sampai ketemu jadwal periksa lagi. Alhamdulillah waktu itu pas ada ibu mertua datang. Kami bisa tenang hanya membawa Luma. Makanya aku bilang kehamilan ini rasanya kaya roller coaster. Walau pada umumnya setiap kehamilan juga akan penuh kecemasan karena memang kita gak bisa memastikan apa-apa sampai kelahiran si bayi. Tapi dengan diagnosa di usia 12 minggu itu, lebih lebih lagi cemasnya.

Pas akhirnya diperiksa dokter feto maternal…Pelan-pelan dokter memeriksa.

Mulai dari NT yang ternyata tidak seperti kemarin bentuknya…alhamdulillah.
Sampai akhirnya adanya tulang hidung yang menjadikan salah satu ciri bahwa janin ini insya Allah normal.

periksa feto maternal

Ya Allah…leganya luar biasaaaa…Alhamdulillah…alhamdulillahhh…rasanya gak berhenti-berhenti mensyukuri hasil pemeriksaan kali ini. Pulang dari sana juga tetap merasakan kebahagiaan ini. Kami tetap tidak menceritakan diagnosa ini ke siapa-siapa. Sampai menjelang kelahiran pun kami masih terus berharap, berdoa dan cemas.

Alhamdulillah, ketika mereka lahir…ternyata keduanya benar-benar sehat walaupun usia kelahiran mereka adalah 35 minggu 4 hari. Cerita kelahiran mereka menyusul insya Allah.

 

cizkah
7 November 2016/7 Safar 1438

2 Comment

  1. galuh says:

    maasyaAllaah jadi inget kehamilan anak ketiga juga kena campak rubella. Mmg campur aduk rasanya y mbak memikirkan yg ada didlm perut. Alhamdulillaah stlh kesulitan byk kemudahan, Adek lahir dg sehat dan normal walau BB hnya 2,5kg.
    Dg kelahiran yg mudah sekali biidznillaah dan dlm wktu cepat. Kalau flshback kebelakang rasa-rasanya malu ingatnya, ktn tnyta itu ujian keimanan si ibu. Tawakkal atau malah putus asa.

    Baarakallahu fiiki mbak cizkah, rasanya pingin ketemu dan bs meluk mbk ciz :)

  2. Utami Siwi says:

    Mbak, baru kali ini saya baca blognya. Masya Allah saya ikut terharu. Saya sedang hamil 37 minggu. Di akhir masa kehamilan ini saya malah dilanda kecemasan. Janin didiagnosa atresia ani(tanpa anus). Minggu2 yang harusnya membahagiakan ini menjadi semacam mimpi buruk buatku dan suami. Ini anak pertama kami. Setiap hari saya menangis, berdoa, berpasrah sama Allah. Tetapi hanya Allah yang bisa membalikkan keadaan. Kami hanya berharap untuk bisa dikuatkan apapun yang terjadi dan anak saya bisa lahir sehat dan sempurna.
    Selamat atas kelahiran si kembar mbak, semoga menjadi anak2 yang sholeh. Minta doanya semoga anak saya lahir sehat dan sempurna seperti putra2 mbak. Ini baru sibuk mencari dokter spesialis untuk kelahirannya bbrp minggu lagi, karena begitu lahir harus langsung ditangani oleh spesialis bedah anak. Salam kenal mbak, semoga bisa berbagi cerita lagi

Leave a Reply