Sholat Ied di Lapangan Superindo

Alhamdulillah, sholat kali ini, aku merasa berkesan. Aku ngerasa damai banget masya Allah. Bener-bener muncul rasa manis dan bahagiaaa banget. Baik pas sholatnya, maupun pas doa penutuk khutbah ied. Bahagia banget ada doa untuk Palestina. Apalagi doa untuk kebinasaan untuk Yahudi yang juga pernah aku share di instagram. Jadi terharu sendiri ingat suasana kemarin.

Gak seperti waktu kecil yang ketika khotib berdoa, rasa-rasanya cuma ditanggepin “amin, amin” aja. Kali ini benar-benar bersyukur banget bisa meresapi setiap lafadz doa yang dilafalkan. Sebagian besarnya juga menjadi doa yang memang juga kupanjatkan rutin.

Alhamdulillah, anak-anak udah tahu semua mau pakai apa. Memang jauh-jauh hari mereka udah menghitung hari. Salah satu sebabnya adalah ada mainan lego yang memang dibeli sebagai hadiah hafalan, tapi memang diniatkan untuk dimainkan pas lebaran. Aku pesannya sengaja sebelum pertengahan Ramadan supaya di akhir Ramadhan bisa lebih tenang. Insya Allah tentang hadiah ini aku catat di tulisan yang berbeda.

Kembar yang sudah mulai besar sudah bisa juga diajak “aware” dengan mempersiapkan diri. Aku udah kasih batasan kapan jubah yang mau dipakai harus udah masuk mesin cuci supaya bisa dipakai pas lebaran. Alhamdulillah, mereka semua sesuai dengan arahan. Tanggal 28 semua udah harus gak dipakai lagi dan udah masuk mesin cuci. Ini karena aku perkirakan insya Allah bisa kering antara tanggal 28 atau tanggal 29-nya. Jaga-jaga lebarannya tanggal 30. Alhamdulillah karena ada dryer, jadi cucian hari itu bisa kering pada hari itu juga.

Luma juga udah aku ingetin buat siapin semuanya sehari sebelum lebaran. Aku ajak dia pertimbangin bajunya dan jilbabnya apa. Karena kemarin ada jilbab yang baru dibeli yang bisa dicocokin sama gamisnya yang udah ada. Dia pilih warna merah.

Pilihan Tempat Sholat

Ada tiga pengumuman lokasi sholat Ied yang dekat dengan rumah dari grup ibu-ibu RT. Lokasi pertama, lokasi yang memang bertahun-tahun selalu ada. Di area Monumen Jogja Kembali yang areanya memang sangat luas. Tapi kami gak pernah ke sana, karena di sana sangat ramai sekali. Dulu pertimbangan utama karena anak-anak yang masih kecil-kecil, jadi memilih yang lokasinya lebih kondusif dan aman insya Allah.

Lokasi kedua, lokasi yang paling dekat dari rumah, tapi lokasinya di masjid. Biasanya perempuan di area jalanan. Di jadwal, mulai sholatnya lebih cepat dari yang lainnya. Jam 6.30 wib.

Lokasi ketiga, lokasi terbaru. Area lapangan parkir superindo. Karena kami sudah biasa ke superindo jalan kaki, kami meniatkan sholat di sana.

Ziyad sempat ngomong mau coba sholat di Monjali. Thoriq bilang mau sholat di masjid An-Nur. Pertimbangannya karena cepat biar dia bisa pulang cepat. Sama seperti kembar, dia punya mainan lego yang ingin dirakit setelah sholat Ied. Dia bener-bener meeeenghitung hari. Sampai bosaaan semua dengernya hehe.

Tapi malam lebaran, Abang bikin keputusan. “Semua harus bareng sholat di lapangan superindo!”

Alhamdulillah pas sahur terakhir, kami dengerin bersama kajian ustadz Firanda tentang Idul Fitri.

Mereka bisa nerima keputusan Abang. Bukan sesuatu yang harus diperdebatkan. Karena tujuannya baik insya Allah. Biar sama-sama sekeluarga ke satu tempat. Gak mencar-mencar. Apalagi kalau tujuannya cuma mau cepet-cepet.

Aku dan Abang saling menimpali mengingatkan Thoriq. Dibenerin niatnya. Yang namanya kemudahan dari Allah. Bisa jadi walau ikut yang cepet, nanti kan ternyata ada kesulitan-kesulitan. Lagian kan kalau ke lapangan lebih sesuai sunnah. Kalau bareng-bareng kan nanti enak. Daaan seterusnya.

Jalan Kaki

Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Walaupun lokasinya bisa dibilang lumayan, dan kami semua jalan kaki, ternyata kami bisa sampai jam 6.45. Bisa jalan dengan tenang. Pas di rumah pun juga gak gradak-gruduk. Pokoknya seneng banget alhamdulillah.

Perjalanan dari rumah ke superindo jaraknya sekitar ± 750 m. Bolak-balik 1,5 km. Sebenarnya, aku gak pernah ngecek ini sampai suatu hari ketika aku share belanja ke superindo bareng 5 anak, ada yang komentar kalau itu jauh. Soalnya aku dan anak-anak alhamdulillah gak kepikiran tentang ini dan menikmati setiap perjalanan ke sana bareng-bareng. Dulu pas belum ada superindo juga ada toko buah atau toko alat tulis Prestasi yang kami juga biasa jalan kaki bolak-balik ke sana alhamdulillah.

Karena penasaran dan gak cuma pakai perasaan, waktu dapat komentar tersebut, akhirnya aku cek di google map berapa jaraknya. Ternyata memang lumayan juga. Alhamdulillah, malah jadi bersyukur bahwa kami gak mikirin dari sisi ini. Malah seringnya memang perjalanan ini bagian dari biar bergerak dan sehat insya Allah.

Kami gak mikirin berat dan jauhnya perjalanan ini. Kami justru menikmati proses perjalanannya.

Mindset ini berlaku untuk beerbagai hal lainnya.

Karena setiap tujuan itu tentu butuh perjalanan. Kalau mikirin berat dan panjangnya perjalanan, disitulah orang akhirnya sudah merasa menyerah sebelum memulai. Atau ada yang ketika memiliki suatu tujuan, akhirnya fokus di bagaimana cara “cepat” untuk mencapai tujuan tersebut. Padahal, kalau dijalani dan dinikmati prosesnya, insya Allah ada banyak hal yang bisa didapatkan :).

Karena Luma lagi haid -iya Luma memang udah baligh, tapi aku belum cerita di sini-, aku gak langsung ambil posisi. Lihat situasi dan cari yang posisinya di pinggir supaya Luma bisa tetap dekat denganku. Aku gak mau dia duduk di belakang sendirian, salah satunya tentu saja alasan keamanan. Alhamduillah, karena tempatnya sangat lapang, pas udah ada pengumuman jama’ah diminta berdiri, aku langsung ambil posisi yang lebih nyaman untuk kami berdua.

Alhamdulillah, karena posisinya di lapangan, matahari yang mulai meninggi mengenai punggung-punggung kami. Sebagian orang mungkin merasa kepanasan. Aku sendiri menikmati bahkan di panasnya matahari pagi yang mengenai badan kami.

Pertanyaan Kholid

Sungguh, Kholid tuh kalau nanya suka lucu dan mengagetkan. Suka gak nyangka dengan pertanyaannya.

Dari awal sebelum sholat, aku sudah mencari posisi Abang dan anak-anak supaya bisa lebih mudah bertemu ketika pulang. Waktu khutbah ied sudah selesai dan orang berkemas, aku segera mendekat ke Abang saat kerumunan orang mulai keluar. Kami bertemu di dekat pintu keluar. Kami sempat celingukan karena kembar gak ada di dekat Abang. Ternyata mereka sudah menunggu di luar gerbang di pinggiran. Aku segera mendekat ke mereka. Baru jalan beberapa langkah, Kholid langsung nanya ke aku,

“Mi…kok ada yang gak pakai jilbab?”

“Hah?” Aku masih gak yakin dengan pertanyaan dia.

“Kok ada yang gak pakai jilbab?” Mungkin saat menunggu, dia melihat orang-orang yang keluar ada yang gak pakai jilbab.

Aku langsung ketawa sambil mikir, nyusun jawaban sambil berusaha melalui seluruh kerumunan orang supaya bisa menjawab lebih jelas. Thoriq terheran-heran dengan pertanyaan adiknya. Padahal ini karena kepolosan dan keluguan seorang anak kecil yang memang memandang dunia insya Allah masih dengan fitrahnya.

Aku bisa mengira-ngira alur berpikir Kholid: Karena ikut sholat ied, berarti Islam. Kalau Islam, berarti pakai jilbab. Sederhana seperti itu.

Belum lagi dapat posisi yang pas untuk menjawab, tiba-tiba ada suara musik dimainkan mengiringi suara takbiran seorang wanita. Sepertinya memang sudah ada player yang isinya rekaman itu. Aku langsung, “Astaghfirullah…laa haula wa laa quwwata illa bilah…astaghfirullah…”

Tentu saja pertanyaan Kholid semakin bertambah, “Kok pakai musik, Mi.”

“Iya ini gak boleh harusnya. Astaghfirullah.”

Padahal udah bagus banget sepanjang dari awal sampai akhir tadi. Kenapa endingnya malah ada takbiran perempuan pakai musik.

Kami segera berjalan menuju jalan tembus yang membelok, menjauh dari kerumunan yag lebih padat. Di sana jawaban aku lebih jelas lagi.

Aku bilang memang begitu realitanya. Gak semua orang Islam pakai jilbab. Gak semua orang bisa menjalankan syariat yang udah Allah tetapkan. Aku bilang orang-orang tersebut tetap Islam. Tapi memang belum menjalankan kewajiban pakai jilbab. Bisa karena memang dia belum tahu atau memang belum mau, “Karena belum dapat hidayah taufik…”

Semoga Allah beri hidayah taufik untuk yang belum memakai jilbab untuk pakai jilbab.

Oh ya, sebagai pengingat, kita juga tetap harus menjaga hati supaya tidak merasa lebih baik dari yang belum bisa melakukan syariat. Tetap berdoa agar akhir dari segalau urusan kita adalah kebaikan. Dan yang paling penting tentu saja adalah akhir kehidupan kita sendiri nanti insya Allah, semoga adalah akhir yang baik.

Setelah itu, Thoriq, Luma, dan kembar bergegas pulang karena mau segera membuka kardus masing-masing. Aku, Abang dan Ziyad masih santai berjalan di belakang.

Aku memang mulai agak kliyengan karena sudah jam 7.30, sedangkan aku udah masak dari malam. Jadi sepanjang jalan pegangan lengan Abang.

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimushsholihaat, semoga bisa bertemu dengan Ramadhan berikut-berikutnya. Semoga Allah jaga dan bimbing kami selalu dalam ketakwaan. Aamiin.

cizkah
Jogja, Sabtu, 5 April 2025

Buku Menata Hati
Buku Menata Hati [versi cetak]
E-Book Menata Hati di Play Books

Leave a Reply