Slow Living; Bagaimana Cara Menjalani Slow Living?

Karena kita muslim, cara berpikir juga harus dikuatin berpikir sebagai seorang muslim. Ketika mendapatkan sesuatu untuk diterapkan di kehidupan, mesti dipikir dan ditimbang lagi…ini gimana sih kalo dalam Islam. Sesuai gak sih sama syari’at. Atau malah jangan-jangan bisa bahaya buat agama kita.

Slow living identiknya adalah mencoba menerapkan hidup secara lebih selooo…lebih santai. Karena zaman sekarang, rasanya kaya dikejar-kejar tiap harinya. Efeknya banyak orang stress, gak happy.

Konsep slow living ini sebenarnya penerapannya di berbagai aspek. Bisa dari cara makan (sebagai antitesis dari fast food), cara kerja (jadi gak matok jam kerja, tapi lebih ke kualitas kerja), dan seterusnya.

Secara teorinya semacam itulah.

Tapi prakteknya gimana?

Terus terang, aku mikirin banget tentang ini. Karena melakukan homeschooling, rumah tangga, ngurus 2 bayi, balita yang juga udah mulai hafalan, plus kerjaan di depan laptop. Hari-hari tentu saja rasanya seperti dikejar-kejar. Hectic, crowded. Beberapa kali aku bilang ke Abang,

“Ko kaya in a rush terus ya, Bang?”

Biasanya abang menjawab bahwa kehidupan kita ini sudah lebih baik daripada teman-teman lainnya. Ada yang mesti bolak-balik berapa jam perjalanan untuk kerja. Ada yang cuma seminggu-dua minggu sekali ketemu istri dan anak, yang berarti istri dan anaknya juga menghadapi kehidupan tanpa suami selama waktu berpisahnya. Ada yang begini dan begitu. Semuanya juga intinya dipenuhi dengan kehidupan “keras” yang harus dihadapi setiap harinya. Banyak deh jawabannya yang intinya cukup meluruskan kebengkokanku.

Intinya kan yang pertama dalam konsep slow living ini adalah kita selalu bersyukur dan sabar dalam setiap keadaan. Kalo engga, mesti nanti jadi kaya orang dikejar-kejar. Yang sering terjadi juga adalah, kaya dikejar-kejar sama DUNIA. Na’udzu billah min dzalik.

Tapi gimana sih, biar kita terus dalam keadaan “tenang”.

Karena sebenarnya, itu kan  inti yang ingin didapatkan dari konsep hidup slow living.

Hidup tenang. Gak stress. Tapi di sisi lain, berbagai aktifitas yang dilakukan tuh tetap berjalan. Nanti salah-salah penerapan malah jadi kaya orang malas, atau ternyata kerjaan keteteran bertumpuk. Iya kan?

Alhamdulillah…Allah bukakan jawabannya.

Jawaban sebenarnya bukan dari sekedar memperlambat ritme atau santai-santai saat kita melakukan berbagai hal.

Karena dalam Islam ada yang namanya keberkahan.

Gimana waktu yang ada bisa digunakan untuk berbagai hal yang BERMANFAAT.

Disitulah kemudian kita bisa dapatin praktek yang bisa kita terapin sebagai seorang muslim untuk konsep slow living ini. Artinya sebenarnya Islam sudah memberi cara untuk hidup bahagia, tenang, berkualitas gak dikejar-kejar dunia.

Masih teori ya? Hihi..Jadi prakteknya gimana cizzz?

Prakteknya adalah…cobalah, kita sediakan waktu paling luang dalam hidup kita untuk beribadah kepada Allah. Contoh paling gampang adalah baca Qur’an atau sholat sunnah. Jadi, saat kita ngerasa, “Yeeey..kita punya waktu luang.” Di situlah saatnya kita coba beribadah kepada Allah dengan tenang. Cobalah nikmati beribadah dengan tenang. Gak ngerasa bakal kehilangan “momen”. Harap dan yakinlah bahwa Allah akan memberi keberkahan dalam waktu kita setelah kita meluangkan waktu kita yang paling luang untuk Allah.

Untuk melakukan ini tentu aja harus doa dan juga usaha. Yang nulis pun juga masih terus berusaha. Karena ngedapatin waktu luang 1 jam kembar tidur (misalnya), itu kaya dapat sebongkah harta berharga. Kayanya langsung pengen ngerjain kerjaan yang udah dikejar deadline, atau kalo pas weekend langsung pengen bebikininan untuk bikin poster, jahit dll.  Was-was dari setan itu mesti nanti, “Nanti gimana kalo setengah jam baca Qur’an terus kembar bangun.” Berarti nanti gak ada waktu lagi dong buat ngerjainnya. Mesti nunggu kembar tidur lagi kapan lagi dong waktunya. Aduh, kalo setoran hafalan sama Ziyad sekarang, nanti kerjanya kapan dong, daaan seterusnya. Was-was…was-was.

Tapi yang namanya berkah itu kan gak pake logika. Itu berjalan seiring kita melakukan sesuatu atau mendapatkan sesuatu. Jadi, percaya sama Allah. Yakin sama janji Allah.

Allah ta’ala berfirman yang artinya,

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS.Faathir/35 : 29-30)

Biar lebih mudah menjalankan ini, untuk doa kita bisa doa yang sebelum salam dalam sholat.

للَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

(allahumma a’inna ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatik)

“Ya Allah, tolonglah aku dalam berdzikir, bersyukur, dan beribadah yang baik kepada-Mu).’” (HR. Abu Daud dengan sanad shahih)

Atau juga bisa dengan doa yang ini ya (asli ini doa favorit yang udah set sama doa dihilangkan dari rasa malas, lemah, bakhil, jompo. Pernah aku posting di ummiummi.com ya kalo yg pasangannya). Lihat deh, ada doa untuk supaya hati bisa khusyu dan terhindar dari jiwa yang gak pernah puas (alias gak happy)).

doa-berlindung-dr-keburukan-hati-jiwa

Buat yang pagi harinya keburu-keburu, coba luangkan waktu setelah dzikir pagi untuk baca Qur’an dulu ya sebelum melakukan aktifitas lainnya.

“Tidakkah salah seorang di antara kalian pada pagi hari bersegera ke masjid, kemudian ia mengajar atau membaca dua ayat dari Kitabullah, (maka hal itu) adalah lebih baik daripada dua ekor unta, dan (jika) tiga ayat (maka hal itu) lebih baik dari tiga unta, dan (jika) empat ayat (maka hal itu) lebih baik dari empat unta, dan begitu seterusnya perbandingan jumlahnya dengan jumlah untanya.”  (HR. Shahih Muslim (I/553) Kitabush Shalaatil Musaafiriin bab Fadhlul Qiraa-atil Qur-aana fish Shalaati wa Ta’allumihi. Sumber: https://almanhaj.or.id/3319-tabarruk-dengan-membaca-al-quran-al-karim.html )

Semoga bermanfaat.

Dari yang juga masih berusaha untuk mendapatkan hidup yang lebih berkah.

cizkah
28 Rajab 1439 H/14 April 2018

Leave a Reply