Kemarin ada ikhwah yang komentar di muslimah, menanyakan tentang tema yang aku buat apakah dibuat dari nol. Cuma sepertinya gak diapprove karena tidak berkaitan sama isi webnya dan personal banget pertanyaannya. Jadi…sekalian jawab di sini aja ya. Sekalian cerita perjalananku jadi  “pembuat web“.  Yang jelas, sampai sekarang aku masih terus  belajar dan masih belum ada apa-apanya dibandingkan mereka yang dah go internasional. Tapi bagaimanapun, aku tetap bersyukur, ilmu yang ada ini mudah-mudahan bisa bermanfaat dunia akhirat.

Ketika Belum Bisa Kuliah

Ketika teman-temanku sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan diri untuk ikut SPMB, aku sudah ada di balik komputer server sebuah warnet di Jakarta.  Ini pun bukan berarti aku sudah bisa komputer. Benar-benar blank soal komputer. Apalagi soal internet. Kebetulan warnet tersebut milik salah seorang anak dari teman dekat ayahku. Orang-orang yang direkrut lainnya juga yang masih ada hubungan dekat (seperti satu kampung, dll). Jadilah aku sebagai seorang penjaga warnet, belajar dari penjaga warnet lainnya bagaimana mengoperasikan komputer dan internet. Mengetik 10 jari masih sangat tersendat-sendat dan harus memandang sang keyboard. Penjaga rental di sebelah warnet itu pun sering mengejek gaya mengetikku yang super lambat. Waktu itu aku sengaja melatih mengetik 10 jari berdasar pada sebuah buku yang pernah kubaca di perpustakaan SMA. Aku punya prinsip, kalau latihannya dengan 11 jari (telunjuk kanan dan telunjuk kiri), sepertinya besok-besoknya akan tetap seperti itu dan kecepatan mengetik dengan 11 jari sepertinya tetap tidak akan dapat mengejar kecepatan mengetik dengan 10 jari.

Tentang Cita-Cita

Aku pernah bercita-cita menjadi seorang dokter. Aku menyukai pelajaran Biologi dan yang sejenisnya. Sampai kelas 3 SMA pun aku masih memiliki cita-cita tersebut. Sampai satu saat, seorang guru pembimbing (guru BK) yang mungkin tidak memaksudkan memberi pengaruh pada siswa-siswi yang ada pada saat itu berkata, “Wah, kalau kedokteran itu, bukunya tebal-tebal. Membahas masalah cacing saja satu buku.” Waktu itu, aku dengan pikiran sempitku beranggapan, “Ah…aku sepertinya tidak sanggup.” Ditambah lagi biayanya yang sangat besar.

Catatan untuk aku kalau jadi orang tua dan untuk  guru pembimbing lainnya, sepertinya jangan memberikan kalimat yang bernada pesimis untuk anak-anak. Berikan dorongan dan bimbingan bukan memberikan gambaran masa depan yang sulit dan bernada kepesimisan akan kemampuan.

Tapi aku sekarang tahu bahwa aku memang kurang cocok di kedokteran karena aku orangnya gak tegaan. Duh…apalagi kalo mesti nyayat-nyayat orang.

Sedikit ironis ketika aku mengikuti banyak acara persiapan SPMB tapi dalam hati aku tahu kemungkinan besar aku tidak dapat akan menempuh ujian itu karena masalah biaya dari keluargaku. Kebodohan dan keputusasaan dengan tanpa bimbingan di sekitarku yang membuatku seperti itu. Padahal ada berbagai jalan dan harapan untuk bisa keluar dari hal tersebut. Karena itulah, adikku bungsuku tersayang yang saat ini masih SMA kuberi dorongan dan berusaha kutiadakan kepesimisan karena masalah biaya. Semoga ALlah memudahkannya.

Di salah satu persiapan itu, aku mengikuti acara yang digelar UI dan mulai tertarik dengan komputer. Jurusan ini, dalam pikiranku adalah jurusan yang nantinya bagaimanapun tetap akan dicari orang dan lebih banyak peluang kerjanya. Tapi…akhirnya aku tetap tidak ikut SPMB tahun 2000 itu.

Penjaga Warnet dan Pebelajar

Setahun setengah aku menjadi penjaga warnet. Dulu, warnet masih mengandalkan koneksi dial-up. Dan internet phobia belum seperti sekarang. Karena itulah ada saat-saat warnet yang kujaga kosong dan tidak terhubung dengan internet. Pada saat itulah aku membaca tentang tutorial html dari dasar, ku tulis di buku. Ku ketik di notepad untuk melatih apa yang telah aku baca. Aku juga belajar menggunakan photoshop dengan membaca tutorial yang ada di software tersebut dan juga membaca tutorial software graphis lainny (paint shop pro). Kondisi komputer warnet, wah…jangan ditanya. Masih dengan RAM 64 yang cuma ada di satu komputer di warnet tersebut dan dengan Photoshop 4.0.  Aku mencoba juga menggunakan software Frontpage. Tapi basic html tetap berusaha kupahami.

Aku mengikuti forum-forum tentang design. Yang intens aku ikuti adalah designfaculty (Sayang sekarang sudah mati sejak pemiliknya Satya Gumilang resign dari pekerjaannya waktu itu). Waktu itu, aku yang masih berumur 19 tahun memiliki tekad, “Ah…orang-orang yang ada di sini, umurnya sekitar 23 tahunan. Aku pingin nanti kalau aku seumur mereka sudah bisa seperti mereka.” Dan proses belajar pun terus berlangsung. Aku mempelajari berbagai software design, mulai Fireworks, Flash, Illustrator, Corel Draw dll.

Oia, sebenarnya aku juga sempat diajar oleh seorang programmer. Tahapan awal Ms Access. Waktu itu aku sudah bisa bikin kalkulator sederhana. Kemudian mulai belajar VB. Tapi…hmmm…kayanya emang kurang cocok yang model-model programming kaya gitu.

Saat-saat inilah aku mulai membuat website, mulai dari hosting gratisan di f2s.net sampai dibelikan oleh seorang kawan dengan domain yang cukup aneh, pezikopat.com. Aku masih banyak menggunakan software Dreamweaver. Sehingga di akhir tahun 2001, aku memberanikan diri melamar untuk menjadi seorang designer di sebuah usaha desain di kawasan Bintaro.

Kesempatan Kuliah

Alhamdulillah Allah memberi kesempatan aku kerja sebagai seorang designer junior.  Tapi cuma bertahan 2 bulan. Kebetulan tempat tersebut untuk print art dan koneksi internetnya pun cuma dipegang oleh sang pemilik. Setelah aku resign, akhir April 2002,  Allah memberiku kesempatan untuku bisa kuliah. Wew! Kesempatan yang gak aku sia-siain. Waktu aku tahu ada kesempatan ini,  tinggal 2 bulan dari waktu ujian SPMB.  Jumpalitan aku mengulang pelajaran-pelajaran yang hampir selama dua tahun tak ku sentuh. Jurusan yang kupilih pun ku tentukan secara cermat. Jadi, gak ada istilah “pilihan  buangan”. Pilihan 1 komputer, pilihan 2 psikologi, pilihan 3 teknologi pendidikan. Semuanya adalah hal yang aku sukai. Dan di teknologi pendidikan ini tercakup materi di dua pilihan pertama, ada bahasan tentang komputer dan psikologi ditambah lagi mata kuliah lainnya yang banyak kuminati, seperit fotografi, video, dll.

Akhirnya aku masuk Teknologi Pendidikan. Ilmu yang ada di sana dengan ilmu dasar yang kumiliki saling melengkapi. Dan alhamdulillah di semester 3, aku mendapat hidayah akan din Islam. Sehingga saat-saat berikutnya yang kutekuni bukan hanya tentang perkuliahan dan dunia semata.

Belajar CSS

Satu kesempatan diberikan oleh seorang teman. Aku diminta membuat website, tapi full menggunakan CSS. Hm…bagamaina caranya? Biasanya aku membuat website menggunakan table-table. Dan css yang digunakan biasanya sekedar untuk mengatur warna font atau link. Saat itu, aku tidak mendapatkan bahan tutorial untuk belajar CSS secara bertahap. Aku hanya direkomendasikan melihat contoh yang ada di zen-garden. Akhirnya aku mencermati web-web tersebut dan melihat kode style yang ada. Aku belajar secara nalar. Jadilah proses pembuatan web tersebut trial and error. Mencoba memahami fungsi positioning, margin dan padding.

Setelah Menikah

Dua tahun aku tak menyentuh web design secara serius. Ketika menikah (tahun 2006) dengan abangku tersayang  yang seorang motivator yang baik insya Allah, aku di dorong untuk belajar lagi. Kebetulan beliau juga pengkoleksi berbagai tutorial bermanfaat. Jadilah aku membaca htmldog yang sudah didownload full satu website. Aku baru lebih paham tentang penggunaan CSS. Dan proses belajar lainnya yang berkaitan dengan design.

Modifikasi WordPress

Kemudian tahun 2007, aku memodifikasi dua website dengan satu tema wordpress. Hasil keduanya benar-benar beda. Dari situlah aku mulai belajar struktur yang ada di wordpress secara lebih mendalam. Dan kemudian mulai belajar membuat tema sendiri. Prosesnya panjang. Mulai dari tema coba-coba sampai akhirnya mendapat pesanan dari teman-teman abang.

Tadinya, aku berencana membuat buku tentang proses dari awal sampai akhir pembuatan tema ini. Dari pembuatan mockup, kemudian CSS dan XHTML. Draftnya sudah ada sedikit.  Tapi…qadarullah sepertinya sampai sekarang gak bisa diteruskan. Dan sepertinya mesti dipinggirkan dulu keinginan ini. :)

Jadi…begitulah kisahnya. Kesimpulannya…proses belajar apapun, perlu bertahap dan jangan terburu-buru. Dalam agama pun kita juga disarankan demikian. Gak bisa langsung belajar atau ndalamin kitab-kitab berat. Mulai dari yang ringan tapi kontinyu. Dan proses belajar ini terus berlangsung. Aku sendiri sampai sekarang masih banyak banyak banyak belajar. Jangan lupa, belajar ini gak cuma untuk ngejar dunia ya. Niatin untuk ibadah. Misalnya untuk yang pria, niatin bisa buat cari maisyah buat nafkahin anak istri, dll.

Mudah-mudahan bisa jadi ilmu yang bermanfaat.

Sepertinya ini berkaitan sama posting yang ini. Maap, blog ini emang minim plugin dan widget. Mudah-mudahan setelah pindah domain bisa lebih ‘beres’.