Anakku Tak Diimunisasi Alhamdulillah

Sebenernya gak sepenuhnya gak diimunisasi.

Ziyad pas baru lahir udah kena dua suntikan imunisasi (Hepatitis sama BCG kalo gak salah). Itu pun tahunya pas lihat kuitansi pembayaran rumah sakit : (. Abis itu kita masih ngimunisasi, tapi perasaan bang Hen udah gundah gulana. Ibaratnya, fase kami dalam memutuskan tidak mengimunisasi adalah:

Pertimbangan logika: si abang yang cerewet banget, “Ini mo sampe kapan disuntik terus?” “Masa tiap bulan mo disuntik?” Maksudnya kasihan buat anaknya gitu. Abang kan khawatiran banget juga orangnya.

Pas masih bimbang2 gitu, kita sampe nunda mo ngimunisasi Ziyad, sampe 3 bulanan. Trus, kita coba lagi, ya udah deh imunisasi lagi, DPT waktu itu.

Pertimbangan syar’i: lagi bimbang-bimbang gitu, trus dapet info kalo vaksin polio ada unsur babinya. Deuh.

Sebenernya sebelum nikah juga udah dengerin kajian dari ust. Aunur Rofiq juga, tentang gak perlu itu imunisasi. Sehat atau engga gak ditentuin dari imunisasi. Wong diimunisasi, ya kalo sakit tetep sakit.  Tapi pokoknya masih serba gak jelas. Tapi akhirnya alhamdulillah biidznillah, kita membulatkan tekad dan memutuskan gak usah mengimunisasi Ziyad.

Diskusi dengan Ust. Abu Ubaidah

Waktu ust. Abu Ubaidah ke Jogja, sempet terjadi diskusi antara suami dengan beliau. Sampe akhirnya ternyata beliau membuat tulisan di majalah Al-Furqon, yang intinya, pendapat beliau imunisasi itu boleh2 saja. Karena unsur babi itu sudah hilang di hasil akhirnya. Aku juga emang pernah baca tentang ini, intinya unsur babi itu hanya sebagai katalisator. Ustadz sampe sms suami kalo beliau udah bikin tulisan menjawab pertanyaan suami tentang imunisasi.

Trus abang tetep gak yakin dengan tulisan tsb, dan sms-an sama ust. “Daruratnya dimana ustadz?”

Akhirnya pas musim haji, ternyata ust. Abu Ubaidah sampe menanyakan ke syaikh (lupa syaikh siapa, pokoknya termasuk syaikh yg ma’ruf kita dengar). Kebetulan juga pas ust. Aris juga naik haji. Jadi, ust Aris sebagai saksi kalo beliau nanya. Intinya, syaikh juga mengatakan boleh.

Update: Yang ditanyakan ke syaikh tentu saja kaitannya sama dengan yg ditulis ustadz, yaitu ketika unsur haramnya telah hilang di hasil akhirnya, maka zat tsb (vaksin) jadi halal atau engga.

Tapi abang tetep gak yakin, karena syaikh menjawab sesuai pertanyaan dan info yang masuk di pertanyaan tersebut. Yang jelas udah ada unsur babi yang masuk, mo itu hilang atau engga, abang tetep bulat tekad ndak mengimunisasi insya ALlah.

Penggantinya, Thibbun Nabawi

Alasan dari teman-teman yang lain biasanya kan mengatakan, itu kan bagian dari usaha, jadinya gpp.

Abang bener2 concern tentang ini, alhamdulillah di rumah selalu sedia madu, zaitun, habbatussauda.

Malahan, baruu aja pas Ziyad kena impetigo, dan aku gak mau dikasih resep anti biotik. Akhirnya dokter ngasih resep lain yg aku pikir itu vitamin. Ternyata pas aku buka label apotek rumah sakit di obat tersebut, terus baca kandungannya, “Nigella Sativa” sama satu lagi *gak apal, yg jelas kalo disearch itu nama latin dari Meniran*, aku langsung ketawa dan ngasih tau abang. “Abangg…tau gak ini kandungannya apa?” Yap, habbatussauda dan meniran. Masya Allah ya.

Update lagi:

Biar gak pada salah paham, aku gak terlalu mikirin dari sisi konsiprasi atau karena ini produknya siapa (misalnya karena produk dari negeri kafir).

Karena sebenernya fokusnya beda. Kalo vaksin ini, fokus aku ke kandungannya vaksin tersebut (yg udah ketahuan secara ilmiah asal muasal, kandungannya dan hasilnya). Kalo dari segi hukum obat itu sendiri, dalam agama Islam kan diperbolehkan berobat, ke dokter. Tapi tetep menyandarkan semuanya kepada Allah. Kita hanya mencari sebab yang syar’i. Cuma tadi pas di kamar mandi kok kepikiran, jangan2 nanti ada yg salah paham dengan tulisan ini.

Jadi, tulisan ini hanya sekedar cerita pengalaman aku dan opini pribadi. Aku tahu ada yang punya pertimbangan-pertimbangan lain dan landasan lain sehingga tetap mengimunisasi anaknya. Semoga anak-anak kita tetep terjaga kesehatannya, dipanjangkan umur dalam ketaatan, dan merupakan anak yang sholeh dan sholehah. Aamiin

8 Replies to “Anakku Tak Diimunisasi Alhamdulillah”

  1. Ada beberapa pertanyaan sebagai bahan untuk berpikir:

    1. Apakah imunisasi masuk pada permasalahan “DARURAT” ? dimana letak daruratnya?

    Sedikit cerita, ketika saya mempertanyakan alasan permasalahan “darurat” untuk imunisasi pada seorang ustadz, beliau menyanggah bahwa ini bukan permasalahan darurat! mana indikatornya jika ini masalah darurat? kemudian ustadz tersebut -hafidzahullahu- bilang bahwa kecuali jika ada suatu penyakit yang menyebar dan mewabah di suatu daerah maka ini boleh jadi masuk perkara darurat. Misal: ketika ada wabah polio menyebar di suatu kampung. Wal ‘iya dzubillah.

    Fakta di lapangan: ternyata sangat banyak dampak jelek yang ditimbulkan oleh Imunisasi. Alih2 membuat kuat anak2 malah sebaliknya membuat lemah!

    2. Apakah benar unsur2 haram dan kotor dari bahan vaksin tersebut sudah berubah pada hasil akhirnya? pernyataan dan pendapat siapa yang dapat dijadikan pegangan?

    Kita tahu bahwa banyak cerita di balik perdagangan Vaksin ini. Negara Maju KAYA RAYA dengan mengekspor Vaksin ke negara2 berkembang.

    //Alasan besar di balik bertahannya proyek imunisasi atau vaksinasi adalah bisnis besar. Badan peneliti teknologi tinggi Internasional Frost and Sullivan menggambarkan pasar vaksin manusia dunia meroket dari US$ 2,9 milyar pada 1995 menjadi lebih dari US$ 7 milyar pada 2001.//

    Silakan Googling… terlalu banyak cerita yang mesti di tulis di sini.

    3. Pertanyaan selanjutnya, sampai kapan tubuh anak kita terus diinjeksi oleh vaksin yang tidak jelas bahan2nya? 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun? apakah tidak ada alternatif lainnya yang lebih baik?

    kita ingin anak2 kita semuanya menjadi anak2 yang shaleh/shalehah, anak yang kuat, pejuang di jalan Allah.

    ini ada link artikel yang bagus banget buat di baca:

    http://tomygnt-sendiri.blogspot.com/2010/06/imunisasi-dampak-konspirasi-solusi.html

  2. *nyimak…

    yang pake tripsin babi itu gak semua vaksin kan ya mbak, cuma IPV (polio suntikan), rotavirus, dan meningitis aja -itupun katanya skrng meningitis udh ada yang halal-.

    Yang lainnya udh pke produk lokal buatan BIO FARMA.
    Berarti yang imunisasi baby wajib dr pmerintah itu cma polio injeksi aja yang prosesnya bersentuhan sementara dgn tripsin babi.
    Gitu katanya dokter2 di grup GESAMUN.

    1. Aduh..ana sampai mual kalo mo buka facebook…jadi banyak ghibah dan namimah isinya gara2 masalah imunisasi ini. jadinya tambah illfeel hehe. Kebayang kalo dulu masalah atturots mgkn awalnya juga kaya gitu ;p

      Tapi kalo kami pribadi alasannya juga ga cuma masalah halal haram. Ya inti diskusi masalah imunisasi ada di tulisan ini win. Dulu pernah diskusi http://cizkah.com/hasil-diskusi-tentang-imunisasi

  3. iya mbak, kalo coment udah kayak ampe mau bacok2an. serem..

    1. serius ana mual lho kalo mo buka facebook…gak enak badaan..

  4. Assalamualaikum..
    Bun mau nanya dong, untuk merk habbatussaudanya apa yaaa?
    Aq jg mau coba kasih ke anak perempuanku umur 1 1/2thn buun…

    1. wa’alaikumussalam
      saya ko lupa ya mba wind…
      kalo untuk thoriq sama luma saya gak terlalu rutin ko mba wind…lebih ke madu yanga ada campuran habbatussaudanya…itupun kalo pas batuk atau gak enak badan

  5. Assalamu’alaikum bun, saya lg hamil 7 bulan. Rencana jg ga diimunisasi, tp untuk mengukur berat badan bayi setiap bulannya gimana? Apa harus beli timbangan sendiri? Terima kasih

Leave a Reply