Belajar dari Doktor Abdul ‘Aziz Ash-Shiini عبد العزيز الصيني

Gimana mulainya?

Kita belum akan bahas kitab-kitab atau hal-hal semacam itu.

Mungkin sudah ada yang lihat salah satu postingan aku di instagram tentang Mandzumah Abu Ishaq. 

Ada kisah dan perjalanan untuk sampai ke kitab itu.

Dan ada perjalanan dan liku untuk aku sampai menyadari betapa banyak pelajaran dan semangat yang bisa muncul dari mendengarkan bacaannya doktor Abdul Aziz Ash-Shiiniy ini. 

Semuanya butuh hidayah taufik dari Allah. Alhamdulillah ya Allah sampai ke tahap ini. 

Awalnya

Sebenarnya, udah sering banget lihat Abang buka kajian syaikh Sholih Al-’Ushaimi (الشيخ صالح العصيمي).  Beberapa kali bahas bahwa qori’nya nih orang China.

Tapi ya gitu. Sebatas itu aja. Gak sampai nangkep banget detil gimana-gimananya. 

Sampailah ketika aku mulai mengumpulkan file video dan mp3 Mutun Tholibil Ilmi untuk dipelajari offline. Supaya filenya bisa dicopy di mp3 player dan bisa distel di laptop kapan aja. Sampai akhirnya juga ketemu mandzumah Abu Ishaq yang bikin tambah semangat buat belajar mutun ini. Ketemu bacaannya Abdul Aziz Ash-Shiini. Kaya jadi matching antara keseluruhan yang bikin tambah terbang rasanya untuk mempelajari ini. 

Bacaan Abdul Aziz Ash-Shiiniy

Nawaqidhul Islam: Pembatal-Pembatal Keislaman

Hafalan pertama dari kitab Mutun Tholibil Ilmi itu Nawaqidhul Islam. Dari kalimat pertama yang dibaca beliau dan aku dengar berulang-ulang, itu udah ketangkap kalau beliau baca sesuai makhroj banget. 

Sampai akhirnya aku dengerin lagi lewat mp3 player. Ya Allah, semakin jelaslah bagaimana bacaanya doktor Abdul Aziz Ash-Shiiniy ini. 

Gimana beliau melafalkan huruf ض kaya ringan banget. Dengar huruf ح yang bersih. Huruf ص yang dibaca tebal daaan seterusnya.

Bagaimana kemudian aku menyadari bahwa aku tuh selama ini masih suka lalai kalau lagi baca Quran. Gak berusaha istiqomah sepanjang atau kapan aja ketika baca  sesuai makhroj atau sifat-sifat huruf yang harus dibaca. Jadinya kerasa mungkin lidahnya gak reflek dan masih tertatih-tatih. 

Aku juga jadi makin tau, bahwa qori yang biasa membacakan matan tuh gak semua orang bisa. Makanya pernah aku lihat salah satu video yang ditonton abang, dan qorinya syaikh Said Al-Kamali lagi serak suaranya. Aku bilang, “Kok gak diganti yang lain aja sih. Kasihan banget dengernya.”

Abang bilang waktu itu, ya gak semuanya bisa. Pas aku bahas lagi masalah bacaanya doktor Abdul Aziz Ash-Shiiniy ini ke Abang, jadinya flashback lagi, “Sekarang adek tau kan…gak bisa sembarangan.”

Jadi, tambah semangat insya Allah.
Orang China aja bisa kaya gitu. Semoga Allah mudahkan kita juga bisa membaca Al-Qur’an dengan tajwid dan berbahasa Arab dengan fasih yang berguna untuk menambah ketaatan kita kepada Allah. Aamiin.

Baca 13 menit, aslinya juga seperti itu. Aku sempat mikir kalau ada edit2an :D. Ini salah satu dauroh syaikh Solih Al’Ushaimiy

21 Februari 2020
cizkah
yang masih fakir ilmu banget

Leave a Reply