Antara Overthinking dan Melakukan Hal Bermanfaat

Lagi banyak muhasabah.

Salah satu yang cukup menganggu dari social media yang pakai platform like atau follower yang bagi aku seperti tipuan dunia. Aku sampai berharap semoga instagram benar-benar menghilangkan fitur like atau follower. Dalam arti, bisa dibikin option jadi kaya semacam plugin atau cuma sekedar opsi yang bisa digunakan lewat dashboard aja.

Makanya sebenarnya, platform blog ini adalah yang paling nyaman buat aku dari dulu. Cuma karena kadang-kadang terlalu overthinking untuk ngisinya, akhirnya ngerasanya kaya berat.

Padahal harusnya bisa dibuat sama. Dibikin menarik buat kita sendiri untuk melakukannya. Untuk kita sebagai catatan kehidupan. Catatan ilmu. Dan berbagai hal yang sebenarnya yang paling banyak ngambil manfaat ya kita sendiri. Kalau berkaitan sama orang lain, insya Allah akan ada yang mengambil manfaaat ya orang yang membutuhkan.

Satu lagi. Kadang overthinkingnya aku itu, kalau blog mesti fix urut. Padahal, kalau belum urut ya nanti diurutin pas udah publish kan bisa. Dibenerin kalimatnya lagi pas udah publish juga bisa. Sama kaya kalau aku nulis untuk instagram, sebenarnya kadang ngeditnya sampai juga berkali-kali karena seringkali karena nulisnya model satu waktu, ada aja yang kurang tepat kalimatnya atau susunannya.

Jadi, semoga aku bisa lebih istiqomah untuk share berbagai hal di sini. Yang sebenarnya masih banyaak banget yang pingin ditulis.

Ada satu ganjalan yang aku baru sadar kenapa juga gak bisa senyaman posting tulisan di instagram. Karena aplikasi wordpress di hp itu suka error. Aku beberapa kali pakai, ngedit, ternyata malah hilang. Jadi gak kesync sempurna dengan versi web aslinya. Kalau login langsung juga tampilannya gak bisa enak karena gak ada versi mobilenya.

Tapi semoga ini bukan jadi halangan. Harus dicari solusi untuk satu ganjalan yang malah bikin gak produktif. Misalnya tulis di Keep atau Google Docc. Kalau ada yang perlu diedit ya edit yang di Keep/Google Doc baru di publish ulang lagi.

Mulai saja. Gak usah tunggu sempurna.

Aku lagi sering banget nulis kalimat ini atau yang semisal ini di mana-mana. Bahkan di buku catatan (yang aku sayang-sayang karena aku suka kertasnya dll), tapi malah akhirnya gak ditulis-tulis.

Overthinkingnya tuh bisa banyak banget.

Sayang kertasnya. Pinginnya isinya bagus. Diisi tulisan apa. Pakai pena yang mana. Jangan sampai yang bleber. Pingin pakai pensil aja karena aku lebih suka pakai pensil. Tapi kalau tujuannya jangka panjang sebaiknya pakai pena. Bahkan sebaiknya lagi model ballpoin yang tapi seringkali suka bikin aku merasa gak bisa rapi.

Pakai pensil gak disarankan karena seiring waktu, karena dia granit atau semisal itu, maka akan habis. Seperti terhapus gitu. Sedangkan tulisan yang ditulis dengan tinta maka akan lebih kokoh. Makanya tulisan ulama kebanyakan pakai tinta.

Aku gak tau tinta apa. Barusan sampai aku coba antara fountain pen, ballpoin dan model fineliner.

Daan seterusnya. Akhirnya biar buku-buku notes yang beli kemarin-kemarin, beberapa aku tulisin di depannya.

Mulai saja.
Kenapa harus sempurna?
Kalau itu hanya membuatmu tidak kemana-mana?
Menahanmu untuk melakukan sesuatu.
Mencoba hal baru.
Berlatih sesuatu.
Pasti ada yang dikorbankan.
Jadi ikhlaskan!

Jadi, kita mulai ya.
Karena manusia itu pada dasarnya gak sempurna.

Begitupula aku.

cizkah
11 Februari 2020

2 Replies to “Antara Overthinking dan Melakukan Hal Bermanfaat”

  1. kalau saya malah, ga tau harus memulai apa? merasa ga berdaya mengatasi sifat buruk sendiri. ga tau harus bagaimana, akhirnya malah ga bergerak

  2. […] gitu. Tapi karena udah nulis hampir di seluruh lembar pertama buku yang aku beli, tentang “Mulai saja…“, aku malah senang karena ketemu hal yang menarik untuk dijadikan catatan rutin dan semoga […]

Leave a Reply