Jangan Buat Adik Saling Iri

Alhamdulillah, akhirnya bisa dibilang kondisi boneka rajut singa punya Handzolah sudah sampai di tahap sama dengan punya Kholid. Terakhir kemarin aku tambahin jahitan di hidung.

Sebenarnya, aku udah mengupayakan supaya warna rambutnya sama. Tapi ternyata benang yang aku pakai waktu bikin yang punya Kholid bukan pakai stok benang guluangan besar. Akhirnya sampai bela-belain minta Abang antar ke toko alat jahit – yang alhamdulillah dekat rumah – waktu aku kontrol gigi bulan kemarin.

Yang ternyata di sana pun gak dapat warna benang yang sama. Akhirnya ketika proses jahit rambut singa Handzolah, aku mesti menyampaikan ke Kholid dan Handzolah, bahwa warna benangnya gak bisa sama.

Kejadian Luma

Sampailah beberapa malam yang lalu, ketika akhirnya aku selesai menjahit bagian hidung. Handzolah senang banget. Kemudian kedua boneka ini dibawa dan dimainkan mereka.

Waktu aku di dapur, kedengaran Luma mengomentari boneka Handzolah.

“Kok yang ini begini..”
“Eh ini lebih begitu..”

Kira-kira begitu ya. Aku langsung cepat memanggil Luma ke dapur. “Luma….Luma. Sini.”

Ketika mau menyampaikan sesuatu yang berkaitan dengan anak tertentu, dari dulu insya Allah aku mengupayakan untuk gak terdengar oleh si anak. Misal ketika mau bahas ke Abang tentang Ziyad, ya aku bahasnya gak di depan Ziyad. Atau tentang Thoriq, aku bahasnya gak di depan Thoriq. Walaupun mereka masih kecil. Karena sebenarnya insya Allah mereka bisa nangkap pembicaraan kita.

Luma yang mendengar nada panggilan aku, dia sudah tahu ada sesuatu yang aku kurang berkenan. Sambil ke dapur, dia langsung buru-buru meluruskan. “Luma udah ini kok, Mi.” Kayanya dia kemarin ngira aku masalahin masalah tugas belajarnya.

“Bukan itu. Sini.” Aku suruh dia makin mendekat supaya aku bisa ngomong dengan suara pelan.

Aku langsung nasehatin dengan suara pelan. Jangan sampai kedengeran si kembar.

“Luma jangan komentarin boneka adek. Yang ini lebih panjang. Yang ini lebih lebat. Yang ini lebih bagus. Atau yang semacam itu. Ummi insya Allah udah berusaha untuk sama. Adik jangan sampai ada yang merasa jadi dibeda-bedain. Nanti jadi ribut. Padahal ummi udah berusaha sama. Ya Luma? “

Alhamdulillah dia paham. Balik lagi ke adiknya dan ngelanjutin mainnya tanpa bahas-bahas perbedaan si boneka seperti sebelumnya.

Bahaya Iri Hati

Untuk si kembar ini, selama itu bisa disamakan, insya Allah aku dan Abang berusaha samain. Misalnya Kholid yang suka banget sama mainan tank. Handzolah yang sebenarnya sama mainan seperti itu biasa-biasa aja. Ya tetap dibelikan sama. Udah beberapa kali kejadian seperti ini.

tank-kholid-handzolah
yang ngerakitini bang Thoriq ^^. Adiknya yang dibeliin mainan, dia ikut senang.

Ini juga berlaku untuk kakak adik. Karena kadang terjadi di orang tua, karena misal si A gak terlalu banyak minta. Akhirnya ya gak dikasih atau dibelikan apa-apa. Sedangkan saudara A si B yang memang banyak permintaan akhirnya dibelikan. Padahal bisa jadi si A sebenarnya membutuhkan juga, tapi memang tipe anak yang gak ingin banyak menuntut.

Kalau ada gejala anak-anak timbul rasa iri dan mulai kelihatan merasa gak mendapat nikmat yang sama, biasanya langsung segera diluruskan. Langsung diberitahu bahwa iri itu bahaya sekali. Harus komunikasi dan ngomong aja ke Ummi atau Abi.

Dan ingat, bahwa Ummi dan Abi insya Allah berusaha adil. Ingat kisah Qobil dan Habil itu terjadi karena iri. Kisah saudara nabi Yusuf terjadi karena iri. Biasanya kemudian disadarkan bahwa sebenarnya insya Allah sudah sama.

Misal si kembar ketika kemarin mba Lumanya dibelikan baju tidur dua buah. Handzolah sempat kelihatan protes dan berharap dia juga dapat. Dia agak uring-uringan. Nah, itu aku ingatkan lagi berkali-kali. Bahwa kemarin udah ummi beliin baju tidur juga buat Handzolah yang warna biru tua dan biru muda. Ingat gak? Waktu itu, yang buat Luma gak ada. Jadinya buat kalian dulu.

Jadi, berbuat adil ini memang benar-benar berbuat adil. Bukan cuma pembenaran dan pembelaan kita aja. Oh iya, adil itu bukan berarti sama plek ya. Adil adalah menempatkan sesuatu sesuai porsinya. Misal ketika usia berbeda, kebutuhannya juga beda-beda. Dan kedua pihak tetap disadarkan. Misal Ziyad yang udah besar dan lebih banyak butuh pakaian untuk belajar, sholat dll, maka dananya lebih ke itu. Sedangkan adiknya masih ada kebutuhan beli mainan. Jadi disadarkan. Bang Ziyad udah beli baju ini. Kemarin kalian udah dibeliin mainan ini. Jadi sama-sama sadar diri. Bahwa kalau berkaitan dengan materi, masing-masing itu udah dibeliin macam-macam sama ummi dan abi. Bukan cuma satu anak aja yang dibeliin sesuatu terus yang lain gak dapat apa-apa.

cizkah
Jogja, 11 September 2021

Leave a Reply