Jatah

Sebagai orang yang lahir di keluarga dengan anak banyak (lima itu cukup banyak kan yah), aku cukup terbiasa dengan sistem penjatahan. Apalagi kondisi ekonomi Mama Papa saat aku masih kecil memang serba tak pasti. Sudah biasa bagi kami untuk mendapat jatah makan satu rempela dan satu hati perorang untuk makan siang malam. Terserah nanti mau pilih makan hati dulu atau rempela dulu. Ziyad terheran-heran sekali mendengar cerita ini. Mungkn karena sebab itupula aku juga jadi penyuka lauk hati. Karena lauk hati bisa dicuil sedikit-sedikit tapi tetap berasa cukup sampai suap nasi terakhir, sedangkan rempela harus digigit ukuran lebih besar dan cepat habis sebelum nasinya habis. Jika lauknya telur, maka jatah per orang adalah satu setengah telur untuk makan siang dan malam. Silakan diatur sendiri apa mau makan setengah telur saat siang dan satu telur saat malam atau sebaliknya. Biasanya aku makan setengah untuk makan siang, biar puas pas makan malamnya. Makan lauk tanpa nasi, atau dalam bahasa kami “Gadoin lauk” itu adalah peristiwa langka. Sekalinya dibolehkan, senangnya luar biasa.

Abang yang hanya tiga bersaudara dan pisah jarak dari usia belasan bukannya tak punya cerita tentang penjatahan. Mak dan Bapak bahkan lahir dari keuarga yang lebih besar lagi. Mak dari 10 bersaudara (satu anak meninggal), sedangkan Bapak dari 14 bersaudara, hidup semua sampai semua menikah. Abang diceritakan bagaimana Gede (panggilan untuk nenek dari pihak bapak) menjatah nasi per anak supaya tak berebutan. Setelah selesai, Gede menunjukkan bakul nasi ke semua anaknya sambil berkata, “Lihat ko..habis galo yo…” Supaya anak-anaknya tahu dan tidak ada yang meminta-minta lagi.

Alhamdulillah, Allah memberi kami kecukupan yang lebih baik daripada kondisi aku sewaktu kecil. Namun tetap saja ada kondisi aku harus menyebutkan jatah mereka. Saat membuat lauk juga harus mengakali agar cukup untuk semua namun juga tidak berlebihan yang menyebabkan mubadzir.

Misalnya ayam 1 kg cukup untuk makan siang dan malam untuk 8 orang. Kok 8 orang? Karena ada Hikmah dan si kembar. Alhamdulillah sudah tidak perlu ekstra meluangkan waktu untuk membuat lauk si kembar yang sudah berumur > 1 tahun. Seringkali, semuanya sekalian dalam satu sesi masak.

1kg biasanya berisi 12 potong. Jika paha maka dibelah 2. Jika sayap maka juga dibelah 2. Dengan cara ini biasanya bahkan lauk ayam ini bisa sisa. Untuk ikan biasanya masing-masing harus punya kesadaran untuk mengambil secukupnya.  Ziyad dan Thoriq yang biasa minta izin untuk “gadoin” lauk yang masih ada.

Makan di Luar

Sejak punya anak kembar plus ada Hikmah, bisa dibilang kami belum pernah lagi makan di luar.
Pertama, super ribet. Karena si kembar masih kecil-kecil banget

Kedua, mahal banget haha. Mikir banget yah. Pokoknya jadi serba, “Wah sayang banget yah, uang segitu habis buat makan sekali doang.”

Misal sekali makan habis 200rb. Waduh, ini mah bisa buat beli lauk, buah dan cemilan untuk 2 hari.

Ok deh ga makan di luar. Kalau beli lauk gimana? Nah, ini juga 11-12 sama makan di luar. Alhamdulillah ada warung dekat rumah yang harganya di bawah rata-rata banget. Lumayan, kalo capek.

Masalah lauk nih mesti hemat karena kan harus beli yang lain-lain juga, semisal buah, cemilan dll. Belum lagi pengen bakso pula haha. Maklum, walaupun penyuka bakso, tapi aku belum tertarik untuk bikin sendiri. Kalo pengeluaran buat lauk banyak, cemilan banyak, buah banyak, bisa-bisa kapal karam karena bocor deh. Na’udzubillah min dzalik.

Masak-Masak-Masak

Ga perlu keluar negeri untuk merasakan “mesti bisa masak sendiri”. Alhamdulillah Allah mudahkan untuk bikin macam-macam sendiri. Bahkan pizza yang dulu kayanya eksklusif banget yang mungkin setahun sekali belinya. Yang kalau setiap mau beli mikirnya berkali-kali dan pake nahan-nahan diri. Kalau sekarang alhamdulillah kalo pingin InsyaAllah beli daging aja Udah 2ons, jamur dan bahan pendukung pembuat pizza lainnya. InsyaAllah jadi deh pizza 2 loyang gede.

Jadinya kalau liat pizza di luar udah ga kaya punguk merindukan bulan.

Sate Padang juga gitu. Dulu kalau mau beli mesti request spesial ke Abang. Sekarang, bikin aja pake rempela. Nah, tapi si rempela ini kalo ditusuk-tusuk jadi sate kesannya jadi sedikit loh. Misal udah pake 4 rempela tapi jadinya cuma 4 tusuk sate. Rasanya pasti mau ambil sampe 8tusuk deh. Satu kg rempela jadi kurang rasanya kalo di tusuk-tusuk jadi sate. Lagian… makan waktu juga. Padahal kalau makan 4 rempela sekali makan pakai nasi InsyaAllah cukup banget kan. Akhirnya, si sate Padang ga aku jadiin sate.

Makan Bersama Semoga Penuh Berkah

Alhamdulillah, matematika itu memang tidak berlaku untuk rezeki dari Allah. Hitung-hitungannya beda. Mungkin secara logika, kalo orangnya 7-8, terus ada yang makannya berdua-berdua, beli mie ayam harusnya 5-7 mangkok biar puas. Alhamdulillah kenyataannya beli 3-4 mangkok udah cukup.

Pernah satu malam kemarin, rasanya udara lagi panas banget setelah badai Cempaka berlalu. Di kulkas tinggal satu buah ketimun dan satu buah apel. Di blenderlah sama Abang. Aku sih terima jadi. Bisa minum segelas gede. Anak-anak semua dapat. Kaget juga pas Abang bilang itu dari ketimun dan apel 1 buah. Alhamdulillah cukup cukup.

Alhamdulillah…cukup… cukup.. :)

cizkah
Jogja, 3 Februari 2017

Sabtu sore yang dingin pas kembar lagi bobok, Luma dan abang-abangnya main. Dan ini sejujurnya adalah draft tulisan yang sudah cukup lama ada di Google Keep :D.

Leave a Reply