Masing-masing orang itu punya idealisme. Ada idealismenya untuk hal-hal yang sederhana. Ada yang sampai ke perkara besar menyangkut perut orang banyak.
Tapi yang namanya idealisme, ya tetap idealisme. Bahkan idealisme tingkat empeng pun rasanya jadi harus merasa “bersalah” ketika tidak mencapainya. Merasa ada yang kurang. Merasa harus menjelaskan ke semua orang bahwa,
“Hei aku tuh sebenarnya gak seperti ituh..”. Sebenarnya aku punya idealisme begini dan begitu…
Biasanya sih, kata idealismenya udah kehapus, dihilangkan. Mahdzuf kalo bahasa arabnya wkwkwk.
Yang lebih parahnya lagi, ternyata idealisme ini bisa mengarah ke kesombongan. Sampai-sampai, hampir saja aku memberi judul Kesombongan Tingkat Empeng.