Kalau dipikir-pikir…tahun 2025 ini, kalau bisa dibilang tahun duka…mungkin akan aku sebut tahun duka. Tapi… mungkin jadi seperti berlebihan. Karena alhamdulillah masih banyak kemudahan dan kebahagiaan mengiringi kesedihan itu.
Tahun ini, adalah tahun yang benar-benar penuh tangis.
Kesedihan-kesedihan yang memang bagian dari ujian dalam hidup yang harus terus dihadapi pasti ada. Tapi ada ujian-ujian besar, yang tangisnya ga selesai dalam waktu sehari. Sedihnya ada yang melekat. Pembicaraan tentang hal terkait kesedihan itu, seperti ga ada habisnya.
Mulai dari awal tahun yang dengar kabar sedih dari mas Lyno bercerai.
Abang kecelakaan di bulan Juli, yang bahkan efeknya masih terasa sampai sekarang dalam kehidupan. Saat aku menulis ini, berarti sudah hampir 6 bulan berlalu, dan kehidupan masih belum berjalan seperti sebelum Abang kecelakaan dulu.
Belum juga tuntas aku cerita kesedihan yang satu, ternyata sudah hadir cerita lainnya.
Kali ini, cerita tentang kehilangan seseorang yang aku sayangi.
Kabar Siang Itu
[Rabu, 17 Desember 2025]
Siang itu, aku baru terbangun pelan-pelan. Aku sudah pasang alarm jam 10 pagi sebelum aku tidur lagi tadi pagi. Dari kemarin tanda-tanda pilek mulai muncul. Alhamdulillah ga sampe parah, tapi pusing dan gatal masih ada pagi itu. Biasanya, sengantuk atau sekurang tidur apapun malamnya, insya Allah masih bisa bertahan pagi harinya. Tapi pagi itu enggak. Aku cuma bisa baca setengah halaman Al-Qur’an.
Malam sebelumnya, laptopku ketumpahan kopi. Letak kopi yang sebenarnya sudah dalam posisi jauh dari laptop, tersenggol benar-benar ke arah laptop oleh salah seorang anakku tersayang. Muncrat ke bagian keyboard. Padahal pekan ini, aku sedang ingin intensif belajar untuk ujian susulan satu mata kuliah. Qodarullah wa masya-a fa’al.
Sesaat sebelum ketumpahan kopi, aku baru saja juga membereskan satu pekerjaan terkait tim. Alhamdulillah akhirnya donasi mencukupi untuk menyediakan fasilitas untuk audio editor tim (perjalanan untuk sampai bisa terwujud pengadaan ini pun ini ada ceritanya sendiri). Biar gak over budget, kami mencari laptop second yang alhamdulillah malam itu ketemu yang cocok di tempat pembelian laptop second yang letaknya sangat dekat dengan rumah. Tempat aku juga membeli laptop second yang sekarang aku pakai.
Karena laptopku ketumpahan kopi, aku ngomong ke admin akan membawanya besok insya Allah sekalian untuk pembelian laptop yang baru saja aku tanyakan.
Aku memasang alarm itu dengan niat agar laptopku bisa segera dicek dan semoga tidak ada masalah. Supaya aku bisa segera belajar lagi. Aku juga ingin segera menuntaskan pembelian untuk tim, karena aku tahu perputaran barang di toko tersebut cukup cepat. Sedangkan spesifikasi yang dibutuhkan dengan harga yang sesuai, hanya tinggal satu laptop.
Tapi, aku gak terbangun.
Sampailah menjelang Dzuhur, ketika aku mulai terjaga dan teringat target-target, aku berusaha bangun. Ternyata Abang sedang duduk di samping aku dan ngomong pelan ke aku,
“Dek…Adek tenang ya.”
Aku yang tadinya masih meringsek pelan-pelan, mendengar itu bukannya tenang malah langsung waspada.
“Dek…mba Maya meninggal,” Abang berkata pelan.
Mendengar itu, aku langsung mendapat perasaan yang sama seperti waktu aku mendengar Abang kecelakaan. Aku langsung seperti melompat, mengambil hp karena yakin pasti aku sudah dihubungi. Ternyata benar, Jepi dan Icad sudah menghubungi beberapa kali. Aku lupa siapa yang menghubungi duluan, yang jelas rasanya tahu-tahu aku sudah terhubung dengan Jepi.
Momen ini…adalah momen yang masih terus berulang-ulang tiap malam. Momen yang membuat aku kembali menangis.
Aku masih merasa seperti gak mungkin. Momen ketika mendengar Abang bilang mba Maya meninggal saja sudah membuatku seperti mimpi. Masa sih? Yang benar? Kenapa? Mba Maya kenapa? Sakit apa? Pikiran dan tanya yang cepat sekali berkelebat di benakku.
Suara Jepi kembali mengulang berita yang ternyata bukan mimpi itu, “Mba Maya meninggal mba.”
Aku lemas…lemass…..
“…a&*@&*98r79…”, Jepi terdengar menangis di seberang.
“Apa Dek? Apa Dek?” Aku bertanya karena perkataannya kurang jelas karena bercampur dengan tangis..
Pembicaraan kami selanjutnya membuatku kembali merasa seperti terhempas, “Astaghfirullaah….astaghfirullah……”
Ya Allaaah ya Alllaaaah…..ya Allah mbaaaa. Ya Allah, mbaa. Rasanya baru kemarin aku berdoa supaya bisa bertemu Ramadhan. Rasanya baru benar-benar kemarin aku kepikiran mau kirimin mba Maya panci yang aku baru aja coba beli. Aku baru kepikiran akan mengirimkan sebelum Ramadhan. Mba mbaaa…kenapa mbaaa…?
Abang bilang, Abang lemas ketika mendengar Jepi memberi kalimat itu. Aku udah gak sadar gimana aku merespon, yang jelas anak-anak berdatangan masuk ke kamar.
“Mba ini gw baru sampe Mama. Gw berangkat sore ini,” suara Jepi di seberang.
Dan ternyata, Mama belum tahu. Mama baru tahu setelah Jepi sampai di rumah Mama. Ah ceritanya terlalu complicated sampai Jepi mengira Mama udah tahu.
Aku langsung membuka tablet, mencari tiket ke Surabaya. Ada tiket jam 17 dan akan sampai jam 20.05. Aku packing sementara Abang di kamar mandi. Aku memperkirakan kebutuhan pakaian supaya bisa pakai tas yang lebih mudah dibawa. Kondisi tangan Abang masih belum pulih dan belum bisa mengangkat barang berat. Aku memperhitungkan waktu ke stasiun. Alhamdulillah karena tinggal di daerah Monjali, hanya butuh sekitar 20 menit untuk menuju stasiun.

Gak Ada yang Kebetulan
Aku…yang malam sebelumnya mengabarkan ke teman-teman di kelas bahasa Arab bahwa aku harus memutuskan untuk meliburkan belajar pekan ini karena laptopnya ketumpahan dan belum bisa dipakai. Ternyata ini –tentu saja–bukan kebetulan. Ternyata memang pekan ini kelas memang harus diliburkan karena aku harus ke Surabaya karena mba Maya meninggal.
Anak-anak yang sudah pernah kami tinggal selama di rumah sakit karena Abang kecelakaan, tetap kami wanti-wanti berbagai hal. Ziyad dan Thoriq kami juga beri pesan untuk benar-benar menjaga adik-adiknya.
“Ummi dan Abi insya Allah sebentar. Doain Ummi dan Abi bisa pulang selamat sampai rumah lagi,” aku bilang ke semua anak-anak.
Ketika Semuanya Harus Diolah Lagi
Aku dan Abang masih menyempatkan menuntaskan amanah untuk tim dan sekaligus membawa laptopku untuk diperiksa ke toko laptop di dekat rumah. Waktu keluar berjalan kaki ke toko laptop, aku melihat langit yang sangat cerah…cerah sekali. Tapi kecerahan langit pada saat itu justru membuatku semakin merasakan kepedihan yang sulit diungkapkan.
Apakah bisa tertebak pembicaraan Jepi yang membuat tubuhku seperti gak menapak lagi? Aku gak bisa tulis di sini. Aku juga gak bisa bahas detil di sini.
Selama perjalanan ke toko laptop, pikiranku seperti jungkir balik. Apa yang kupahami, apa yang sering kami bahas dan apa yang terjadi di kehidupan nyata. Bahkan dari orang terdekatku. Kakak kandung perempuanku. Aku seperti memutar setiap percakapan kami sekeluarga di rumah. Kami sangat sering membahas ini. Dari berbagai sisi. Tapi sekarang aku seperti memiliki sudut pertimbangan baru. Aku jadi mencari-cari celah untuk memasukkan hal yang tadinya tak terpikirkan sebelumnya.
Abang juga ikut mencari “celah” itu. Menenangkanku. Menguatkanku.
Sekitar 30-40 menit proses kami di toko laptop. Saat sudah mau sampai rumah, aku sempat bilang ke Abang, “Bang…kok aku start blaming myself ya…”
Di Kereta
Jam 18.20-an…tangis sesunggukanku pecah di kereta. Tangis sesunggukan yang berusaha kutahan. Rasanya semakin menyesakkan. Aku dapat kabar kalau mba Maya akan dikuburkan malam itu juga ba’da isya. Keputusan ini tentu saja bukan dari kami.
Aku sempat memberi tahu Icad betapa sedihnya aku gak bisa ikut. Kenapa dikuburkan malam itu juga? Aku gak menyangka sama sekali. Aku sudah lama sekali gak bertemu mba Maya. Kenapa gak bisa nunggu aku. Aku kan keluarga intinya. Adik perempuannya. Aku ingin mengantarnya. Aku membayangkan dan mengira mba Maya akan dikuburkan besok. Aku sedang berusaha menuju ke sana.
Icad menghiburku dan bilang akan video call setelah sampai dan saat penguburan. Mereka memang sampai lebih dulu. Mama, Jepi dan Iva, Icad dan Sofi, semuanya berangkat naik pesawat dari Jakarta dan sampai lebih dulu dariku.
Bertemu Semua
Sejak di kereta, aku sudah mengira-ngira langkah yang perlu dilakukan karena kami belum mengenali situasi di rumah mba Maya. Tapi aku sedikt bisa mengukurnya dengan situasi pada saat Papa meninggal kemarin. Aku pikir, karena aku bersama Abang, tetap harus jaga-jaga tempat penginapan untuk kami beristirahat. Bisa jadi di sana sudah penuh. Bisa jadi begini…bisa jadi begitu. Kalaupun ada yang perlu dilakukan, saat kami perlu tempat untuk beristirahat, kami bisa langsung menuju penginapan. Alhamdulillah bisa dapat penginapan murah dan lokasinya dekat dengan rumah mba Maya.
Saat masih di kereta, Icad video call saat mereka sudah sampai dan memasuki rumah mba Maya. Aku bisa melihatnya dengan kondisi sudah dikafani. Sedih…sedih sekali.
Gak lama kemudian Jepi memberi foto jenazah mba Maya sudah dibawa ke masjid untuk disholati. Setelah itu, video call selanjutnya saat proses pemakaman. Icad dan Jepi ikut memasukkan mba Maya ke liang lahat. Setelah kami kembali ke rumah masing-masing; Jepi dan Icad ke Jakarta, aku ke Jogja, kami video call bareng bersama mas Lyno. Barulah aku dapat cerita lebih lengkap saat pemakaman itu. Bahkan, Icad-lah yang membenarkan posisi kepala mba Maya, berusaha menempelkannya ke tanah menghadap kiblat. Dia juga yang mengambil kembali tanah untuk ganjalannya. Aku rasa, bagian ini adalah bagian yang sangat berat. Saat menceritakan bagian ini, dia bilang tentang kondisi badan orang yang sudah meninggal yang sudah beda, dan sulit untuk mengubah posisi agar tepat seperti yang diarahkan :(. Ada kesedihan yang mendalam saat dia mengucapkan ini.
Karena mba Maya sudah dimakamkan, setelah sampai di stasiun Gubeng, kami memutuskan sholat jama takhir Maghrib dan Isya terlebih dulu. Kami gak tahu situasi di rumah mba Maya gimana. Khawatir masih ramai tamu atau tidak ada ruangan yang memungkinkan.

Saat di taxi menuju rumah mba Maya, aku mendapat telpon dari Jepi. Ternyata mereka akhirnya juga mencari penginapan dan bertanya di mana kami menginap. Mereka ingin ikut memesan kamar. Qodarullah kalau lewat aplikasi Reddorz atau aplikasi penginapan, terdeteksi hanya tinggal 1 kamar. Jepi dan Iva memesan di penginapan lainnya. Icad memutuskan tetap tidur di rumah mba Maya.
Mencari rumah mba Maya ternyata sulit. Perumahan yang sangat luas dengan kode jalan yang tidak semuanya terdeteksi di map. Supir taxi sampai 3x menanyakan ke orang di tepi jalan. Saat sampai di tepi jalan bagian perumahan mba Maya, Jepi sudah menyambut di ujung jalan perumahan. Turun dari taxi, aku berpelukan lama dengan Jepi. Kami sama-sama menangis dan berusaha menahan agar tangis itu tak terlalu pecah karena sudah menjelang tengah malam.
Kami berjalan menuju rumah mba Maya. Di depan rumah bertemu dengan bapak mertua mba Maya yang sedang berbicara dengan salah satu tamu. Aku masuk dan bertemu dengan Icad. Sekali lagi…aku berpelukan dan menangis dan menyatakan betapa sedihnya aku tidak mengikuti pemakaman mba Maya. “Gpp Mba…,” kata Icad menghiburku. Mama yang sepertinya sudah mulai beristirahat di salah satu kamar keluar dan kami berpelukan.
Sejenak…kami saling bercerita tentang bagaimana ini terjadi. Bagaimana meninggalnya mba Maya. Kasihan Mama. Ada sisi denial dari Mama ditambah kondisi dari sekitar yang juga memblurkan pemahaman atas sebab meninggalnya mba Maya. Kami semua anak-anaknya tidak memaksakan.
Di situ, aku baru mendapat cerita lebih lengkap, kenapa Mama ternyata justru yang terakhir tahu. Tahunya setelah Jepi datang ke rumah Mama untuk menjemput Mama. Padahal Mama sudah mendapat telepon dari adik-adiknya yang tinggal di Surabaya dan Bojonegor. Berita itu sudah menyebar di saudara-saudara Mama di Surabaya dan sekitarnya.
Sebelum tengah malam, kami memutuskan segera ke penginapan. Aku, Abang, Mama dan Sofi naik taxi karena kami satu penginapan. Jepi dan Iva menuju penginapan lainnya. Kami janjian esok pagi akan pergi ke pemakaman. Karena Mama dan kedua anak Mba Maya belum ikut saat penguburan.
Di penginapan, aku sempat menelpon anak-anak. Memberi kabar kami sudah di penginapan. Alhamdulilah aku sempat meminta Luma menyiapkan bekal kurma. Aku bersyukur juga sempat membeli roti di stasiun. Makan malam kami di kereta yang kami lakukan sekadar mengganjal membuat rasa lapar muncul lagi malam itu. Malam itu, aku tetap gak bisa tidur nyenyak. Rasanya tidurku campur melayang-layang. Memikirkan semua hal yang terjadi dalam waktu singkat ini. Memikirkan lagi semua hal yang terjadi sebelum ini.
Esok Hari
[Kamis, 18 Desember 2025]
Waktu di pemakaman, aku terpekur lama sekali. Memandangi makam mba Maya. Memikirkan semua yang terjadi. Sedih sekali.
Abang sempat sholat ghoib. Ternyata setelah itu, Abang mendokumentasikan momen ini. Abang bilang, Icad menangis sesunggukan di samping Abang. Abang yang masih terus merekam dari kejauhan, jadi sedih melihat aku terdiam lama di depan makam. Abang bisa ikut merasakan kepedihanku. Awalnya, aku masih berdiri sambil memeluk salah satu anak mba Maya. Ketika semua menjauh ke arah tenda di belakang kami, aku masih berada di depan makam sambil duduk. Rasanya ingin memeluk mba Maya. Aku cuma bisa menyentuh tanahnya.

Aku rasa, kepergian mba Maya, membuat kami lebih terpukul lagi dibandingkan kepergian Papa dulu. Mungkin karena ketiba-tibaannya. Mungkin karena penyebabnya.
Gak lama setelah dari pemakaman, aku dan Abang kembali ke penginapan. Bersiap-siap pulang ke Jogja. Mama, Icad, Jepi, Iva dan Sofi masih akan menginap sehari lagi di Surabaya. Bertemu dengan saudara Mama yang ada di Surabaya.
Rasanya semua berjalan cepat sekali. Hari Selasa tanggal 16 Desember, kami baru saja kontrol. Memeriksa kondisi Abang pasca kecelakaan dan operasi. Aku minum kopi kenangan pagi itu dan sempat membagikan momen itu di story instagram. Aku bahkan sempat menyatakan ternyata aku agak meriang. Abang sudah menawarkan aku gak usah ikut. Tapi mana aku mau.


Dua hari kemudian, aku meminum kopi yang sama. Kopi kenangan. Bedanya, sore itu aku ada di Surabaya, di stasiun Gubeng. Mengisi perut untuk makan siang yang tertunda. Kami baru sampai di stasiun pukul 15.30-an. Perjalanan ke staisun di Surabaya, hampir mirip dengan perjalanan stasiun di Jakarta. Membutuhkan waktu yang cukup panjang. Setelah mengisi perut dan minum kopi, berangsur-angsur, pusing yang sudah mulai merambat di kepala mulai hilang.
Kami sudah sampai lagi di Jogja malam sebelum jam 9 malam. Alhamdulillah.
Kehidupan Selanjutnya
Sekitar 2 pekan, aku jadi sulit tidur tiap malam. Aku akan meringkuk ke dekat Abang. Ada perasaan yang sangat tidak nyaman yang membuat kakiku lemas dan gak ingin jauh dari Abang. Aku juga akan membahas banyak hal tentang mba Maya dengan Abang. Abang paham, meninggalnya mba Maya sangat menggoncangkanku. Abang menemaniku, mendengarkanku dan menanggapi tanpa menyuruh aku berhenti. Dua pekan pertama, aku masih sering menangis tiba-tiba. Memikirkan bagaimana ini semua terjadi. Memasuki pekan ketiga, aku masih menangis, tapi tidak sesering di pekan pertama. Tapi aku masih sering membahas ini.
Sepertinya, ini gak terjadi di aku saja. Jepi menelponku tanggal 31 Desember. Dan kami masih membahas lagi berbagai hal. Ada banyak pelajaran yang kami dapatkan dari kejadian meninggalnya mba Maya.
Mama yang tahun depan mendapat panggilan haji insya Allah, sempat bilang bahwa Mama juga sangat sedih. Tapi Mama ingat, bahwa Mama mesti sehat untuk naik haji. Kami semua berusaha kuat insya Allah. Amanah-amanah di sisi kami, insya Allah menjadi pengingat bahwa kehidupan masih harus dilanjutkan. Kehidupan yang sangat berharga.
Semoga Allah membaguskan akhir dari setiap urusan kita. Termasuk akhir kehidupan kita.

Semoga Allah mengampuni mba Maya. Semoga Allah melapangkan kuburnya. Ya Allah sayangilah ia, maafkanlah ia ya Allah. Terangi kuburnya ya Allah. Sungguh hidupnya sangat berat. Ampunilah ia ya Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari fitnah dan ujian sepeninggal mba Maya. Ya Allah, jauhkanlah. Ya Allah jauhkanlah kami dari didzolimi dan mendzolimi ya Allah.
cizkah
9 Januari 2026

