Saatnya Bercerita Tentang Proses Penyapihan

Ehem…hari ini tanggal 6 Agustus 2009, pukul 12.05 pm, buah hatiku Ziyad Syaikhan sudah lepas dari ASI selama 49 jam. Gak nyangka…akhirnya bujangku tersayang itu sudah melewati masa-masa 100% lepas dari ASI. Kemarin, setelah 24 jam-an Syaikhan gak ‘nenen’ lagi, ketika kami bercengkrama di tempat tidur, aku merasakan ada sesuatu yang hilang…Sedikit sedih, tapi aku pikir beginilah rasanya seorang Ibu ketika melepaskan satu tapakan hidup dari anaknya. Ketika ia sudah mulai tidak ‘tergantung’ lagi dengan si ummi. Ketika saat-saat kedekatan itu semakin berkurang. Saat-saat dimana mulut mungil itu meminta haknya, karena mengantuk, karena haus, karena sedih…Dan ternyata, yang merasakan ‘sedih’ ini bukan cuma aku. Si Abah juga merasakan saat-saat melow, tapi kayanya gak separah ummi deh…

Sekarang…cerita proses penyapihannya yah…*sambil hapus-hapus air mata yang menitik…*

Ibu-ibu yang baik, yang paling awal harus saya ceritakan adalah prinsip dasar bahwa proses penyapihan pun juga bisa didasarkan pada syari’at Islam. Kenapah? Mari lanjutkan membaca.

Betapa banyak ibu-ibu yang ingin ‘praktis’ dalam proses penyapihan sehingga menghalalkan segala cara, hanya agar si anak ‘lepas’ dari ASI. Padahal, wujud cinta kasih ibu dan praktek pendidikan bisa diajarkan dari proses penyapihan itu sendiri. Maka, saya sendiri sangat menjauhi cara-cara yang kurang baik, seperti mengoleskan cairan pahit atau yang tidak disukai anak, apalagi kemudian dibubuhi kebohongan, “Ummi lagi sakit, ummi gak bisa nenenin.” Dan lain sebagainya. Atau cara-cara yang bahkan mendekati kesyirikin seperti didoa-doa (mungkin lebih tepat dijampi-jampi ya), untuk kemudian si anak tiba-tiba tidak mau ‘nenen’ sama sekali. Nope. MARI KITA JAUHI CARA-CARA TERSEBUT WAHAI IBU.

Sama seperti proses ketika mengajarkan si buah hati untuk makan, minum, kencing di kamar mandi, BAB di wc, maka proses penyapihan juga membutuhkan ‘PROSES’ untuk sampai ke titik ‘lepas’ itu. Waktunya pun tidak sebentar.

Itulah kenapa, ketika bang Hen bilang untuk menyapihnya setelah benar-benar 2 tahun, aku masih timbang-timbang. Karena kalau sudah dua tahun baru mulai proses penyapihan, berarti kemungkinan sampai sekitar 3-5 bulan kemudian masih belum lepas. Sambil mencoba timbang-timbang tentang timing dan cara yang tepat, akhirnya aku mulai proses itu perlahan-lahan, sejak usia Ziyad 1 tahun 8 bulan.

Proses Awal

Proses awal, berlangsung dalam keseharian dan berlangsung secara natural. Artinya belom ada kata “Tidak” untuk Ziyad ketika dia meminta ASI dari si ummi. Aku cuma tidak memberikan ASI ketika dia tidak meminta. Hehehe, bingung ya.  Dengan ini, frekuensi menyusu Ziyad mulai berkurang. Apalagi kalau dia sedang bermain. Proses ini berlangsung selama sebulanan. Di malam hari, aku mulai mengajarkan tidur itu tidak harus sambil nenen sama ummi. Tapi caranya gak langsung gak dikasih nenen. Jadi, biasanya aku kasih ASI sedikit lama, kemudian aku lepas, aku bilang “Dah…dah banyak.” Nanti dia biasanya ngerengek-rengek. Terus aku bilang, “Ummi pijetin aja, ummi pijetin ya…” Dan biasanya dia menikmati. Proses pelepasan di malam hari ini berlangsung terus sampai bulan-bulan berikutnya. Biasanya kalau kemudian dia gak mau dipijetin, dia malang melintang super gelisah, dan akhir-akhirnya nenen juga sih. Hehehe…tapi cuma sebentar. Jadi, untuk para ibu yang memang sudah mulai proses penyapihan ini, sama seperti proses pendidikan yang lainnya, harus menyiapkan mental dan fisik terlebih dahulu. Karena dalam proses penyapihan ini, buah hati biasanya proses tidurnya jadi lebih lama dan ibu juga harus ‘tega’ untuk gak selalu memberikan semua keinginan buah hati saat ia meminta.

Bulan Kedua

Di bulan kedua, aku mulai mengajarkan dia untuk minum susu formula di siang hari. Nah, kemarin itu, timbang-timbang apakah pakai ‘dot’ atau gelas disertai sedotan. Karena untuk seumur dia seharusnya ya gak pakai dot lagi. Apalagi kalau nanti ternyata harus ada saat-saat melepas dot itu sendiri. Sambil timbang-timbang itu, aku mulai ‘menolak’ memberikan ASI saat siang hari. Aku bujuk untuk minum dari gelas tersebut. Hasilnya? Ya…gak bisa langsung berhasil dong ya. Hehehe…kadang diminum, kadang gak diminum sama sekali, kalau diminum ya sedikiitt banget, ujung-ujungnya masih minta ASI lagi. Di akhir-akhir bulan, aku mulai sedikit lebih tegas.  Misalnya dia nangis, aku tetap sarankan dia untuk minum susu dari botol/gelas tersebut. Ya sambil dinasehati…”Ayo diminum, setengaahh aja. nanti kalau udah minum setengah insya Allah ummi kasih nenen.”

Biasanya setelah Ziyad nangis-nangis lama dan aku tetap bertahan dengan kebijakanku, akhirnya biasanya Ziyad diam kemudian mengambil gelasnya dan minum. Dan kalau sudah dia minum, walaupun sedikit, biasanya aku tetap kasih ASI. (Janji harus ditepati dung…: ))

Bulan Ketiga

Akhirnya, selama proses itu aku memutuskan memberikan dia minum susu formula dengan model ‘dot’. Karena sepertinya Ziyad masih membutuhkan saat-saat menikmati ‘susu’ ketika akan tidur atau sedang santai. Sedangkan gelas dengan model sedotan tidak bisa mendukung saat-saat tersebut. Di bulan ini, aku mulai merasakan efek dari proses penyapihan ini. Maksudnya belum efek ke aku-nya, tapi lebih ke pola makan Ziyad dan pola BAB-nya. Ziyad mulai makan lebih banyak dan BAB-nya yang dulu seminggu sekali bahkan kadang 8 hari sekali sekarang menjadi setidaknya 3 hari sekali. Alhamdulillah…Berarti kemarin itu bermasalah karena kebanyakan ASI ya. ASI kan tidak berserat (dulu pernah baca artikel tentang konstipasi bayi ketika masih berusia beberapa bulan), dan ASI itu banyak terserap oleh tubuh ditambah lagi Ziyad jadi sedikit makan, makanya BAB-nya jadi jarang-jarang.

Di bulan ini, proses pelepasan saat-saat ketergantungan Ziyad untuk ‘nenen’ ketika tidur (di siang hari). Kalau malam jadi masih aku kasih. Seneng deh pas saat-saat ini. Biasanya nanti ketika ada acara tangis-tangis sedih minta ASi, Ziyad aku nasehati panjang lebar, kemudian aku alihkan dengan cerita-cerita yang persuasif atau lainnya. Ternyatah…nanti lama-kelamaan Ziyad tertidur mendengar aku ‘mendongeng’. Tapi dia ngerti lho aku nasehatin apa. Misalnya aku bilang, “Syaikhan kan sudah besar…Syaikhan mesti bersyukur…bisa nenen sama ummi sampai sekarang. ” Kalau namanya disebut, biasanya dia nyaut, “Mm?” “Mm?”

Bulan Keempat

Bulan ini masih melanjutkan proses yang kemarin-kemarin, tapi penolakannya udah mulai lebih mudah lho. Misalnya Ziyad minta nenen, terus aku bilang, “Engga…minum susunya dulu.” Nanti dia pergi gak minta nenen lagi, walaupun bukan berarti dia bakal minum susu yang udah aku sediain. Atau kalau dia udah pingin banget, nanti aku alihin, “Ayo makan aja yuk, makan buah.” Iya, karena Ziyad gak terlalu suka susu fomula, kami banyak mengalihkan sebagai ‘ganti’ dari ASI tersebut dengan makan buah-buahan. Sama-sama sehat kan insya Allah : )

Masuk Bulan Kelima..

Nah…karena Ziyad sudah genap berusia 2 tahun…lewat beberapa hari…akhirnya frekuensi minum ASI-nya benar-benar berkurang drastis.  Misalnya 12 jam sekali. Ketika dia hendak tidur saja. Sampai akhirnya tanggal 4 kemarin, ketika dia bangun tidur jam 11 siang (dan malamnya sudah gak aku kasih ASI), aku kasih dia nenen sebentar untuk kemudian aku lepas. Aku bilang, “Udah ya. Ayo minum air putih…ayo mandi…” Dan berbagai bujukan lainnya.

Dan aku masih gak nyangka kalau itu adalah saat-saat terakhir aku memberikan ASI ke buah hatiku, bujang tersayangku Ziyad Syaikhan.

Kadang kemarin dan sekarang pun masih, ada keinginan untuk menyodorkan lagi payudaraku untuk dihisap mulut mungilnya. Rasanya mulai jadi aneh, ketika sudah dua hari gak dinenenin, dan kalau disodorkan lagi, wah…mungkin Ziyad sendiri juga sedikit aneh.

Alhamdulillah, proses akhir ini bisa dikatakan hasilnya baik insya Allah. Ziyad sudah paham, bahwa dia tidak bisa mendapatkan ASi lagi dari Ummi. Kadang dia cuma memasukkan tangannya ke balik bajuku  (oh ya, dibulan-bulan terakhir dia menyusui, kebiasannya adalah sambil menyusu, tangan yang satunya menjadikan payudaraku yang satunya lagi sebagai permainan, walaupun sering kularang).

Kalau hendak tidur, karena dia juga sudah tahu dia tidak bisa mendapatkan ASI lagi, biasanya dia cuma meringkuk ke dekat aku dan minta dipeluk atau menarik tangaku supaya berada di tangannya. Intinya, dia tetap pingin dekat dan merasa direngkuh. Akupun selama proses sapih ini selalu mengatakan kepada Ziyad, “Ummi sayang sama Syaikhan…Makanya Ummi ajarin Syaikhan supaya gak nenen lagi…dst dst.”  Jadi, dia bisa tahu kalau aku tidak menyusui dia lagi bukan karena aku gak sayang, bukan karena aku benci sama dia atau karena dia melakukan kesalahan, bukan karena hal-hal negatif lainnya.

Dan sampailah kami di saat ini. Saat-saat ketika dia haus, dia langsung ke belakang (ke tempat air minum) dan mengambil gelasnya. Saat-saat dia minta minum air putih…

*Masih dengan haru biru kutuliskan proses ini*

Wahai Ibu, nikmatilah saat-saat menyapih buah hatimu. Disitulah kita bisa menunjukkan cinta kasih dan pendidikan bertahap kepada anak kita…Jangan dustai anakmu jika tidak ingin anakmu mendustaimu, jangan sakiti anakmu jika tak ingin ia menyakitimu…

Semoga tulisan ini bermanfaat…

 

***
Update: INi adalah postingan lamaaa banget.
Pas Thoriq dan Luma, aku pake teknik hypnoparenting….ceritanya ada di sini. Proses sapihnya jadi lebih mudah banget dan gak pake nangis2 kejer insya Allah.

25 Comment

  1. haru.. baca postingannya, raihanku 14bulan. maemnya juga susah -tp badannya gemuk- ASI asupan utamanya, sama juga dikasih sufor gak terlalu suka, lebih suka jus buah ato sari kurma. kadang terfikir apa sedikit ku sapih ya, biar doyan makan, gak kekenyangan ASI.. tapi belum tega. setelah baca postingan ini jadi termotivasi.. emang kudu sabar n bener2 bertekad baja untuk yang satu ini.. jazakillah khoiron ya ukht. pasti kerasa banget ada yang hilang gitu ya, tak lagi mendekap ziyad tuk nenen.. hiks, ikut ngerasain sedihnya nich.. smoga kelak raihan juga mudah, jadi umminya ndak melow berkepanjangan.. buat ziyad, pinter slalu ya nak, smoga jadi anak sholih besok ketemu dhe’ raihan bareng2 tholabul ‘ilm ^_^ amiin

  2. cizkah says:

    aaamiiin…hehehe…alhamdulillah setelah semingguan udah mulai gak produksi lagi ASI-nya, jadi gak bengkak-bengkak. Ziyad masih belum bisa menyampaikan keinginannya lewat kata-kata kalau lagi haus. Jadinya refleknya mo buka baju atau jilbab ana (reflek mo nenen). Tapi kalau dibilang “engga” atau “ya ya, ummi bikinin susu ya.” nanti dia langsung ngerti dan ga rengek-rengek.

    Kalo dipikir-pikir, kesannya kemarin gampang banget pas benar-benar saat ‘berhenti’ nenennya. Soalnya ana larang gak mesti ada acara jerit-jerit dll. Hehehe…jadi lupa proses 4 bulan lamanya itu pas selama beberapa hari berhenti ‘langsung’ berhasil.

    Mudah-mudahan Raihan juga ‘mudah’ ya proses penyapihannya. Ihrisi ya umma raihan..

  3. amiin..

  4. Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh
    Alhamdulilllah, ana juga baru menyapih putri ana Shofiyyah di usianya yang sekarang 2,5 tahun..
    Sebenarnya nyapihnya ternyata tidak terlalu susah, tapi memang karena tidak ada niatan dari ana untuk menyapih..
    Ana merasa bahwa ASI itu adalah yang terbaik bagi anak dibanding susu formula..
    Ana merasa bahwa produksi ASI ana masih cukup buat Shofiyyah dan adiknya..
    Dan ana merasa dengan minum ASI ada kedekatan yang luar biasa antara ana dengan anak-anak …
    Tapi suami ana terus memberi dorongan untuk menyapih Shofiyyah..
    Alhamdulillah..sekarang udah ga minum ASI lagi..

  5. cizkah says:

    wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Hehehehe…iya sama…kemaren ana malah baca ada seorang ibu yang menyusui sampai anaknya usia 3.5 tahun. Ana juga punya teman yang membiarkan sampai sekitar umur segitu juga.

    Alhamdulillah setelah berhenti menyusui, ana sekarang insya Allah sudah hamil lagi. Hehehe…sepertinya berpengaruh sekali, karena ana sendiri gak pake KB dsbnya.

  6. assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh
    salam kenal ukh….
    sedih rasanya…
    selama ini ana tidak bisa memberikan ASI kepada anak-anak hingga mereka berusia 2tahun.Ketika anak2 berusia 4 bulan ana udah hamil lagi, begitu setiap tahunnya ana mengalami hamil dan menyusui. Padahal setiap bayi ana lahir ana selalu memberinya ASI eksklusif tetapi di usia anak ana yang masih 4 bln ana sudah mengalami hamil lagi (Alhamdulillah Alloh memberikan anugrah yg tak ternilai harganya).Ana masih berusaha memberikan yang terbaik untuk anak2 di masa awal kehidupan mereka, yaitu dengan memberikan ASI eksklusif hingga usia mereka 6 bln, setelah ank2 mndapatkan MPASI ana berusaha menyapih mereka dengan pelan2..memang semuanya membutuhkan waktu yg ckup lama, ketelatenan dan kesabaran.Setelah usia kandungan ana mencapai usia 5bln produksi ASI mulai menurun. Pada masa2 ini kedudukan susu formula menjadi penting (sedih jg melihat anak2 hrs minum sufor), sedangkan ana sdh dlm keadaan lemah. Di usia ank2 yg msh skitar 9bln pemberian MPASI jg blm bs optimal, ASI msh me2gng pranan yg penting, sedangkan ana…setiap anak2 mulai menyusu ana menjadi lemas, muka jadi pucat, mual2, dan rasanya ingin pingsan.Demi untk keselamat bayi yg ana kandung dan jg untk diri ana sendiri akhirnya ana putuskan untuk menggantikan ASI dengan sufor (.. hiks..hiks..).Alhamdulillah selama 4thn menikah kami sudah dikaruniai 4 orang buah hati. Ana begitu gembira melihat ummahat yg begitu antusias memberikan buah hati mereka ASI, dimana sekarang ini banyak ibu2 yang tidak memberikan hak putra2 mereka dan mengganti ASI ekskusif di awal kehidupan mereka dengan sufor.

  7. cizkah says:

    wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh

    Subhanallah…semoga Allah membalas jerih payah dan perjuangan anti dengan surga dengan diberikan anak-anak yang sholeh, aamiin.

    Mungkin usul aja Um. Sekalian menghidupkan sunnah yang sudah sedikit menghilang di kalangan muslim, yaitu mencarikan ibu susuan bagi anak-anak anti. Memang tidak mudah, karena kita harus berhati-hati dalam memilihkan ibu susuan yang baik. Karena bagaimanapun akan berpengaruh kepada anak. (Ana lupa-lupa ingat cerita salah satu ustadz, tentang ulama yang tanpa sengaja disusui oleh seorang budak ketika kecilnya – dan ayahnya yang mengetahui karena berusaha memberikan makanan yang terbaik marah ketika mengetahuinya- , ternyata berpengaruh kepada ibadahnya juga ketika besar).

    Jadi, anak tetap mendapatkan haknya yaitu mendapatkan ASI sampai usia 2 tahun. Karena ASI sangat penting sekali Um, kandungan yang di dalamnya sangat bagus untuk anak-anak. Dan mereka memang butuh itu.

    Suami saya sendiri memiliki ibu susuan. Karena ketika kecilnya, ibu kandungnya sempat sakit dan tidak dapat menyusui.

    Memang tidak semudah yang dibicarakan dalam mencari ibu susuan. Tapi siapa tahu bisa menjadi salah satu alternatif untuk keadaan yang anti hadapi.

    Semoga Allah memudahkan segala urusan anti.

    Ohya, ana sendiri sudah 3 tahun menikah, hehehe, tapi qodarullah baru setelah menyapih ini ana mendapatkan momongan lagi insya Allah (ana juga gak ikut KB). Alhamdulillah…

  8. Aamiin..
    syukron nasehatnya umm…Jazakumulloh khoir.
    Semoga Alloh jg memudahkan urusan anti.Semangat ya umm ;)
    Dulu kami jg berusaha mencarikan ibu susuan umm, tapi memang sulit mencari yg sesuai kriteria :(.
    Kalo ana penggemar berat KB (Keluarga Berencana) umm, tapi rencananya menurut kami sendiri hehehe.
    Alhamdulillah selama ini suami jg ridho ketika ana menyapih anak2 di saat usianya yg masih kcil, demi melihat keadaan ana yg spt itu.

  9. Subhanalloh…
    Islam sudah mengajarkan pada wanita-wanita agar menyusui anaknya. Ilmu kedokteran juga menegaskan pentingnya menyusui anak. Selama usia 6 bulan pertama, dianjurkan memberi ASI saja tanpa makanan yang lain (ASI Ekslusif). Lebih dari usia 6 bulan, baru ditambah dengan makanan pendamping ASI karena setelah 6 bulan kandungan gizi dalam ASI tidak lagi mencukupi kebutuhan sang bayi. Sampai kapan bayi diberi ASI dan kapan harus disapih? Islam tidak memberi batasan, sehingga menyapih sang bayi di usia berapa pun tidak menjadi masalah, yang penting selama 6 bulan pertama diberi ASI Ekslusif. Hal ini dikembalikan ke ‘urf nya. Jadi, keyakinan sebagian besar masyarakat bahwa Islam mewajibkan seorang ibu untuk menyusui anaknya selama 2 tahun tidaklah tepat.
    Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan jika keduanya ingin menyapihnya (kurang dari 2 tahun) dengan keridhoan keduanya dan perundingan, maka tidak ada dosa bagi keduanya.” (Al-Baqoroh:233).

    Selamat menyusui wahai wanita mukminah.
    Galakkan ASI Ekslusif, siapkan pasukan robbani yang sehat dan cerdas dari rumah-rumah kalian.
    Allohu Akbar…

  10. Subhanalloh…
    Islam sudah mengajarkan pada wanita-wanita agar menyusui anaknya. Ilmu kedokteran juga menegaskan pentingnya menyusui anak. Selama usia 6 bulan pertama, dianjurkan memberi ASI saja tanpa makanan yang lain (ASI Ekslusif). Lebih dari usia 6 bulan, baru ditambah dengan makanan pendamping ASI karena setelah 6 bulan kandungan gizi dalam ASI tidak lagi mencukupi kebutuhan sang bayi. Sampai kapan bayi diberi ASI dan kapan harus disapih? Islam tidak memberi batasan, sehingga menyapih sang bayi di usia berapa pun tidak menjadi masalah, yang penting selama 6 bulan pertama diberi ASI Ekslusif. Hal ini dikembalikan ke ‘urf nya. Jadi, keyakinan sebagian besar masyarakat bahwa Islam mewajibkan seorang ibu untuk menyusui anaknya selama 2 tahun tidaklah tepat.
    Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan jika keduanya ingin menyapihnya (kurang dari 2 tahun) dengan keridhoan keduanya dan perundingan, maka tidak ada dosa bagi keduanya.” (Al-Baqoroh:233).

    Selamat menyusui wahai wanita mukminah.
    Galakkan ASI Ekslusif, siapkan pasukan robbani yang sehat dan cerdas dari rumah-rumah kalian.
    Allohu Akbar…

  11. Afwan ukh komentar yang di atas bukan komentar ana, mgkin komentar seseorang yg pke komputer ana..

  12. cizkah says:

    ana malah baru tahu ada keyakinan kewajiban seperti itu. :)
    Mudah-mudahan tidak salah paham.

  13. ummu maryam says:

    Nangis-nangis abis deh bacanya. Lagi berjuang buat penyapihan nih ummi..Mohon Do’anya..

  14. cizkah says:

    IYa, semoga dimudahkan Allah ya. Yg jelas emang kalo melewati tahapan kehidupan anak kita, mesti ada rasa sedih. Baik itu penyapihan, anak sekolah, apalagi kalo udah nikah ya? huhuhu

  15. bundanya omar says:

    assalamu’alaikum
    ummi trims info menyapihnya… anak saya omar 8 agustus 2010 pas 2 tahun, saya baru mulai sapih…mo tanya pengalaman umi dulu, kl pas bobo, ada saat dia bangun n minta mimik… gmn dong ummi?
    mohon doanya spy penyapihan adit berhasil ya.amin

  16. cizkah says:

    *nginget2 dulu* hehehe…dah sthn yl soalnyah. Kalo memang sudah masuk tahapan tidak memberikan ASI di malam hari, dan sudah berproses (dalam arti gak mgkn lsg lepas gitu aja di malam hari, ktk awal2 mgkn masih diberikan tapi dikurangi kuantitasnya), maka ktk bangun ditepuk2 aja, dan tetep dibujuk untuk minum air putih. Insya Allah kalo memang ini sudah tahapan lanjutan dari proses awal, anak sudah mengerti kalo dia tidak akan mendapatkan ASI. Insya Allah lama2 terbiasanya kalo bangun karena haus minta minum, bukan minta ASI. Wallahu a’lam.

    Jadi, intinya, bertahap ya bundanya Omar….^^

  17. Abu Hamid says:

    Assalamu’alaykum
    Ummi Ziyad yg mudah2an selalu dirahmati Alloh. Ana izin copas tuk ana print out.Ceritanya ana diminta tolong istri tuk nyari artikel tentang penyapihan yg baik. Kebetulan si kecilku dah mau menginjak usia 2 thn kurang 25 hari. Syukron atas izinnya.

  18. cizkah says:

    wa’alaikumussalam warahmatullah…
    wah…alhamdulillah, semoga diberi kemudahan dalam penerapannya…tafadhol ya aba hamid…

  19. ummu hafizh says:

    bismillah

    Assalamu’alaikum warohmatullah wabarokatuh

    terharu membaca tulisan anti diatas ukhty.
    ini ana sebenarnya lg googling ttg menyapih anak lebih dr 2 tahun. (trus nyampe diblog ini) soalnya anak ana, wildan, 2th 3bln belum ana sappih. he he soalnya kasian ukhty, ndak tega. anaknya menolak dikasih sufor n makannya pun gak lahap. nti kalo ASI nya brenti juga gimana??

    dr searching di google, banyak dapat pengetahuan bahwa scr medis dan psikologis trnyata pemberian ASI lebih dr 2 tahun itu tidak mengapa.

    metode penyapihan yg dianjurkan adalah dg “slow weaning”/ “weaning with love”. mungkin spt yg dipraktekkan ukhty di atas, yakni scr perlahan mengurangi intensitas pemberian ASI, sambil anak terus diberi pengertian, sampai akhirnya anak akan memutuskan utk berhenti sendiri (anak yg menyapih dirinya sendiri)

    tp kalo secara syariat gimana ya hukum menyusui lebih dr 2 tahun?? boleh ndak ya??

    oya, ummu Ziyad punya akun FB ya? kalo ndak salah jd “friend” jg kita di FB.

  20. cizkah says:

    ini ummu hafizh yg mana ya…yg sedang mau punya anak ketigakah?

  21. vidia says:

    Putra kami Rakha sekarang berusia 15 bulan. Saya berkeinginan menyapihnya seperti ibu-ibu pada umumnya yaitu ketika Rakha berumur 2 tahun, tetapi produksi ASI saya tiba-tiba berkurang drastis. Mungkin hal itu disebabkan karena saya pernah meninggalkan Rakha selama 4 hari untuk tugas, dan waktunya begitu sempit untuk breast-care. Awalnya saya yakin produksi ASI saya akan membaik, karena saya terus memberikannya kepada Rakha, tetapi setelah 2 minggu puting saya menjadi lecet berat, walaupun begitu saya tetap bertekad memberikan ASI, karena berdasarkan pengalaman teman-teman dan orang tua,ASI tetap harus diberikan agar berproduksi.Pada suatu hari ketika saya breast-care yang keluar adalah ASI bercampur darah yang pekat,sehingga dokter menyarankan untuk merawat dulu putingnya baru diberikan lagi. Ketika proses perawatan tersebut ASI saya langsung berkurang secara drastis, mungkin karena proses pengosongan payudara yang tidak optimal.Akhirnya orang tua saya menyuruh saya untuk menyapihnya, alasan lain lagi karena saya akan meninggalkan Rakha lagi selama 2 minggu. Tapi hati ini kok rasanya sediiiiiiiiih, rasanya ada yang merebut sesuatu.

  22. cizkah says:

    subhanallah, bisa kebayang sedihnya. Mudah2an Allah memudahkan ya..Iya..mungkin mba vida jadi tambah berkurang produksi ASI-nya juga karena “stress”nya itu ya mba. Alhamdulillah tapi udah 1th lebih ya..dikasihnya susu UHT aja mba, pelan2 yang netral tapi, supaya lebih sehat dibandingin sufor bubuk.

  23. asw. Ukh, setelah menyapih kmrn, berapa lama asi bener2 hilang dari payudara? Soalnya, ana dh 4 bln lebih menyapih anak, tapi sampe skrg asi di PD sblh kiri msh ada. gmn ya?

  24. Ummu Tsabit says:

    mba siskaaaa….

    aq lg bermasalah niy ma tsabit… kisahku beda dengan kisah para ibu2…
    tsabit itu susah ditebak….

    ketika usia belasan bulan, ana lupa bulan kebberapa.. yg jelas ketika ana hamil, produksi susu berkurang, dan tsabbit sdh jaraaaang banget nenen.. bahkan LUPA dgn nenen kecuali mau tidur siang dan malam…

    hingga adiknya lahir, dia juga lupa dengan nenen…
    ketika ana dirumah sakit, dia sama sekali gk minta nenen… seharian main sama kakeknya… gak inget nenen… itu usianya 21bulan…

    jelas aja, dalam hatiku terbesit, gk usah repot2 mnyapih niiiy.. dia dah gak betah nenen lagiii.. heee

    ternyata… ketika hari kedua adiknya lahir, asi ku deras dan semakin deras… dia pun jadi doyan nenen lagi…. glek….
    bulan pertama, masih bisa ditangani, masih bisa berbagi dengan dedenya.. bbahkan sampai bulan kedua…

    eeeeeeeeeeeh bulan ketiga… makin kenceng nenennya… sejak dia sakit bbp pekan lalu… dan klo lihat dedenya nangis minta nenen… dia wajib nenen juga….. haduuuuuh pusiiiing mbbaaaa klo keduanya dah minta nenen…

    padahal usianya skrg dah 2tahun, 1 bulan…

    nah, gimana mau menyapih lagi??? skrg dia malah makin minta perhatian dari ana.. bahkan minta gendong… gak mau kalah ma dedenya…

    heheheh.. lucu yaa…. dinikmatin aja deeeeeh….

    trus kemarin2 ana bilang, ‘abit, sakiiit nenen ummy krn abit dah punya gigi.. deeja kan belum punya gigi, udah ya nenennya..”

    sepekan pertama, dia bisa berhenti sejenak… alhamdulillah mengerti…
    sepekan kedua, ana ulangi “ummy sakiit biiit” (ini sakit beneran lho yaaa)
    eh dia jawab “gak.. gak… gak sakit.. lagiii… nenen lagi..”

    sepekan ketiga, tepatnya bbp hari ini, “abit, ummy sakiiiit nenennyaaaa…”
    dia jawab,” gak.. gak… tiup.. tiup.. tiup…” dan diapun meniup puting ana.. hufh..hufh.. hufh… trus nenen lagiiii…

    hehehehhe jadi meluk dia deeeeh…

    ****BINGUNG******

  25. cizkah says:

    hehe…kuncinya di dian…mesti TEGA.
    Kalo nyapih tuh gitu salah satu kuncinya. Kalo ngeliat anak nangis…gak tega…dikasih…ga jadi deh. Atau anaknya berprilaku lucu utk ngedapetin nenen…dikasih…gak jadi lagi deh…teruus gitu…akhirnya gak jadi2.

    Kasih pemahaman terus menerus…ke tsabit…alhamdulillah dia sudah besar…sudah merasakan nenen sama ummi sekian lama…bersyukur…dst…terus DIALIHKAN ke yang lain. Misal makan buah, minum susu. Perlahan insyaAllah bisa dan paham.
    ^^
    SEmoga Allah memudahkan

Leave a Reply